INVESTIGASI

Horor Musim Dingin bagi Anak Suriah

Anak-anak pengungsi Suriah amat merindukan kampung halaman. Musim dingin di Yordania menjadi ancaman tersendiri bagi mereka.

Anak-anak Suriah di kamp pengungsian di Yordania.
Foto-foto: Deden Gunawan/detikX

Senin, 7 November 2016

Lembaran kertas berisi stempel kaki bayi kini memenuhi ruang persalinan darurat di kamp pengungsi Suriah di Azraq, wilayah utara Yordania. Kertas-kertas itu merupakan dokumentasi kelahiran bayi di kamp tersebut. Jumlahnya ribuan.

“Bulan ini saja (Oktober 2016) ada 120 bayi yang lahir. Dan tahun ini setidaknya ada 1.170 bayi yang lahir di sini,” ujar Mitra Salma, staf United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) perwakilan Indonesia, di kamp pengungsian Azraq.

Banyaknya kelahiran bayi juga terjadi di kamp Zaatari, lokasi pengungsian asal Suriah yang juga terletak di Yordania.

Di situ tercatat ada 5.000 bayi yang dilahirkan di klinik Women and Girls Comprehensive Centre, yang didukung United Nations Population Fund (UNFPA), dan dijalankan oleh Jordanian Health Aid Society.

Total ada 7 dokter, 14 bidan, dan 6 perawat di klinik Zaatari. Bayi yang lahir di Zaatari juga menerima kartu pendaftaran UNHCR dan akta kelahiran Yordania.

Dokumentasi itu untuk menjelaskan status kewarganegaraan sang bayi di masa depan. Meski begitu, akta kelahiran yang dikeluarkan UNHCR tidak sama dengan bukti kewarganegaraan.

Anak-anak Suriah di tempat pengungsian di Yordania.

Menurut data UNHCR, ada 655.831 pengungsi asal Suriah yang tercatat di Yordania, dan 16 ribu di antaranya hamil pada saat yang sama. Sebagian bayi itu lahir dari ibu yang usianya di bawah 18 tahun.

Mitra Salma menjelaskan, bayi di kamp pengungsian memang mendapat penanganan prioritas. Sebab, kondisi di tempat pengungsian kurang layak bagi tumbuh-kembang bayi.

Bukan hanya bayi, anak-anak balita pun mendapat prioritas yang sama. Mereka butuh kondisi dan lingkungan yang layak sehingga UNHCR membuat lokasi khusus untuk anak-anak bermain serta belajar.

Sayangnya, dari pantauan detikX, lokasi yang disiapkan untuk area belajar dan bermain tidak sebanding dengan jumlah anak-anak di pengungsian. Alhasil, banyak anak yang kumal memilih bercengkerama di area tenda pengungsi.

Lahan pengungsian di Azraq seluas 12 kilometer persegi tersebut memang berupa bebatuan berpasir. Hampir tak ada tanaman yang tumbuh di lokasi pengungsian.

* * *

Anak-anak Suriah di tempat pengungsian di Yordania.


Pertikaian di Suriah berdampak buruk bagi warganya. Banyak anak yang kehilangan orang tua, tak sedikit perempuan yang kehilangan anak dan suaminya. Bahkan mereka harus angkat kaki dari tanah kelahiran.

UNHCR menyebutkan, anak-anak Suriah menghadapi mimpi buruk tentang masa depannya. Banyak dari mereka yang terpaksa tidak melanjutkan pendidikan.

Saat ini sedikitnya terdapat 385 ribu anak-anak Suriah di kamp pengungsian yang tersebar di Yordania.

Nasib anak Suriah di pengungsian bukan tanpa ancaman. Musim dingin mulai akhir Oktober bisa menjadi ancaman.

“Cuaca dingin membeku di Yordania biasanya pada bulan Januari hingga Februari. Suhunya mencapai minus 5 derajat (Celsius),” ujar Nico Adam, staf KBRI Yordania, kepada detikX.

Kondisi ini, kata Adam, bisa menjadi ancaman serius bagi anak-anak di pengungsian. Apalagi bila melihat kondisi pengungsian yang hanya beratap terpal dan berdiri di atas tanah lapang. Tidak ada alat penghangat di barak pengungsian selain kompor.

Ia menceritakan, dua tahun lalu ada beberapa anak pengungsi di kamp Ibid, Yordania, yang tewas akibat cuaca dingin.

Anak-anak Suriah di tempat pengungsian di Yordania.

Selain kondisi pengungsian yang kurang layak sehingga bisa saja merenggut nyawa mereka, kebutuhan dasar anak-anak di pengungsian tidak terpenuhi.

Beberapa anak yang ditemui detikX di Azraq mengaku sangat ingin pulang ke Suriah dengan berbagai alasan.

Ammah, 13 tahun, warga Homs, saat ditanya soal keinginannya, hanya berharap bisa bersekolah seperti dulu saat tinggal di Suriah.

Ammah dan orang tuanya sudah empat tahun mengungsi di kamp Azraq. Dan selama di lokasi pengungsian, gadis itu hanya berdiam diri di tenda menjaga dua adiknya yang masih kecil.

Sedangkan Thalib, 15 tahun, dan beberapa teman sebayanya saat ditanya soal Suriah kompak menjawab ingin segera pulang ke Suriah. Mereka rindu bermain di kampung halamannya.

Beda lagi dengan jawaban anak-anak Suriah yang usianya di bawah 7 tahun. Mereka mengaku tidak tahu apa-apa soal Suriah. Sebab, banyak di antara mereka yang mengungsi saat masih bayi.

Jangan heran, saat ditanya mengenai umur, mereka rata-rata menggeleng. Mereka tidak tahu kapan dilahirkan.


Reporter/Penulis: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE