INVESTIGASI
Nasib pengungsi Suriah sangat memprihatinkan. Terusir dari kampung halaman dan terabaikan di penampungan.
Salah satu kamp pengungsian di Yordania
Foto-foto: Deden Gunawan/detikX
Senin, 7 November 2016“Masa depan saya sudah mati. Saya tidak lagi memiliki laki-laki dalam hidup saya. Saya hanya menginginkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak saya."
Demikian kalimat yang keluar dari mulut Marwah, perempuan asal Suriah, saat ditanya tentang harapannya setelah mengungsi dari negerinya yang sedang dilanda konflik berdarah.
Empat tahun sudah Marwah dan tiga anaknya pergi dari tanah kelahirannya, Distrik Palmyra, dan menempati rumah sewa yang hanya memiliki dua ruangan di pinggiran Kota Amman, Yordania.
Sayang, sang suami, Zakwan, tidak bisa ikut serta lantaran tertahan di imigrasi Suriah saat mereka melintas di perbatasan Suriah-Yordania. Belakangan, melalui media sosial, Marwah tahu sang suami meninggal dibantai oleh milisi propemerintah.
Wilayah Homs, yang meliputi Palmyra, selama ini memang merupakan basis pejuang oposisi, yang berupaya menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad. Suami Marwah dianggap sebagai salah seorang pendukung oposisi sehingga harus meringkuk di penjara dan kemudian dieksekusi secara brutal.

Anak-anak pengungsi bermain dengan salah satu staf UNHCR di Yordania.
Saat ini para pengungsi di Yordania hanya bergantung pada bantuan kemanusiaan melalui UNHCR."
Hati Marwah remuk mendengar kabar itu. Namun, melihat anak-anaknya yang masih kecil, semangat hidupnya yang sempat meredup pelan-pelan menyala kembali.
Ia berjuang demi menghidupi anak-anaknya meski dengan uluran tangan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR).
Marwah dan tiga anaknya menempati sebuah flat atau kamar sewa di sebuah gedung kumuh yang luasnya hanya 2 x 3 meter persegi. Biaya sewanya 100 dinar Yordania atau setara dengan Rp 1,9 juta.
Setiap bulan Marwah mendapat bantuan untuk dirinya sebanyak 160 dinar dan 100 dinar buat ketiga anaknya untuk menyambung hidup di Yordania, yang biaya hidupnya sangat mahal.
Saat disambangi detikX bersama UNHCR, KBRI Yordania, serta pengusaha Dato Tahir, Marwah mengaku punya harapan tidak selamanya menggantungkan hidupnya pada bantuan dari UNHCR.
Ia bilang, setelah anak bungsunya relatif besar, akan mencari pekerjaan untuk masa depan anak-anaknya.


Suasana di tempat pengungsian di Yordania
Impitan ekonomi saat ini memang menjadi masalah bagi keluarga para pengungsi di Yordania. Saat ini mereka hanya bergantung pada bantuan kemanusiaan melalui UNHCR.
Di antara para pengungsi, mungkin Marwah masih bisa dibilang sedikit beruntung. Sebab, demi alasan keamanan (suaminya ditahan dan dibunuh karena alasan politik), ia diungsikan secara khusus di permukiman penduduk.
Nasib pengungsi asal Suriah lainnya lebih memprihatinkan. Mereka menempati barak-barak pengungsian, seperti di wilayah Azraq dan Zaatary, dengan kondisi ala kadarnya.
Dari pantauan detikX di lokasi pengungsian di Azraq, yang berjarak 200 kilometer dari Kota Amman, pengungsi menempati tenda-tenda berwarna putih di atas hamparan padang gersang bebatuan. Kawat berduri mengitari tenda-tenda itu.
Tidak sembarang orang bisa memasuki wilayah kamp pengungsian yang berjarak sekitar 3 kilometer dari jalan raya itu. Sebab, pengunjung harus melewati posko keamanan tentara Yordania, yang bersiaga dengan mobil Humvee bersenjata otomatis di atasnya.
Pengamanan ketat ini sengaja dilakukan militer Yordania untuk menghindari penyusupan yang dilakukan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di antara para pengungsi. ISIS dalam beberapa tahun ini merebut kota-kota di Suriah dan Irak.
Selepas dari pos keamanan, berdiri deretan kontainer bercat putih yang dilengkapi dengan penyejuk udara (air conditioner/AC). Di situlah petugas UNHCR berkantor dalam mengurusi pengungsi. Dari situ, pengunjung harus menempuh jarak 5 kilometer menuju barak pengungsi, yang terdiri atas puluhan blok.
Di tiap blok, yang dipisahkan oleh jalan aspal selebar 3 meter, berdiri 30-50 tenda dengan ukuran masing-masing 2 x 3 meter dengan material terbuat dari seng, ada pula yang berbahan terpal.
Yang mengenaskan, untuk keperluan mandi-cuci-kakus, mereka harus berbagi dengan pengungsi lain. Sebab, hanya tersedia enam fasilitas MCK di tiap blok.
Thomas Vargas, perwakilan UNHCR untuk Indonesia, mengatakan ada sekitar 200 ribu pengungsi Suriah yang berada di kamp Azraq.
Jumlah pengungsi yang berlimpah, kata Thomas, membuat pengurusannya menjadi tidak gampang. Apalagi donasi yang diberikan sejumlah kalangan sangat terbatas, sehingga fasilitas kamp masih minim.
Fasilitas yang dianggap minim antara lain sekolah, fasilitas kesehatan, dan arena olahraga untuk anak-anak. Begitu juga dengan fasilitas utama, seperti listrik dan air.
Saat ini, penerangan di tenda pengungsian hanya dibatasi lima jam sehari setiap malam. Sebab, aliran listrik di kamp hanya mengandalkan tenaga surya bantuan dari salah satu perusahaan multinasional. Air pun dibatasi hanya dua galon per hari untuk tiap tenda buat semua keperluan.
Karena keterbatasan ini, Thomas mengatakan akan terus menggalang dana dari segala penjuru dunia untuk membantu para pengungsi. Apalagi pemerintah Yordania sudah kerepotan oleh kehadiran para pengungsi tersebut.


Suasana di tempat pengungsian di Yordania
“Untuk mengurus para pengungsi Suriah, pemerintah Yordania telah kehilangan 20 persen GDP-nya. Ini sangat membebani Yordania,” ujar Duta Besar RI untuk Yordania, Teguh Wardoyo, di lokasi pengungsian.
Dan beban yang akan ditanggung Yordania diperkirakan makin berat lantaran masih ada sekitar 75 ribu pengungsi yang tertahan di wilayah perbatasan Yordania-Suriah.
Saat ini mereka berada di penampungan tidak resmi di Rukban dan Hadalat. Tempat itu merupakan wilayah tak bertuan antara Suriah dan Yordania.
Kata Teguh, kondisi tenda-tenda pengungsi di kedua daerah itu lebih memprihatinkan lagi. Belum lagi kondisi alam yang kurang bersahabat, seperti badai pasir serta panasnya gurun.
“Sementara ini pemerintah Yordania belum membuka kembali perbatasan karena khawatir adanya infiltrasi dari kelompok ISIS, yang sempat menewaskan tujuh tentara Yordania beberapa waktu lalu,” tutur Teguh.
Yordania memang menjadi tujuan utama para pengungsi asal Suriah. Sebab, selain negara itu relatif aman, kota-kota di Suriah yang terlibat perang lebih dekat jaraknya dengan perbatasan Yordania.
Tak aneh, sejak 2011, Yordania menampung hingga sekitar 700 ribu pengungsi Suriah. Mereka ditebar di sejumlah tempat di Yordania.
Reporter/Penulis: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.