INVESTIGASI

Dua Seteru
Teori Migrasi

Nenek moyang manusia Indonesia menjadi perdebatan. Sebagian meyakini Indonesia sebagai muasal persebaran manusia setelah migrasi Afrika.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Rabu, 2 November 2016

Stephen Oppenheimer pantas berbangga hati. Pada 2 Februari 2012, akademisi Inggris ini mendapat kehormatan untuk bertandang ke kantor Presiden Indonesia, Kompleks Istana Kepresidenan, Jalan Merdeka Utara, Jakarta. Ia mencuri perhatian Presiden RI kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Entah siapa yang membisiki SBY mengundang Oppenheimer. Padahal pakar genetik dan struktur DNA asal Oxford University, Inggris, ini tergolong sebagai tokoh kontroversial dalam studi sejarah manusia modern. Ia merupakan salah satu ilmuwan yang mendukung teori migrasi manusia “Out of Sundaland”.

Teori ini menyebutkan paparan Sunda, benua cikal bakal Kepulauan Nusantara, merupakan asal persebaran manusia. Penelitian melalui metode genetik yang dilakukannya menunjukkan kaitan mitokondria DNA (mtDNA) orang-orang Asia Tenggara dan Pasifik dengan Indonesia.

Peta abstrak bumi.
Foto: Thinkstock

Jika Anda melihat Laut Cina Selatan, Laut Jawa, itu lahan kering yang menghubungkan Kalimantan, Jawa, Bali, Sumatera, Semenanjung Melayu sekaligus dalam satu benua.”

Stephen Oppenheimer, pakar genetik dan struktur DNA

Menurut dia, hubungan mtDNA ini menunjukkan hubungan kekerabatan sejak 40 ribu tahun lalu. Ia beranggapan orang asal kepulauan Nusantara-lah yang menjadi leluhur orang Asia. Kondisi geografis Sundaland mendukung kebutuhan pertanian dan peternakan. Karena itu, daerah Nusantara yang subur cocok menjadi pusat komunitas.

“Poin saya adalah, tanpa pertanian, domestikasi, dan tanaman tumbuh serta peternakan, Anda tidak akan bisa memberi makan banyak orang. Kota ini bergantung pada petani, Indonesia memiliki banyak petani. Anda perlu banyak petani untuk memberi makan orang di kota untuk membangun monumen besar. Dasar peradaban adalah ladang, peternakan,” ujarnya.

Baru pada 14 ribu tahun lalu masa es berakhir. Banjir besar memaksa manusia bermigrasi ke tempat yang lebih tinggi.

Wisatawan berpose bersama suku Dani di Wamena, Papua.
Foto: Afif/detikTravel

Pada 1999, Oppenheimer menerbitkan bukunya yang berjudul Eden in the East: The Drowned Continent of Southeast Asia. Ia melakukan pendekatan multidisiplin untuk mengembangkan teorinya. Salah satunya penelusuran mitologi. Cerita banjir besar ini kemudian tersisa dalam cerita legenda atau mitos di tengah masyarakat secara beragam.

“Jika Anda membuka atlas, Anda akan melihat laut dangkal. Jika Anda melihat Laut Cina Selatan, Laut Jawa, itu lahan kering yang menghubungkan Kalimantan, Jawa, Bali, Sumatera, Semenanjung Melayu sekaligus dalam satu benua,” dia menambahkan.

Namun kesimpulan ini masih sebatas teori dan mendapat tentangan dari teori “Out of Taiwan”. Lembaga biologi molekuler Eijkman Institute melakukan penelitian tentang mtDNA dan kromosom Y dengan metode Out of Taiwan.

Sumber: Eijkman Institute
Infografis: Fuad Hasim


Hasilnya, leluhur orang Indonesia berasal dari Aborigin Taiwan. Semakin ke wilayah timur Indonesia, jejak mtDNA Taiwan semakin menipis karena percampuran dengan orang Melanesia.

Eijkman menganggap dukungan temuan arkeologi atas teori Out of Sundaland belum ada. Padahal penelusuran genetik tidak dapat menjelaskan cara dan sebab manusia bermigrasi.

Data mtDNA, studi bahasa, dan beberapa bukti arkeologi menjadi dasar teori Out of Taiwan ini. Mereka meneliti data genom dari 31 populasi yang tinggal di Indonesia dan 25 populasi di berbagai negara Asia.

Karnaval Budaya Selendang Sutra atau Semarak Legenda Suku Nusantara dari berbagai daerah di Tanah Air merupakan wujud pemersatu keberagaman suku di Indonesia.
Foto: Hendra Nurdiyansyah/Antara Foto

Studi ini lebih komprehensif karena menggunakan pendataan statistik dengan mempertimbangkan perkawinan campur dan relasi lainnya.

Namun, lagi-lagi, penelitian ini masih mencari penguatan bukti. Pencarian leluhur manusia modern masih terus bergelut dengan data dan temuan baru. Teori asal-usul manusia Indonesia masih menjadi perdebatan yang terbuka.


Reporter/Penulis: Aryo Bhawono
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE