INVESTIGASI

Menelusuri Mata-mata Abu Sayyaf

Benarkah Abu Sayyaf mempunyai mata-mata dalam melancarkan penyanderaan pelaut dan nelayan Indonesia? Di mana basis mereka?

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 13 Oktober 2016

Tentara Nasional Indonesia punya pekerjaan rumah baru berkaitan dengan maraknya penyanderaan pelaut dan nelayan dari Indonesia di Filipina. PR itu adalah menemukan mata-mata Abu Sayyaf yang membantu penyanderaan itu.

Dugaan adanya mata-mata Abu Sayyaf pertama kali diungkapkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo pada Sabtu, 24 September 2016. Pada tahun ini, kapal asal Indonesia berulang kali menjadi korban pembajakan.

Tiga kasus pembajakan dan penyanderaan anak buah kapal menimpa kapal yang tengah mengangkut mineral tambang batu bara ke Filipina. Sedangkan dua kasus lainnya menimpa nelayan yang tengah mencari ikan.

Bisa jadi, kelompok Abu Sayyaf begitu mudah melakukan pembajakan itu karena mendapat informasi mengenai berlayarnya kapal-kapal tersebut dari spionase mereka di Indonesia. “Ada indikasi ke situ (penggunaan mata-mata),” katanya.

Kepala Pusat Penerangan TNI Tatang Sulaiman menambahkan, penyelidikan diarahkan ke lokasi yang dicurigai, yakni Kalimantan. Sebab, dari perairan Kalimantan-lah kapal-kapal yang kemudian dibajak itu mengangkat jangkar.

Batu bara dari area tambang di Kalimantan dibawa dengan kapal tongkang melalui jalur sungai ke area transshipment di lepas pantai. Dari situ, batu bara dikirim perusahaan-perusahaan jasa pengangkutan laut ke luar negeri.

Panglima TNI Gatot Nurmantyo
Foto: Ray Jordan/detikcom

Setidaknya ada dua titik transshipment batu bara yang selalu ramai. Pertama adalah Taboneo, muara Sungai Barito di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kedua, Muara Berau di muara Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur.

Kapal-kapal dari Banjarmasin biasanya melintasi Muara Berau dalam perjalanan ke Filipina. Sedangkan dari Samarinda, terdapat dua jalur pelayanan internasional yang biasa dilewati oleh kapal-kapal tersebut.

Jalur itu melewati Pulau Ligitan, Sabah, Malaysia, yang memerlukan waktu hingga 17 hari untuk mencapai Filipina. Sedangkan lewat jalur yang terletak lebih ke timur, yaitu melalui perairan dekat Pulau Basilan, Filipina, butuh waktu lebih lama.

Kalangan intelijen di Indonesia sudah mengendus adanya aksi mata-mata yang dilakukan jaringan kelompok Abu Sayyaf di Kalimantan itu. Seorang sumber detikX menyebutkan mata-mata itu terlacak berada di Samarinda.

Namun, sayang, ia tak mengungkapkan di mana lokasi persis yang menjadi basis mata-mata tersebut. Sumber itu hanya mengatakan mata-mata Abu Sayyaf berada di sebuah pelabuhan pemberangkatan menuju Filipina.

Menurut dia, mata-mata Abu Sayyaf di Samarinda itu tidak bekerja seorang diri. Mereka merupakan komplotan. Yang mengagetkan lagi, para telik sandi Abu Sayyaf itu bukanlah orang Filipina, melainkan orang Indonesia.

Tidak seperti kelompok Abu Sayyaf yang sering dikaitkan dengan gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), mata-mata itu non-ideologis. “Motif utamanya hanyalah uang,” ujar sumber tersebut kepada detikX.

Tatang menjawab normatif ketika dimintai konfirmasi tentang basis mata-mata Abu Sayyaf di Samarinda tersebut. Begitupun informasi bahwa mata-mata itu orang Indonesia sendiri. “Iya. Kami selidiki orang mana-mananya,” kata dia.

detikX mencoba menelusuri kabar mata-mata Abu Sayyaf itu kepada para pelaut Kalimantan yang sering mengapalkan batu bara ke Filipina. Ginting Kurnia, seorang kapten kapal tongkang, mengatakan sudah lima tahun menyusuri jalur pelayaran Kalimantan-Filipina.

Menurut dia, kapal-kapal tongkang biasa melintasi Pelabuhan Samarinda menuju Muara Berau. Setiap hari, 10-20 kapal pengangkut batu bara melewati pelabuhan di Sungai Mahakam itu.

Julian Philips, salah satu sandera Abu Sayyaf yang telah dibebaskan
Foto: Ferdinan/detikcom

Di Muara Berau, batu bara ada yang ditransfer ke kapal yang lebih besar. Namun ada juga yang diangkut memakai tongkang ke Manila. Jumlah kapal tongkang itu, kata Ginting, paling hanya lima kapal setiap hari.

Menurut Ginting, banyak kapal yang berlayar ke Filipina menjadi korban Abu Sayyaf. Sejak 1990-an, perompakan kapal memang sering terjadi. Kini Abu Sayyaf beralih ke modus penyanderaan ABK.

Namun, menurut Ginting, sangat kecil kemungkinan aksi mereka didahului dengan pengintaian. Sebab, Abu Sayyaf sepertinya acak dalam mengambil korban. Ia sendiri juga baru mendengar adanya isu mata-mata itu.

“Kalau menurut saya, enggak perlu memakai mata-mata, karena perairan itu kan memang basisnya Abu Sayyaf,” ujar Ginting saat ditemui detikX di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Kalau menurut saya, enggak perlu memakai mata-mata, karena perairan itu kan memang basisnya Abu Sayyaf.”

Ginting Kurnia, seorang kapten kapal tongkang

Kapten Kapal Brahma 12, Julian Philips, yang disandera Abu Sayyaf pada Maret 2016, juga kurang yakin akan adanya mata-mata di Indonesia. Sebab, ia tidak melihat tanda-tanda mencurigakan sebelum kapalnya dibajak.

Kemudian, pagi hari pada saat kejadian, anggota kelompok Abu Sayyaf tiba-tiba saja mengarah dan naik ke kapal Julian. Padahal sebelumnya mereka hanya terlihat melaju cepat di samping kapal Brahma 12.

Julian mengingat, ketika berada di penguasaan Abu Sayyaf, penyandera sempat bercerita bahwa sebetulnya target mereka bukan kapal Brahma 12, melainkan anak seorang bangsawan Filipina yang berlibur di sebuah pantai di Malaysia.

“Mereka bilang, karena penjagaannya sangat ketat, mereka gagal ambil si datuk ini. Mereka sudah 13 hari menunggu. Jadi, pas kami lewat, mau tidak mau, mereka hajar saja katanya,” ujar Julian kepada detikX.

Julian melanjutkan, tak sulit bagi Abu Sayyaf untuk membajak salah satu kapal dari banyaknya kapal yang berlayar di jalur internasional itu. Mereka membekali diri dengan senjata. Di sisi lain, korban tidak punya amunisi untuk melawan.

Rute kapal Brahma 12 saat dibajak kelompok Abu Sayyaf
Ilustrasi: Mindra Purnomo

Mengenai kapal asal Indonesia yang disasar, Abu Sayyaf mengenali dari benderanya. Julian menduga, seringnya kapal Indonesia disandera lebih karena uang tebusan yang diberikan kepada penyandera.

“Kami tidak lihat memang (uang tebusan). Tapi, kalau bukan ditebus, mana mungkin orang Abu Sayyaf mau melepaskan kami?” ujar dia.

Siapa mata-mata Abu Sayyaf yang membantu pembajakan kapal memang masih misterius. Namun keberadaan mata-mata Abu Sayyaf di Indonesia bukan isapan jempol. Hal itu berdasarkan pengakuan Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian.

Antara 2011 dan 2012, Tito mengatakan pernah menangkap mata-mata Abu Sayyaf di Manado, Sulawesi Utara. Mata-mata itu orang dari Filipina Selatan yang memalsukan paspor Indonesia.

Mata-mata itu terdeteksi kerap berkomunikasi dengan kelompoknya di Filipina. Ia juga mengirimkan uang kepada Abu Sayyaf. Kini si mata-mata sudah diajukan ke pengadilan dan divonis bersalah.

Namun, untuk kasus kali ini, Tito mengatakan masih melakukan penyelidikan. “Saya akan berkoordinasi dengan Bapak Panglima TNI. Kalau memang ada (mata-mata), ya tidak boleh,” ujarnya seperti dikutip dari cnnindonesia.com.


Reporter: Ibad Durohman
Penulis/Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE