Ilustrasi : Kalingga Shagufta Islam
Minggu, 11 Oktober 2026Dengan anggaran terbatas, calon penghuni kos harus menimbang harga sewa, fasilitas, dan lokasi sebelum menentukan tempat tinggal. Pertimbangan ini menjadi kian penting bagi mereka yang baru memulai karier dengan penghasilan pas-pasan.
Muhammad Zakky Chaidir merasakan hal itu ketika mencari tempat tinggal selama menjalani masa magang di Jakarta. Dengan batas anggaran maksimal Rp2 juta per bulan, ia tak ingin terburu-buru menentukan pilihan. Puluhan iklan kos diperiksa, satu demi satu admin dihubungi untuk menanyakan harga dan fasilitas. Ia juga mendatangi tiga kos secara langsung untuk melihat kondisi tempat yang mungkin akan menjadi rumahnya selama beberapa bulan ke depan.
“Gue cocoknya yang Rp1 jutaan. Hitung-hitungannya masuk di gaji gue, apalagi gue anak magang. Kalau kosan lebih dari Rp2 juta, anak magang kayaknya nggak mungkin,” ungkapnya kepada detikX.
Laki-laki berusia 23 tahun ini berasal dari Bandung, sementara keluarga terdekatnya berada di Bogor. Pulang-pergi dari Bogor ke Jakarta sebenarnya bisa menjadi pilihan, tetapi ia memperhitungkan waktu yang akan habis di perjalanan setelah bekerja seharian. Apalagi, ia biasanya baru selesai bekerja sekitar pukul 18.00 atau 18.30.
“Menurut gue tidak worth it untuk bolak-balik Bogor, apalagi gue pulang biasanya jam 6 atau setengah 7. Itu bakal makan waktu gue banget. Dan akhirnya gue kos di sini aja,” kata Zakky.
Dari lima kos yang ia cek lebih lanjut, Zakky akhirnya menjatuhkan pilihan pada Casa 77 di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kos dengan tarif mulai Rp1 juta per bulan itu dinilainya menawarkan kombinasi yang ia cari, harga yang sesuai dengan kemampuan finansialnya, lokasi dekat kantor, serta fasilitas dan pelayanan yang dianggap memadai.
“Fasilitas ada, lokasi ada, deket banget sama kantor gue. Terus kenyamanannya, ini 1000% nyaman. Pas survei ke sini, gue langsung jatuh cinta,” katanya. Dari kos menuju kantor di MNC Studios, Zakky hanya perlu berjalan kaki selama 12 menit.
Zakky mengajak detikX melihat langsung tempat tinggal yang baru ia huni selama sepekan. Casa 77 berada di sebuah gang kecil sekitar 15 meter dari Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Gang tersebut cukup mudah dilalui sepeda motor, meski mobil tidak leluasa melintas.
Kesan pertama detikX, bangunan Casa 77 tampak lebih terawat dari yang dibayangkan untuk kos dengan tarif mulai Rp1 jutaan. Bangunan ini terdiri atas tiga lantai dengan area rooftop. Unsur modern tropis berpadu dengan sentuhan industrial dan elemen natural, terlihat dari pintu kayu berukuran besar di bagian depan hingga furnitur kayu dan tanaman di sejumlah sudut.

Lorong yang menghubungkan kamar-kamar menjadi bagian dari ruang sehari-hari penghuni
Sejumlah motor terparkir di halaman depan yang juga dimanfaatkan untuk aktivitas kafe. Papan hijau bertuliskan Cafe Jadoel 77 menjadi penanda bangunan. Meski ruang yang tersedia terbatas, area depan ditata untuk mengakomodasi beberapa fungsi sekaligus.
Zakky kemudian mengajak detikX melihat kamarnya yang terletak di lantai satu. Kamar berukuran sekitar 2 x 3 meter dengan tarif Rp1,6 juta itu dilengkapi tempat tidur, meja, kursi, lemari pakaian, AC, dan kamar mandi. Furnitur berwarna netral mengisi ruang yang terbatas, dengan lemari kayu muda berpanel anyaman menjadi salah satu detailnya.
Ukuran kamar menjadi salah satu hal yang perlu dikompromikan. Zakky mengakui ruang tersebut terasa sempit, terlebih karena ia membawa banyak barang dari rumah. Namun, ia memahami keterbatasan itu sebagai konsekuensi dari harga sewa yang dipilihnya.
“Kalau ukuran, iya, karena balik lagi, kita harus realistis, ini Rp1 jutaan. Jadi ini nggak too good to be true. Ada minusnya juga, kamarnya menurut gue sempit, yang mana gue banyak barang-barang juga yang gue bawa dari rumah,” kata Zakky. Tarif kamarnya itu belum termasuk biaya penggunaan listrik.
Tidak adanya pemanas air juga menjadi kekurangan kecil baginya. Meski begitu, fasilitas tersebut bukan prioritas. Selama kamar cukup nyaman untuk beristirahat dan kebutuhan dasarnya terpenuhi, ia merasa pilihannya masih sepadan dengan anggaran.
Penghematan juga ia lakukan dalam urusan makan. Zakky mengaku tidak pernah memesan makanan secara daring selama tinggal di Casa 77. Ia lebih memilih membeli makanan di sekitar kos atau menyiapkan sesuatu yang sederhana sendiri.
“Karena menurut gue budget gue nggak nyampe ya. Dan semuanya pun dekat. Gue kalau butuh apa-apa tinggal jalan dari sini,” tuturnya.
Di luar kamar, penghuni memiliki sejumlah ruang bersama. Di lantai dua, terdapat dapur dan kulkas yang bisa digunakan untuk menyimpan bahan makanan atau minuman. Ada pula ruang komunal dengan meja panjang dan sejumlah kursi, yang dapat dimanfaatkan untuk makan, mengerjakan tugas, atau bersantai.
Fasilitas lain berada di rooftop. Area ini dilengkapi gazebo bambu, tempat duduk, meja, dan tanaman, serta digunakan untuk menjemur pakaian. Dari sana, penghuni bisa melihat gedung-gedung di sekitar Jakarta dan cahaya kota pada malam hari. Perpaduan kayu, bambu, dan tanaman memberi suasana berbeda dari kamar-kamar yang lebih fungsional.
Zakky sesekali memanfaatkan rooftop untuk bersantai dan melihat lampu-lampu kota. Baginya, ruang tersebut menjadi alternatif untuk melepas penat setelah bekerja tanpa harus pergi ke tempat lain dan mengeluarkan uang tambahan.
Harga yang Mengikuti Kemampuan Penghuni
Di balik keseharian penghuni Casa 77, ada Ahmad Satiri, 60 tahun, yang bertugas menjaga kos tersebut. Pensiunan bidang otomotif ini kini menjalani peran yang berbeda dari pekerjaan sebelumnya. Baginya, menjaga kos bukan sekadar memastikan kamar dan area bersama tetap terawat, tetapi juga membantu penghuni ketika menghadapi kesulitan.
Casa 77 mulai beroperasi pada Juli 2025 dan memiliki 27 kamar. Sejak awal, pengelola tidak langsung menetapkan tarif Rp1 jutaan. Ahmad mengatakan harga disesuaikan setelah mereka membaca kondisi pasar dan memperhitungkan kemampuan calon penghuni.
Tarif kos di Casa 77 berkisar Rp1 juta hingga Rp2 jutaan per bulan, bergantung pada fasilitas yang dipilih. Pada tarif Rp1 juta, penghuni umumnya mendapat kamar, akses ke dapur dan ruang bersama, serta kamar mandi yang digunakan bersama oleh dua kamar. Pada kisaran Rp1,5 juta, tersedia kamar dengan AC dan kamar mandi dalam, dengan biaya listrik yang dibayar terpisah. Sementara itu, tarif Rp2 juta sudah mencakup listrik, air, dan Wi-Fi.
Penghuni juga perlu menyiapkan deposit Rp500 ribu saat pertama masuk. Menurut Ahmad, uang tersebut menjadi jaminan jika terjadi kerusakan selama kamar ditempati. Deposit akan dikembalikan ketika penghuni keluar apabila tidak ditemukan kerusakan.
Perbedaan tarif itu, kata Ahmad, berkaitan dengan kemampuan finansial calon penghuni. Ia mencontohkan pekerja kebersihan, office boy, dan pekerja pendukung layanan sebagai kelompok yang dapat dijangkau tarif sekitar Rp1 juta. Sementara itu, tarif di atas Rp1,5 juta ditujukan bagi pekerja dengan tingkat pendapatan lebih tinggi.
Pertimbangan tersebut tidak lepas dari kebutuhan penghuni untuk membagi penghasilan bagi berbagai keperluan. Selain membayar kos, mereka masih harus mengeluarkan uang untuk makan dan transportasi. Karena itu, Casa 77 menyediakan kulkas bersama yang bisa digunakan untuk menyimpan bahan makanan.
“Biasanya sebagai kos, kita menyediakan lemari es, lemari pendingin untuk menyimpan makanan, terutama alat-alat masak dan keperluan untuk masak. Jadi kita usahakan dia tidak beli di luar, tapi bisa bawa bekal dari kosan ini. Itu suatu penghematan juga,” pungkas Ahmad kepada detikX.
Menurut Ahmad, penghuni yang disasar Casa 77 antara lain anak magang yang biasanya tinggal selama tiga hingga enam bulan serta pekerja yang dipindahkan ke kantor di kawasan Jakarta Barat. Bagi kelompok ini, tempat tinggal bukan hanya soal harga sewa, tetapi juga soal kemudahan menjalani rutinitas sehari-hari.
Namun, Ahmad melihat kenyamanan tidak cukup dibangun lewat harga dan fasilitas. Ia berusaha menjaga suasana kos tetap terbuka dan tidak kaku. Penghuni dipersilakan menghubunginya jika menghadapi masalah atau menemukan kekurangan di lingkungan kos.

Area rooftop menyediakan ruang bersama bagi penghuni untuk bersantai atau sejenak mencari suasana berbeda dari rutinitas di dalam kamar
“Kita open. Contohnya begini, kita siap diganggu 24 jam. Misalnya, ‘Pak, maaf, saya pulang malam ya.’ ‘Oh, iya, nanti kalau Kakak takut, Kakak hubungi aja.’ Kita ada pegawai dua di kosan,” katanya.
Sikap itu kadang membuat hubungannya dengan penghuni melampaui urusan sewa-menyewa. Ahmad bercerita pernah menjadi tempat curhat seorang penghuni yang merasa lebih bisa menerima perkataannya daripada nasihat orang tuanya sendiri. Ia memilih mendengarkan tanpa banyak menggurui.
“Kalau ada masalah, cerita aja. Mau nangis, mau marah, silakan,” ujar Ahmad.
Ada pula pengalaman yang lebih jenaka. Ahmad bercerita pernah diperkenalkan sebagai bapak oleh seorang penghuni ketika pasangannya datang berkunjung. Pengakuan itu, menurut Ahmad, merupakan cara penghuni menghindari kecurigaan.
“Saya dibilang bapaknya, ‘Ini bapak saya’, maksudnya biar nggak diganggu.” Cerita tersebut menjadi salah satu gambaran kedekatan yang kadang terbangun antara penjaga dan penghuni kos.
Baginya, penghuni yang tinggal di Casa 77 berada dalam tanggung jawabnya selama berada di sana. Ia ingin mereka merasa aman untuk kembali ke tempat tinggal, termasuk ketika menghadapi persoalan pribadi. Sikap terbuka dan kesiagaan itulah yang, menurut Ahmad, menjadi bagian dari upayanya membuat penghuni betah.
“Saya selalu ngomong begini ke penghuni, ‘Kak, kalau terjadi sesuatu, yang saya lindungi adalah penghuni.’ Misalnya, ada kejadian kemarin, dia diputusin, cuma pacarnya nggak terima, akhirnya biasalah ribut. Makanya saya bilang, kalau dari sini terjadi sesuatu, penghuni yang saya lindungi. Itu yang bikin penghuni-penghuni perempuan di sini jadi senang, cerita Ahmad.
Ahmad juga menceritakan bahwa terkadang ia memberi kelonggaran ketika penghuni menghadapi masalah keuangan. Ada penghuni yang mengalami kesulitan membayar karena berbagai alasan, sehingga jadwal pembayaran perlu disesuaikan. Dalam situasi tertentu, Ahmad memilih membicarakan cara pembayaran dengan penghuni alih-alih langsung memperlakukan keterlambatan sebagai pelanggaran yang tidak bisa ditoleransi.
“Biasanya curhat. Contohnya begini, ‘Pak, maaf, kondisi finansial saya lagi begini, begini, begini.’ Kita bantu. Misalnya, ‘Pak, maaf, uang kos saya kepakai buat orang tua saya sakit.’ Kita kasih kelonggaran, ‘Ya sudah, kamu urus orang tua dulu.’ Kita kasih kemudahan,” pungkas Ahmad.
Pendekatan itu menunjukkan sisi lain dari pengelolaan hunian sewa yang tidak selalu terlihat di iklan. Harga dan fasilitas memang menjadi pertimbangan awal, tetapi hubungan antara penghuni dan pengelola ikut membentuk pengalaman tinggal.
Reporter/Penulis: Kalingga Shagufta Islam/Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim