INTERMESO

Cerita Kue Viral yang Nyasar ke Pasar Kue Subuh

Bagi sebagian pengunjung ,jajanan manis ini mungkin hanya menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih jauh isi pasar

Foto : Kalingga Shagufta Islam (magang)

Minggu, 27 September 2026

Dubai chewy cookies, dessert yang belakangan viral di media sosial, rupanya tak lagi hanya mengisi etalase kafe-kafe kekinian. Tren itu sudah sampai ke Pasar Kue Subuh Senen, Jakarta Pusat. Kue dengan tekstur kenyal, isian krim pistachio, dan lapisan kataifi renyah itu kini berdampingan dengan penghuni lama pasar, risol, lemper, kue cucur, hingga gemblong. Pemandangan itu terlihat ketika detikX menyambangi Pasar Kue Subuh Senen pada Rabu, 16 September 2026.

Sekitar pukul 18.00 WIB, detikX bertandang ke sana. Meski menyandang nama Pasar Kue Subuh, aktivitas jual beli sudah menggeliat sejak sore hari. detikX mengira suasana pasar menjelang maghrib masih cukup lengang. Namun, dugaan itu rupanya salah besar. Keramaian bahkan sudah terlihat dari pintu masuk. Pengunjung memenuhi lorong-lorong, bergerak dari satu lapak ke lapak lainnya sambil membawa kantong belanja. Di antara mereka ada anak-anak muda yang datang berburu jajanan viral, tetapi ada pula orang-orang yang tampak sudah hafal betul lorong mana yang menjual kue tertentu.

Kondisi pasar sangat kontras dengan tempat-tempat hits yang biasa menjadi tujuan berburu makanan viral. Tidak ada suasana kafe yang tenang, meja yang tertata, atau ruangan berpendingin udara. Yang ada adalah lorong dengan banyak pilihan makanan, orang yang berpapasan, dan pedagang yang terus bergerak mengurus dagangannya. Pasar ini tidak hanya menjual aneka kue tradisional saja. Jika ingin makan berat, detikX juga menemukan lapak penjual makanan berat seperti ayam penyet dan pempek, semua tersedia berdampingan di satu tempat. Semua makanan yang dijajakan sungguh terlihat menggugah selera. Rasanya sulit untuk tidak tergoda dan membeli lebih dari satu.

Dubai chewy cookies yang sejak awal menjadi tujuan akhirnya ditemukan di salah satu lapak bernama Laris Manis Bakery. Lapak ini menjadi salah satu yang ramai dikerumuni pembeli. Hampir semuanya datang dengan tujuan yang sama, yaitu mencari Dubai chewy cookie. Di sana, kue ini tersedia dalam tiga rasa, pistachio, ube atau taro, dan Dancow. detikX pun ikut mengantre dan memilih varian pistachio. Kue mungil ini dijual seharga Rp18 ribu per potong. Harga itu terasa cukup bersahabat untuk jajanan yang sedang ramai diburu, terlebih ketika dibandingkan dengan versi yang biasa ditemukan di kafe atau toko roti dengan harga yang bisa mencapai dua sampai tiga kali lipat untuk ukuran serupa.

Seorang pedagang melayani pembeli yang tengah membeli jajanan di Pasar Kue Subuh Senen
Foto : Kalingga Shagufta Islam (magang)

Rasa penasaran yang selama ini hanya muncul dari melihat makanan itu di layar ponsel akhirnya terbayar ketika kudapan manis itu dicicipi. Bagian luarnya terasa kenyal, sementara isian krim di dalamnya memberikan sensasi lumer ketika digigit. Di tengahnya, ada kataifi yang menghadirkan tekstur renyah, kontras dengan adonan luarnya yang kenyal seperti adonan kulit mochi. Perpaduan lembut, kenyal, creamy, dan renyah itu muncul hampir bersamaan dalam satu gigitan. Rasanya mungkin tidak bisa disamakan begitu saja dengan versi premium yang lebih dulu viral, tetapi dengan harga Rp18 ribu, rasanya tidak mengecewakan.

Meski niat awalnya hanya datang untuk berburu satu jajanan viral, detikX pun kepincut untuk membeli jajanan-jajanan lain di sekitarnya. Satu per satu makanan yang sebelumnya tidak ada dalam rencana mulai ikut masuk ke dalam daftar belanja. Pengalaman serupa juga dirasakan Arif, mahasiswa berusia 22 tahun yang detikX temui tengah asyik menenteng beberapa kantong plastik jajanan di salah satu sudut pasar. Ia mengaku baru mengetahui keberadaan Pasar Kue Subuh Senen dari media sosial. "Saya tahu pasar kue subuh Senen ini dari media sosial, dari TikTok," katanya kepada detikX. Ketertarikan Arif juga bermula dari Dubai Chewy Cookies yang viral. "Karena saya tahunya dari TikTok, jadi makanan viral itu tentu yang awal saya beli itu Dubai Chewy Cookies-nya, di antara banyak jajanan-jajanan tradisional," ujarnya.

Namun begitu masuk ke dalam pasar, rencana belanja Arif ternyata melebar jauh dari rencana awal. "Pasti, tadi beli banyak banget, kalap, karena di situ ternyata banyak banget jajanan lainnya" ucapnya sambil terkekeh. Ia menyebut beberapa jajanan tradisional yang ikut masuk keranjang belanjanya, mulai dari kue bolu, lemper, pisang goreng, hingga risol. "Jadi ada gorengan-gorengan yang enggak bisa saya skip," tambahnya.

Soal harga, Arif sepakat bahwa jajanan di pasar ini terbilang sangat bersahabat di kantong "Untuk jajanan tradisionalnya murah-murah banget, apalagi pilihannya banyak banget. Arif memborong enam potong Dubai Chewy Cookies dengan tiga varian rasa berbeda. Dengan harga Rp18 ribu, ia merasa kudapan ini layak dicoba. "Apalagi tadi pistachio-nya enak banget. Dia cukup terasa, di lidah cukup manis dan enak," katanya.

Sentra Kue Subuh Senen menawarkan berbagai pilihan kue dan jajanan dari pedagang yang berjualan hingga pagi

Foto : Kalingga Shagufta Islam (magang)

Bukan cuma kue tradisional yang bisa ditemukan di sini

Foto : Kalingga Shagufta Islam (magang)

Pasar Kue Subuh Senen sudah mulai ramai sejak sore hari

Foto : Kalingga Shagufta Islam (magang)

Beragam bentuk, warna, dan rasa menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung

Foto : Kalingga Shagufta Islam (magang)

Varian ube menjadi salah satu pilihan dalam deretan Dubai Chewy Cookies

Foto : Kalingga Shagufta Islam (magang)

Ali juga diduga main mata dengan Mayor Jenderal A.H. Nasution, yang kemudian menerbitkan aturan yang melarang pers untuk mencetak, menerbitkan, dan menyiarkan hal-hal yang mengandung kecaman, persangkaan, atau penghinaan kepada pemerintah.

Bagi Arif, keramaian dan suasanaberdesak-desakan di dalam pasar bukan masalah, melainkan bagian dari pengalaman itu sendiri. "Saya memang kebetulan suka sekali jajan di pasar seperti ini. Suasana ramai, tabrak-tabrakan sama pedagang yang keluar masuk buat dagangan mereka, itu memang hal yang wajar kalau belanja di pasar. Beda kalau di mal, itu nyaman, dingin, ber-AC," ujarnya. Menurutnya, suasana semacam itu justru menjadi bagian dari alasan kenapa harga di pasar bisa jauh lebih murah dibanding tempat-tempat modern.

Sebelum Kue Kekinian Memasuki Pasar
Pasar Kue Subuh Senen pada dasarnya bukan tempat baru yang tiba-tiba muncul karena tren makanan di media sosial. Jauh sebelum Dubai chewy cookies menjadi alasan anak-anak muda datang, tempat ini sudah menjadi salah satu pusat jajanan yang dikenal oleh pembeli dari berbagai daerah.

Pasar ini berdiri sejak 1988. Cikal bakalnya dimulai dari Elkana Tju bersama empat rekannya yang berjualan kue di area pinggiran Pasar Senen. Ketika itu mereka hanya menggunakan lima meja dan berjualan pada pukul 02.00 hingga 08.00 untuk memenuhi kebutuhan kue warga Senen dan sekitarnya.

Dari lima meja, jumlah pedagang kemudian terus bertambah. Pada 1991, ketika aktivitas jual beli kue semakin berkembang, Elkana mengajukan izin kepada pengelola Senen Blok 4 untuk menggunakan area parkir sebagai tempat berjualan. Pengajuan tersebut diterima dan para pedagang kue secara resmi menempati area parkir Pasar Senen Blok 4.

Perkembangannya kemudian semakin besar. Pada periode 1991 hingga 1998, Pasar Kue Subuh Senen semakin dikenal dan pengunjungnya tidak lagi hanya berasal dari Jakarta. Pembeli datang dari wilayah sekitar seperti Bekasi, Bogor, Tangerang dan daerah lainnya. Pasar yang semula hanya terdiri dari beberapa meja perlahan tumbuh menjadi pusat perdagangan jajanan dengan jaringan pembeli yang lebih luas.

Perubahan juga terjadi pada jam berjualan. Pada 1995, para pedagang mulai menggeser waktu operasional. Jika sebelumnya mereka berjualan sejak dini hari, aktivitas kemudian dimulai lebih awal pada malam hari, sekitar pukul 19.00 hingga 02.00. Pergeseran itu membuat pasar memiliki kehidupan yang berbeda dari bayangan orang yang baru mendengar namanya. Disebut Pasar Kue Subuh, tetapi pembeli sebenarnya sudah dapat datang sejak sore hari.


Reporter/Penulis: Kalingga Shagufta Islam (magang), Melisa Mailoa
Editor: Iwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE