Bencana Alam Dalam Bingkai Still Life
Bencana Alam Dalam Bingkai Still Life
Photo story ini merupakan upaya saya merangkum berbagai bencana alam yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir melalui pendekatan visual still life photography. Saya tidak menghadirkan kembali lokasi bencana secara langsung, melainkan menggunakan benda-benda dan elemen visual sebagai simbol dari kehancuran, kehilangan, serta dampak yang ditinggalkan. Setiap objek dalam foto saya hadirkan sebagai representasi dari sebuah peristiwa yang pernah terjadi dan menjadi bagian dari ingatan masyarakat Indonesia.
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menjadi salah satu gambaran bagaimana bencana dapat mengubah kehidupan masyarakat dalam waktu singkat. Dalam rangkaian bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025, BNPB mencatat korban meninggal mencapai 1.016 jiwa, 212 orang masih dinyatakan hilang, dan lebih dari 624 ribu jiwa mengungsi. Bencana tersebut juga merusak rumah, jalan, jembatan, fasilitas umum, serta memutus akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar dan sumber penghidupan.
Pada saat yang sama, persoalan lingkungan lain terus mengancam Indonesia, salah satunya pencemaran laut akibat sampah plastik. World Bank memperkirakan Indonesia menghasilkan sekitar 7,8 juta ton sampah plastik setiap tahun, dengan sekitar 346.500 ton per tahun diperkirakan masuk ke laut dari sumber daratan. Sebanyak 83 persen kebocoran sampah plastik dari daratan menuju laut tersebut dibawa melalui sungai.
Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan di Sumatera serta Kalimantan memperlihatkan bahwa bencana tidak hanya berdampak pada manusia, tapi juga satwa liar yang kehilangan habitat dan ruang hidupnya. Ancaman terhadap satwa juga datang dari perburuan dan perdagangan ilegal.
Di Ujung Kulon, misalnya, tujuh pelaku perburuan dan seorang perantara telah diproses hukum terkait hilangnya 26 badak Jawa sejak 2018. Sementara itu, tekanan terhadap ekosistem membuat satwa liar semakin rentan ketika habitatnya mengalami kerusakan. Bagi saya, kehancuran hutan, hilangnya habitat, dan perburuan merupakan rangkaian persoalan yang memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan antara manusia dan alam.
Ancaman lainnya datang dari aktivitas gunung api, termasuk erupsi Gunung Anak Krakatau serta kekeringan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Erupsi menunjukkan kekuatan alam yang dapat berubah secara cepat, sementara kekeringan bekerja perlahan dengan mengurangi ketersediaan air dan mengancam kehidupan masyarakat serta pertanian.
Melalui abu, tanah, air, tanaman, hewan, plastik, dan benda-benda sederhana lainnya, saya mencoba menerjemahkan berbagai peristiwa tersebut ke dalam bahasa visual still life yang lebih personal dan simbolis.
Pada akhirnya, bencana mungkin hanya meninggalkan jejak yang terlihat dalam hitungan hari. Air surut, api padam, abu mengendap, tanah kembali diam, dan langit perlahan kembali biru. Tetapi, bagi mereka yang kehilangan, tidak ada yang benar-benar kembali seperti semula. Melalui karya ini, saya mencoba memotret sesuatu yang sebenarnya tidak dapat difoto: kehilangan.
Saya juga ingin mengingatkan pemerintah agar semakin tanggap dan tangkas dalam menghadapi rangkaian bencana alam yang terus berulang di Indonesia, sekaligus memperkuat upaya pencegahan dan perlindungan terhadap manusia serta alam. Karena bencana yang kita lihat hari ini tidak selalu datang secara tiba-tiba. Sebagian merupakan akumulasi dari tindakan manusia yang selama bertahun-tahun mengeksploitasi dan merusak lingkungan, mulai deforestasi, perusakan habitat, perburuan satwa, pencemaran sungai dan laut, hingga berbagai aktivitas yang mengabaikan keseimbangan alam.
Ketika foto terakhir selesai dibuat dan berita terakhir berhenti dibaca, pertanyaannya bukan lagi tentang seberapa besar bencana yang telah terjadi, tetapi tentang apa yang masih tersisa setelah semuanya pergi. Dan mungkin, yang paling menyedihkan adalah ketika kita mulai terbiasa melihat kehancuran sebagai sesuatu yang biasa, sementara mereka yang kehilangan masih menunggu kehidupan kembali seperti semula. Sebab, pada akhirnya, alam mungkin memiliki caranya sendiri untuk merespons apa yang telah manusia lakukan selama bertahun-tahun. Yang perlu kita tanyakan adalah, sampai kapan kita terus menunggu bencana datang sebelum benar-benar belajar mencegahnya?
Bambang bersama dua pegawainya memodifikasi motor tiga roda.
Bambang menyelesaikan proses modifikasi motor tiga roda.
Rangka motor tiga roda yang sedang dimodifikasi.
Bambang menyelesaikan modifikasi motor tiga roda.
Peralatan kerja Bambang di bengkelnya.
Kondisi tangan Bambang saat bekerja.
Bambang bersiap pulang dari bengkel.
Kondisi bengkel modifikasi motor tiga roda milik Bambang.
Bambang mengendarai motor tiga roda hasil modifikasinya.



