Foto : Gilang Faturahman/detikFoto
Minggu, 6 September 2026Di dalam gedung Pasar Rumput, Jakarta Selatan, orang biasanya datang untuk belanja. Hari itu, Rabu (26/08/2026), saya justru datang untuk nonton bioskop. Bukan di mal dengan lobi luas dan deretan toko mentereng, melainkan di salah satu sudut gedung Pasar Rumput yang terhubung dengan Tower 3. Di sana ada Jaksinema, bioskop mini yang mungkin terdengar sedikit tidak biasa karena berada di tengah kawasan yang sehari-hari lebih akrab dengan aktivitas jual beli.
Dari luar, tidak banyak yang mengesankan bahwa tempat ini adalah bioskop, sehingga perjalanan mencari ruang pemutaran filmnya sendiri sudah menjadi bagian dari pengalaman. Dari halte TransJakarta, aksesnya relatif mudah. Begitu turun dari bus, arah menuju kawasan tersebut cukup gampang ditemukan. Jalur di depannya juga dilalui angkutan umum, sehingga bagi penonton yang menggunakan transportasi publik, perjalanan ke bioskop mini ini tidak terlalu menyulitkan.
Kebingungan justru lebih mungkin dialami mereka yang datang dengan kendaraan pribadi. Motor dan mobil memang tersedia tempat parkirnya, tetapi setelah turun dari kendaraan, pengunjung perlu mencari kembali arah menuju Tower 3. Bioskop itu tidak berada di jalur yang langsung terlihat dari area parkir.
Begitu akhirnya ditemukan, kesan pertamanya juga tidak seperti bioskop yang selama ini dikenal. Jaksinema berada persis di dalam Jakmart, jaringan minimarket modern milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ruang sederhana yang dicat merah dan minimarket berada di area yang sama. Makanan dan minuman tersedia untuk menemani penonton, tetapi penonton juga diperbolehkan membawa perbekalan dari luar.
Jaksinema memang dirancang sebagai micro cinema. Hanya ada satu studio dengan kapasitas 43 orang yang terbagi dalam tujuh baris. Tidak banyak ruang yang diperlukan untuk membuat sebuah pengalaman menonton berlangsung. Pengunjung cukup memilih film, mendapatkan kursi, lalu masuk ke ruangan yang jauh lebih kecil dibandingkan studio bioskop konvensional.
Cara membeli tiketnya pun mengikuti skala tersebut. Penonton yang datang langsung tidak dilayani melalui loket dengan petugas, melainkan menggunakan mesin otomatis atau kiosk. Tiket juga dapat dipesan melalui situs Layar Digi dan aplikasi Alfagift. Semuanya dibuat cukup sederhana, tidak banyak tahapan antara keinginan menonton dan duduk di dalam studio.

Penonton bioskop Jaksinema bioskop mini yang berada di tengah pasar rumput
Foto : Gilang Faturahman/detikFoto
Yang paling mencolok tentu harga tiketnya. Pada hari kerja, penonton cukup membayar Rp15 ribu. Akhir pekan dan hari libur nasional sedikit lebih mahal, Rp20 ribu. Harga itu jauh lebih dekat dengan biaya hiburan spontan daripada agenda pergi ke bioskop yang harus dipikirkan matang-matang.
Pilihan film sore itu jatuh pada Arwah, film horor Indonesia yang dirilis pada tahun sebelumnya. Deretan film yang tersedia memang bukanlah film baru yang sedang menjadi pembicaraan utama di bioskop besar. Jaksinema menggunakan model yang berbeda, film yang diputar adalah film-film yang sudah selesai tayang atau turun layar dari bioskop besar.
Pada sesi tersebut, detikX mengisi dua kursi terakhir yang tersisa. Penonton dari berbagai usia pun berkumpul di studio yang ukurannya jauh lebih kecil dari kebanyakan bioskop. Sebagian besar penonton yang terlihat adalah anak-anak yang tampaknya tinggal di kawasan rusun. Beberapa remaja ikut menonton. Ada pula orang dewasa yang datang bersama pasangan.
Jarak dan suasana ruangan terasa lebih dekat. Tidak ada lautan kursi seperti di studio besar. Penonton berada dalam ruang yang relatif kecil dengan jumlah orang yang terbatas. Namun ketika duduk, pengalaman itu tidak terasa seperti sekadar ruangan kecil yang dipaksakan menjadi bioskop. Kursinya cukup nyaman. Ruangannya dingin. Layar dan suara juga bekerja dengan baik. Untuk harga Rp15 ribu, fasilitas dasar yang dibutuhkan untuk menonton film sudah tersedia. Tidak ada perasaan bahwa harga murah harus selalu dibayar dengan pengalaman yang buruk.
Saat lampu padam dan layar mengambil alih perhatian ruangan, Jaksinema menjalankan fungsi yang sama seperti bioskop mana pun. Penonton duduk, film berjalan, dan cerita Arwah mulai berlangsung di depan mereka. Perbedaan ukuran studio tidak serta-merta mengubah aktivitas utama yang sedang dilakukan.
Tetapi suara penonton mulai menjadi bagian dari pengalaman. Anak-anak yang memenuhi sebagian kursi ternyata tidak semuanya mampu duduk tenang sepanjang film. Ada yang sulit diam dan tidak selalu fokus mengikuti cerita. Karena ruangannya kecil, suara mereka lebih mudah terdengar dan membuat pengalaman menonton menjadi sedikit lebih heboh.
Bagi penonton yang datang hanya untuk mengisi waktu, suasana semacam itu mungkin masih dapat diterima. Namun bagi orang yang benar-benar ingin tenggelam ke dalam film, perbedaannya terasa. Dalam film horor, ketika ketegangan dibangun melalui suasana sunyi, suara dari penonton lain dapat memecah konsentrasi.
Jaksinema tidak memberikan pengalaman sinema yang sama dengan studio besar. Layarnya lebih kecil. Daya imersi audionya juga tidak sama. Film yang ditayangkan pun bukan film-film yang sedang baru turun ke bioskop. Bahkan karakter penontonnya bisa sangat berbeda. Tetapi bukan berarti pengalaman menontonnya otomatis menjadi buruk.
"Secara keseluruhan sih seru, ini seperti miniatur bioskop lain. Seru sih kalo aku bilang sih, keren gitu," ucap Melky, salah satu pengunjung kepada detikX.
Bahkan ukuran ruang yang kecil justru membuat bentuk bioskop itu terasa menarik bagi laki-laki berusia 40 tahun ini.
"Kalau dibilang pengalaman sih sama aja, cuman untuk bentuk bioskopnya ini kan kaya miniatur dari yang lain ya, tapi seru sih lucu. Maksudnya tempat duduknya juga nyaman," kata pecinta film horor ini.
Melky termasuk orang yang melihat harga sebagai bagian penting dari daya tarik Jaksinema. Ia tidak hanya menilai apakah fasilitasnya bagus atau tidak, tetapi juga membandingkannya dengan uang yang harus dikeluarkan.

Suasana di dalam studio Jaksinema
Foto : CNN Indonesia/Febria Adha L
"Untuk saya sih worth it sih, sangat-sangat worth it sih. Kalau misalnya harganya di-up juga mungkin nggak bakalan seramai ini kali ya," pungkasnya.
Pengalaman seperti itu memang menjadi salah satu alasan Jaksinema dihadirkan di Pasar Rumput. Perumda Pasar Jaya mengembangkan bioskop tersebut sebagai bagian dari upaya mengembangkan potensi kawasan pasar sekaligus menghadirkan ruang hiburan bagi masyarakat.
Kerja sama dilakukan dengan Layar Digi, perusahaan penyedia konsep micro cinema berbasis digital di Indonesia. Sebelum masuk ke Pasar Rumput, Layar Digi telah menjalankan konsep serupa melalui kerja sama dengan Alfamart di sejumlah daerah, antara lain Tangerang, Bogor, Sukabumi, dan Karawang.
Modelnya cukup sederhana, mengambil ruang yang tidak sebesar bioskop konvensional, menghadirkan satu studio, menyediakan film-film yang sudah turun layar, kemudian menjual tiket dengan harga yang lebih terjangkau.
Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan menyebut kehadiran Jaksinema sebagai bagian dari upaya perusahaan mengoptimalkan aset dan kawasan pasar melalui pengembangan bisnis yang inovatif. Pasar, menurut gagasan tersebut, tidak hanya menjadi tempat orang datang untuk bertransaksi, tetapi juga ruang yang dapat menampung aktivitas lain.
"Kehadiran Jaksinema di Pasar Rumput merupakan bagian dari komitmen Perumda Pasar Jaya untuk terus melakukan inovasi dan mengembangkan potensi kawasan. Kami ingin pasar tidak hanya menjadi tempat masyarakat bertransaksi, tetapi juga menjadi kawasan yang memiliki berbagai aktivitas dan fasilitas yang dapat memberikan pengalaman baru bagi masyarakat," ujar Agus dalam keterangannya, Senin (24/8/2026).
Reporter/Penulis: Kalingga Shagufta Islam (magang)/Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim