INTERMESO

Jam Menolak Tua, Gen Z Memberi Kesempatan Kedua

“Usianya boleh puluhan tahun, tetapi jam tangan vintage justru kembali mendapat tempat di tengah selera fashion Gen Z yang gemar meramu gaya lama dan baru”

Foto : Kalingga Shagufta Islam (magang)

Sabtu, 29 Agustus 2026

Di Jalan Batu Tulis Raya, Jakarta Pusat, jam tangan seperti memiliki cara sendiri untuk melawan waktu. Di balik etalase toko-toko yang berjajar, arloji dari berbagai zaman bertemu dalam ruang yang sama. Jam tangan merk Seiko, Citizen, Omega, hingga merk lain yang pernah menjadi penanda gaya pada masanya. Bagi pengunjung yang datang sekadar melihat-lihat, tempat ini mungkin tampak seperti deretan toko jam biasa. Namun bagi pencinta arloji lawas, Batu Tulis adalah tempat untuk berburu sesuatu yang tidak selalu bisa ditemukan lewat pencarian biasa, jam dengan usia, karakter, dan cerita yang melekat pada benda itu.

Salah satu toko di kawasan tersebut adalah Toko Jam Amiaw, yang kini diteruskan oleh Kelvin, 27 tahun. Ia adalah generasi kedua yang melanjutkan usaha keluarganya. Ayahnya telah berkecimpung di dunia jam sejak 1978, jauh sebelum media sosial membuat jual-beli jam vintage semudah membuka Instagram. Toko di Batu Tulis sendiri mulai beroperasi sekitar 1995, sementara keahlian keluarga Kelvin lebih dulu tumbuh dari pekerjaan memperbaiki jam. “Ini dari papa saya, jadi papa saya sudah merintis usaha ini dari tahun 1978 walaupun nggak langsung di sini (Batu Tulis) ya,” ujar Kelvin ketika ditemui detikX di tokonya Kamis, (20/08/2026).

Warisan itu membuat toko Kelvin tidak hanya menjadi tempat transaksi. Sebagian besar aktivitasnya justru berkaitan dengan servis dan reparasi, pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan tentang mesin sekaligus kesabaran menghadapi benda yang usianya tidak lagi muda. Jam-jam yang datang ke tangannya tidak selalu berada dalam kondisi sempurna. Ada yang perlu diperbaiki, dirawat, atau dikembalikan agar kembali dapat digunakan. Di situlah jam vintage memperoleh kehidupan keduanya.

Kelvin mengatakan, koleksi di tokonya banyak diisi jam vintage, terutama model-model dari dekade lama. “Mostly yang vintage pastinya ya, karna kita kan di sini emang paling banyaknya adalah jam-jam yang di bawah tahun 70-an, jadi kayak tahun 50-an, tahun 60-an, karna emang kalau kita nyari sesuatu yang timeless kita mesti go beyond that time gitu. Maksudnya kayak ya ambil yang lebih lama, karna yang lebih baru mungkin lebih bisa outdated istilahnya,” jelasnya. Bagi Kelvin, usia justru dapat menjadi salah satu alasan sebuah jam bertahan dalam ingatan. Ketika tren terus berganti dan desain tertentu kehilangan popularitas, model yang memiliki karakter klasik justru dapat kembali dicari.

Di antara pembeli yang datang, Kelvin melihat perubahan yang cukup menarik. Pelanggan toko kini tidak hanya mereka yang sejak lama menggemari horologi atau kolektor yang sudah mengenal berbagai merek. Belakangan, semakin banyak anak muda datang untuk mencari jam vintage. “Surprisingly untuk belakangan ini lebih ke yang muda-muda ya, seumuran saya, di atas sedikit. Jadi range-nya antara 22-35 tahun,” ujar Kelvin. Rentang usia itu membuat Batu Tulis tidak lagi semata-mata menjadi tempat yang diasosiasikan dengan kolektor generasi lebih tua.

Para pedagang jam vintage menunggu pembeli
Foto : Kalingga Shagufta Islam (magang)

Bagi Kelvin, kedatangan anak-anak muda tersebut memiliki berbagai alasan. Ada yang mengenal jam karena mengikuti hobi orang tua, ada pula yang datang untuk membeli jam pertamanya setelah mengalami pencapaian tertentu dalam hidup. “Biasanya itu yang turun dari papanya hobinya, misalnya papanya suka jam, anaknya juga ikut suka jam. Atau biasanya dia mau cari jam pertamanya, kayak baru keterima kerja, atau dia baru punya milestone baru dalam hidupnya, biasanya begitu,” katanya.

Menariknya, Kelvin melihat cukup banyak Gen Z yang memang datang dengan tujuan berburu jam. Model yang dicari pun tidak selalu berasal dari merek mewah. “Banyak, biasanya mereka nyari jam Seiko, Technos,” ujarnya. Untuk segmen toko Kelvin, harga jam berada di kisaran Rp800 ribu hingga Rp3 jutaan, sehingga masih terdapat ruang bagi pembeli muda yang ingin mulai mengenal jam vintage tanpa langsung masuk ke kategori arloji mewah.

Harga menjadi salah satu pintu masuk, tetapi bukan satu-satunya alasan anak muda tertarik pada jam lawas. Di tengah budaya konsumsi yang semakin cepat, jam vintage menawarkan sesuatu yang berlawanan. Benda yang sudah berumur tetapi masih memiliki nilai untuk dikenakan kembali. Model yang sudah pernah populer puluhan tahun lalu dapat muncul lagi di pergelangan anak muda yang lahir jauh setelah jam tersebut dibuat. Ada jarak waktu yang panjang, tetapi justru jarak itulah yang membuat benda tersebut terasa berbeda.

Kelvin melihat kecenderungan itu sebagai bagian dari siklus mode. “Kalau menurut aku sih karna trend itu kan berputar ya, kayak saat yang satu sudah outdated dia akan balik lagi, ada circle-nya gitu. Nah dari circle itu untuk jam itu kan dari lini masanya sudah terlalu panjang, jadi dia akan selalu suka jam vintage gitu, apalagi merk antik kan emang selalu hype,” tuturnya.

Kecenderungan itu juga terasa dalam cara Nadia Putri, 25 tahun, memandang jam vintage. Sebagai pekerja di bidang komunikasi di kawasan SCBD, ia sehari-hari berada dalam lingkungan yang lekat dengan perangkat digital. Namun ketika memilih aksesori, Nadia justru tertarik pada jam yang memiliki sejarah dan tanda-tanda penggunaan. Salah satu yang sering dikenakannya adalah Citizen 6010-R01029, jam vintage berukuran kecil dan tipis yang ia temukan melalui Instagram.

Berbagai macam jam vintage yang di jual di kawasan Batu Tulis, Jakarta Pusat
Foto : Kalingga Shagufta Islam (magang)

“Aku suka jam vintage karena rasanya lebih punya karakter. Kalau jam baru biasanya masih sangat sempurna, sementara jam vintage itu seperti sudah punya cerita sebelum akhirnya sampai ke kita,” pungkas Nadia. Ketertarikan tersebut membuat jam tangan berkembang menjadi lebih dari sekadar aksesori. Ia mulai mengoleksi dan mengikuti penjual jam vintage melalui media sosial, tempat yang membuat proses mencari model lawas menjadi jauh lebih mudah dibandingkan masa ketika pemburu jam harus mengetahui langsung toko atau jaringan kolektor.

Bagi Nadia, Citizen 6010-R01029 memiliki daya tarik justru karena tampilannya tidak berlebihan. Ukurannya yang kecil membuatnya mudah dipadukan dengan pakaian sehari-hari, termasuk busana kerja. Jam tersebut tidak mengambil alih penampilan, tetapi menjadi detail yang memberikan aksen klasik. “Menurut aku, justru karena ukurannya kecil dan desainnya klasik, jam ini gampang dipakai ke mana-mana. Dipakai kerja bisa, pakai baju santai juga masuk, dan kelihatannya nggak seperti aksesori yang terlalu dibuat-buat,” katanya.

Instagram kemudian menjadi semacam etalase digital bagi Nadia. Jika Batu Tulis menawarkan pengalaman menyentuh dan melihat jam secara langsung, media sosial memberikan kemungkinan untuk menemukan model dari penjual yang berada jauh dari tempat tinggalnya. Namun Nadia tetap menyukai pengalaman datang langsung ke toko. Sesekali ia pergi ke Batu Tulis hanya untuk melihat koleksi, memperhatikan berbagai model dan membayangkan jam mana yang akan cocok menjadi bagian dari koleksinya.

“Kalau ke Batu Tulis kadang memang nggak ada niat beli. Aku cuma mau lihat-lihat, karena seru saja melihat jam dari berbagai tahun dan model. Kadang dari awal merasa nggak akan tertarik, tapi begitu lihat barangnya langsung malah kepikiran,” tutur Nadia. Kalimat itu memperlihatkan sisi lain dari hobi mengoleksi jam, kesenangan tidak selalu berakhir pada pembelian. Ada proses melihat, membandingkan, mengenali bentuk, dan membiarkan sebuah benda perlahan menarik perhatian.

Di Batu Tulis, pencarian semacam itu berlangsung di antara toko-toko yang telah lama hidup dari perdagangan dan perawatan arloji. Menurut Kelvin, kawasan tersebut juga mengalami perubahan karena media sosial. Dulu, pemburu jam vintage memiliki akses informasi yang lebih terbatas dan harus mengetahui ke mana harus mencari. Kini, foto sebuah jam dapat muncul di layar ponsel dan membuat seseorang yang sebelumnya tidak akrab dengan horologi mulai mengenali merek atau model tertentu.

Salah satu toko penjual jam vintage yang sudah eksis sejak tahun 1978
Foto : Kalingga Shagufta Islam (magang)

“Lumayan naik sih, dulu kan mereka susah mencari jam vintage. Kalau sekarang kan mereka ada sosmed jadi lebih mudah,” kata Kelvin. Perubahan itu membuat hubungan antara toko fisik dan dunia digital menjadi semakin dekat. Anak muda bisa menemukan inspirasi melalui Instagram, kemudian datang langsung untuk melihat barang, sebaliknya, toko-toko yang sebelumnya mengandalkan pelanggan dari jaringan lama kini memiliki jalan untuk menjangkau calon pembeli yang lebih muda. Penjualan jam di toko Amiaw tidak melulu melonjak karena tren. Ia menyebut penjualan cenderung stabil, meski belakangan minat dari pembeli muda terasa lebih kuat.

Bagi Nadia sendiri, salah satu pesona terbesar jam vintage justru terdapat pada goresan dan bekas pemakaian. Pada jam baru, tanda semacam itu mungkin dianggap sesuatu yang harus dihindari. Pada jam lawas, goresan dapat menjadi bagian dari identitas benda. “The vintage have already had a life before you. Jadi kalau ada goresan, aku nggak merasa itu sesuatu yang harus ditutupi. Malah kalau kita pakai terus dan muncul goresan baru, rasanya seperti menambah cerita lagi ke jam itu,” ujarnya.

Ada pula pertimbangan yang sangat praktis yaitu harga. Bagi pekerja muda seperti Nadia, membeli jam baru dari butik dengan harga tinggi tidak selalu menjadi pilihan yang mudah. Jam vintage membuka kesempatan untuk mengenal merek dan desain yang menarik dengan harga yang lebih masuk akal. “Kalau mau mulai suka jam, menurut aku vintage lebih reasonable. Kita bisa dapat desain yang bagus dan mereknya juga menarik, tapi nggak harus langsung keluar uang sebanyak kalau beli yang baru di butik,” katanya.

Industri jam tangan ikut membaca arah tersebut. CASIO, salah satu merek yang memiliki lini Vintage, mempertahankan bahasa desain klasik dari model-model lawas sembari memberikan sentuhan yang lebih modern. Pada sejumlah model, unsur retro bertemu dengan fitur masa kini seperti Bluetooth atau step tracker. Langkah semacam ini memperlihatkan bahwa estetika vintage tidak harus dipertahankan secara utuh seperti benda museum. Elemen masa lalu justru dapat dikemas kembali agar sesuai dengan kebiasaan pengguna sekarang.


Reporter/Penulis: Kalingga Shagufta Islam (magang)/Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE