INTERMESO

Malam Ketika Pesepeda Menuntut Ruang

"We aren't blocking traffic, we are traffic"

Foto : Melisa Mailoa

Minggu, 9 Agustus 2026

Jumat malam, 31 Juli 2026, trotoar di depan FX Sudirman mendadak dipenuhi ratusan sepeda. Ada sepeda lipat dengan warna-warna terang, sepeda gravel, fixed gear, road bike, sampai sepeda kargo yang bentuknya tidak biasa. Sebagian pesepeda berdiri bergerombol sambil mengobrol, sebagian lain masih sibuk mengatur sepeda atau menunggu teman. Di antara lalu-lalang orang yang hendak menghabiskan malam di kawasan Sudirman, kerumunan itu tampak mencolok.

Orang-orang yang melintas beberapa kali menoleh. Sebagian memperlambat langkah, melihat lautan sepeda yang memenuhi sisi trotoar, lalu berbisik kepada orang di sebelahnya. Mereka tampak sama-sama mencoba menebak apa yang sedang terjadi: acara komunitas, kumpul-kumpul pesepeda, atau mungkin titik awal sebuah kegiatan yang akan segera dimulai. Tidak ada panggung, tidak ada spanduk besar, dan tidak tampak sosok yang berdiri sebagai pemimpin untuk mengatur kerumunan. Yang terlihat hanya orang-orang dengan sepeda yang berbeda-beda, berkumpul pada waktu dan tempat yang sama.

Malam itu gerombolan ini tidak datang untuk sekadar memamerkan sepeda. Mereka sedang menunggu Critical Mass Jakarta, sebuah gerakan bersepeda massal yang rutin digelar setiap Jumat terakhir setiap bulan. Gerakan ini mengajak pesepeda turun bersama ke jalan untuk menunjukkan bahwa mereka juga merupakan pengguna jalan yang memiliki hak yang sama. Di Jakarta, kegiatan tersebut sudah berlangsung sejak 2012 dan terus menjadi agenda yang berulang dari bulan ke bulan.

Yang membuatnya berbeda dari kegiatan bersepeda pada umumnya adalah tidak adanya pemimpin yang mengomandoi rombongan. Bahkan sampai kerumunan di depan FX Sudirman semakin padat, sebagian peserta belum tahu mereka malam itu akan bersepeda ke mana. Informasi yang diumumkan melalui akun Instagram @criticalmassjakarta hanya mencantumkan titik kumpul, waktu, dan ajakan terbuka bagi siapa saja untuk datang. Rute perjalanan bukan sesuatu yang sejak awal harus diketahui semua orang.

Menjelang pukul delapan malam, penantian itu berakhir dengan cara yang nyaris sederhana. Dari tengah kerumunan, seorang pesepeda tiba-tiba berteriak, “yuk jalan yuk.” Tidak ada rapat singkat, tidak ada aba-aba berlapis. Pesepeda yang sudah berkumpul mulai mengayuh dan satu per satu bergerak meninggalkan titik kumpul. Dalam beberapa saat, jalanan di sekitar Sudirman dipenuhi arus sepeda yang bergerak bersama.

Para peserta Critical Mass Jakarta melintas di jalan Jakarta
Foto : Criticalmassjakarta

Rombongan itu kemudian melintasi sejumlah ruas jalan Jakarta, melewati kawasan Sudirman, bawah jembatan Semanggi, hingga menuju Bundaran HI. Dari pinggir jalan, pemandangan itu kembali memunculkan kontras yang biasa ditemui di kota ini, sepeda bergerak beriringan di antara kendaraan bermotor yang jauh lebih besar dan lebih cepat. Namun malam itu, jumlah mereka membuat pesepeda tidak lagi terlihat sebagai individu-individu kecil yang bergerak sendirian di sisi jalan. Mereka menjadi satu massa yang sulit diabaikan.

Bagi peserta Critical Mass, berkumpul dalam jumlah besar bukan semata-mata soal membuat jalanan penuh. Justru keberadaan mereka di jalan adalah bagian dari pesan yang ingin disampaikan. Jalan raya bukan ruang eksklusif bagi mobil dan sepeda motor. Pesepeda juga menggunakannya, baik untuk berolahraga maupun sebagai alat transportasi sehari-hari.

Di Jakarta, Critical Mass Indonesia berawal dari komunitas fixed gear dan kemudian terus hidup melalui komunitas serta peserta yang datang silih berganti. Gerakannya tidak berhenti di ibu kota. Kegiatan serupa rutin digelar di sejumlah kota lain, antara lain Bandung, Yogyakarta, Tangerang, dan Bekasi. Pada Jumat 26 Juni 2026, misalnya, ratusan pesepeda mengikuti Critical Mass di Jalan Ahmad Yani, Kota Bekasi.

Tidak ada satu bentuk sepeda yang menjadi syarat untuk bergabung. Di antara rombongan Jakarta malam itu, sepeda lipat berdampingan dengan gravel, fixed gear, road bike, city bike, touring, hingga sepeda kustom. Perbedaan jenis sepeda justru memperlihatkan siapa saja yang bisa masuk ke dalam gerakan tersebut. Mereka tidak harus berasal dari komunitas yang sama atau mengendarai sepeda dengan spesifikasi tertentu.

Di tengah kerumunan itu, Aria Praja Sukanda, 30 tahun, datang dengan sepeda gravel Marin Gestalt berwarna perak. Barista di Aneka 57 Café yang bekerja di kawasan Radio Dalam dan Pecenongan itu baru pertama kali mengikuti Critical Mass Jakarta. Ia mengetahui kegiatan tersebut dari Instagram, ketika unggahan tentang rombongan pesepeda yang ramai beberapa kali muncul di halaman eksplornya.

“Saya baru pertama kali ikut ini, tahu dari Instagram sering muncul di explore rame-rame nih apa, kebetulan saya juga sering sepedaan, jadi mulai tertarik ikutan dan ingin kenalan juga dengan teman-teman di sini,” ungkapnya kepada detikX.

Bagi Aria, ketertarikannya bukan hanya karena ingin merasakan bersepeda dalam rombongan besar. Ia memang sudah terbiasa menggunakan sepeda dalam keseharian. Ketika tidak membawa motor dari rumah menuju tempat kerja, ia memilih mengayuh dari Manggarai menuju Radio Dalam. Jarak sekitar sembilan kilometer itu, menurut dia, dapat ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit karena sudah terbiasa.

Gerakan bersepeda massal yang rutin digelar setiap Jumat terakhir setiap bulan.
Foto : Critical Mass Jakarta

Kebiasaan tersebut membuat persoalan ruang jalan bukan sesuatu yang hanya ia dengar dari orang lain. Ia mengalaminya ketika bersepeda sendiri. Salah satu keresahan yang ia bawa ketika datang ke Critical Mass adalah kondisi jalur sepeda yang belum selalu steril. Baginya, persoalannya bukan sekadar soal siapa yang boleh berada di jalan, tetapi bagaimana pengguna jalan bisa saling berbagi ruang tanpa membuat pengguna lain kehilangan rasa aman.

“Saya suka lihat orang jualan di pinggir jalan dan orang parkir mobil di jalur sepeda, jadinya saya agak terhambat,” katanya.

Aria sudah menyukai sepeda selama dua sampai tiga tahun. Dalam sepekan, ia setidaknya tiga kali bersepeda, biasanya Jumat, Sabtu, dan Minggu. Ketika sedang bersemangat ia bisa melakukannya setiap hari.

Di antara rombongan, ada pula cara-cara yang lebih jenaka untuk menyampaikan pesan. Seorang pesepeda tampil dengan pakaian tabrak warna, kaos oranye, rompi pink, celana bermotif tutul macan, dan helm hijau terang yang bentuknya menyerupai tabung gas LPG 3 kilogram. Ia mengendarai sepeda kargo dengan rumbai warna-warni di bagian stang dan membawa sound system yang memainkan musik jedag-jedug sepanjang perjalanan.

Di bagian belakang sepedanya terdapat papan bertuliskan, “OVERTAKE BOLEH, OVERACTING JANGAN!” Kalimat itu terdengar seperti lelucon, tetapi sekaligus menjadi cara ringan untuk berbicara kepada pengguna jalan tentang perilaku saling menghormati.

Di sisi lain, ada Wahyu Ariadi, 30 tahun, datang dari Cengkareng dengan sepeda lipat Pacific 2980 RX berwarna kuning gading. Sehari-hari ia bekerja sebagai IT consultant. Wahyu sudah beberapa kali mengikuti kegiatan Critical Mass Jakarta.

“Udah lumayan sering sih ikut ini bareng teman-teman yang lain. Seru aja, kaya ritual bulanan yang wajib diikutin,” pungkas Wahyu.

Para peserta berkumpul sebelum melakukan riding keliling jalan besar di Jakarta.
Foto : Melisa Mailoa

Bagi Wahyu, Critical Mass memberikan sesuatu yang berbeda dari aktivitas bersepeda biasa. Di luar kegiatan ini, pesepeda tetap harus berhadapan dengan jalan yang penuh kendaraan dan situasi yang tidak selalu nyaman. Dalam rombongan besar, perasaan tersebut berubah karena mereka tidak lagi sendirian.

“Kita sehari-hari atau kalau lagi pengen gowes di jalanan Jakarta, itu resikonya tinggi banget. Pesepeda tuh dianggep warga kelas dua di jalan. Sering dipetpet bus, diklaksonin mobil dari belakang padahal kita udah di pinggir banget,” katanya. “Nah, di Critical Mass ini tuh rasanya beda banget. Saat kita gowes bareng ratusan pesepeda lain, kayak ada rasa aman gitu pas gowes ramai-ramai.”

Ketika ditanya mengenai tujuan perjalanan malam itu, Wahyu hanya geleng-geleng kepala. Ia dan teman-temannya yang sudah beberapa kali mengikuti Critical Mass pun tidak memperoleh kepastian rute sejak awal. Bagi peserta lama, ketidakpastian itu bukan kekurangan, melainkan bagian dari identitas gerakan.

“Nah, Itu dia lucunya, gua sama temen-temen tongkrongan juga kagak tahu abis ini mau digiring ke mana. Memang ciri khasnya Critical Mass kan begitu dari dulu, leaderless movement. Nggak ada ketua, nggak ada rute pasti yang dibagikan dari jauh hari,” katanya. “Mau ujungnya ke Blok M, Monas, atau muter-muter Sudirman doang, ikutan aja entar ke mana angin membawa. Yang penting happy gowesnya.”

Gagasan Critical Mass sendiri pertama kali muncul di San Francisco, Amerika Serikat, pada 1992. Puluhan pesepeda dan pekerja pengantar pesan berkumpul setelah jam kerja untuk bersepeda bersama. Nama Critical Mass kemudian digunakan setelah para penggagasnya terinspirasi film dokumenter Return of the Scorcher karya Ted White, yang menggambarkan pesepeda di Cina menunggu hingga jumlah mereka cukup banyak sebelum menyeberangi persimpangan bersama-sama.

Dari sana, gagasan tentang “massa kritis” berkembang menjadi bentuk aktivisme transportasi yang mudah ditiru. Tidak membutuhkan kantor pusat atau struktur organisasi yang rumit. Setiap kota dapat mengadopsinya sesuai kondisi masing-masing, selama semangat dasarnya tetap sama, pesepeda hadir bersama untuk menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari lalu lintas.

Karakteristiknya yang fleksibel, egaliter, dan mudah direplikasi membuat konsep ini menyebar luas secara fenomenal ke berbagai penjuru dunia tanpa perlu instruksi dari markas pusat mana pun. Sebagaimana didokumentasikan dalam film We Are Traffic! Celebrating 5 Years of Critical Mass (1999) karangan Ted White, dalam kurun waktu lima tahun saja gerakan aksi gowes spontan di setiap hari Jumat terakhir tiap bulan ini telah diadopsi oleh ratusan kota besar di Amerika Utara, Eropa, Australia, hingga merambah ke kota-kota di Asia dan Amerika Latin.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE