INTERMESO

Meneladani Sosok Jenderal Hoegeng di Era Modern

"Kita harapkan (polisi) terus mau bekerja di mana pun mereka berada. Namun baik mereka diawasi ataupun tidak diawasi, mereka bersungguh-sungguh bekerja untuk melaksanakan apa yang menjadi amanah institusi," 

Foto : detikfoto

Rabu, 5 Agustus 2026

Nama Jenderal Polisi (Purn.) Hoegeng Iman Santoso senantiasa menggema dalam ingatan kolektif bangsa sebagai simbol tertinggi integritas, kejujuran, dan kesederhanaan di tubuh Korps Bhayangkara.

Sosoknya bukan sekadar legenda dalam lembaran sejarah moral kepolisian, melainkan tolok ukur utama tentang bagaimana kewenangan seharusnya dipangku tanpa kebersinggungan dengan kompromi.

Meneruskan nyala obor keteladanan tersebut, ajang penganugerahan tahunan Hoegeng Awards 2026 kembali digelar di The Tribrata, Jakarta Selatan, pada Jumat (31/7/2026) malam. Inisiatif kolaboratif antara detikcom dan CT Corp yang telah menginjak tahun kelima ini menjadi panggung pengakuan publik bagi para insan kepolisian yang memilih mendedikasikan hidupnya demi masyarakat, baik di bawah sorotan lampu panggung maupun dalam sunyinya garis batas negeri.

Keteladanan Tanpa Sorot Kamera
Malam penganugerahan Hoegeng Awards 2026 menjadi momen reflektif bagi pucuk pimpinan kepolisian. Dalam sambutannya, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan integritas sejati seorang prajurit diuji ketika ia bertugas jauh dari jangkauan pengawasan.

"Kita harapkan (polisi) terus mau bekerja di mana pun mereka berada. Namun baik mereka diawasi ataupun tidak diawasi, mereka bersungguh-sungguh bekerja untuk melaksanakan apa yang menjadi amanah institusi," ujar Jenderal Sigit.

Jenderal Sigit menyampaikan apresiasi mendalam kepada Founder & Chairman CT Corp Chairul Tanjung atau yang biasa disapa CT, atas konsistensi lima tahun menjaring figur-figur teladan di lapangan. Dari total 9.000 lebih nominasi yang diusulkan langsung oleh masyarakat tahun ini, lima nama terpilih melalui penyaringan ketat oleh Dewan Pakar independen.

Dewan Pakar tersebut diperkuat oleh figur-figur berintegritas, seperti Jaringan Gusdurian Alissa Qotrunnada Wahid, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Putu Elvina, Mantan Pelaksana Tugas (Plt) Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dr Mas Achmad Santosa, Anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Gufron Mabruri, dan Ketua Komisi III DPR RI Dr Habiburokhman.

CT menekankan bahwa kekuatan utama Hoegeng Awards terletak pada independensi pencalonan yang murni lahir dari kepuasan publik.

"Nominasi ini bukan dicalonkan oleh anggota Polri tersebut, tetapi dicalonkan oleh masyarakat," ucap CT.

CT mengungkapkan nominasi tersebut terbukti acara Hoegeng Awards ini bisa memberikan motivasi untuk polisi-polisi untuk menjadi lebih berintegritas lagi, lebih bekerja lagi di luar batas daripada tugas pokok dan fungsi (tupoksi). CT juga menyoroti tren kenaikan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Korps Bhayangkara.

Kisah Lima 'Hoegeng Muda' Pendobrak Batas
Di balik megahnya panggung penganugerahan, terdapat lima kisah pengabdian sunyi yang meretas batas tugas konvensional demi keadilan, kemanusiaan, dan lingkungan.

Jenderal Hoegeng yang menjadi teladan bagi para polisi di era sekarang. 
Foto : detikfoto

1. Kombes Eko Budhi Purwono – Polisi Berdedikasi
Menjabat sebagai eksekutor program Green Policing Polda Riau sejak April 2025, Kombes Eko Budhi Purwono mendedikasikan dirinya untuk menyelamatkan kawasan suaka margasatwa di Kampar Kiri Hulu.

Memahami ketergantungan warga lokal pada hasil hutan bersumber dari masalah ekonomi, Eko merangkul para pemuda pedalaman. Berkolaborasi dengan Baznas Riau, ia memfasilitasi pelatihan satpam bagi 50 pemuda hingga kini telah terserap di dunia kerja.

"Kami melakukan pendekatan dengan Baznas untuk pendanaan, saya bicara dengan kawan-kawan di internal, kita minta satu pusdik untuk menyiapkan diri untuk mencoba satu model memperkenalkan sebuah profesi yang tidak harus mereka menjadi itu, setidaknya mereka mengenal pemerintahan bahwa negara sedang turun, negara menyentuh," ucap Kombes Eko.

Pelatihan satpam ini kemudian dibungkus dalam program Jelajah Rakyat untuk Riau (Jalur) Polda Riau. Sebanyak 50 orang pemuda ikut pelatihan ini tahap pertama pada Agustus 2025.

"Pak Kapolda memiliki program Jalur, menyentuh, menyapa, memberikan imbauan, mengajak dan mengingatkan. Kedatangan kami ke sana untuk memberikan bantuan untuk desa di ujung sana, nggak banyak, paket kami siapkan, beras, gula, minyak dan seterusnya," ujar Kombes Eko.

Saat Kombes Eko dan tim datang ke sana, masyarakat sempat melakukan penolakan karena mereka mengira akan melakukan penegakan hukum terhadap pelaku pembalakan hutan. Komunikasi dilakukan hingga akhirnya warga terbuka.

"Di dalam program pendidikan satpam, yang kita didik sikap mental, berpikir, kemudian menjadi pribadi yang lain, sedikitnya mereka bergeser. Kami didik persis di tepi Sungai Subayang," ucap Kombes Eko.

"Ada yang sudah bisa keluar dari desa itu sendiri, namun tidak harus keluar, tapi nanti suatu saat anak yang keluar ini menjadi motivator buat desanya, 'eh dulu saya udah dididik di sini, sama pemerintah, tidak berbiaya' nanti dia secara snowball, nanti bisa mengajak adiknya, kawan-kawannya, yuk joint di sana," jelas Kombes Eko.

Tak berhenti di situ, ia mendirikan Green Policing Academy serta mengukuhkan siswa OSIS dari tingkat PAUD hingga SMA sebagai Duta Green Policing demi menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini.

"Niat Green Policing adalah kembali menghijaukan, tetapi kebesertaan kebersamaan masyarakat untuk menjaga itu, tidak paham kalau kita bicara saja, tapi mereka harus kita masuk melalui memperkenalkan dan kebersamaan bersama pemerintah, sehingga mereka menjadi agent betul, untuk dirinya dan masyarakat sekitarnya, 'nggak usah lagi, Bang, udah menjadi paru-paru dunia yang Indonesia punya'," ujar Kombes Eko.

2. Brigadir Renita Rismayanti – Polisi Inovatif
Nama Brigadir Renita Rismayanti mengukir sejarah sebagai Polwan RI pertama yang meraih penghargaan Women Police of The Year 2023 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Saat bertugas sebagai Crime Database Officer untuk UN Police dan Kepolisian Afrika Tengah (2023–2024) dalam misi MINUSCA, Renita menciptakan sistem basis data kriminal terintegrasi.

Kombes Eko Budhi Purwono – Polisi Berdedikasi

Brigadir Renita Rismayanti – Polisi Inovatif

"Awal penugasan saya, setelah saya tiba di negara tersebut, saya diperkenalkan dengan negara yang masih banyak sekali terjadi konflik di sana. Jadi berbeda sekali dengan negara kita Indonesia," kata Renita.

Inovasi ini mengubah pencatatan manual menjadi peta kejahatan real-time yang terhubung langsung ke Markas Besar UNPOL, sekaligus mengurai benang kusut pencatatan kriminal di wilayah konflik Afrika Tengah.

"Chief Section saya mempunyai ide untuk mengotomatisasikan register tersebut ke platform yang sudah dimiliki UN. Namun platform tersebut belum sempurna, kemudian dibentuklah UNPOL Case Management, setelah platform tersebut terbentuk, pekerjaan kita sangat terbantu, kemudian kita bisa generate statistik-statistik yang diperlukan oleh atasan di misi dengan cepat dan juga real time," tuturnya.

Selain data UNPOL, Brigadir Renita juga memigrasi data kriminal kepolisian Afrika Tengah. Pada saat itu masih banyak pelaku kriminal yang belum terdata sehingga masih berkeliaran bebas.

"Saya juga handle sebuah proyek besar dari MINUSCA yaitu instalasi database untuk polisi lokal di sana. Sebelumnya polisi lokal di sana belum memiliki database kriminal sama sekali. Sehingga masih banyak pelaku kriminal yang belum ditangkap dan masih berkeliaran di masyarakat sekitar," tutur Renita.

"Lalu kita kita membuat hot spot map yang isinya adalah titik-titik yang paling kriminogen di sana yang nantinya untuk membantu personel PBB yang lain dalam melakukan patroli," imbuhnya.

3. Iptu Motalip Litiloly – Polisi Tapal Batas dan Pedalaman
Ketika riak konflik mewarnai wilayah pedalaman Papua, Kasat Samapta Polres Nduga, Iptu Motalip Litiloly, memilih hadir sebagai peredam amarah. Bertugas di Nduga sejak 2012, langkah awalnya dimulai dengan meredam bentrokan imbas wafatnya seorang tokoh daerah, anggota DPRD Paulina Ubruangge, melalui pendekatan adat dan dialog.

"Waktu kami penugasan di Nduga itu kan dari tahun 2012, pada saat itu ada kejadian salah satu anggota DPRD Fraksi PAN meninggal 10 Juni 2012, kalau nggak salah," kata Motalip.

Kasus meninggalnya anggota DPRD Paulina Ubruangge itu membuat situasi tidak kondusif. Motalip kemudian ditugaskan ke lokasi untuk mengamankan. Motalip ditunjuk Kapolres Wamena sebagai Kepala Pos Polisi Pembangunan Nduga yang baru saja dibentuk.

Pendekatan humanis yang konsisten selama belasan tahun membuatnya disapa hangat sebagai 'Pak Salib', sebuah simbol perdamaian bagi warga setempat. Kedekatan batin ini begitu erat, hingga warga Nduga tercatat dua kali melayangkan penolakan resmi ketika Motalip hendak dimutasi.

"Kalau ada apa-apa di Polres itu tetap Pak Talip dicari. Pak Talip itu sudah 2 kali dimutasi dari Nduga, tapi masyarakat selalu demo dan minta Pak Talip dikembalikan," kata pengusul Ipda Motalip yang merupakan wartawan di Jayapura, Dhias Suwanti.

Iptu Motalip Litiloly – Polisi Tapal Batas dan Pedalaman

AKP Siti Elminawati – Polisi Pelindung Perempuan, Anak dan Kelompok Rentan

Kombes Norul Hidayat – Polisi Berintegritas

4. AKP Siti Elminawati – Polisi Pelindung Perempuan, Anak dan Kelompok Rentan

Di tengah tingginya dinamika kasus kejahatan terhadap perempuan dan anak di Sulawesi Tengah, AKP Siti Elminawati berdiri di garis terdepan. Polwan pertama yang dipercaya menjabat Kasat Reskrim di wilayah hukum Polda Sulteng ini telah menangani ribuan kasus menonjol, termasuk pengungkapan kasus kekerasan seksual anak oleh 11 pelaku di Parigi Moutong pada 2023.

"Kasus persetubuhan anak (oleh) 11 orang yang melakukan dan itu menjadi trending topic pada saat itu, alhamdulillah saya yang menangani. Itu juga komunikasi dengan korban agak sulit tapi saya berusaha untuk kedekatan secara emosional sehingga saya bisa mendapatkan korban itu sendiri,” ungkap AKP Siti.

“Itu yang Parigi, yang ada anggota Polrinya, ada kepala desa, ada guru, kan ada 11 orang," sambungnya.

AKP Siti mengatakan kasus ini terungkap setelah adanya laporan dari masyarakat. Ia menyebut ada transaksional dalam kasus pemerkosaan ABG tersebut.

"Bahwa hal tersebut terjadi 11 orang itu, mohon maaf, itu ada transaksional, tapi kita tidak melihat bahwa anak ini ada transaksional ada kebutuhan A-B-C, tapi kita melihat anak yang berusia di bawah 18 tahun, apapun ceritanya itu tidak diperbolehkan orang dewasa melakukan persetubuhan terhadap anak tersebut," jelas AKP Siti.

Kerja nyata Siti tak berhenti pada pemidanaan pelaku. Ia menggandeng instansi pemerintah untuk menjamin pemulihan trauma jangka panjang serta pemenuhan hak-hak dasar bagi para korban.

"Beberapa kasus juga seperti tidak punya anggaran untuk pulang padahal kasusnya cukup jauh, dari Parigi, dari kabupaten, itu Bu Siti sampai membantu untuk biaya transportasi. Beliau juga melihatkan sisi kemanusiaan untuk pemulangan," kata warga Palu sekaligus pengusul AKP Siti sebagai nominasi Hoegeng Awards 2026, Dewi.

5. Kombes Norul Hidayat – Polisi Berintegritas
Sebagai Kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Kepulauan Bangka Belitung, Kombes Norul Hidayat berkomitmen menyapu bersih praktik pungutan liar (pungli) dari lembaga pendidikan kepolisian.

"Pertama yang saya lakukan di SPN itu istilahnya menghapus pungli terlebih dahulu, jadi pungli kepada peserta didik kita hapuslah sama sekali, kalau bahasa saya kita zero-kan di situ," kata Kombes Norul.

Bagi Kombes Norul, SPN akan menghasilkan para pejuang pembangun peradaban. Sehingga, kata dia, para peserta didik yang nantinya akan menjadi polisi harus diajarkan tentang kedisiplinan, moral dan integritas.


"Kalau di dalam lembaga pendidikannya sendiri sudah diajarkan yang tidak baik pasti nanti dia balas dendam nanti kepada masyarakat. Jadi di situ pungli kita hapuskan," ucap dia.

Dalam kepemimpinannya, Kombes Norul menekankan transparansi total kepada para orang tua siswa, menolak tegas segala bentuk gratifikasi, serta meningkatkan kesejahteraan para tenaga pendidik.

"Memang transparansi, jadi inti dari sebuah pungli itu implementasinya adalah kita harus transparan masalah penggunaan keuangan. Anggaran yang didapat oleh SPN kita sampaikan betul kepada para orang tua, kepada para peserta didik, ini loh dapat ini, dapat ini, dari transparan itu kita akan mendapatkan feedback," ucap Kombes Norul.

Kombes Norul juga membuka pengaduan untuk orang tua. Ia menyebut orang tua dan peserta didik bisa membuat laporan jika ditemukan ada dugaan penyimpangan.

"Kita juga membuat laporan pengaduan, umpamanya ada keluhan, umpamanya dari makan, seharusnya telurnya utuh menjadi separo, kita membuat laporan seperti itu. Setiap berapa periode tertentu kita cek, apa yang kamu dapat, ATK (alat tulis kantor) dan lain sebagainya," ujar dia.

Bagi Kombes Norul, menjaga integritas di lingkungan pendidikan adalah fondasi mutlak untuk melahirkan generasi pengayom masyarakat yang tak bisa dibeli. Mengacu pada pepatah ing madya mangun karso tut wuri handayani, ia ingin menanamkan karakter seorang guru yang memberikan teladan di depan, mendorong di tengah, dan memberikan semangat di belakang.

"Karena ada filosofi bahwa kalau pengen melihat perilaku polisi itu harus dilihat dari perilaku masyarakatnya. Di dalam lembaga pendidikan kita harus bisa melihat perilaku gurunya, gurunya seperti apa ya itu nanti hasil didiknya, jadi karakter guru harus betul-betul saya tanamkan," jelas Kombes Norul.

Menyimpan Harapan, Menjaga Kepercayaan
Hadirnya kelima penerima anugerah ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai kepemimpinan Jenderal Hoegeng tidak pernah pudar ditelan zaman. Di tengah ujian krisis kepercayaan terhadap institusi penegak hukum, dedikasi mereka menjadi jawaban atas kerinduan masyarakat akan hadirnya sosok pengayom yang bersih dan berdedikasi.

Sebagaimana pesan mendalam yang pernah diutarakannya oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur), "Kalau semua polisi seperti Pak Hoegeng, saya yakin Indonesia ini aman dan tenteram."

Hoegeng Awards 2026 pada akhirnya bukan sekadar seremoni penghargaan tahunan. Ia adalah komitmen bersama untuk menjaga api integritas tetap menyala—membuktikan kepada bangsa bahwa menjadi seragam sejati berarti siap menjadi pelayan masyarakat yang berdiri tegak di atas nilai-nilai kejujuran.


Reporter/Penulis: Hana Nushratu
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE