INTERMESO

Jalan Kaki Menyusuri Sunda Kelapa

“Pengalaman seperti ini bisa diikuti siapa saja tanpa biaya, tak heran peminatnya selalu banyak”

Foto : Melisa Mailoa

Minggu, 19 Juli 2026

Sore itu, langkah-langkah kecil mulai bergerak dari pelataran Kota Tua menuju arah utara. Matahari belum sepenuhnya turun, tetapi sinarnya sudah melunak, memberi bayangan panjang di antara bangunan-bangunan tua. Rombongan berjumlah lebih dari belasan orang berjalan perlahan, menyusuri jalan yang mungkin bagi sebagian orang hanya terlihat sebagai bagian dari kota yang sibuk, namun bagi mereka yang ikut tur hari itu, setiap sudut menyimpan cerita.

Belasan orang mulai berkumpul di kawasan Kota Tua pada Sabtu, (04/07/2026). Sebagian datang sendiri, sebagian lagi berpasangan, dengan ekspresi yang sama, penasaran. Jam belum tepat menunjukkan pukul tiga sore, tapi suasana sudah terasa hidup. Mereka berdiri di sekitar titik kumpul, saling melempar senyum kecil, sesekali mengecek ponsel untuk memastikan tidak salah jadwal. Hari itu, detikX ikut meramaikan sesi sore Free Guided Walking Tour dengan rute Historical Port of Sunda Kelapa, dipandu oleh seorang pemandu yang sudah menunggu dengan daftar peserta di tangan.

Program Free Guided Walking Tour ini memang bukan hal baru. Sejak 2023, program ini dijalankan oleh UPK Kota Tua Jakarta di bawah Disparekraf DKI Jakarta. Namun dalam beberapa tahun terakhir, gaungnya semakin terasa. Jumlah peserta terus bertambah, rute semakin beragam, dan antusiasme publik meningkat.

Setelah semua peserta lengkap, tur dimulai dengan pengantar singkat. Tanpa banyak basa-basi, rombongan langsung bergerak meninggalkan kawasan inti Kota Tua. Langkah kaki perlahan menyusuri jalan, meninggalkan bangunan-bangunan kolonial di belakang, menuju arah utara. Perhentian pertama adalah Jalan Cengkeh, sebuah ruas jalan yang kini tampak sibuk dengan lalu lintas, tetapi menyimpan cerita panjang sebagai jalur distribusi rempah pada masa Batavia. Di sinilah perjalanan benar-benar dimulai, ketika langkah kaki bertemu dengan lapisan sejarah yang selama ini mungkin hanya terdengar sebagai cerita.

Di tengah rombongan, seorang pemandu berjalan sedikit di depan. Suaranya tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat peserta memperlambat langkah dan mendekat. Ia adalah Haidar Husein, tenaga ahli pemandu wisata Kota Tua Jakarta.

Aktivitas bongkar muat sebuah kapal tongkang di Pelabuhan Sunda Kelapa
Foto : Melisa Mailoa

Di tengah rombongan, seorang pemandu berjalan sedikit di depan. Suaranya tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat peserta memperlambat langkah dan mendekat. Ia adalah Haidar Husein, tenaga ahli pemandu wisata Kota Tua Jakarta.

Ia tidak langsung berbicara panjang. Ia memberi waktu beberapa detik, seolah ingin peserta benar-benar melihat, bukan sekadar lewat. Baru kemudian ia menjelaskan bahwa kawasan ini dulu menjadi jalur distribusi rempah. Nama “Cengkeh” bukan kebetulan. Ia adalah penanda dari masa ketika komoditas itu menjadi pusat perebutan kekuasaan global.

“Dari program ini terutama rute Sunda Kelapa ini kita memberi edukasi bahwa orang dari Eropa dan Belanda datang lalu mencari rempah-rempah. Tempat ini menjadi awal mula bagaimana mereka masuk ke Batavia,” katanya.

Kalimat itu membuka lapisan sejarah yang sering kali terlewat. Jalan yang kini dipenuhi kendaraan dulunya adalah bagian dari sistem perdagangan dunia. Tidak ada lagi karung rempah yang diangkut, tetapi jejaknya masih tertinggal dalam nama dan fungsi kawasan.

Perjalanan berlanjut ke Gerbang Amsterdam. Struktur tua itu berdiri tenang, hampir tersembunyi di antara perkembangan kota. Tidak semua orang yang melintas menyadari pentingnya tempat itu.

Di depan gerbang, Haidar mulai mengurai cerita tentang Kasteel Batavia, benteng besar yang dulu menjadi pusat kekuasaan VOC. Gerbang ini hanyalah bagian kecil dari kompleks besar yang kini sudah tidak ada. Ia menjelaskan bagaimana VOC membangun Batavia dengan ambisi menjadikannya “Amsterdam di Timur”. Namun seiring waktu, benteng itu dibongkar. Yang tersisa hanya fragmen, seperti gerbang yang kini berdiri sendiri.

Haidar Husein (kanan) sedang memberikan pennjelasan mengenai Gerbang Amsterdam

Foto : Melisa Mailoa

Deretan mobil rongsok di belakang Gudang Timur VOC

Foto : Melisa Mailoa

Dulu tempat penyimpanan rempah dan komoditas dagang, kini jadi saksi bisu sejarah Batavia

Foto : Melisa Mailoa

Rombongan kemudian bergerak ke Gudang Timur VOC. Bangunan itu tampak kokoh, dengan dinding tebal yang menyimpan jejak waktu. Tidak banyak ornamen, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Haidar menjelaskan bahwa gudang ini digunakan untuk menyimpan berbagai komoditas sebelum dikirim ke Eropa. Ia juga menyinggung tentang material bangunan yang sebagian berasal dari Belanda atau dibuat dengan teknik khas Eropa.

Penjelasan itu membuat peserta tidak lagi melihat bangunan itu sebagai sekadar gudang tua. Ia menjadi bagian dari jaringan perdagangan global yang pernah menghubungkan Batavia dengan dunia.Namun, dinamika tur tidak hanya berhenti pada bangunan besar. Saat memasuki Kampung Tongkol, suasana berubah drastis. Jalanan menyempit, rumah-rumah berdempetan, dan kehidupan terasa lebih dekat. Di sinilah tur mulai terasa personal.

Seorang peserta, Olivia Senorita, berjalan sambil sesekali memperhatikan sekitar. Perempuan berusia 30 tahun itu datang dari Bekasi. Ia bekerja di bidang food and beverage, tetapi memiliki ketertarikan khusus pada kegiatan semacam walking tour ini. Pagi harinya, ia bahkan sudah mengikuti tur lain bersama Jakarta Good Guide.

“Awalnya tahu dari Instagram lagi scroll tiba-tiba ada muncul di feeds soal program ini. Kebetulan lagi buka rute Sunda Kelapa ini dan emang salah satu wishlist aku jadi daftar aja,” ungkapnya ketika ditanya alasan mengikuti walking tour sore itu.

Ketika rombongan melewati Kampung Tongkol, ia tampak lebih antusias. Ia memperhatikan lingkungan sekitar, seolah mencoba menghubungkan cerita yang baru saja didengar dengan realitas yang ada di depan mata.

“Tadi ada namanya kampung tongkol, nah kalau nggak ikut tur ini aku nggak akan tahu kalau di Jakarta ada kampung namanya kampung tongkol. Dengan ikutan tur ini aku jadi dapat sudut pandang berbeda dari bangunan historis di Jakarta.”

Sebuah mercusuar di Marina Batavia
Foto : Melisa Mailoa

Walking tour membuka akses ke ruang-ruang yang mungkin tidak akan ia kunjungi sendiri. Perjalanan kemudian mencapai puncaknya di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Menjelang akhir tur, peserta melanjutkan langkah ke Batavia Marina sebagai penutup yang terasa sempurna setelah perjalanan panjang penuh cerita. Suasana langsung berubah lebih tenang. Peserta diminta naik ke lantai lima, titik yang sejak tadi disebut-sebut sebagai momen paling ditunggu. Dan benar saja, dari atas sana, pemandangan Teluk Jakarta terbentang luas tanpa halangan. Matahari perlahan turun, menciptakan gradasi warna jingga yang memantul di permukaan laut, dengan siluet kapal-kapal di kejauhan. Deretan kapal pinisi berdiri megah di sepanjang dermaga.

“Ternyata dari sini kita juga bisa lihat kapal tongkang buat angkut batubara ke Kalimantan dan berlabuh di Pelabuhan Sunda kelapa ini aku baru tahu,” kata Olivia sembari menikmati matahari terbenam.

Walking tour itu mungkin hanya berlangsung sekitar dua jam. Namun dalam waktu singkat itu, peserta diajak menelusuri ratusan tahun sejarah, melihat bagaimana masa lalu dan masa kini saling bertemu.

Program Free Guided Walking Tour UPK Kota Tua menjadi salah satu pilihan wisata yang semakin diminati karena sifatnya yang gratis, terbuka untuk umum, dan bisa diikuti setiap hari, baik di hari kerja maupun akhir pekan. Tanpa perlu biaya, pengunjung sudah bisa merasakan pengalaman menjelajahi kawasan bersejarah dengan cara yang lebih hidup dan mendalam. Tur ini dibagi ke dalam dua sesi setiap harinya, yakni pagi pukul 09.30 WIB dan sore pukul 15.00 WIB, dengan durasi sekitar 90 hingga 120 menit. Selama waktu tersebut, peserta akan diajak berjalan kaki menyusuri berbagai titik penting di Kota Tua, ditemani pemandu profesional yang tidak hanya menguasai sejarah, tetapi juga mampu menyampaikan cerita dengan cara yang menarik dan mudah dipahami.

Untuk mengikuti tur ini, calon peserta cukup mendaftar melalui tautan formulir yang tersedia di profil Instagram resmi UPK Kota Tua, @kotatua.jkt. Menariknya, rute tur tidak selalu sama setiap minggu. Ada sistem rotasi yang membuat pengalaman setiap kunjungan terasa berbeda. Beberapa rute yang ditawarkan antara lain menjelajahi kawasan Kota Tua, menyusuri kanal dan bekas tembok Batavia, mengungkap sisi lain Chinatown Glodok, hingga menelusuri jejak sejarah di Kampung Arab Pekojan. Variasi ini memberi kesempatan bagi pengunjung untuk mengenal Jakarta dari berbagai sudut, sekaligus membuat tur ini layak diikuti lebih dari sekali.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE