INTERMESO

Mahjong Jadi Bahasa Baru Gen Z

Permainan mahjong menemukan audiens baru, anak muda yang mencari hiburan sekaligus koneksi nyata

Foto : Melisa Mailoa

Minggu, 12 Juli 2026

KLIK-KLAK. Ubin-ubin mahjong saling beradu, membentuk ritme yang nyaris menyerupai musik. Komposernya tak lain adalah tangan-tangan yang bergerak tanpa jeda. Empat pasang tangan ‘menari’ cepat, mengocok, menyusun, lalu membuang ubin dengan penuh keyakinan. Setiap gerakan menyatu dalam irama yang memenuhi seluruh ruangan.

Beberapa tahun lalu, pemandangan seperti ini mungkin terasa asing. Mahjong, permainan ubin asal Tiongkok yang kerap diasosiasikan dengan ruang tamu para lansia atau momen kumpul keluarga, kini justru menemukan rumah baru di tengah anak muda urban. Permainan ini tak lagi tersembunyi di ruang privat, melainkan hadir terbuka di hotel, restoran, hingga kafe-kafe. detikX mengikuti sesi permainan mahjong yang diselenggarakan komunitas Sahabat Mahjong Society pada Minggu, (05/07/2026). Bertempat di kawasan elit ibu kota, tepatnya di kafetaria Hotel Monopoli, Kemang, Jakarta Selatan.

Di tengah ruangan itu, Angela Widowati, yang akrab disapa Ella, berdiri sambil memperhatikan jalannya permainan. Sesekali ia mendekat, membetulkan susunan ubin peserta, atau menjelaskan ulang aturan dengan sabar. Di balik kesibukan itu, ia adalah sosok yang memulai semuanya. Sejak Maret 2025, wanita berusia 57 tahun ini mendirikan dan mengelola komunitas Sahabat Mahjong Society yang awalnya berangkat dari sebuah rumah lansia di kawasan Pondok Indah.

Seiring waktu, komunitas ini berkembang pesat, tak lagi didominasi lansia, tetapi juga menarik minat kalangan yang lebih muda.

“Semakin banyak orang tahu dan semakin banyak orang datang penasaran. Apalagi kalau jadwal sesi kita di kafe, banyak sekali dari gen Z. Pesertanya dari yang muda sampai yang lansia, komplit lah semua ada,” tutur Ella saat ditemui detikX. Mahjong perlahan menjadi ruang pertemuan lintas generasi.

Namun, perjalanan Ella dengan mahjong jauh lebih panjang dari sekadar satu tahun terakhir. Ia mengenal permainan ini secara tidak sengaja, puluhan tahun lalu, saat hidup berpindah-pindah mengikuti tugas suaminya sebagai diplomat. Sebagai ibu rumah tangga, Ella memanfaatkan waktunya untuk bergaul sekaligus menambah pengetahuan, salah satunya lewat mahjong. Pertemuan pertamanya dengan permainan ini terjadi sekitar 25 tahun lalu, saat ia masih mengandung anak kedua. Sejak itu, di setiap negara penempatan, ia selalu mencari komunitas untuk bermain.

“Pertama kali kenal mahjong 25 tahun lalu sejak anak kedua masih di perut. Di situ saya mencoba main mahjong, hosting di rumah, dari Peru pindah ke beberapa negara berikutnya saya selalu mencari komunitas main mahjong. Setidaknya 1 minggu sekali saya ada main,” cerita Ella. Mahjong menjadi cara Ella membangun koneksi di tempat asing. Permainan ini bukan sekadar hiburan, tetapi jembatan sosial, bahasa universal yang tidak membutuhkan banyak kata.

Keseruan mahjong tidak hanya hadir dari kemenangan, tetapi juga dari proses membaca permainan dan lawan
Foto : Melisa Mailoa

Kebiasaan itu terus berlanjut, hingga titik baliknya terjadi saat ia berada di Washington DC, Amerika Serikat. Saat itu, Ita Mahendra Siregar, istri Duta Besar Indonesia, mendorongnya untuk mengajarkan mahjong ketika kembali ke Jakarta. Awalnya ia ragu, mengingat permainan ini belum terlalu populer di Indonesia. Namun, keseriusan ajakan tersebut justru ia tanggapi dengan lebih serius lagi. Ella menyusun modul pembelajaran saat penempatan terakhir di Malaysia, agar bisa mengajarkan mahjong secara lebih sistematis.

“Saya harus bisa membagikan ilmu ini dengan cara yang terstruktur, supaya mudah dipahami,” ujarnya. Ella mulai menyusun modul, sesuatu yang terasa kurang familiar untuk permainan yang biasanya dipelajari secara turun-temurun. Ia merancang tahapan belajar dari nol hingga tingkat lanjut, memastikan siapa pun bisa memahami permainan ini tanpa merasa kewalahan.

Pendekatan ini menjadi kunci. Di komunitas ini, mahjong tidak diajarkan sebagai permainan eksklusif, melainkan sebagai proses belajar yang inklusif. Dari pemula hingga pemain reguler, semua diberi ruang untuk berkembang. Dan dari proses itulah muncul sesuatu yang lebih dari sekadar permainan.

“Mereka merasakan enak seperti healing tapi bukan healing yang buang waktu saja. Mereka bisa santai sama teman-teman, ketawa, tapi otaknya tetep jalan beraktivitas.”

Secara global, mahjong memang tengah mengalami kebangkitan. Data Eventbrite mencatat pencarian terkait mahjong melonjak 18 kali lipat sepanjang 2023–2025, sementara jumlah acara bertema mahjong meningkat hingga 45 kali lipat. Dari bar di Los Angeles hingga klub sosial di New York, permainan ini menjelma menjadi bagian dari gaya hidup urban.

Di Indonesia, gejala serupa mulai terlihat. Di tengah mahalnya biaya hiburan dan kejenuhan terhadap interaksi digital, mahjong hadir sebagai ‘third place’ alias ruang ketiga di luar rumah dan kantor. Satu meja, empat orang, dan waktu yang cukup panjang untuk berbincang menjadi formula sederhana yang justru terasa langka.

Di Sahabat Mahjong Society, jadwal bermain hampir tidak pernah kosong. Kepadatan jadwal itu bukan tanpa alasan. Permintaan terus datang, bahkan sering kali melebihi kapasitas. “Besok kami ada sesi mahjong di Pondok Indah udah penuh, sampe luber-luber. Sekarang tiap hari ada, kecuali kamis kami libur, kalau nggak libur saya nggak kuat,” kata Ella sambil tertawa.

Antara tradisi dan modernitas, mahjong menjembatani generasi dalam satu meja

Foto : dok Sahabat Mahjong Society

Komunitas ini memperlihatkan bagaimana permainan klasik dapat berkembang melalui partisipasi generasi baru

Foto : dok Sahabat Mahjong Society

Setiap susunan ubin mencerminkan pilihan, perhitungan, dan intuisi pemain

Foto : Melisa Mailoa

Di antara para peserta, wajah-wajah muda mulai mendominasi. Salah satunya adalah Tesa Digrazia, 23 tahun, yang kini menjadi asisten pengajar di komunitas tersebut. Ketertarikannya pada mahjong berawal dari rumah, tetapi berkembang seiring terbentuknya komunitas.

“Awal mula saya tertarik mahjong dari ibu saya sendiri (Ibu Ella) dan saya mulai agak serius karena terbentuk si komunitas ini. Kalau buat pemula mungkin awalnya emang terasa intimidating mungkin, karena harus hafalin tiles-nya ada banyak gambar dan simbol,” katanya.

Sekilas, permainan strategi berbasis ubin yang berasal dari Tiongkok ini mengingatkan pada perpaduan kartu remi dan domino, tetapi dengan kompleksitas yang lebih tinggi. Setiap pemain memegang sejumlah ubin dengan simbol dan karakter berbeda, lalu secara bergiliran mengambil dan membuang ubin untuk membentuk kombinasi tertentu.

Di balik gerak yang tampak cepat dan repetitif, mahjong menuntut konsentrasi, strategi, serta kemampuan membaca pola dan peluang. Pemain harus jeli mengingat ubin yang sudah keluar, memperkirakan langkah lawan, dan menentukan kombinasi terbaik dari tangan yang dimiliki.

Apa yang awalnya terasa rumit perlahan menjadi familiar. Bagi Tesa, latar belakangnya sebagai pemain game justru membantu memahami permainan ini.

“Kalau buat saya nggak gitu susah karena saya senang main game. Sebagai gamers kita sudah terlatih dan terbiasa membangun strategi. Yang bikin asik pasti pas menang ya, dan mahjong itu mainnya nggak bisa sendiri jadi makin seru karena ketemu orang-orang baru,” ucapnya.

Mahjong menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan layar, sentuhan, interaksi langsung, dan pengalaman kolektif. Aspek visualnya juga yang membuat permainan ini viral.

Komunitas Sahabat Mahjong Society yang didirikan oleh Angela Widowati
Foto : dok Sahabat Mahjong Society

“Yang ditunggu-tunggu itu pas kita menyortir ubin-ubin karena estetik banget waktu diacak-acak dan disusun-susun,” kata Tesa.

Ubin-ubin mahjong, dengan simbol bambu, lingkaran, naga, dan bunga, memang memiliki daya tarik visual yang kuat. Saat disusun rapi atau dikocok bersama, ada kepuasan sensorik yang sulit dijelaskan, sesuatu yang membuat permainan ini terasa “Instagrammable” tanpa kehilangan esensinya.

Di balik popularitasnya, mahjong juga membawa sejarah panjang. Permainan ini berkembang di Tiongkok pada pertengahan abad ke-19, menjelang akhir Dinasti Qing. Awalnya, ia identik dengan permainan judi yang didominasi laki-laki. Seiring waktu, mahjong menyebar ke berbagai negara melalui komunitas ekspatriat, beradaptasi dengan berbagai versi lokal seperti Hong Kong, China, hingga Singapura. Di Indonesia, stigma perjudian sempat menjadi hambatan regenerasi. Namun, gelombang baru yang muncul saat ini tampaknya membawa pendekatan berbeda, lebih fokus pada aspek strategi, sosial, dan budaya.

Bukan hanya itu, dari sisi kesehatan pun mahjong mulai dilihat dalam perspektif yang lebih positif. Aktivitas ini melibatkan konsentrasi, daya ingat, hingga kemampuan mengambil keputusan, yang menjadikannya semacam latihan otak yang menyenangkan. Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa mahjong bukan sekadar permainan sosial, tetapi juga memiliki manfaat kognitif yang signifikan, terutama pada lansia.

Misalnya, studi longitudinal tahun 2024 yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Public Health menemukan bahwa frekuensi bermain mahjong berkaitan dengan fungsi kognitif yang lebih baik, termasuk perhatian, kemampuan berhitung, koordinasi, dan bahkan memperlambat penurunan kognitif seiring usia . Temuan ini diperkuat oleh studi lain yang menyimpulkan bahwa aktivitas seperti mahjong dapat berkontribusi pada penurunan risiko demensia pada orang tua. Ella pun turut merasakan manfaat dari rutin bermain dan mengajar permainan mahjong.

“Sebelum saya mengajar, waktu masih main seminggu sekali, saya sering lupa, misalnya sudah masuk ruangan tapi lupa mau ngapain. Sekarang, sejak hampir tiap hari mengajar, ingatnya jadi lebih cepat. Itu yang paling saya rasakan,” ungkapnya.

Tak heran jika permainan ini kembali diminati lintas generasi. Generasi baby boomers yang memasuki masa pensiun kini beralih ke mahjong, bukan hanya sebagai cara untuk bertemu orang baru, tetapi juga karena permainan ini menawarkan hiburan yang seru sekaligus menantang.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE