Bandung Lautan Gastronomi
Bandung Lautan Gastronomi
Kuliner di Bandung bak atraksi yang mewakili zamannya: FOMO, viral budaya urban, beragam. Sebuah kekayaan gastronomi yang patut dijelajahi, meski cuma punya waktu sehari. Ke mana saja?
Aroma roti tercium hangat di antara harum mayones dan daging iris kecokelatan yang mencuri perhatian. Warnanya tergradasi dengan baik, dari cokelat dan krem roti sourdough, kekuningan keju cheddar, merah daging fillet, hingga hijau acar mentimun.
Tak jauh, irisan keripik kentang tersaji di beberapa piring yang berderet memanjang. Terdapat grill kecokelatan dengan daging pastrami melimpah disertai keju meleleh siap diantarkan ke meja para pelanggan. Tidak ada layanan bawa pulang, semua makan di tempat dan mengantre satu hingga dua jam untuk memperoleh kursi. Antrean dimulai sejak pagi, saat perut pertama rindu makanan ‘kantin’, pengunjung berdiri di depan pintu yang belum sepenuhnya dibuka. Di sini, di BMB Canteen, pesanan pertama pada pukul 08.00 WIB dapat menjadi pilihan untuk memulai petualangan sehari di Kota Bandung.
Menjelang siang, silakan bergerak pelan ke Makmur Jaya (MakJay), salah satu coffee shop yang pengunjungnya selalu antre demi secangkir es kopi susu dengan rasa creamy halus tapi rasa pahit yang tetap lekat. Ada beberapa menu klasik dengan sentuhan khas MakJay, seperti dirty latte. Menu ini berupa kopi espreso yang dituang pada susu di bagian bawah sehingga membuat teknik layering apik sebelum diseruput dan memekakkan tenggorokan.
Makan siang bisa lebih banyak pilihan. Jika mencari pandangan mata ke lereng Kota Bandung dilengkapi dengan semilir angin lembah, cobalah ke makanan khas Sunda di Kopi Lebak Caringin, Dago. Ada ayam bakar dan ikan bumbu Jimbaran. Juga ada barista, yang bakal membuat betah berlama-lama setelah makan kenyang.
Yang ingin mencoba suasana lebih ‘nyeni’, silakan menyantap di Selasar Soenaryo Art Space (SSAS). Masih di Dago juga, sekitar 2,5 kilometer dari Lebak Caringin. Sebentar, art space tapi menyajikan destinasi lidah? Ya, itu tak meleset. SSAS menyajikan menu Western hingga lokal, seperti garang asem, nasi goreng, hingga kopi espreso. Sebelum menyantap hidangan dan kopi di kafenya, pengunjung bisa berjalan-jalan terlebih dulu di ruang pamer, menikmati instalasi seni, patung, maupun lukisan. Tidak hanya mengenyangkan lambung, tetapi juga memberi makan pada jiwa dan estetika.
Saat matahari bergeser ke barat, sajian matcha Noisy bisa menjadi pilihan autentik di tengah panasnya musim kemarau. Kalau tidak, silakan menikmati sajian roti hangat yang bersanding dengan kopi di Theo’s Wife Lois. Hanya berjalan kaki, tak jauh dari situ, terdapat roti panggang, seperti bolu, double cheese cake, dan belasan jenis kue yang ramai oleh pelancong di Prima Rasa sebagai oleh-oleh. Mengakhiri hari, silakan mengenyangkan perut di makanan Sunda, Pandan Wangi, yang selalu antre terutama pada akhir pekan dan musim liburan.
Tiba-tiba insulin perlahan naik, hormon serotonin dan melatonin memaksa badan lebih relaks dan mata sedikit mengantuk. Kota Bandung mulai berpendar di antara lampu malam, di antara sudut kota yang diisi dengan mural hingga pengamen jalanan. Ia berhasil mengaduk-aduk memori baik hari ini dengan masakan Sunda yang jujur, kopi yang lembut, dan angin pegunungan yang memanggil untuk kembali. Kota ini memberi apa yang ia punya, tanpa banyak bicara tapi dengan luapan rasa dan racikan lidah para juru masak yang autentik dan terhormat. Kota Bandung menjadi lautan gastronomi, simpul kekayaan budaya, pengalaman sensorik manusia, dan cita rasa makanan.
BMB Canteen
Menyakikan Dirty Latte di Makmur Jaya Bukan Toko Bangunan
Suasana kuliner di SSAS Dago
Lebak Caringin
Antrean di BMB Canteen
Memasak di BMB Canteen
Antrean cemilan yang dijual kiloan di jalan Soka, Kota Bandung.
Matcha Noisy
Theo’s Wife Lois
Suasana rooftop di Lebak Caringin Dago, Bandung
Foto kolase peserta Liga Aspal yang diikuti anak-anak kategori U-13.



