Sejumlah pengunjung melihat-lihat koleksi kaset di Blok M Square, Jakarta Selatan | Foto : Muhammad Firman/detikFoto
Minggu, 24 Mei 2026Langkah kaki menurun pelan menuju basement Blok M Square, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, terasa seperti menyeberang ke waktu yang lain. Dari luar, kawasan ini tampak seperti pusat perputaran tren, kafe baru bermunculan, antrean panjang mengular, dan wajah-wajah muda sibuk dengan layar ponsel mereka. Namun begitu tiba ke lantai di basement, suasana berubah drastis.Tempat ini lebih mirip labirin kenangan.
Di antara lorong-lorong sempit yang dipenuhi tumpukan barang lawas, berdiri seorang pria yang sudah satu dekade turut menjaga semuanya tetap hidup. Ia adalah Untung, pemilik Hysteria Musik. Toko yang berjualan kaset pita itu tidak besar, namun padat oleh ribuan cerita yang terbungkus dalam plastik transparan dan pita magnetik. Di tengah dunia yang serba digital, benda kecil berbentuk persegi itu masih bertahan, berbaris rapi dalam plastik, sebagian lain mulai menguning dimakan waktu.
Saat detikX berkunjung ke kios milik Untung, tumpukan kaset terlihat di mana-mana. Di rak, di lantai, bahkan di sudut-sudut yang nyaris tak terjangkau tangan. Sebagian masih tampak rapi dalam plastik, sebagian lain menunjukkan jejak usia, cover yang mulai pudar, sudut yang terlipat, atau bekas selotip yang menguning.
“Saya jualan di sini udah 10 tahun,” ucap Untung saat ditemui detikX di lapaknya, Selasa (12/5/2026).
Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, apalagi untuk bisnis yang banyak orang anggap telah mati. Namun bagi Untung, kaset bukan sekadar barang dagangan. Ia adalah perpanjangan dari hidupnya sendiri, sesuatu yang sudah ia kenal sejak kecil.
“Dari SD udah dengerin (lagu-lagu) di radio walaupun radionya jelek. Zaman-zaman dulu kan radionya diikat-ikat, pakai batu baterai, gitu. Tapi, karena hobi musik, terus aja dengerin, cari tahu perkembangan musik-musik terutama musik Indonesia,” cerita Untung.
Minat itu bertahan, bahkan ketika ia sempat menjalani hidup sebagai pekerja kantoran. Namun dunia kantor ternyata tidak memberinya ruang yang sama. “Selama di kantor kan paling nggak suka bentrok-bentrokan, meeting juga disalahin mulu. Akhirnya, (saya memilih) resign.”

Sejumlah koleksi kaset di Blok M Square, Jakarta Selatan
Foto : Muhammad Firman/detikFoto
Di tokonya yang sempit dan dipenuhi rak-rak padat, jumlah koleksi bukan lagi sekadar angka. Ia adalah arsip hidup dari perjalanan musik itu sendiri. Rak-rak di dalam toko Hysteria Musik dipenuhi kaset yang disusun vertikal, horizontal, bahkan ditumpuk seadanya. Beberapa label sudah mulai pudar, beberapa masih terlihat baru. Namun semuanya memiliki satu kesamaan, mereka pernah menjadi suara yang didengar seseorang, di waktu yang berbeda.
“Banyak, banyak banget koleksinya. Puluhan ribu ini. Itu, dari dalam sama luar (negeri). Semua genre ada. Jadi, nggak bisa spesifik paling banyak (genre atau musisi) apa, gitu. Mungkin (yang) paling banyak Rock, dangdut,” ucap Untung yang memulai bisnis ini sejak tahun 2015. Tidak ada batasan di sini. Dangdut bisa berdampingan dengan rock, jazz dengan pop, Indonesia dengan luar negeri. Semuanya bercampur, seperti memori yang tidak pernah tersusun rapi.
Namun yang berubah bukan koleksinya, melainkan orang-orang yang datang mencarinya. Jika satu dekade lalu pembelinya didominasi kolektor serius, kini lanskap itu berubah drastis. Kini, wajah-wajah yang datang semakin beragam, didominasi generasi muda yang mungkin bahkan tidak tumbuh bersama kaset itu sendiri. Perubahan ini pun melahirkan fenomena baru yaitu pertemuan antara nostalgia dan tren digital.
“Sekarang lebih ke Gen-Z sama milenial. Dulu lebih ke kolektor orang dewasa,” katanya.
Perubahan ini membawa dinamika baru. Ada yang datang dengan rasa penasaran, ada yang sekadar mengikuti tren, dan ada pula yang benar-benar jatuh cinta pada format fisik yang mereka temukan untuk pertama kalinya.
Sebagian dari mereka, seperti yang diamati Untung, datang hanya untuk satu lagu-lagu yang sedang ramai di media sosial. Mereka tidak selalu mencari album, apalagi memahami keseluruhan karya seorang musisi. Yang penting adalah menemukan satu titik yang terasa familiar.
Namun di antara itu semua, masih ada pembeli yang datang dengan pendekatan berbeda. Mereka tidak terburu-buru. Mereka membuka satu per satu tumpukan, membaca nama-nama yang mungkin asing, lalu bertanya. Percakapan pun terjadi tentang musik, tentang era, tentang suara yang pernah besar di masanya.

Disini juga disediakan alat pemutar untuk masing masing jenis kaset.
Foto : Muhammad Firman/detikFoto
Di sinilah peran Untung berubah. Ia bukan hanya penjual, tetapi juga semacam pemandu. Ia tahu mana yang sering dicari, mana yang mulai langka, dan mana yang tiba-tiba kembali populer tanpa alasan yang benar-benar jelas. Nama-nama seperti Utha Likumahuwa, Fariz RM, hingga Chrisye kembali muncul di permukaan. Band-band seperti Dewa, Sheila On 7, dan Naif pun ikut menyusul. Bahkan, ada kecenderungan baru yang cukup menarik. Generasi muda mulai melirik jazz Indonesia, genre yang sebelumnya terasa jauh dari arus utama mereka.
Nilai kaset-kaset itu pun ikut berubah. Jika dulu kaset hanya dianggap barang murah yang mudah didapat, kini ia menjelma menjadi objek koleksi dengan harga yang terus naik. Faktor kelangkaan, kondisi fisik, dan permintaan pasar membuat satu kaset bisa memiliki nilai yang sangat berbeda dari yang lain.
“Dulu paling Rp15–Rp35 ribu Sekarang paling murah Rp40 ribu,” terang Untung. “Kayak macam kaset Dara Puspita itu sekitar Rp.400-Rp.500 ribu satunya, Sheila On 7 juga yang (keluaran) baru (atau album-album lainnya) yang langka-langka, pokoknya langka dan banyak dicari itu pasti mahal.”
Beberapa bahkan melampaui itu jauh, terutama rilisan yang sudah sulit ditemukan. Dalam kondisi tertentu, kaset bisa mencapai ratusan ribu rupiah, bukan hanya karena musiknya, tetapi karena statusnya sebagai artefak.
Menariknya, kebangkitan ini justru terjadi di tengah kemudahan akses musik digital. Di saat lagu bisa diputar kapan saja hanya lewat ponsel, sebagian orang justru memilih kembali ke format yang lebih rumit, yang harus diputar, dibalik, dan dirawat. Bagi Untung, fenomena ini bukan sesuatu yang aneh. Ia melihatnya sebagai siklus. Platform digital mungkin memudahkan orang mengenal musik, tetapi justru dari situ muncul keinginan untuk memiliki sesuatu yang lebih nyata, sesuatu yang bisa disentuh.
Meski sempat mencoba berjualan secara online, Untung akhirnya memilih kembali ke cara lama, menunggu pembeli datang langsung ke tokonya. Ada alasan sederhana di balik keputusan itu. Untung merindukan interaksi dengan pembeli. Di ruang kecil itu, transaksi tidak pernah benar-benar berhenti pada jual beli. Satu pertanyaan bisa berujung pada obrolan panjang, satu kaset bisa membuka cerita tentang puluhan musisi lain.
“Kalau datang ke sini, (bisa saja pembeli) nanya satu jadi (membeli) dua, gitu.Dan, saya juga lebih suka customer itu ngebahas musik juga,” tutur Untung.

Kaset penyanyi Indonesia sampai luar negeri ada di sini
Foto : Muhammad Firman/detikFoto
Di tengah kesederhanaan itu, Untung tetap menyimpan harapan yang sama bahwa kaset, CD, dan rilisan fisik lainnya tidak akan hilang begitu saja. “Ya, tentunya kita tetap (bertahan) dengan konsistensi kita jualan begini berharap (agar) rilisan fisik makin ke sini, makin banyak yang suka.”
Berburu kaset di sudut basement bukan sekadar aktivitas membeli. Ada sensasi yang sulit dijelaskan ketika seseorang melangkah masuk ke lorong-lorong sempit, dipenuhi deretan CD dan kaset lawas yang ditumpuk tanpa urutan pasti. Plastik bening yang mulai kusam, sampul album dengan warna pudar, hingga aroma khas barang lama yang bercampur debu tipis, semuanya menghadirkan pengalaman yang nyaris tak bisa ditemukan di tempat lain. Bagi Rifa, justru di situlah letak daya tariknya, sebuah ruang yang menawarkan kemungkinan tak terduga di setiap sudutnya.
“Semua yang aku suka kayaknya ada deh di sini. Kayak bisa ketemu di sini. Barang-barangnya tuh nggak umum dicari di tempat lain. Sometimes cuma di Blok M doang,” ujar Rifa, salah satu pengunjung Blok M.
Ketertarikan Rifa pada kaset dan CD lawas tidak datang begitu saja. Rifa membawa jejak selera musik dari rumah. Ia tumbuh dengan lagu-lagu yang diputar orang tuanya, membuatnya akrab dengan nama-nama lama yang kini justru terasa langka. Datang ke tempat ini bukan hanya soal mencari sesuatu untuk dirinya sendiri, tetapi juga berburu kemungkinan hadiah, sesuatu yang punya nilai personal.
“Nyari CD buat mama kayak Backstreet Boys. Aku tadi sebenernya ketemu CD Gorillaz yang bagus banget, tapi (harganya) mahal,” ucap Rifa.
Di sisi lain, Gwen datang dengan preferensi yang berbeda. Ia sedang tenggelam dalam dunia musik Jepang, khususnya Arashi. Ketertarikannya membuat ia menyusuri satu per satu lapak, sesekali bertanya pada penjual, berharap menemukan jejak fisik dari musik yang selama ini hanya ia nikmati secara digital.
“Aku sih udah ngeliat banyak banget album K-Pop, terus ada juga Aikatsu. Lumayan banyak yang kayak Jepang-Jepangnya, gitu ya,” ucap Gwen.
Namun, pencarian itu tidak selalu berbuah hasil. Nama yang ia cari belum juga muncul di antara tumpukan CD yang ada. Meski begitu, prosesnya sendiri tetap terasa menyenangkan. Semua itu seperti memberi petunjuk bahwa apa yang dicari mungkin belum ditemukan hari ini, tapi bisa saja muncul di kunjungan berikutnya.
Reporter: David Kristian Irawan (magang)
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Melisa Mailoa
Desainer: Fusd Hasim