INTERMESO

Menunggu Magrib di Tengah Hutan Beton Kuningan

Ngabuburit di Masjid Jami’ Hidayatullah, ruang tenang di antara gedung-gedung tinggi Setiabudi

Foto : Khatibul Azizy Alfairuz (magang)

Minggu, 8 Maret 2026

Menjelang sore, kawasan Kuningan di Jakarta Selatan biasanya bergerak cepat. Mobil mengalir tanpa jeda di jalan-jalan utama, karyawan kantor berjalan terburu-buru mengejar waktu, dan suara klakson sesekali menyelip di antara deretan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Kawasan ini adalah jantung aktivitas perkantoran, ritmenya cepat, padat, dan hampir tidak pernah benar-benar berhenti.

Namun di salah satu sudut Setiabudi, suasana itu terasa berbeda begitu seseorang melangkah masuk ke halaman Masjid Jami’ Hidayatullah. Saya tiba di masjid ini sekitar pukul empat sore. Matahari masih tinggi, tetapi cahayanya mulai melunak, menyisakan bayangan panjang di halaman masjid. Setelah melepas sepatu dan mengambil wudu, saya langsung masuk ke dalam untuk menunaikan salat Ashar.

Masjid ini memiliki tiga bagian yang langsung menarik perhatian, aula masjid, ruang utama tempat salat berjamaah, dan area kuburan yang berada di samping bangunan masjid. Ketiganya membentuk satu ruang yang terasa sederhana, namun hidup. Aula masjid adalah bagian yang paling ramai. Beberapa orang duduk bersandar di dinding sambil menunggu waktu berbuka. Ada yang berbincang pelan, ada yang sekadar menatap layar ponsel, dan ada pula yang memanfaatkan waktu untuk beristirahat dengan merebahkan badan di lantai.

Di tengah kawasan perkantoran yang padat, suasana ini terasa kontras. Di luar pagar masjid berdiri gedung-gedung tinggi dengan kaca mengilap yang memantulkan cahaya matahari. Tetapi di dalam, udara terasa lebih tenang dan ritmenya jauh lebih lambat. Arsitektur masjid ini juga memberi kesan yang berbeda dari banyak masjid modern di kawasan bisnis. Bangunannya terlihat tua dan klasik, dengan tiang-tiang kayu besar yang menyangga atap joglo. Struktur kayu itu menghadirkan nuansa tradisional yang jarang ditemui di tengah kawasan perkantoran modern seperti Kuningan.

Suara bacaan Al-Qur’an yang bersahutan pelan di antara para jamaah terdengar. Beberapa jamaah mulai mengisi waktu dengan tadarus Al-Qur’an, sementara yang lain membaca Surah Yasin. Di tengah aktivitas menunggu itu, saya bertemu dengan Muhammad Fazly Maulodhunawan (20). Ia tampak beberapa kali berjalan bolak-balik di aula, membantu menyiapkan kebutuhan untuk kegiatan berbuka puasa bersama. Fazly adalah pekerja swasta yang juga aktif sebagai bagian dari pemuda masjid.

“Selain bekerja, saya juga cukup sering beraktivitas di masjid ini, terutama saat bulan Ramadan,” katanya ketika kami berbincang di salah satu sudut aula.Hubungannya dengan masjid ini sudah terjalin cukup lama.“Sebenarnya sudah cukup lama saya sering datang ke masjid ini. Dari dulu saya memang sudah terbiasa buka puasa di sini bersama jamaah. Dan karena itu dari dulu saya gabung jadi pemuda Masjid ini.”

Pintu masuk menuju kedalam masjid Hidayatullah
Foto : Khatibul Azizy Alfairuz (magang)

Selama bulan puasa, waktu yang dihabiskan Fazly di masjid tidaklah sebentar. Ia bahkan sudah berada di sana sejak siang hari. Menurutnya, pada Ramadan ia biasanya datang sekitar pukul 12 siang dan berada di masjid hingga menjelang waktu berbuka. Sepanjang waktu itu, ia bersama para pemuda masjid membantu menyiapkan berbagai kebutuhan untuk kegiatan buka puasa bersama yang rutin digelar di sana.

Fazly menjelaskan bahwa perannya bukan sekadar membantu sesekali. Ia termasuk bagian dari pengurus masjid yang terlibat langsung dalam pengelolaan aktivitas sehari-hari. Remaja masjid di tempat itu, kata dia, berperan dalam banyak hal yang berkaitan dengan operasional masjid. Mereka menjaga kebersihan, membantu mengatur kegiatan, melayani jamaah yang datang, serta memastikan berbagai aktivitas di masjid dapat berjalan dengan baik.

Keterlibatan itu bahkan menjadi lebih intens selama Ramadan. Hampir setiap hari Fazly datang ke masjid untuk membantu, terutama dalam menyiapkan serta membagikan makanan berbuka kepada para jamaah yang datang menjelang Magrib.

Di aula masjid, beberapa kotak makanan terlihat sudah mulai disusun rapi. Nantinya, makanan itu akan dibagikan kepada jamaah yang datang untuk berbuka bersama. Biasanya menu yang disajikan sederhana, nasi dengan ayam goreng, tempe, dan tahu, disertai dua butir kurma. Hidangan yang sederhana, tetapi cukup untuk mengakhiri puasa setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

Ketika saya menyebut bahwa banyak ulasan di Google Maps mengatakan masjid ini terbuka untuk orang yang ingin beristirahat, Fazly mengangguk.“Memang benar, masjid ini selalu terbuka untuk para jamaah. Siapa pun yang ingin singgah untuk beribadah atau sekadar beristirahat biasanya dipersilakan, termasuk orang-orang yang bekerja di sekitar perkantoran.”

Lokasi masjid yang berada di tengah kawasan perkantoran membuatnya menjadi tempat singgah yang alami bagi banyak pekerja. Bagi Fazly, suasana itulah yang membuat masjid ini terasa hidup. “Menurut saya karena suasana di masjid ini terasa adem dan nyaman. Selain itu lokasinya juga dekat dengan kawasan perkantoran, jadi banyak orang yang memanfaatkan masjid ini untuk beristirahat sejenak di tengah aktivitas kerja mereka.”

Suasana di dalam masjid Hidayatullah
Foto : Khatibul Azizy Alfairuz (magang)

Selain berbincang dengan Fazly, ada pula Ari (30), seorang pekerja swasta yang tampak duduk santai di aula masjid. Ari bekerja di sebuah perusahaan yang kantornya tidak jauh dari masjid ini. Selama Ramadan, masjid ini sering menjadi tempatnya menunggu waktu berbuka.

“Sebenarnya kalau untuk ngabuburit selama Ramadan ini saya lebih sering di sini saja, di masjid. Jadi setelah kerja atau ketika ada waktu senggang di kantor, saya biasanya turun ke sini untuk menunggu waktu berbuka atau sekadar istirahat sebentar,” katanya. Jarak kantor yang dekat membuatnya mudah datang ke masjid.

Bagi Ari, masjid memberikan suasana yang berbeda dibandingkan kantor. Biasanya ia berada di masjid hingga sekitar pukul lima sore sebelum kembali bekerja. “Sebenarnya kalau di kantor itu ruangannya cukup dingin karena AC terus menyala. Kadang kalau terlalu lama di ruangan tertutup juga agak penat. Jadi saya memilih ke masjid karena suasananya lebih tenang dan terasa lebih nyaman untuk menenangkan diri sebentar.”

Di sekitar kawasan Kuningan sebenarnya terdapat beberapa masjid lain yang juga bisa menjadi tempat singgah. Namun Ari lebih sering datang ke Masjid Jami’ Hidayatullah karena jaraknya yang paling dekat dari kantornya. Selain faktor jarak, ia juga merasa suasana di masjid ini lebih nyaman dibandingkan tempat lain di sekitar kawasan tersebut. Ia mencontohkan salah satu masjid di kawasan Sampoerna yang lokasinya berada di basement gedung sehingga terasa lebih pengap, sementara ruang di Masjid Jami’ Hidayatullah terasa lebih terbuka dengan sirkulasi udara yang lebih segar.

Keberadaan aula masjid juga menjadi salah satu hal yang menurutnya membuat tempat ini nyaman untuk disinggahi. Di beberapa masjid lain, pengunjung biasanya tidak diperbolehkan untuk beristirahat atau berlama-lama. Namun di sini terdapat ruang aula yang memungkinkan jamaah duduk santai atau menunggu waktu salat tanpa merasa terburu-buru.

Di aula yang sama, saya juga bertemu dengan Adel (24), seorang pekerja swasta asal Yaman. Ia duduk santai sambil memegang ponselnya, sesekali melihat sekeliling ruangan. Hari itu adalah pertama kalinya ia menunggu waktu berbuka di masjid ini.

Penampakan dari luar masjid Hidayatullah
Foto : Khatibul Azizy Alfairuz (magang)

“Sebenarnya hari ini adalah pertama kalinya saya melakukan ini di sini. Biasanya saya tidak selalu menghabiskan waktu menunggu di masjid seperti ini. Tapi hari ini saya berencana berbuka puasa di kantor nanti, jadi saya memutuskan untuk tetap berada di sekitar area ini dan menghabiskan waktu di masjid sambil menunggu,” katanya.

Adel tidak selalu datang ke masjid setiap hari menjelang waktu berbuka. Kehadirannya lebih banyak bergantung pada jadwal kerja serta rencana di mana ia akan mengakhiri puasanya. Ada hari-hari ketika ia tetap berada di area kantor hingga waktu Magrib tiba, tetapi jika memiliki waktu luang sebelum berbuka, ia kadang memilih datang ke masjid untuk menunggu.

Biasanya ia tiba di masjid sekitar pukul setengah empat hingga pukul empat sore. Pada waktu itu suasana masih relatif tenang. Bagi Adel, momen tersebut terasa pas untuk duduk santai, menenangkan diri, dan perlahan menunggu hingga azan Magrib berkumandang.

Ia bercerita bahwa kebiasaan menunggu di masjid seperti ini tidak terlalu umum di negaranya.

“Salah satu alasannya karena kami biasanya tidak memiliki kemacetan lalu lintas seperti di sini. Jadi kebanyakan orang bisa lebih mudah pulang ke rumah sebelum berbuka, daripada harus menunggu di luar. Karena itu orang tidak benar-benar menghabiskan waktu lama untuk bersantai di masjid seperti ini,” cerita Adel.

Meski kebiasaan menunggu waktu berbuka di masjid tidak terlalu umum di negaranya, ada satu hal yang justru terasa familiar bagi Adel. Tradisi berbagi makanan berbuka di masjid, menurutnya, juga cukup lazim ditemui di Yaman. Di sana, banyak komunitas yang mengorganisasi penyediaan makanan bagi orang-orang yang datang ke masjid selama Ramadan. Karena itu, konsep berbuka puasa bersama di masjid bukanlah sesuatu yang asing baginya.


Reporter: Khatibul Azizy Alfairuz (magang)
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE