INTERMESO

Side Hustle di Balik Keranjang Kuning

Ketika afiliasi TikTok menjadi jalan bertahan di tengah gaji yang terasa tak cukup

Foto : dok pribadi

Minggu 8 Februari 2026

Di media sosial, pekerjaan afiliator kerap tampil seperti jalan pintas menuju hidup mapan. Video-video tentang komisi jutaan, rumah impian, dan mobil baru beredar setiap hari, menciptakan ilusi bahwa kamera dan koneksi internet saja sudah cukup untuk mengubah nasib. Namun di balik narasi itu, ada Felicia, seorang introvert yang pernah mengunci seluruh media sosialnya selama hampir dua tahun. Ia tak pernah membayangkan dirinya berbicara di depan kamera, apalagi menjadikan ruang digital sebagai tempat bekerja.

Ketakutan akan penghasilan yang terasa tidak cukup memaksanya bernegosiasi dengan diri sendiri. Di usia 27 tahun, Felicia memulai pekerjaan sebagai afiliator bukan karena ingin kaya mendadak, melainkan karena takut tidak mampu bertahan. Ia adalah seorang graphic designer yang menjadikan afiliasi sebagai jalan tambahan untuk bernapas lebih lega secara finansial, meski harus membayar mahal dengan waktu dan tenaga.

Ketakutan itu muncul saat ia kembali bekerja di Indonesia, setelah sebelumnya sempat bekerja di luar negeri. Peralihan tersebut membuatnya tersentak. “Karena sebelumnya aku kerja di luar negeri, lalu baru coba kerja kantoran di Indonesia, aku cukup syok dengan gaji di sini dan sempat takut ‘nggak cukup’,” ujar Felicia. Dari titik itulah, ia mulai memikirkan satu hal sederhana, bagaimana caranya menambah pemasukan, tanpa harus meninggalkan pekerjaan utamanya.

Ia tak serta-merta menemukan jawabannya. Di tengah rutinitas sebagai graphic designer, Felicia sebenarnya sudah lama akrab dengan dunia visual dan konten. Ia pernah mencoba mengunggah video di TikTok dengan muatan yang cukup personal, membicarakan hal-hal yang dekat dengan dirinya. Namun dengan kepribadian tertutupnya, keputusan untuk benar-benar terjun ke media sosial sebagai ruang kerja tetap terasa berat. Bagi Felicia, tampil di hadapan publik digital berarti membuka diri pada penilaian orang lain, termasuk mereka yang mengenalnya secara langsung. Rasa malu dan takut dihakimi menjadi pertimbangan besar yang sempat menahannya untuk melangkah lebih jauh.

Meski begitu, kebutuhan hidup tak memberi banyak ruang untuk ragu. Ketika ia mulai bekerja kantoran di Indonesia, bayangan tentang pengeluaran bulanan yang terus berjalan membuatnya berpikir ulang soal masa depan finansialnya. Ia tahu, mengandalkan satu sumber penghasilan terasa terlalu rapuh.

Judul Foto
Foto : dok pribadi

Langkah pertamanya sebagai afiliator berlangsung tanpa ekspektasi besar. Ia mengunggah video seadanya, belum rutin, bahkan jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Namun di luar dugaannya, ada respons yang datang dari arah yang tak ia perkirakan. Sebuah brand menghubunginya dan menanyakan soal fee konten. “Padahal aku belum rutin posting, mungkin baru kurang dari lima konten. Tapi ternyata ada brand yang mau bayar,” tutur Felicia. Momen itu menjadi validasi awal bahwa apa yang ia lakukan memiliki nilai, meski masih dalam tahap sangat awal.

Keyakinannya semakin menguat ketika komisi pertama benar-benar masuk. Nominalnya kecil, hanya sekitar lima hingga sepuluh ribu rupiah, namun dampaknya jauh lebih besar dari angka tersebut. “Rasanya senang banget karena dari orang nonton konten aku, tertarik beli, sampai checkout dari video aku,” katanya. Dari sana, Felicia mulai memahami bagaimana mekanisme afiliasi bekerja. Konten yang ia buat bukan sekadar tontonan, melainkan jembatan antara produk dan keputusan beli seseorang. Setiap klik, setiap checkout, menjadi bukti bahwa pengaruh bisa dikonversi menjadi penghasilan.

Sejak saat itu, afiliasi tak lagi ia anggap sekadar percobaan. Ia mulai menata ulang waktunya, membagi hari antara pekerjaan utama dan side hustle. Felicia bekerja sebagai graphic designer, mulai dari freelance, lalu agency, hingga akhirnya berpindah ke kantor korporat. Dunia agency yang penuh jam kerja tak menentu dan revisi tanpa akhir pernah menguras tenaga dan emosinya. Bahkan di satu fase, ia menjalani tiga peran sekaligus, kerja kantoran, freelance, dan membuat konten. Semua dijalani bersamaan, dengan konsekuensi waktu istirahat yang kian menyempit.

Rutinitas hariannya pun berubah drastis. Waktu bersosialisasi perlahan menghilang. “Hangout hampir nggak pernah,” akunya. Ia mulai menyadari bahwa waktu adalah aset yang jauh lebih mahal daripada uang. Hari-harinya kini dipenuhi kalender dengan jadwal posting, catatan ide konten, dan to-do list pekerjaan kantor. Setiap jam harus punya fungsi, setiap jeda harus dihitung. Berbeda jauh dari masa sebelumnya, ketika hari-hari bisa berjalan tanpa perencanaan yang ketat.

Meski terlihat rapi dari luar, keseharian Felicia diwarnai kelelahan yang tak selalu tampak di layar. Ia mengaku mudah overthinking dan stres. Burnout kerap datang, bahkan hingga membuatnya jatuh sakit. Namun ia tetap bertahan dengan satu prinsip yang ia pegang teguh. Pekerjaan kantor adalah prioritas utama. Saat berada di kantor, fokusnya sepenuhnya untuk pekerjaan utama. Konten dan afiliasi baru ia kerjakan setelah pulang, ketika hari sudah gelap dan energi tersisa tak banyak. Dari disiplin itulah ia mencoba menjaga dua dunia tetap berjalan beriringan.

Akhir pekan yang bagi banyak orang menjadi waktu beristirahat, justru menjadi hari kerja terpadat baginya. Sabtu dan Minggu ia manfaatkan untuk mengambil sepuluh hingga empat belas konten sekaligus. Pernah suatu kali, jadwal outing kantor mengambil waktu akhir pekannya, memaksanya bekerja dua kali lipat di minggu sebelumnya. Setelah acara selesai, ia kembali bekerja hingga Jumat tanpa jeda yang cukup. “Fisik dan mental capek banget, sering sakit, tapi tetap harus tampil well-presented di kamera,” ujarnya.

Peralatan yang digunakan untuk membuat konten
Foto : Dok pribadi

Di balik video-video yang tampak ringan dan rapi, ada kamar yang berantakan, lemari penuh pakaian hasil pengambilan konten fashion, dan proses editing yang sering dilakukan dalam satu hari yang sama. Akun TikTok @itsbabymoony menjadi titik awal sekaligus tulang punggungnya, karena jangkauannya luas dan algoritmanya tak terduga. Dari sana, ia mulai memantulkan konten ke platform lain dan perlahan mempelajari pola audiensnya.

Hasil dari semua itu tak selalu stabil, naik turun mengikuti performa video. Namun perlahan, penghasilannya mulai terasa nyata. Dari komisi afiliasi akun Tiktok yang kini memiliki 46,9 ribu pengikut itu, Felicia mampu menutup kebutuhan hidup bulanannya, bahkan menyisakan ruang untuk tabungan dan investasi. Sebuah capaian yang tak pernah ia bayangkan ketika pertama kali mengunggah video tanpa rencana besar.

Dunia afiliasi tidak hanya diisi oleh mereka yang datang dari industri kreatif atau memiliki puluhan ribu pengikut. Di sisi lain, ada Zahra, perempuan berusia 19 tahun, operator produksi pabrik dengan akun TikTok @quetzra yang pengikutnya baru menembus angka 1.100. Skala dan ritmenya berbeda, tetapi alasan awalnya nyaris serupa, keinginan untuk tidak bergantung sepenuhnya pada orang lain secara finansial.

Ketertarikan Zahra pada afiliasi muncul jauh sebelum ia mengenakan seragam pabrik. Saat masih duduk di kelas 12, ia mulai merasa tak nyaman harus sering meminta uang jajan. “Saat itu saya merasa nggak enak kalau harus sering minta uang jajan,” katanya. Dari percakapan sederhana dengan saudara, ia mengenal affiliate TikTok. Ia meminta diajari cara mendaftar, lalu mulai mencoba membuat konten jualan dengan cara paling sederhana yang ia bisa.

Tidak ada kamera mahal atau konsep rumit. Zahra memulai dengan screenshot produk yang di-edit menggunakan template CapCut. Yang ia pikirkan saat itu hanya satu, cukupkah waktu untuk mengedit dan kuota internet untuk mengunggah video. Namun dari proses yang sederhana itu, ia mulai memahami cara kerja afiliasi. Bagaimana sebuah video bisa mengarahkan orang untuk membuka keranjang kuning, lalu membeli produk yang ditampilkan.

Momen yang mengubah caranya memandang afiliasi datang ketika ia mulai konsisten mengunggah konten dan menerima komisi pertamanya. Nominalnya kecil, tetapi rasanya besar. “Rasanya senang banget walaupun nominalnya masih kecil,” ujar Zahra. Uang itu tidak langsung dihabiskan, melainkan dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk membeli alat konten, ring light, stand holder, hingga background. Semua ia cicil, bahkan ketika ia masih berstatus sebagai pelajar.

Halaman TikTok
Foto : dok pribadi

Kini, Zahra bekerja sebagai operator produksi di sebuah pabrik dan menjalani afiliasi sebagai aktivitas sampingan. Perubahan paling terasa baginya adalah soal pembagian waktu, terutama ketika harus mengejar deadline kerja sama dengan brand. Rasa capek kerap muncul, tetapi ia berusaha menyesuaikan semuanya dengan waktu luang yang tersedia. Salah satu strateginya adalah membuat stok konten dalam satu malam. “Sekarang saya biasanya ngonten di satu malam saja, misalnya malam minggu. Dari situ saya bikin stok video,” katanya.

Meski begitu, benturan jadwal tetap tak terhindarkan. Ada masa ketika stok video habis, sementara kewajiban posting dari brand mengharuskannya mengunggah konten setiap hari. Di titik itu, kelelahan terasa lebih nyata. Namun Zahra tetap menjalankannya karena merasa sudah memikul tanggung jawab. Berbeda dengan Felicia yang menempatkan afiliasi sebagai pekerjaan serius dengan target finansial jelas, Zahra memilih menjaga jarak emosional agar tidak terbebani. Ia menyebut afiliasi sebagai hobi, bukan tumpuan utama penghasilan.

Keputusan itu memengaruhi caranya menghadapi tekanan. Setelah memiliki pekerjaan tetap, Zahra tidak lagi menaruh seluruh fokus pada afiliasi. Ia lebih sering menyimpan draft video dan mengunggah satu konten per hari, meski kadang bolong ketika stok habis. “Kalau ada kewajiban posting dari brand, mau nggak mau tetap take video walaupun lagi capek atau malas,” katanya. Namun di luar itu, ia berusaha menikmati proses tanpa terlalu memaksa diri.

Penghasilan yang ia dapatkan memang belum besar, tetapi dampaknya terasa nyata. Dari hasil ngonten, Zahra bisa meng-upgrade alat konten dan membantu memenuhi kebutuhan pribadi. “Walaupun belum besar, tapi sangat berarti buat saya,” ujarnya. Ia juga mulai memahami bahwa menjadi afiliator bukan perkara mudah, terutama di tahap awal. Banyak kebingungan yang harus dilalui, mulai dari menentukan arah konten, mencari produk yang tepat, hingga memahami apa yang disebut winning content.

Di situlah Zahra belajar bahwa tantangan terberat dalam dunia afiliasi adalah konsistensi. Rasa capek, malas, dan keterbatasan waktu kerap menjadi penghalang. Namun dari proses panjang itu, ia menemukan pelajaran penting. “Menurut saya proses adalah hal yang paling penting. Dari proses itu banyak pengorbanan dan pelajaran yang saya dapat.”


Reporter: Khatibul Azizy Alfairuz (magang)

Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE