Foto : Decylia Eghline Kalangit (magang)
Kamis, 5 Februari 2026Kawasan BSD City (Bumi Serpong Damai) bukan lagi sekadar kawasan hunian di pinggir Jakarta. Dalam satu dekade terakhir, gedung-gedung kaca dan kawasan perkantoran semakin tumbuh, berdampingan dengan perumahan, kafe, hingga ruang terbuka hijau. Suasana pagi hari di kota mandiri yang dikembangkan oleh Sinar Mas Land ini terasa berbeda. Pepohonan berjajar rapi, trotoar terlihat bersih, dan kendaraan melaju tanpa bunyi klakson yang saling menyahut.
Di jam-jam ketika Jakarta biasanya sudah sesak oleh orang-orang yang berpacu dengan waktu, para pekerja di BSD justru sudah tiba di kantor tanpa wajah lelah karena perjalanan panjang. Perbedaan suasana inilah yang membuat banyak pekerja muda tertarik memindahkan aktivitas hariannya ke BSD. Mereka ingin mencari keseharian yang lebih tertata, lebih tenang, dan terasa lebih masuk akal.
Hesly Nova Angelica, masih ingat betul bagaimana rasanya hari kerja yang dimulai sebelum matahari terbit. Saat itu, ia bekerja di Jakarta Barat sebagai Affiliate and Key Opinion Leader Partnerships. Tinggal di Tangerang membuatnya harus bangun lebih pagi dari kebanyakan orang seusianya. “Kalau misalnya harus ke Jakarta itu kan harus bangun subuh gitu ya supaya nyampe kantornya gak telat,” kata perempuan berusia 22 tahun ini. Bahkan ketika semua sudah diupayakan lebih cepat, perjalanan pulang tetap menjadi bagian paling melelahkan dari hari itu. Dulu, meski Hesly sudah berupaya pulang lebih awal, jam 5 sore misalnya, ia baru tiba di rumah jam 7 malam. Artinya, perjalanan pulang kantor saja sudah memakan waktu 3 jam.
Kini, ritme itu berubah. Sejak Mei 2025, Hesly bekerja sebagai Community Freelance di kawasan BSD dan tinggal di Gading Serpong. Setiap pagi, ia hanya perlu memesan ojek online sekali. Tidak ada ganti transportasi, tidak ada drama mengejar bus. “Cuman sekali, karena langsung dari tempat tinggal ke kantor jaraknya nggak terlalu jauh,” ujarnya. Waktu tempuhnya pun terasa bersahabat. “Kalau berangkat itu biasanya 20 menit, pulangnya setengah jam lah…kalau ditotal-total 1 jam lah ya.”
Perubahan paling terasa bukan hanya soal jarak, tapi tentang energi yang tersisa setelah sampai kantor. Jika dulu tubuhnya sudah lelah bahkan sebelum pekerjaan dimulai, kini ia bisa datang dengan kepala lebih jernih. Namun, kemudahan itu tetap punya harga. Biaya transportasi di BSD sedikit lebih mahal dibanding Jakarta. “Perhari itu sekitar Rp35–Rp40 ribu sekali jalan, kali dua berarti sehari Rp80 ribu-an,” tuturnya. Dalam sebulan, dengan frekuensi ngantor sekitar delapan kali, ia menghabiskan sekitar Rp640 ribu. “Jujur kalau di BSD lebih naik dikit lah daripada aku pas ke Jakarta,” katanya, menyebut selisihnya sekitar Rp10–Rp15 ribu per hari.
Transportasi umum menjadi tantangan tersendiri. Hesly mengaku, meski ongkos ke Jakarta bisa lebih hemat karena ada TransJakarta, BSD belum memberikan pilihan serupa. “Tantangannya itu gak ada kayak transportasi umum gitu sih dari Gading Serpong langsung ke BSD,” ucapnya. Ojek online pun menjadi andalan, dengan segala konsekuensi biaya dan ketergantungannya.
Soal pengeluaran harian, Hesly merasakan pergeseran yang cukup signifikan. Di Jakarta, kantornya menyediakan catering makan siang. Di BSD, fasilitas itu tidak ada. Pengeluaran harian di BSD dikeluarkan untuk makan siang. Harga makanan di sekitar kantor membuatnya harus merogoh kocek lebih dalam. “Mungkin starting-nya itu dari Rp30 ribu sampai Rp50 ribu lah ya per porsi.” Dalam sehari, pengeluaran makan bisa mencapai Rp60 ribu jika ia makan dua kali. Belum lagi ajakan teman untuk keluar saat jam istirahat. “Kadang misalnya pas jam istirahat itu bisa diajak temen-temen makan di luar, ntar bisa malah kebeli kopi dan cemilan-cemilan.”
Ia tak menampik bahwa bekerja di BSD yang terletak di Tangerang Selatan ini membuatnya lebih boros. Meski begitu, baginya, pengeluaran ekstra itu terasa sepadan dengan apa yang ia dapatkan. Jam kerja terasa lebih singkat, meski secara teknis sama. Di Jakarta, jam kerja terasa lebih lama karena tenaga yang harus ia keluarkan untuk perjalanan pulang. Sementara di BSD, waktu seolah bergerak lebih cepat. “Tiba-tiba eh udah jam 4 bentar lagi pulang.”
Lingkungan kantor yang lebih tenang juga memberi pengaruh besar. ika dibandingkan dengan kantor lamanya di Jakarta, suasana kantor di BSD terasa lebih tenang. Budaya kerja pun terasa berbeda. Entah karena lingkungan kantor yang mendukung, ia merasa teman-temannya lebih suportif dan lebih mendukung satu sama lain. Saat jam istirahat, ia bisa benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan. “Biasanya nonton drakor atau ngobrol-ngobrol aja sih sama teman-teman,” pungkasnya.
Namun, kalimat yang paling menggambarkan perubahannya mungkin datang dari hal yang tampak sepele. “Yang paling aku rasakan adalah pulang dari kantor itu masih bisa melihat matahari,” katanya. Di Jakarta, ia sering tiba di rumah ketika langit sudah gelap dan suasana terasa suram. Di BSD, ia masih punya sisa hari. Sisa energi. Bahkan sisa niat untuk merawat diri. “Habis kantor itu pilates atau nge-gym… nggak capek duluan,” ujarnya. Dengan segala manfaat yang ia rasakan setelah bekerja di kawasan ini, Hesly pun ogah jika diminta kembali bekerja di Jakarta.

Lalu lintas di BSD, menjadi salah satu daya tarik pekerja yang memindahkan rutinitas ke kawasan ini.
Foto : Decylia Eghline Kalangit (magang)
Bagi Mustika Darakinanti, pengalaman bekerja di BSD juga dimulai sejak Mei 2025. Sebelumnya, perempuan yang akrab disapa Rara ini bekerja di Karawaci sebagai staf Marketing. Secara jarak, Karawaci sebenarnya lebih dekat dari rumahnya di Kelapa Dua, Tangerang. Namun kedekatan itu tidak berarti perjalanan yang mudah. “Kalau yang dulu tuh lebih benar-benar macet, crowded, semua truk lewat, jalannya rusak,” katanya. Ketidakteraturan lalu lintas membuat perjalanan terasa melelahkan, bahkan sebelum sampai kantor.
Di BSD, Rara merasakan perbedaan suasana yang cukup kontras. “Kalau misalkan di BSD itu masih teratur dan enak,” ujarnya. Jalan yang lebih lebar dan tertata membuat perjalanan terasa lebih ringan. Jika diantar orang tua dengan mobil, ia membutuhkan sekitar 20–30 menit. Dengan ojek online, bahkan bisa lebih cepat. “Pakai ojol itu pasti lebih cepat lagi, bisa 15 menit, 20 menit udah nyampe,” ungkapnya.
Namun, seperti Hesly, Rara juga menghadapi konsekuensi biaya. “Kalau pakai ojol tuh sehari PP itu Rp60 ribu,” katanya. Dalam sebulan, pengeluaran transportasinya bisa mencapai Rp1,2 juta. Tantangan terbesar juga muncul saat cuaca buruk. “Kalau nggak dianterin orang tua… itu kalau nggak ada ojol di saat hujan benar-benar susah banget,” katanya. Minimnya transportasi umum membuat pilihan terasa terbatas.
Perubahan paling terasa bagi Rara justru datang dari pola jajan. Di Karawaci, ia jarang membeli makanan di luar. Opsi tempat jajan di Karawaci tidak banyak sehingga sehari-hari ia mesti membawa bekal. Sedangkan tempat jajan dan café lucu tumpah ruah di jalanan BSD. Karena itu, ajakan makan bersama menjadi lebih sering, dan pengeluaran pun bertambah. “Paling dikit Rp 20 Ribu untuk minuman, paling banyak bisa Rp 40 ribu untuk makan,” katanya
Ia menyadari bahwa pengeluarannya kini lebih besar. Meski Rara masih berusaha menyeimbangkannya dengan membawa bekal sesekali. Di sisi lain, kenyamanan lingkungan membuat jam kerja terasa lebih singkat. Budaya kerja di BSD menurutnya lebih cepat dan menuntut, namun justru membuat pekerjaan selesai di kantor. “Jadinya kalau udah selesai kantor udah gak kepikiran lagi,” katanya. Fleksibilitas juga menjadi nilai tambah. “Boleh kayak WFC di tengah-tengah kerja.”
Ketika membandingkan Karawaci dan BSD, Rara menekankan soal suasana. “Kalau di BSD itu benar-benar lingkungannya lebih nyaman, lebih teratur,” katanya. Secara fisik dan mental, ia merasa tempat kerja lamanya jauh lebih melelahkan. Kini, meski jarak ke BSD terbilang lebih jauh, perjalanan terasa lebih lancar. “Kayak jauh tapi lebih cepat juga sampai ke BSD,” ujar Rara yang kini sudah betah bekerja di BSD.
Reporter: Decylia Eghline Kalangit (magang)
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim