INTERMESO

Romansa Gen Z dengan Kamera Lawas di Pasar Baru

“Rasanya kayak nemu barang harta karun. Bisa muter-muter, bandingin satu kamera sama yang lain, ngobrol sama penjualnya, terus nemu yang cocok. Itu lebih berkesan dibanding scroll toko online”

Foto : Khatibul Azizy Alfairuz (magang)

Minggu, 1 Februari 2026

Berjalan menyusuri Pasar Baru di siang hari, Jakarta terasa seperti membuka lipatan waktu. Kawasan ini bukan ruang yang lahir kemarin sore. Sejak masa kolonial Belanda, Pasar Baru telah menjadi simpul perdagangan yang hidup. Sinarnya terus berlanjut melewati dekade 1970-an hingga awal 2000-an. Di lorong-lorong ini, masyarakat Jakarta pernah, dan hingga kini masih berburu tekstil, kosmetik, pakaian, sepatu, alat olahraga, hingga perlengkapan rumah tangga dengan harga yang relatif terjangkau. Beberapa pedagang mata uang kuno pun masih setia bertahan.

Di antara deretan toko itu, Pasar Baru perlahan membangun reputasi lain. Memasuki era 1990-an, kawasan ini mulai dikenal sebagai tujuan bagi para penggemar fotografi. Toko-toko kamera analog bermunculan, lengkap dengan aksesori dan jasa perbaikan kamera yang ramah di kantong. Bahkan ketika kamera digital kemudian menjamur dan teknologi fotografi bergerak cepat, denyut itu tidak sepenuhnya padam. Para fotografer analog tetap datang, berburu kamera dan lensa, seolah Pasar Baru menyimpan sesuatu yang tak bisa ditemukan di etalase toko modern.

Di lantai dua Metro Atom Plaza, lorong-lorong sempitnya menjadi antitesis dari toko kamera di mal mewah yang serba putih dan steril. Di sini, kehidupan justru hadir dari kepungan lemari kaca yang dijejali puluhan unit kamera dari berbagai zaman. Digicam warna-warni, lensa manual yang berat, hingga bodi SLR analog dan DSLR lawas yang ajaibnya masih berfungsi normal dan terawat. Kamera dipajang apa adanya, bekas pakai, ada lecet halus, ada tanda usia, namun justru di situlah daya tariknya. Di sudut lorong, seorang teknisi duduk membungkuk di bawah lampu neon kuning, memegang obeng kecil, mengoprek sirkuit kamera dengan ketelatenan. Mereka memperbaiki kamera-kamera lawas yang punya cerita tersendiri dari pemiliknya

Ketika DetikX mendatangi toko kamera bernama Camdig, Ojan berdiri di balik etalase, sedang melayani pembeli yang sebagian besar masih muda. Baru tiga bulan terakhir ia berjaga di titik ini, tetapi dunia kamera bukan hal baru baginya. “Sekarang pasarnya lagi didominasi anak muda. Mahasiswa itu paling banyak, tapi anak SMA pun sekarang sudah mulai menabung buat beli digicam,” katanya. Menurut laki-laki berusia 23 tahun ini, sekitar 80 persen perputaran barang di tokonya berasal dari generasi muda. Mereka datang dengan mata berbinar, sering kali sudah membawa referensi spesifik dari media sosial. “Kekuatan review itu gila banget. Kebanyakan pembeli datang ke sini karena konten di TikTok. Mereka nggak cuma cari asal murah, tapi cari merek dan seri spesifik yang lagi viral.”

Aktivitas jual beli kamera bekas berlangsung di lantai dua Metro Atom Plaza, Jakarta.
Foto : Khatibul Azizy Alfairuz (magang)

Harga kamera di Pasar Baru pun mencerminkan dinamika itu. Kamera bekas paling murah biasanya dimulai dari Rp1,5 jutaan, namun stok di harga tersebut kini sangat jarang. “Barang di harga segitu sekarang jarang banget ada karena peminatnya rebutan. Kebanyakan stok yang ready itu di Rp2 juta ke atas,” ujar Ojan. Di sisi lain spektrum, kamera seri kolektor bisa menyentuh belasan juta rupiah. “Fuji X100 second itu harganya stabil banget. Terus ada juga seri Sony RX tertentu yang barangnya ibarat barang gaib, susah dicari, tapi peminatnya banyak.”

Meski begitu, Pasar Baru bukan sekadar tempat jual beli. Banyak kamera hanya singgah sementara di etalase. “Sering ada pembeli yang baru pakai sebulan, tiba-tiba datang lagi mau jual kameranya. Biasanya karena bosan atau pengen upgrade. Jadi tokonya kayak tempat mampir sementara sebelum mereka nemuin kamera idaman,” ungkap Ojan. Siklus ini membuat Pasar Baru terus bergerak, kamera berpindah tangan, cerita berganti pemilik.

Di antara deretan toko itu, Anna, pelajar SMA di Jakarta, tampak sibuk mondar-mandir. Ini adalah kunjungan keduanya ke Pasar Baru. Sebelumnya, ia lebih sering berburu kamera secara online. “Biasanya kalau beli aku online sih, Facebook atau Tokped, Shopee yang bagian barang-barang bekas. Cuma kalau online nggak bisa dipegang dan dicoba hasil gambarnya,” katanya. Ketertarikannya pada kamera tumbuh seiring aktivitasnya di sekolah dan dunia konten. Ia jadi sering mengisi waktu luang untuk membuat konten, foto-foto, atau sekadar mengeksplor hal-hal visual. Hidup perempuan berusia 18 tahun ini berkutat diantara belajar dan kamera.

Ketertarikan serius Anna pada digicam muncul sekitar setahun terakhir, dipicu oleh TikTok dan Instagram. “Awalnya cuma lihat-lihat konten. Banyak yang pakai digicam buat foto daily life. Dari situ jadi suka sama vibe fotonya, kelihatan beda dari kamera HP,” ujarnya. Anna lebih menyukai kamera kecil dan compact seperti Canon PowerShot atau Sony Cyber-shot generasi awal. Spesifikasi teknis bukan prioritas. Anna mengaku tidak terlalu memusingkan spek kameranya, melainkan lebih kepada hasil fotonya. “Yang penting warnanya lembut, agak grainy, ada feel jadulnya.”

Penjual dan pembeli berinteraksi di salah satu toko Metro Atom Plaza yang dikenal sebagai sentra kamera bekas
Foto : Khatibul Azizy Alfairuz (magang)

Sementara baginya, kamera HP terasa terlalu sempurna. “Kamera HP tuh terlalu bersih dan rapi hasilnya. Sementara digicam itu lebih hidup. Kadang ada noise, kadang blur dikit. Terus sensasinya beda juga, pegang kameranya, tekan tombolnya, nunggu hasilnya,” tutur Anna. Pengalaman membeli langsung di Pasar Baru juga memberinya kepuasan tersendiri. “Rasanya kayak nemu barang harta karun. Bisa muter-muter, bandingin satu kamera sama yang lain, ngobrol sama penjualnya, terus nemu yang cocok. Itu lebih berkesan dibanding scroll toko online.”

Kamera yang dibeli Anna bukan alat kerja profesional, melainkan medium untuk mendokumentasikan hidup. Ia menggunakan kamera untuk foto bersama teman-teman, suasana jalan, hal-hal yang biasanya dianggap terlalu remeh untuk diabadikan kamera. Bagi Anna, kamera bukan sekadar alat. Ia merasa kamera sudah menjadi bagian dari caranya untuk mengekspresikan diri, melihat dunia dan menyimpan memori. Ketertarikannya pada barang lama juga berangkat dari pengalaman personal. “Aku suka digicam dulu waktu nemu di rumah dan itu punya ibuku. Di situ aku lihat banyak foto-fotoku waktu kecil dan gambarnya nostalgic banget,” pungkas Anna.

Cerita lain datang dari Titis, perempuan berusia 22 tahun, mahasiswa di Jogja, yang mengenal digicam sejak SMP. Awalnya bukan karena urusan teknis atau kualitas gambar, melainkan bentuk fisiknya yang kecil dan terasa berbeda. Digicam, baginya, bukan sekadar alat untuk memotret, tetapi benda yang punya karakter visual sendiri. “Waktu itu awalnya cuma tertarik karena lihat bentuk kameranya yang kecil dan unik. Dari situ mulai suka sama dunia kamera, walaupun belum terlalu paham soal teknisnya,” ujar Titis. Ketertarikan itu tumbuh perlahan, mengikuti fase hidupnya, tanpa tuntutan untuk menjadi fotografer profesional.

Pilihan Titis jatuh pada digicam model Filmonkish atau Digimo, kamera baru yang mengusung desain ala digicam lama. Ia mengaku tidak terlalu tertarik berburu kamera second, terutama karena keterbatasan toko offline di Jogja dan minimnya orang tepercaya untuk membantu mengecek kondisi barang bekas. “Waktu itu toko offline di Jogja nggak ada yang proper, kondisinya juga kurang banget meskipun murah,” katanya. Baginya, kamera bekas menyimpan risiko yang sulit ia pahami karena keterbatasan pengetahuan teknis. Ia pun memilih kamera baru yang tetap menawarkan estetika lama, lengkap dengan garansi dan rasa aman.

Deretan kamera digicam bekas dipajang di etalase toko
Foto : Khatibul Azizy Alfairuz

Pengalaman pertama menggunakan digicam menghadirkan sensasi emosional yang tak ia temukan saat memotret dengan ponsel. Titis merasa setiap foto memiliki bobot yang berbeda. “Senang dan excited banget, karena rasanya bisa merekam momen yang nggak bisa diulang. Ada perasaan puas waktu lihat hasilnya, karena itu bukan cuma foto, tapi kenangan,” tuturnya. Ia menanggapi anggapan bahwa filter retro di ponsel sudah cukup dengan perbandingan yang tegas. “Filter itu cuma ‘topeng’, tapi kalau digicam itu ibaratnya soal ‘jiwa’. Ada sensasi menekan tombol shutter, ada proses nunggu hasilnya, dan ada output warna yang nggak bisa dipalsukan sama software.”

Meski harus membawa dua perangkat sekaligus, ponsel dan kamera, Titis justru merasa lebih sadar saat memotret. Awalnya ia mengira akan merepotkan, tetapi lama-kelamaan kebiasaan itu membentuk ritmenya sendiri. “Awalnya mikir ribet, tapi lama-lama malah jadi kebiasaan. HP buat komunikasi, kamera buat motret,” katanya. Keterbatasan itulah yang membuat setiap foto terasa lebih berniat. “Kalau di HP kan kita cenderung spam foto sampai ratusan, tapi di digicam kita lebih mikir sebelum motret.” Bagi Titis, digicam bukan soal tren sesaat, melainkan cara memperlambat waktu, menyimpan momen sebagai potongan cerita hidup yang kelak bisa dikenang kembali.

Di balik ramainya anak muda di Metro Atom Plaza, Anwar Zaki, karyawan Toko Azzahra Camera, sekaligus saudara owner, melihat Pasar Baru dari perspektif yang lebih panjang. Ia sudah lima tahun bekerja di toko yang berdiri sekitar 20 tahun itu. Menurutnya sejak dulu Pasar Baru memang sudah dikenal sebagai pusatnya elektronik, mulai dari barang, servis, sampai kamera. Fokus pada kamera second dipilih karena lebih fleksibel. Saat tren digicam naik sekitar 2024, mereka bahkan membuka satu toko khusus digicam. “Prinsipnya kita ngikutin kebutuhan konsumen dan tren pasar,” tutur Anwar. Ia ikut membantu mengelola usaha toko kamera milik keluarganya yang telah berdiri kurang lebih dua dekade dan diwariskan lintas generasi.

Bagi Anwar, secanggih apa pun kamera ponsel, kamera tetap punya karakter yang tak tergantikan. “Mau pakai iPhone semahal apa pun, kalau dicetak dan diperbesar, hasil kamera tetap lebih tajam dan enggak pecah,” ungkapnya Namun bagi anak muda, alasan terbesarnya sering kali emosional. “Mereka cari tone warna tertentu yang karakter aslinya memang dari kamera. Di HP kan filter itu cuma efek digital, rasanya beda.” Ada pula faktor nostalgia dan sensasi fisik yang ingin dirasakan pembeli generasi muda ini.


Reporter: Khatibul Azizy Alfairuz (magang)
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE