Pukul 10.30 WIB, kepadatan di sekitar Stasiun Citayam telah menyusut. Sisa hujan sejak subuh meninggalkan genangan yang memaksa kendaraan melaju pelan dan pejalan kaki berteduh di bawah kanopi toko. Di tengah aktivitas yang melambat itu, satu per satu sepeda motor berbelok masuk ke sebuah celah sempit yang terselip di antara deretan kios buah, lapak gorengan, serta konter pulsa. Akses itu berjarak sekitar 100 meter dari stasiun, nyaris tak mencolok dari luar.
Namun begitu melewati pintu masuknya, area tersebut terbuka menjadi lahan parkir seluas kurang lebih 500 meter persegi, dipenuhi ratusan motor yang tersusun rapi. Di lokasi inilah Ilham Maulana menjalankan usaha parkir yang telah ia kelola lebih dari satu dekade.
Bangunan besar yang kini menaungi ratusan kendaraan itu bukanlah bangunan baru. Jauh sebelum menjadi lahan parkir, tempat tersebut berdiri sebagai gudang arsip. Pria berusia 42 tahun ini menuturkan bahwa semuanya bermula pada 1995, ketika ayahnya bekerja sama dengan Bank of Tokyo.
“Awalnya tahun 1995. Ayah saya bekerja sama dengan Bank of Tokyo. Mereka butuh gudang arsip. Waktu itu kantor mereka di Sudirman. Orang-orang Jepang itu butuh gudang buat dokumen-dokumen yang disimpan,” ujarnya saat ditemui detikX, Rabu (21/01/2026).
Kerja sama itu tidak berjalan seperti proyek bangunan biasa. Pihak bank Jepang memiliki standar yang ketat dan tidak ingin pembangunan dilakukan oleh pihak luar.
“Akhirnya bapak saya nawarin kontrak bangun. Tapi mereka nggak mau kalau bangunannya dari kami. Karena orang Jepang itu perfeksionis, mereka maunya bangunan dari mereka, struktur dari mereka, standar dari mereka semua. Kita cuma nyiapin lahannya saja,” kata Ilham.
Itulah sebabnya hingga kini struktur bangunan masih tampak kokoh dengan beton-beton besar yang mencolok. Semua dirancang khusus untuk kebutuhan arsip.
“Makanya kalau dilihat sekarang, beton-betonnya gede-gede banget. Itu memang standar mereka. Dari awal mereka tinjau, mereka cek, mereka hitung semuanya. Bangunan ini memang khusus buat penyimpanan dokumen-dokumen lama,” lanjutnya. Selama bertahun-tahun, bangunan itu tertutup rapat dengan sistem insulasi karena memang diperuntukkan menyimpan arsip.
Fungsi gudang tersebut bertahan hingga awal 2012. Setelah kerja sama berakhir, bangunan itu dibiarkan kosong selama sekitar satu tahun. Ilham sempat memikirkan berbagai kemungkinan pemanfaatan. Salah satunya adalah mengontrakkan ke jaringan minimarket. Namun rencana itu kandas.
“Sempat mau dikontrakkan ke Indomaret. Tapi Indomaret mintanya satu lahan penuh. Padahal di depan parkiran ini ada kios, dan kios-kios itu tanahnya sebetulnya juga punya saya,” katanya.
Selain soal lahan, nilai kontrak juga menjadi pertimbangan. “Harganya menurut saya nggak masuk. Jadi saya bilang, ‘Wah, nggak usah.’ Saya nggak mau.”
Kedekatan lokasi dengan stasiun akhirnya memunculkan ide lain. Ia melihat sendiri keterbatasan parkiran di area stasiun dan kebutuhan pengguna KRL yang membawa kendaraan pribadi. “Nah, karena dekat stasiun, saya mikir, kenapa nggak buka parkiran saja. Akhirnya saya buka parkiran motor. Tapi khusus motor, karena mobil nggak cukup,” tuturnya. Tahun 2013, lahan itu mulai beroperasi sebagai parkiran motor.
Saat parkiran mulai berjalan, Ilham belum sepenuhnya menggantungkan hidup dari usaha ini. Ia masih bekerja di sektor lain. Sebelum fokus ke usaha lahan parkir, Ilham sempat bekerja di bidang logistik yaitu di DHL Express cabang bandara dari tahun 2010 sampai 2015. Ia juga sempat menganggur dan menjadi mitra Grab dari tahun 2017 hingga 2023. “Lahan parkir ini awalnya memang masih saya anggap usaha sampingan. Baru belakangan jadi pemasukan utama,” ujarnya.
Lahan parkir tersebut kini dikhususkan untuk motor. Dengan luas sekitar 500 meter persegi, kapasitas maksimalnya bisa mencapai 450 motor. Namun Ilham memilih tidak memaksimalkan sepenuhnya. “Kalau penuh, bisa muat kurang lebih 450 motor. Tapi biasanya yang masuk itu di kisaran 420-an. Saya memang nggak mau parkirnya terlalu mepet karena takut motor orang baret,” katanya. Tarif parkir ditetapkan Rp5 ribu untuk seharian. “Kalau sehari, pemasukan bisa hampir Rp2 jutaan,” ujar Ilham. Parkiran ini buka setiap hari, jam sibuk dimulai sejak subuh, dengan tingkat hunian tertinggi terjadi pada hari kerja. Sedangkan sore hari, arus keluar terjadi mulai setengah lima hingga sekitar tujuh malam.
Dalam pengelolaannya, Ilham menerapkan sistem satu pintu. “Karena itu juga saya sengaja bikin sistem satu pintu. Awalnya sempat kepikiran buka dua pintu supaya nggak terlalu padat, tapi kalau dua pintu berarti butuh SDM lebih banyak,” katanya. Keamanan menjadi prioritas Ilham. Sejak awal membuka bisnis ini hingga sekarang, tidak pernah ada kasus kehilangan atau curanmor di lahan parkirnya. “Alhamdulillah, dari 2013 sampai sekarang belum pernah ada kasus kehilangan. Jangan sampai lah, mudah-mudahan jangan pernah ada,” pungkasnya.
Ilham juga merekrut warga sekitar untuk membantu operasional sekaligus membantu perekonomian mereka. Ia merekrut para akamsi alias anak kampung sini yang menganggur untuk membantunya mengelola lahan parkir. Dengan sistem kerja berbasis kepercayaan, Ilham sudah mempekerjakan tiga orang dengan pembagian shift menyesuaikan jam ramai. Meski sudah memiliki karyawan, Ilham tetap terlibat langsung. “Dalam seminggu, saya biasanya dua atau tiga kali ke sini buat ngecek langsung,” katanya.
-thlonp.png)
Ilham Maulana, pemilik lahan parkir
Foto : Khatibul Azizy Alfairuz (magang)
Hubungan dengan warga sekitar dijaga sejak awal. Hasilnya, Ilham tidak pernah menerima teguran atau complain dari tetangga sekitar. Ia juga telah membangun komunikasi dengan RT setempat dan telah mengantongi izin mereka. Parkiran ini rutin berkontribusi untuk lingkungan, mulai dari iuran hinga terlibat dalam kegiatan warga.
Masa paling berat datang saat pandemi COVID-19. Saat pemerintah mulai menerapkan WFH alias Work From Home, pemasukan Ilham langsung turun drastis. Bahkan, dalam sehari hanya beberapa motor yang masuk. “Kadang sehari cuma masuk lima motor,” ujar Ilham. Ia sempat hampir menutup usaha ini. “Jujur, waktu itu saya sempat nggak percaya diri dan hampir mau nutup,” katanya. Namun ia memilih jujur kepada para penjaga. “Saya bilang, kondisi lagi berat, saya belum mampu ngegaji seperti biasa,” ujarnya. Para penjaga memilih bertahan. “Yang penting masih bisa buat makan,” kata Ilham menirukan jawaban mereka.
Kini, setelah lebih dari 13 tahun berjalan, usaha parkir tersebut relatif stabil di luar masa pandemi. Bisnis penyewaan lahan parkir itu mendatangkan pemasukan yang jauh lebih besar dari karyawan berdasi. “Rata-rata gross per bulan itu di kisaran Rp30 juta sampai Rp35 juta. Bahkan kalau dibandingkan, pendapatan sebulan dari lahan parkir ini secara gross lebih besar dibandingkan gaji saya dulu waktu kerja di kantor atau saat di Grab,” pungkasnya. Meski sempat terpikir menaikkan tarif, Ilham memilih bertahan. “Sampai sekarang saya belum berani naikin,” katanya. Alasannya sederhana. “Dari parkiran saya ke stasiun itu sekitar 100 meter. Butuh effort jalan kaki juga, apalagi kalau hujan. Jadi saya merasa belum pantas untuk naikin tarif.”
Bagi Ilham, kunci bertahan ada pada kepemilikan lahan. “Kalau ini lahan sewa, mungkin waktu COVID dulu sudah tutup total. Tapi saya percaya, di balik kesulitan pasti selalu ada jalan. Karena ini milik sendiri, saya masih bisa bertahan,” ujarnya. Berkat usaha lahan parkir miliknya ini, Ilham bisa memiliki satu mobil, sementara rumah masih dalam proses cicilan.
Reporter: Khatibul Azizy Alfairuz (magang)
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim