INTERMESO

Banjir Telah Pergi, Jejaknya Tertinggal di Kehidupan Petani Sawit Aceh

“Kalau langsung kerja, bisa-bisa malah celaka. Tanahnya masih labil, banyak jalan yang masih tertutup lumpur,” kata Masri pelan.

Aktivitas petani yang sedang memanen sawit.| Foto:dok. detikcom

Rabu, 21 Januari 2026

Sinar mentari masih lembut ketika Masri (40) melangkah masuk ke kebun sawitnya di Pidie Jaya, Aceh. Tanah di bawah sepatu botnya masih terasa lembek. Di beberapa titik, lumpur menutup jalur panen yang biasa ia lewati setiap hari. Parit yang dulu mengalirkan air kini dipenuhi endapan. Di sela barisan pohon, pelepah dan sisa material yang terbawa arus masih tertinggal.

Sejak banjir surut, kebun yang telah ia kelola selama puluhan tahun itu membutuhkan perhatian yang berbeda. Ia tidak langsung bekerja, melainkan menyusuri setiap blok lahan, memperhatikan kondisi tanah, memeriksa parit, dan mencatat bagian kebun yang belum bisa dilewati. Beberapa peralatan kerja dijemur di halaman rumahnya. Ada yang masih basah, ada pula yang terlihat baru dibersihkan dari lumpur. Semua menunggu waktu untuk kembali digunakan.

“Kalau langsung kerja, bisa-bisa malah celaka. Tanahnya masih labil, banyak jalan yang masih tertutup lumpur,” kata Masri pelan, kepada detikX pekan lalu.

Sebelum banjir, aktivitas Masri setiap pagi dimulai dengan aktivitas panen. Ia memeriksa tandan buah segar, mengatur pengangkutan, dan memastikan perawatan berjalan sesuai jadwal. Kini, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk pemulihan. Membersihkan jalur panen, merapikan area kebun, dan memastikan parit kembali bisa mengalir menjadi prioritas utama. Jadwal kerja tidak lagi bisa ditentukan jauh-jauh hari. Masri menyesuaikan langkahnya dengan kondisi lapangan.

Ia tiba di kebun saat matahari mulai naik. Beberapa titik masih terlalu licin untuk dilewati alat angkut. Di tempat lain, tanah tampak lebih stabil, meski belum sepenuhnya pulih.

“Kalau untuk luas, kita kan bukan perusahaan besar. Jadi minimal berkapling, berblok. Kalau saya ada dua blok, sekitar 20 hektare lah. Sekarang lebih banyak muter dulu, lihat mana yang bisa dikerjakan,” ujarnya.

Pemandangan dari udara kondisi lahan sawit pascabanjir. 
Foto : dok. detikcom

Selain berkebun, Masri biasanya memiliki pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun setelah banjir, akses menuju lokasi kerja itu belum sepenuhnya pulih.

“Ada sampingan juga, saya biasanya juga bekerja di pasar-pasar. Cuma saat ini hilang dan belum bisa diakses,” katanya.

Sekarang, hari-harinya lebih banyak dihabiskan untuk pekerjaan ringan di sekitar rumah dan kebun. Meski terlihat sederhana, tetapi membutuhkan tenaga dan kesabaran ekstra.

Salah satu perubahan yang paling dirasakan Masri adalah akses menuju kebun. Beberapa jalur sempat tertutup akibat longsor, sementara jembatan di sekitar lahan juga roboh. Kondisi itu membuat hasil panen tidak bisa langsung diangkut seperti biasa. Masri mengatakan ia dan warga setempat masih memantau kondisi akses tersebut karena sempat terdampak longsor.

Selama jalur belum bisa dilewati, Masri menunda sebagian aktivitas. Buah sawit yang sudah siap panen dibiarkan, menunggu kondisi memungkinkan. Setelah sekitar sepekan, akses mulai bisa digunakan kembali, meski masih harus dilalui dengan hati-hati.

Di sekitar tempat tinggalnya, sisa-sisa banjir masih terlihat. Lumpur mengendap di beberapa area, terutama di wilayah yang lebih rendah. Material dari daerah berbukit terbawa hingga ke kawasan pesisir, meninggalkan jejak yang belum sepenuhnya dibersihkan. Masri tidak banyak mengeluh. Ia lebih memilih fokus pada apa yang bisa ia lakukan hari itu.

 

Menjelang sore, Masri bersiap meninggalkan kebun. Ia membawa alat kerja yang sudah dibersihkan dan sebuah catatan kecil berisi bagian lahan yang masih perlu dibenahi. Aktivitas panen belum kembali seperti biasa. Untuk sementara, ia mengatur ulang ritme kerjanya.

“Pelan-pelan dulu,” katanya.

Beberapa hari setelah banjir, Masri mengaku masih merasakan kelelahan. Namun ia tetap datang ke kebun, memeriksa kondisi, dan memastikan tanaman tetap terawat sebisanya. Baginya, banjir meninggalkan lebih dari sekadar lumpur. Ia membawa jeda dalam rutinitas yang sudah dijalani bertahun-tahun. Setelah air surut, hari-hari dijalani dengan langkah yang lebih hati-hati.

Panen yang Kini Dijalani dengan Seleksi
Sementara itu, di Aceh Tamiang, kondisi kebun sawit masih menunjukkan bekas banjir. Jalan menuju perkebunan dipenuhi lumpur tebal. Beberapa jembatan terputus, membuat akses tidak semudah sebelumnya.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Aceh Tamiang, Muhammad Irwan, tetap berusaha datang ke kebunnya di Desa Sunting, Kecamatan Bandar Pusaka. Kebun tersebut ikut terdampak banjir.

Ketika kondisi mulai membaik, ia kembali memeriksa pohon-pohon yang sudah memasuki masa panen. Namun, cara kerjanya kini berbeda.

Seorang petani tampak sedang mengambil sawit menggunakan galah.
Foto : dok. detikcom

“Kami berusaha memanen yang bisa panen. Aktivitas petani sawit bisa dikatakan banyak lahan pekebun yang sulit dipanen,” ujar Irwan.

Ia tidak lagi memanen seperti dulu. Kini, Irwan bekerja dengan lebih selektif. Pohon-pohon di lahan sawit yang tidak terendam lumpur atau banjir didahulukan, sementara area yang masih terdampak banjir ia lewati.

Menurutnya, hanya lokasi yang aman dan bisa dijangkau yang akan dipanen, sedangkan jalur yang masih licin dihindari. Langkah itu ia lakukan agar tetap bisa bekerja tanpa harus mengambil risiko di medan yang belum sepenuhnya pulih.

Sebelum banjir, Irwan biasa memanen dua pekan sekali. Kini, jadwal itu tidak lagi bisa dipegang pasti. Semua tergantung pada kondisi kebun dan akses yang tersedia. Ia menyusuri lahan, memeriksa satu per satu pohon yang memungkinkan untuk dipanen. Tidak semua tandan bisa diambil. Sebagian dibiarkan menunggu waktu yang lebih aman.

Sawit yang berhasil dipanen tetap dijual ke agen dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram, tidak jauh berbeda dari sebelum banjir. Namun, menurutnya, jumlah buah yang bisa dipanen kini jauh berkurang. Akibatnya, pendapatan yang ia terima pun menyesuaikan dengan hasil panen yang tidak sebanyak biasanya.

Di sejumlah wilayah lain di Aceh dan Sumatera, kondisi serupa juga dirasakan petani. Kebun masih menunjukkan sisa-sisa banjir, jalur panen belum sepenuhnya pulih, dan aktivitas sehari-hari berjalan dengan penyesuaian. Di tengah keterbatasan, para petani sawit tetap berusaha menjaga kebun mereka. Mereka datang, memeriksa, membersihkan, dan memanen sebisanya. Tidak ada jadwal pasti, tidak ada target besar. Yang ada hanyalah bertahan untuk tetap melanjutkan aktivitas sehari-hari.


Penulis: Renaldi Saputra, Agus Setyadi
Editor: Moch Prima Fauzi
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE