INTERMESO

Ketika Tarot Jadi Pegangan Hidup Gen Z

Tarot kini hadir sebagai ruang aman emosional bagi sebagian Gen Z. Bukan untuk meramal masa depan, melainkan membantu mereka memahami diri, menata kegelisahan, dan mengambil keputusan di tengah hidup yang serba tak pasti.

Foto Ilustrasi: pembacaan tarot 

Sabtu, 17 Januari 2026

Namanya Melly, bukan nama sebenarnya. Perempuan berusia 28 tahun ini memilih menyamarkan identitasnya. Tinggal dan bekerja di Jakarta, Melly mengaku sudah bertahun-tahun menjadikan tarot sebagai pegangan ketika hidup terasa bising. Setiap kali galau, entah soal relasi, pekerjaan, atau keputusan-keputusan kecil yang mengusik pikiran, ia lebih memilih membuka ponsel dan menghubungi pembaca tarot langganannya ketimbang berbicara dengan psikolog atau konselor. “Saya minta dibacakan tarot setiap ada masalah yang bikin galau,” kata Melly. Bukan sekali dua kali, melainkan berulang. Tarot menjadi ruang aman, tempat ia merasa didengar tanpa perlu menjelaskan segalanya dari awal.

Kebiasaan itu pelan-pelan membentuk pola. Kadang bukan persoalan besar yang membuat Melly menghubungi pembaca tarotnya, tetapi juga hal-hal sepele yang sebenarnya bisa ditunda atau dipikirkan sendiri. “Seminggu sekali saya pasti menghubungi dia,” ujarnya. Ia merasa ramalan yang diterima jarang meleset, meski tak pernah disampaikan secara sangat detail. Justru di situ letak kenyamanannya. “Kalau sangat pasti seperti itu, seram juga kita.” Bagi Melly, kepercayaannya bukan semata pada kartu tarot, melainkan pada sosok pembacanya. Tarot hanyalah metode yang kebetulan terasa paling cocok.

Benar atau meleset ramalan seorang pembaca tarot, siapa yang tahu. Masuk akal atau tidak, nyatanya banyak orang yang datang kepada peramal untuk menerawang apa yang terjadi dalam hidup mereka pada masa mendatang. Tak aneh jika ‘profesi’ ini tak pernah ada matinya, bahkan menjadi sandaran emosional bagi generasi Z.

Dalam praktiknya sebagai tarot reader, Valencia banyak berhadapan dengan klien dari generasi Z. Mayoritas kliennya lahir sekitar 1995 hingga 2000-an.Tema yang muncul hampir selalu sama, cinta dan pekerjaan. Disusul pertanyaan tentang diri sendiri, mengapa harus membangun hidup, apa panggilan hidup sebenarnya. Mayoritas kliennya lahir sekitar 1995 hingga 2000-an. “Tapi rata-rata yang paling banyak itu yang lahir 1998–1999. Kalau 1999 itu sekarang berarti umur 25–26, mau ke 27 ya. Itu memang lagi fase galau kehidupan,” ungkapnya saat ditemui di sebuah coffee shop di PIK, Jakarta Utara.

Kartu tarot milik Valencia
Foto:  Khatibul Azizy Alfairuz (magang)

Menurut Valencia, wajar jika rentang usia itu memang penuh kegamangan. Mereka baru benar-benar dewasa dan dihadapkan pada banyak keputusan besar, tetapi tak tahu cara memutuskannya. Tidak ada guidebook. Di sekolah ada panduan, tetapi di fase ini tidak. Ada jarak dengan orang tua, ada rasa sungkan untuk bercerita. Sementara teman sebaya sama-sama kebingungan.

Di situ tarot hadir sebagai ruang netral. Pembaca tarot dianggap tidak bias karena tidak mengenal klien secara personal. “Kalau teman kan kadang bias dan jadi kurang solutif.” Apalagi belakangan, selain percintaan, pertanyaan soal pekerjaan semakin dominan. Kondisi ekonomi membuat banyak klien mempertanyakan masa depan kerja mereka, terus melamar atau membuka usaha sendiri.

Di tengah generasi yang tumbuh dengan pilihan hidup tak terbatas tetapi minim pegangan, tarot sering kali hadir sebagai yang bisa diandalkan. Dari kegelisahan-kegelisahan itu pula, tarot masuk ke hidup Valencia.

Tarot datang ke hidup Valencia bukan sebagai profesi, melainkan sebagai jawaban sementara atas kegelisahan yang tak kunjung reda. Ia mengingat fase itu dengan cukup jelas. “Aku dikasih tahu sama teman. Jadi waktu itu sekitar tahun 2014 sampai awal 2015, itu fase ketika aku mulai mencari makna hidup. Kayak, hidup ini sebenarnya apa sih?”

Di luar narasi yang sudah ada, ia mulai bertanya. Apakah hidup memang harus berjalan seperti itu saja. Kalau tak ada narasi yang diwariskan, apakah hidup cuma sebatas mengikuti alur yang sudah ditentukan. Pertanyaan-pertanyaan itu berkelindan dengan kegelisahan eksistensial yang semakin kuat.

Pertemuan pertamanya dengan tarot terjadi secara sederhana, nyaris tanpa ekspektasi. Seorang teman kantor membawa set kartu tarot dan menawarinya untuk dibacakan. Cara membaca temannya mungkin sangat berbeda dengan caranya sekarang, tetapi pengalaman itu menjadi titik balik. “Pada saat itu, ketika aku dibacain tarot, aku ngerasa kayak ada satu alat yang bisa bantu aku, pertama, untuk menerjemahkan isi kepalaku sendiri.” Tarot memberinya bahasa untuk memahami apa yang selama ini hanya berputar di kepala.

Ia tak langsung menjadi pembaca tarot. Ada proses panjang yang ia lalui. Dari rasa terbantu, muncul rasa ingin tahu. Ia mulai mengulik dasar-dasar tarot, intuisi, dan spiritualitas. “Semakin aku ngulik basis tarotnya seperti apa, soal intuisi seseorang, soal spiritualitas seseorang, aku makin ngerasa jawaban-jawaban itu mulai kebaca,” ucapnya.

Kartu tarot saat Valencia membacakan kepada klien
Foto: Khatibul Azizy Alfairuz (magang)

Sekitar tahun 2015, ia mulai membaca tarot untuk dirinya sendiri. Temannya meminjamkan kartu, dan ia membaca dengan caranya sendiri. Ia membaca buku, berlatih, termasuk melatih intuisi. Namun sejak awal, ia sudah menolak pendekatan hafalan. “Kalau harus menghafal arti kartu seperti King of Cups artinya apa, aku tidak suka. Rasanya terlalu membatasi cara membaca,” tutur Valencia. Bagi Valencia, tarot bukan kumpulan makna statis, melainkan alat yang hidup dan bergerak mengikuti konteks.

Meski demikian, Valencia selalu menegaskan posisinya. “Buat aku, iya. Tarot itu alat. Yang membaca tetap manusianya,” pungkasnya. Ia tidak percaya energi kartu seperti sebagian pembaca lain. Baginya, kartu hanyalah media. Intuisi manusialah yang bekerja. Karena itu, ia percaya latar belakang hidup pembaca sangat memengaruhi hasil bacaan. Dua orang bisa sama-sama intuitif, tetapi menghasilkan interpretasi berbeda.

Pandangan itu membentuk cara ia membaca klien. Ia lebih sering melakukan sesi secara daring, karena lebih mudah menjangkau orang. Prosesnya ia samakan dengan konsultasi psikolog. Ia tidak langsung meminta pertanyaan teknis, tetapi menanyakan aspek hidup apa yang ingin dikulik. Dari sanalah percakapan berkembang.

Pengalaman paling berkesan baginya adalah ketika klien kembali setelah waktu yang lama. Bukan seminggu atau sebulan, tetapi setahun sekali. Mereka datang membawa cerita. “Kak, tahun lalu aku ngelakuin apa yang kakak sarankan, dan hidup aku berubah,” ucap seorang klien Valencia. Melihat progres itu memberinya rasa bermakna. Ada pula momen ketika klien menyadari sesuatu tentang dirinya sendiri. “Ih, gila, gue nggak sadar banget ternyata gue ada di kondisi itu.” Bagi Valencia, menyadarkan seseorang adalah pengalaman yang sangat berarti.

Namun, di balik itu, ada kekhawatiran soal ketergantungan. Ia pernah menghadapi klien yang datang seminggu sekali dengan topik yang sama. “Pernah banget,” katanya. Ketika melihat pola itu, ia akan mengingatkan. Ia menegaskan bahwa saran hanya sampai titik tertentu, selebihnya adalah keputusan klien. Bahkan, ia tak segan menolak sesi dengan alasan slot penuh jika merasa situasinya sudah tidak sehat.

Ia juga membatasi topik bacaan. Soal kesehatan, ia menolak dan menyarankan langsung ke dokter. Ia berhati-hati membaca tentang orang lain, terutama mantan pasangan, karena menyangkut privasi dan konsen. Ia menekankan bahwa apa yang dibaca dalam satu jam cukup berhenti di sesi itu saja.

Bagi Valencia sendiri, tarot sangat personal. Banyak perjalanan hidupnya dipengaruhi oleh tarot. Ia menggunakannya seperti ritual journaling. Ketika kepalanya penuh dan overthinking, ia cukup mengambil satu kartu tanpa pertanyaan. Dari situ, ia bukan mendapatkan pesan spesifik, melainkan kelegaan. Tarot membantunya tetap waras menjalani hari-hari.

Raissa Nathania, 30 tahun, salah satu klien Valencia, mengenal tarot dari jalur yang berbeda. Ia sudah lama mendengar kata tarot, tetapi baru benar-benar mengenalnya sekitar 2018–2019, setelah mulai bekerja. Sebelumnya, tarot hanya hadir sebagai iseng-iseng di booth acara. Baru ketika ia berada di fase kebingungan karier, tarot menjadi sesuatu yang serius.

“Waktu itu aku sedang bekerja dan memang lagi sangat bingung soal karier,” katanya. Ia memiliki banyak pertanyaan dan butuh jawaban agar situasinya lebih jelas. Bukan jawaban hitam-putih, tetapi pemahaman tentang makna dari apa yang sedang ia alami dan petunjuk ke depan.

Buku referensi tarot
Foto: Khatibul Azizy Alfairuz (magang)

Topik yang paling sering ia tanyakan adalah karier. Pekerjaan adalah area hidup yang paling membingungkan baginya. Ia datang ke sesi reading dengan pertanyaan yang abstrak. Bahkan sering kali ia belum tahu harus mulai dari mana. Ia yakin bahwa semua yang ia alami memiliki arti, baik untuk masa kini maupun masa depan.

Setelah reading, terutama bersama Valencia, Raissa hampir selalu merasa lebih jelas. Ia merasa dibantu untuk memahami perasaannya sendiri. Ia mendapatkan petunjuk, tetapi juga refleksi. Valencia mengaitkan bacaan dengan pengalaman masa lalu, kebiasaan, dan hal-hal yang tidak ia sadari. Itu membuatnya merasa lebih lega dan lebih percaya diri.

Tarot juga memengaruhi keputusan penting dalam hidupnya. Salah satu yang paling ia ingat adalah ketika ia berada di luar negeri dan harus memilih antara bertahan atau pulang ke Indonesia. Jawaban Valencia tidak mengarahkan pada satu pilihan mutlak. Yang ditekankan adalah menaruh hati pada keputusan yang diambil. Dari situ, Raissa merasa lebih tenang dan memastikan dirinya terhubung dengan diri sendiri.

Meski merasakan manfaat, Raissa tidak merasa bergantung. Ia tidak membaca tarot setiap kali bingung. Dalam dua tahun terakhir, ia melakukannya setahun sekali, biasanya menjelang akhir tahun. Ia melakukan tarot ketika memang sedang kebingungan dan butuh petunjuk. Baginya, tarot adalah petunjuk sekaligus refleksi. Ia menolak anggapan tarot sebagai ramalan masa depan.

“Aku maklum kalau ada orang yang menganggap aku enggak masuk akal. Mereka sering menganggap tarot itu ramalan, seperti paranormal atau dukun. Aku juga nggak setuju kalau tarot dipakai untuk nanya kepastian masa depan. Menurut aku, masa depan nggak ada yang benar-benar tahu,” ucap Raissa. Baginya, tarot yang ia percayai bukan soal meramal, melainkan membantu memahami diri sendiri dan mengambil keputusan dengan lebih sadar.

Fenomena ketertarikan Gen Z pada tarot juga diamati oleh psikolog klinis Universitas Airlangga, Dian Kartika Amelia Arbi. Menurutnya, tarot sejatinya bukan hal baru, tetapi belakangan penggunaannya menonjol di kalangan Gen Z. “Dari perspektif psikologi, salah satunya itu sebagai salah satu cara individu atau Gen Z, ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak enak, mereka merasa tidak berdaya. Mereka berusaha mencari penjelasan eksternal atas apa yang mereka hadapi saat ini.”

Tarot menawarkan narasi tentang diri tanpa judgement, yang dapat menenangkan dan mengurangi kecemasan. Namun Dian mengingatkan potensi dampak negatif jika terlalu diandalkan. Ketika seseorang berhenti berupaya memperbaiki situasi karena merasa semuanya sudah ditentukan, itu bisa mengarah pada self-fulfilling prophecy. Ia menyarankan cara lain untuk mengelola stres, seperti journaling, mengelola waktu, berolahraga, serta mencari bantuan profesional ketika krisis emosional tidak bisa ditangani sendiri.


Reporter: Khatibul Azizy Alfairuz (magang)
Penulis: Melisa Mailoa

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE