Foto : iStock
Minggu, 11 Januari 2026Diet karnivora mencuri perhatian publik setelah sebuah video di TikTok memperlihatkan seorang perempuan menyantap mentega langsung dari kemasannya. Dalam unggahan itu, perempuan bernama Bella, pemilik akun @steakandbuttergal, menyebut menu hariannya hanya terdiri dari daging, telur, dan lemak hewani. Untuk sarapan, ia mengorak-arik 10 butir telur, lalu melanjutkannya dengan 12 telur rebus dan tumisan daging sapi. Total, 22 butir telur dan satu blok mentega ia habiskan dalam sehari.
“Ini adalah apa yang saya makan sehari-hari sebagai karnivora berlemak tinggi,” ujar Bella dalam salah satu videonya. Ia mengaku telah menjalani pola makan tersebut selama lima tahun. Dari diet yang terdengar nyeleneh itu, Bella mengklaim tubuhnya justru membaik. Eksim, psoriasis, dan jerawat kistik yang sebelumnya ia alami disebut menghilang. Ia juga merasa tak lagi mengalami kembung kronis, kecanduan gula, kabut otak, dan kelelahan.
Pola makan yang dijalani Bella dikenal sebagai carnivore diet atau diet karnivora, yakni pola makan yang sepenuhnya mengandalkan produk hewani dan menghilangkan seluruh makanan nabati. Tidak ada sayur, buah, kacang-kacangan, maupun biji-bijian. Menu utamanya adalah daging merah, unggas, ikan, telur, serta lemak hewani seperti mentega dan sumsum tulang. Air dan kaldu tulang dianjurkan, sementara minuman berbahan tumbuhan seperti teh dan kopi kerap dihindari.
Diet ini berangkat dari keyakinan bahwa manusia purba sebagian besar mengonsumsi daging dan ikan, serta anggapan bahwa tingginya asupan karbohidrat modern menjadi pemicu meningkatnya penyakit kronis. Berbeda dengan diet keto atau paleo yang masih memberi ruang bagi sayur dan buah tertentu, diet karnivora bertujuan mencapai nol karbohidrat.

Ilustrasi diet Karnivora
Foto : iStock
Nama Shawn Baker, dokter ortopedi asal Amerika Serikat, sering dikaitkan dengan popularitas diet ini. Baker menyebut diet karnivora sebagai bentuk elimination diet yang menyingkirkan makanan olahan. Menurutnya, banyak orang yang mengikuti pola makan ini melaporkan penurunan berat badan serta perbaikan kondisi seperti obesitas, diabetes, depresi, dan kecemasan. Klaim tersebut banyak dikutip media kesehatan, termasuk Healthline.
Namun, di balik klaim dan kisah sukses yang viral, diet karnivora masih menyisakan tanda tanya besar di kalangan ilmuwan. Hingga kini, belum ada uji klinis terkontrol yang secara khusus meneliti dampak diet karnivora dalam jangka panjang. Sebagian besar bukti yang tersedia berasal dari pengalaman pribadi dan survei berbasis laporan mandiri.
Salah satu survei tersebut dipublikasikan dalam jurnal Current Developments in Nutrition pada 2021, melibatkan lebih dari 2.000 pelaku diet karnivora. Responden melaporkan penurunan berat badan, peningkatan energi, dan perbaikan kesehatan secara umum. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut bersifat self-reported dan tidak dapat dianggap sebagai bukti kausal yang kuat.
Selain Bella, kisah sukses diet karnivora juga datang dari Patrick Ensley, teknisi HVAC asal Milford, Nebraska. Patrick memutuskan mengubah pola makannya setelah berat badannya mencapai 300 pon atau sekitar 136 kilogram. Selama setahun penuh, ia hanya mengonsumsi steak seberat 16 ons, satu pon daging sapi, dan enam butir telur setiap hari.
Setelah 10 bulan menjalani diet tersebut, Patrick mengungkapkan lingkar perutnya menyusut 48 sentimeter dan lingkar pinggulnya berkurang 32 sentimeter. Ia juga merasakan peningkatan energi, kualitas tidur yang lebih baik, dan suasana hati yang lebih stabil. “Saya merasa lebih sehat secara mental dan memiliki tujuan hidup kembali,” ujarnya, dikutip dari LadBible

Diet Karnivora mengkonsumsi berbagai jenis daging.
Foto : iStock
Pengalaman Patrick turut mendorong istrinya, Cait, untuk mengikuti diet yang sama. Cait menyebut energinya meningkat dan aktivitas harian terasa lebih ringan. Bagi pasangan ini, diet karnivora bukan sekadar soal penampilan fisik, tetapi juga perubahan kualitas hidup yang mereka rasakan.
Namun, tidak semua cerita diet karnivora berakhir dengan hasil positif. Eve Catherine, perempuan 23 tahun asal Dallas, Amerika Serikat, justru harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami batu ginjal. Saat itu, Eve tengah menjalani diet karnivora dengan menu telur, yogurt berlemak tinggi, dan steak.
Dalam pemeriksaan kesehatan tahunan sebelumnya, dokter telah memperingatkan Eve terkait kadar protein berlebih dalam urinenya. Peringatan itu diabaikan hingga suatu hari ia mendapati urinnya berdarah. Kisah Eve dilaporkan oleh New York Post pada Maret 2025.
Sejumlah ahli gizi dan peneliti kesehatan juga mengingatkan risiko serius dari pola makan yang sepenuhnya menghilangkan buah, sayur, dan sumber serat. Diet yang hanya bertumpu pada daging dan produk hewani dinilai berpotensi meningkatkan risiko gangguan jantung, masalah pencernaan, hingga kekurangan mikronutrien penting yang berperan melindungi tubuh dari penyakit kronis. Pola makan sehat dan seimbang seharusnya mencakup variasi makanan, termasuk buah, sayur, sumber protein, serta lemak tak jenuh. Konsumsi daging merah dan olahan pun dianjurkan tidak melebihi 70 gram per hari. Di tengah popularitasnya, para ahli sepakat bahwa diet karnivora belum memiliki bukti ilmiah kuat untuk direkomendasikan secara luas, terutama dalam jangka panjang.

Steak salah satu menu untuk diet karnivora
Foto : iStock
Profesor epidemiologi dan nutrisi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, Walter Willett, menilai manfaat awal yang dirasakan sebagian pelaku diet karnivora sering kali berasal dari berhentinya konsumsi gula dan karbohidrat olahan, bukan dari eksklusivitas konsumsi daging itu sendiri. “Diet karnivora mungkin tampak efektif dalam jangka pendek, tetapi tidak sehat untuk jangka panjang karena tidak menyediakan serat, antioksidan, dan berbagai nutrisi penting yang hanya bisa diperoleh dari buah dan sayuran,” ujar Willett.
Risiko lain dari diet karnivora tercatat dalam laporan Live Science. Seorang pria berusia 40-an mengalami lonjakan kadar kolesterol darah hingga lebih dari 1.000 mg/dL setelah delapan bulan menjalani diet karnivora tinggi lemak. Pola makannya mencakup konsumsi keju, mentega, dan lemak tambahan dalam jumlah besar.
Akibatnya, pria tersebut mengalami xanthelasma, yakni endapan kolesterol berwarna kuning di bawah kulit, yang muncul di telapak tangan, kaki, dan siku. Para ahli gizi menyoroti bahwa diet karnivora tidak menyediakan serat dan senyawa tumbuhan yang penting bagi kesehatan usus dan jantung. European Food Information Council (EUFIC) menyebut ketiadaan serat dapat mengganggu mikrobiota usus dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim