Jejak Konservasi MIND ID Merawat Keanekaragaman Hayati
Jejak Konservasi MIND ID Merawat Keanekaragaman Hayati
Di balik lanskap hijau yang perlahan pulih di berbagai tambang, MIND ID menegaskan bahwa pertambangan tidak hanya soal mineral, tetapi juga soal menjaga kelestarian alam. Holding industri pertambangan ini menempatkan konservasi keanekaragaman hayati sebagai bagian tak terpisahkan dari praktik bisnis berkelanjutan seluruh anggota holding.
Komitmen itu dimulai sejak tahap perencanaan. Pada fase sebelum penambangan, kajian lingkungan dan keanekaragaman hayati dilakukan untuk memetakan kondisi awal ekosistem. Flora dan fauna, termasuk spesies dilindungi, didata. Dari pemetaan inilah ditetapkan zona lindung, koridor satwa, serta rencana reklamasi yang sudah disusun sebelum tambang beroperasi.
Ketika penambangan berlangsung, pengelolaan lingkungan dilakukan secara bertahap. Pembukaan lahan dibatasi untuk menekan perubahan bentang alam. Tanah pucuk diselamatkan agar bisa digunakan kembali saat rehabilitasi. Area yang telah selesai ditambang langsung direvegetasi dengan tanaman lokal dan endemik. Di kawasan yang berdekatan dengan habitat satwa, perusahaan bekerja sama dengan mitra konservasi memantau dan menyelamatkan satwa agar aktivitas tambang tidak memutus rantai ekosistem.
Fase setelah penambangan menjadi tahap krusial. Fokus diarahkan pada pemulihan ekosistem secara menyeluruh. Lahan bekas tambang direklamasi dan ditanami kembali agar kembali berfungsi sebagai ruang hidup flora dan fauna. Perlindungan satwa liar dilakukan melalui rehabilitasi dan pelepasliaran, seiring pengembangan kawasan konservasi yang melibatkan masyarakat sekitar.
Di Pongkor, Jawa Barat, PT ANTAM memulihkan hutan tropis di kaki Gunung Salak dan Halimun. Area tambang yang berbatasan langsung dengan habitat satwa direstorasi melalui rehabilitasi lahan, penanaman tanaman endemik, serta pembangunan nursery. Di Legok Geomin, seluas 1,6 hektar lahan kini ditanami 16 jenis tanaman sebagai upaya menjaga keberlanjutan hutan dan keanekaragaman hayati.
Upaya serupa terlihat di Bangka Belitung. PT Timah mengelola Kampoeng Reklamasi Air Jangkang, bekas galian timah seluas enam hektar yang kini hijau oleh tanaman kehutanan seperti sengon dan pulai (Alstonia scholaris), serta kebun jambu dan buah naga. Sejak 2013, kawasan ini dikembangkan dari penanaman kemiri sunan sebagai sumber bioenergi, lalu diperluas dengan kegiatan pengomposan, pembibitan, dan penghijauan berbasis sumber daya lokal.
Reklamasi, bagi MIND ID, tidak berhenti pada tanaman. Di Air Jangkang, terdapat perlindungan satwa liar. Kehadiran rusa, elang bondol, hingga buaya menjadi penanda bahwa ekosistem mulai pulih--hasil dari evakuasi, rehabilitasi, dan pelepasliaran satwa.
MIND ID turut melibatkan masyarakat sekitar. Di Pongkor, membina petani lokal dan mengembangkan Model Kampung Konservasi Cisangku di Desa Wisata Malasari. Di Bangka, lahan reklamasi dimanfaatkan untuk pertanian dan peternakan, menguatkan ketahanan pangan sekaligus mempercepat pemulihan lingkungan.
Melalui standar lingkungan yang terintegrasi, MIND ID merajut restorasi lahan, perlindungan keanekaragaman hayati, dan pemberdayaan masyarakat sebagai strategi jangka panjang. Dari hutan Pongkor hingga lahan Air Jangkang, holding tambang ini membuktikan bahwa pertambangan dan konservasi bukan dua hal yang saling meniadakan, melainkan bisa berjalan beriringan.
Satwa liar Luntung Jawa memakan tumbuhan di hutan tropis Pongkor.
Hamparan hutan konservasi PT ANTAM di kawasan kaki Gunung Halimun dan Salak, Pongkor, Kabupaten Bogor. Dilahan seluas 1,6 hektar ini ditanami 16 jenis tanaman sebagai upaya menjaga keberlanjutan hutan dan keanekaragaman hayati.
Seorang pekerja memperlihatkan buah tumbuhan ganitri. Buah ini termasuk endemik di kawasan itu.
Pegawai PT ANTAM merawat bibit Cemara Ki Putri (Podocarpus) di area pembibitan Pongkor, Kabupaten Bogor, yang nantinya akan ditanam di kawasan konservasi perusahaan.
Satwa liar monyet ekor panjang terlihat di kawasan konservasi PT ANTAM Pongkor
Bentang alam Desa Wisata Malasari kawasan Kampung Konservasi Cisangku, Kabupaten Bogor. Desa wisata binaan Antam ini menampilkan harmoni antara hutan tropis dan lanskap persawahan warga. Melalui program pemberdayaan dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan, kampung ini menjadi model konservasi berbasis masyarakat.
PT ANTAM membina petani cabai dalam mengelola lahan pertanian. Program ini tidak hanya mendukung gerakan konservasi, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan perekonomian warga di lingkungan sekitar tambang.
Foto Udara Kampoeng Reklamasi Air Jangkang, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Bekas galian tambang timah seluas 6 hektar ini kini tumbuh subur melalui upaya reklamasi dan penghijauan kembali.
Petugas melakukan perawatan tanaman pohon pulai (Alstonia Scholaris) di pusat persemaian Kampoeng Reklamasi Air Jangkang.
Kampoeng Reklamasi Air Jangkang juga turut memiliki sapi ternak. Kotoran sapi dimanfaatkan untuk pupuk kompos tanaman
Petugas memberi pakan nangka kepada beruang madu (Helarctos malayanus) yang diselamatkan dari pemeliharaan ilegal warga di Pusat Penyelamatan Satwa Alobi, Bangka Belitung. PT Timah berkolaborasi dengan Alobi Foundation melestarikan satwa di Kampoeng Reklamasi Air Jangkang.
Buaya terlihat di penangkaran yang terletak di Kampoeng Reklamasi Air Jangkang. Kondisi pH air bekas galian tambang timah sudah kembali normal, dan bisa menjadi habitat buaya.
PT Timah memiliki laboratorium kultur jaringan dan pembibitan untuk memperkaya ragam tanaman guna mendukung penghijauan dan pelestarian alam.
Tanaman jambu di lahan eks tambang timah menjadi penanda pemulihan tanah sekaligus sumber pakan alami bagi satwa di kawasan konservasi PT Timah.
Konservasi dan penangkaran rusa sambar (Cervus unicolor equinus) yang dilakukan oleh PPS ALOBI (Pusat Penyelamatan Satwa) bersama PT Timah di Bangka Belitung.
Elang bondol (Haliastur indus) berada dalam penangkaran untuk direhabilitasi sebelum dilepasliarkan kembali ke alam bebas.
Bunga nona makan sirih (Clerodendrum thomsoniae) tumbuh di Kampoeng Reklamasi Air Jangkang. Tumbuhnya bunga di lahan reklamasi pascatambang menunjukkan bahwa kondisi tanah dan lingkungan sudah pulih sehingga mampu mendukung kehidupan flora/fauna.



