Foto : Ilman/detikcom
Sabtu 6 September 2025Pada penghujung Agustus 2025, Jakarta diliputi asap. Bukan karena polusi yang biasa memenuhi langit ibu kota, melainkan dari api yang melalap fasilitas publik kebanggaan warga. Demonstrasi besar yang digelar pada 29 Agustus berujung ricuh. Ribuan massa awalnya turun ke jalan untuk menuntut transparansi kebijakan pemerintah dan isu-isu ekonomi yang dianggap kian menekan rakyat. Seiring sore berganti malam, suasana berubah panas. Gas air mata dilepaskan, massa terpencar, dan sebagian melepaskan amarah dengan membakar fasilitas umum. Api menjilat halte-halte TransJakarta, ikon transportasi massal yang selama dua dekade terakhir menjadi tulang punggung mobilitas warga ibu kota.
Sebanyak tujuh halte terbakar habis, Bundaran Senayan, Pemuda Pramuka, Polda Metro Jaya, Senen Toyota Rangga, Sentral Senen, Senayan (Bank DKI), dan Gerbang Pemuda. Selain itu, enam belas halte lain mengalami kerusakan akibat vandalisme, mulai dari kaca pecah hingga fasilitas rusak. Total dua puluh dua halte terdampak, dengan kerugian mencapai lebih dari lima puluh miliar rupiah. Pemandangan halte-halte hangus yang sehari-hari menjadi bagian hidup jutaan warga Jakarta membuat banyak orang terenyuh, marah, sekaligus sedih. Bagi sebagian, halte bukan hanya tempat naik-turun bus, melainkan titik yang menyimpan begitu banyak kenangan dan cerita hidup.
Siti Aminah, 35 tahun, masih mengingat jelas bagaimana halte Senen menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya. Perempuan asal Cirebon yang kini tinggal di Cempaka Putih itu dulu selalu menumpang TransJakarta dari Halte Pasar Senen, kini sudah berganti nama menjadi Halte Senen Toyota Rangga. Ia berangkat bersama ibunya di pagi buta menuju pasar subuh untuk mengambil kue. Aneka jajanan tradisional itu mereka jajakan kembali di lapak kecil di sekitar Rawasari.
"Dari tahun 2018, saya dan mama selalu pakai Halte Senen untuk ambil kue di pasar subuh. Dulu tempatnya tidak sebagus sekarang ya," kenangnya. Sejak revitalisasi rampung pada 2023, halte itu berubah wajah. Dinding kaca yang rapi, atap kokoh, ruang tunggu bersih, dan jalur masuk yang lebih ramah bagi penumpang. "Setelah tahun 2023, halte jadi bagus, lebih terang, tempat duduknya juga lebih nyaman. Cuma sayang baru satu saya menikmati fasilitas baru, habis itu kita sudah tidak jualan lagi," kata Siti.
Perubahan itu sempat membuatnya bangga. Ia merasa Jakarta akhirnya menaruh perhatian pada kenyamanan rakyat kecil yang setiap hari bergantung pada TransJakarta untuk mengais rezeki. Tapi kebanggaan itu sirna ketika kabar datang bahwa Halte Senen habis dilalap api. Ia melihat fotonya dari layar ponsel, hanya tersisa rangka besi yang hangus, kaca pecah berserakan, dan cat yang mengelupas hitam. "Sekarang saya tidak ke sana lagi karena sudah tidak jualan. Tapi sedihnya masih terasa. Padahal ini fasilitas rakyat kecil yang tidak punya mobil mewah seperti pejabat negara, kok tega-teganya dibakar,” keluh Siti.
Bagi Siti, Halte Senen bukan hanya ruang tunggu. Itu adalah saksi bisu perjuangannya dan sang ibu, yang selama bertahun-tahun bangun sebelum subuh untuk bertahan hidup di Jakarta. Beberapa hari setelah aksi pembakaran halte TransJakarta itu, ia melewati kawasan Senen. Pandangannya tertuju pada bangkai halte yang dulu begitu akrab. Rasa kehilangan itu kembali menyengat, seolah kenangan masa lalunya ikut terbakar.

Massa demo bakar halte Busway.
Foto : Ilman/detikcom
Tak jauh dari cerita Siti, Budi Hartono, 29 tahun, juga mengalami kepedihan serupa. Budi, pria asal Bandung yang merantau ke Jakarta dan tinggal di kosan daerah Tebet, Jakarta Selatan, bekerja di sebuah kantor di kawasan Senayan. Selama bertahun-tahun, Halte Bundaran Senayan adalah titik persinggahannya setiap pagi. Dari sana ia berjalan kaki ke gedung perkantoran yang jaraknya hanya beberapa ratus meter. Tapi pada tanggal 30 Agustus 2025, sehari setelah demonstrasi berakhir ricuh, rutinitas itu terhenti mendadak.
Hari itu sebenarnya perusahaan sudah memutuskan agar karyawan bekerja dari rumah karena situasi kota yang belum kondusif. Namun Budi harus datang ke kantor untuk mengambil laptop dan beberapa peralatan kerja. Ia berangkat pagi-pagi dari Tebet dengan niat naik busway seperti biasa, tapi kenyataannya halte Bundaran Senayan sudah hancur terbakar. "Saya harus ambil alat kantor pagi-pagi dari kosan di Tebet. Tapi karena halte terbakar, saya terpaksa naik ojek online, padahal belum gajian, uang udah mepet," keluhnya.Perjalanan itu menguras perasaan. Ia terbiasa membayar ongkos Transjakarta yang terjangkau, tapi kali ini harus mengeluarkan biaya pulang- pergi ojek online yang lumayan menggerus sisa saldo rekeningnya.
Pada Senin pagi, 1 September 2025, Budi akhirnya kembali ke kantor. Ia berangkat dengan perasaan campur aduk, karena tahu halte Bundaran Senayan yang selama ini menjadi titik turunnya sudah tinggal puing.Yang ada kini hanyalah halte NBRT darurat, berdiri seadanya di pinggir jalan, sejajar dengan trotoar. Bekas gosong di tiang sekitar masih jelas terlihat. Ia menunggu bus di antara kerumunan penumpang lain, sambil menyeka keringat yang menetes karena terik matahari pagi Jakarta. Debu jalanan beterbangan setiap kali kendaraan melintas, bercampur dengan aroma aspal yang membuat tenggorokan terasa gatal. Budi berdiri memandang sekeliling dengan perasaan tak karuan.
“Rasanya jauh sekali sama halte aslinya. Biasanya lebih adem, ada kursi, ada kaca. Sekarang berdiri aja di pinggir jalan, panas, debu, dan agak takut juga karena bekas kebakaran masih kelihatan,” katanya. Meski waswas, ia tahu tidak ada pilihan lain. Halte darurat inilah satu-satunya cara untuk tetap bisa mencapai kantornya tanpa mengeluarkan biaya lebih besar untuk ojek online. Halte kebanggaannya kini dipagari, dengan pekerja yang mulai membersihkan puing. Di salah satu dinding pagar perbaikan, terpampang kalimat besar. "Halte adalah rumah kedua kita dalam perjalanan."
Kalimat itu menampar hati Budi. "Yang manfaatnya paling berasa untuk rakyat, malah dibakar sampai habis sisa puing-puing," ujarnya. TransJakarta memang langsung menggratiskan layanan selama seminggu penuh hingga 7 September 2025 sebagai bentuk dukungan moral bagi warga yang terganggu mobilitasnya. Kebijakan itu membuat banyak orang terharu, termasuk Budi. Walau ia tidak bisa turun tepat di Halte Bundaran Senayan yang sudah hangus, ia merasa simpati yang mendalam. "Saya malah nggak keberatan bayar. Justru heran aja, dalam kondisi dibakar begitu, TransJakarta masih mikirin kita. TransJakarta justru lebih memahami rakyat daripada Dewan Perwakilan Rakyat," katanya.
Gubernur Jakarta, Pramono Anung, mengatakan, pemerintah sudah mulai melakukan pembersihan serta perbaikan halte-halte TransJakarta yang rusak sejak Sabtu, 30 Agustus 2025. “Mudah-mudahan baik yang rusak sedang, rusak berat, akan bisa kita selesaikan tanggal 8 atau 9 September,” ujar politikus PDI Perjuangan itu.

Halte busway terbakar
Foto : Elza Astari
Meskipun ada sejumlah halte yang terdampak, Pramono menegaskan layanan TransJakarta dan Transjabodetabek sudah kembali beroperasi seperti sedia kala mulai Senin berikutnya. “Ada sedikit hambatan, tapi kami yakin sekarang sudah lancar,” katanya.
Sementara itu, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) pada Jumat, 5 September 2025 resmi melakukan uji coba fungsional untuk Halte Bundaran Senayan. Halte tersebut telah rampung diperbaiki pascakerusakan akibat demonstrasi besar di akhir Agustus. Dengan demikian, para pelanggan kembali bisa naik turun di Halte Bundaran Senayan sekaligus menggunakan fasilitas yang tersedia.
Direktur Utama TransJakarta, Welfizon Yuza, menyebut pihaknya berkomitmen menuntaskan target perbaikan yang dicanangkan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Tujuannya, agar seluruh halte yang rusak bisa difungsikan penuh maksimal dalam waktu satu minggu. “Uji coba fungsional Halte Bundaran Senayan kembali beroperasi melayani pelanggan, kurang dari 7x24 jam pasca mengalami kebakaran dan kerusakan ini menjadi simbol hasil kolaborasi yang berjalan sangat baik, sehingga semua bisa diselesaikan lebih cepat dibanding target yang kami tetapkan sebelumnya,” ungkapnya.
Kini, Halte Bundaran Senayan kembali melayani delapan jalur penting yang menghubungkan berbagai titik vital ibu kota. Dari koridor utama Blok M – Kota, hingga rute penghubung Stasiun Palmerah dengan Bundaran Senayan. Jalur lain yang juga kembali aktif adalah Blok M – Ancol, serta lintasan dari Stasiun Manggarai menuju Blok M. Tak hanya itu, rute Ragunan – Senayan Bank DKI dan Pinang Ranti – Bundaran Senayan pun ikut terlayani, melengkapi pilihan perjalanan masyarakat. Sementara dari kawasan utara, rute Tanjung Priok – Bundaran Senayan sudah dapat diakses, begitu pula trayek penghubung Alam Sutera – Blok M yang melewati halte ini.
Pihak TransJakarta tetap menyampaikan permohonan maaf jika layanan di halte tersebut belum sepenuhnya optimal, karena proses pemulihan detail masih berlangsung. Dalam dua hari berikutnya, TransJakarta juga menjadwalkan uji coba fungsional pada empat halte lain yang terbakar, yaitu Halte Senayan Bank DKI, Halte Polda Metro Jaya, Halte Senen Sentral, serta Halte Senen Toyota Rangga.
Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim