Ilustrasi: Balita duduk di car seat (Getty Images/iStockphoto/yaoinlove)
Minggu, 23 Maret 2025Pekan depan, Cahayani (26) akan mudik perdana dengan bayinya yang berusia hampir satu tahun. Berangkat dari Jakarta ke rumah orang tua Cahayani di Pekanbaru, Riau, kemudian melanjutkan perjalanan darat 9-11 jam ke Rimbo Bujang, Jambi, kampung halaman Hery, suaminya.
Berminggu-minggu sebelumnya, Cahayani sudah memberitahu anaknya mereka akan mudik naik pesawat. “Sudah sounding dari jauh hari. Nanti Rintik di jalan pintar, ya? Happy, ya? Rintik nggak nangis. Nanti Rintik ketemu pramugari, dan lain-lain. Jadi, kita kabari dulu, nih, kalau dia akan merasakan pengalaman baru, dan semoga bisa beradaptasi dengan pengalaman itu,” ujarnya kepada detikX.
Untuk memastikan kondisi anak prima saat mudik, Cahayani membatasi dirinya dan Rintik pergi keluar rumah selama bulan puasa. Ia berusaha menolak undangan buka bersama di luar. Kesehatan anak utama, sebab imunitas anak masih rendah sehingga rentan terkena penyakit. Apalagi, sebulan lalu Rintik baru keluar dari rumah sakit karena pneumonia. Cahayani dan Hery semakin tegas soal boundaries atau batasan anak.
Pasangan muda itu cukup deg-degan. Bukan hanya ini akan jadi pengalaman pertama si bayi melakukan perjalanan jauh, tidur bukan di rumah sendiri, dikelilingi orang-orang yang baru untuknya, yang sudah pasti akan memengaruhi rutin si bayi. Namun, lebih dari itu, si bayi adalah cucu pertama di kedua belah pihak keluarga, bintang kecil yang ditunggu-tunggu.
“Pasti kakek-neneknya pingin bawa si anak ke tetangga atau keliling begitu, kan? Nah, sejauh mana kita mengizinkan anaknya dibawa main, atau cara berinteraksinya gimana, itu, sih, yang perlu disepakati,” ucapnya.
Cahayani dan Hery mengomunikasikan kesepakatan mereka kepada orang tua masing-masing. Cahayani juga membagikan konten parenting ke orang tuanya, seperti, bahaya jika anak dipegang orang lain tanpa consent, larangan mencubit dan mencium pipi anak karena dapat menularkan flu, herpes oral, hingga pneumonia. Harapannya, kakek dan nenek berpihak dengan orang tua bayi dan bisa membantu menerapkan aturan yang menghargai batasan anak itu.
“Ketika ada yang mau berinteraksi, boleh lihat, boleh sapa, tapi jangan cium. Jangan memaksa untuk menggendong atau mengambil anak dari ibunya kalau anaknya nggak mau. Anak juga butuh waktu beradaptasi dengan orang baru,” jelas ibu dari Rintik itu.

Cahayani, Hery, dan Rintik.
Foto: Dokumentasi Pribadi Cahayani
Cahayani tidak takut dibilang parno atau kebanyakan aturan, terlebih ia melihat teman-temannya yang sudah duluan memiliki anak, melakukan hal serupa. “Punya contoh itu bikin aku lebih berani. Kalau muncul omongan nggak enak, sih, nggak ambil pusing. Anakku baru 11 bulan punya riwayat pneumonia, waktu itu aku yang mengantarnya ke IGD malam-malam dan sendirian, tentu saja aku pilih dibilang ibu-ibu parno ketimbang pleasing orang-orang,” tegasnya.
Ketegasan itu juga ia harapkan ada di pasangan agar memperkuat team work. Kooperatif dan satu suara menghadapi pihak yang mungkin tidak sejalan dengan apa yang ingin diterapkan ketika mudik dengan anak. “Benar-benar harus jadi us against the world. Aku tahu ada sebagian orang yang di rumah sudah bikin rencana macam-macam, tapi di lapangan melempem dengan alasan nggak enak, sungkan. Nah, aku akan sangat berterima kasih jika suamiku tidak seperti itu,” Cahayani mengungkapkan.
Cahayani mengakui, persiapan mudik kali ini menitikberatkan di kesehatan dan kenyamanan anak. Untuk dirinya, ia tidak berencana, misal, hangout dengan teman-teman tanpa membawa anak. Keinginannya buat dirinya adalah beristirahat dengan jenak di rumah. “Ingin merasakan jadi anak di rumah orang tua. Di sana akan ada bantuan dan support system untuk mengurus anakku, kan, jadi, itu aja, sih, yang aku pengin, pengin istirahat,” pungkasnya.
***
Berbeda dengan Cahayani, Winata Putri (28) lebih santai menjelang mudik kali ini, sebab ini tahun keempatnya mudik dengan anak. Anak sulungnya kini hampir empat tahun dan putri bungsu menuju dua tahun. Menurutnya, kalau sulung anteng, tidak cranky atau minta ini itu, adiknya pun anteng meneladani si kakak.
Faktor santainya juga karena tahun ini, mudiknya jarak dekat saja, naik mobil dari Yogyakarta ke Surakarta, Jawa Tengah. Selain itu, kedua anaknya sudah tidak memerlukan makanan pendamping ASI (MPASI).

Ilustrasi mudik bersama anak
Foto: Getty Images/iStockphoto/eggeeggjiew
“Waktu masih MPASI dulu, wah, repot banget. Kan makanannya itu harus lembut, jadi aku bawa alat masak seperti panci khusus dan alat penghancur makanan, lalu bahan makanan mentah buat di kota tujuan karena biasanya lebaran, kan, pasar belum buka, sementara aku tidak memberikan makanan instan atau beku untuk anakku,” Putri mengisahkan kepada detikX.
“Oh ya, ibu-ibu juga biasanya searching cara mencuci botol susu saat traveling. Aku bawa sterilizer portabel dan rak pengering. Jadi, walau cuma Jogja-Solo, mudik jalur darat dengan anak yang sedang belajar makan, tuh, menantang, sih,” kenangnya.
Menurut Putri, anaknya tidak mudah bosan dan lebih banyak tidur di perjalanan, sehingga masalahnya memang seputar kegiatan makan. Misalnya, anak telat makan lalu lanjut tidur. Padahal, saat MPASI, mestinya anak tertib makan sesuai jamnya.
Persiapan yang masih Putri lakukan saat ini, sama seperti Cahayani, yaitu sounding perihal mudik ke anak jauh sebelum melakukan perjalanan. Yang disampaikan adalah tujuannya ke mana, perjalanannya berapa lama, naik apa, serta, tak lupa, Putri meminta tolong anaknya untuk tidak rewel dan menyampaikan perihal penggunaan gadget.
“Biasanya di rumah tidak pegang gadget, tetapi biar anteng saat perjalanan panjang, kami lebih fleksibel dalam hal ini. Sehingga kami sampaikan ke dia sebelum mudik, ‘Nanti boleh screen time, ya, karena sedang perjalanan. Itu sebagai reward karena kamu bisa bekerja sama dengan baik.’ Nanti kalau sudah kembali ke rumah, ya, sudah, dia enggak nyariin (gadget),” akunya.
Waktu usia sulung lebih kecil, Putri menyiapkan mainan sebagai salah satu item yang dibawa mudik, khususnya bila menempuh perjalanan udara, yang mana orang tua cenderung khawatir anak menangis dan mengganggu kenyamanan penumpang lain.
“Mainannya harus baru, supaya anak masih excited dan terpaku dengan mainannya. Kiat lainnya adalah pilih jam terbang yang sesuai jam tidur anak, serta pastikan energi anak sudah dihabiskan sebelum terbang. Telinga anak juga mungkin lebih sensitif merasakan perpindahan tekanan dari darat ke udara, sehingga kami bawa ear muffs dan susu. Penerbangan biasanya menyediakan air panas untuk susu juga,” jelas Putri.

Ilustrasi bayi di dalam pesawat
Foto: iStock
Persiapan lainnya yang Putri lakukan, adalah mengirim surel ke perusahaan asuransi kesehatan di mana ia terdaftar sebagai peserta, menanyakan daftar rumah sakit yang menjadi mitra asuransi di kota tujuan. Sehingga, apabila terjadi suatu kondisi kesehatan yang tidak diinginkan, Putri tahu harus mendatangi rumah sakit mana.
Pembagian tugas dengan suami, kata Putri, juga penting didiskusikan sebelum mudik dan harus jelas. Suami istri juga harus kompak menerapkan aturan soal anak, karena ketidakkompakan bisa memicu konflik. Yang paling jadi perhatian Putri saat ini adalah aturan seputar nutrisi anak. Ia membatasi asupan gula anak-anaknya.
“Mereka aku awasi terus, nggak lepas dari pandanganku. Kalau ada saudara mau kasih makanan manis, ya, aku bilang, ‘Maaf itu manis, ndak boleh manis.’ Perkara mereka tersinggung ya sudah lah, tapi kan ini untuk kebaikan anakku. Atau kalau anaknya yang minta, kadang aku coba kasih alternatif kue kering yang gurih, tapi tetap diperhatikan jumlahnya,” terang Putri.
Putri memberikan beberapa tips yang ia pelajari dari empat tahun pengalaman mudiknya dengan anak. Yang pertama, mudik dengan anak tidak selalu berjalan persis sesuai rencana, jadi harus luwes dan legowo, atau berdamai dengan keadaan, misalnya, waktu tempuh molor dari perkiraan, atau perlu mengubah strategi pengasuhan anak selama mudik.
Yang kedua, pentingnya kerjasama pasangan saat mudik. Sebagai yang pernah mudik saat hamil empat bulan, sekaligus mengawasi sulungnya yang berusia dua tahun dan sedang aktif-aktifnya, menurutnya, pengalaman itu amat sangat melelahkan. Ia berpesan kepada para suami dari ibu-ibu yang mengalami situasi serupa, agar memberi bantuan ekstra kepada istrinya.
Yang ketiga, tips untuk ibu-ibu yang anaknya masih MPASI, apabila tidak mau terlalu repot membawa alat masak dan bahan makanan, alternatifnya adalah mencari katering MPASI di kota tujuan, atau jika menginap di hotel, bisa memilih makanan hotel yang dapat dikonsumsi batita, seperti bubur ayam dengan kuah soto atau telur.
“Ya, meskipun tidak sepenuhnya ideal karena makanan hotel dimasak untuk orang dewasa, tapi masih bisa ditoleransi. Demi menjaga kewarasan kita,” demikian pendapat Putri.
Penulis: Alya Nurbaiti
Editor: Melisa Mailoa