INTERMESO

Timbang-timbang Budget Sajian Lebaran

“Walaupun harga bahan-bahan di pasar lagi naik, buat urusan pempek kalau saya nggak boleh ada yang dikurang-kurangin.”

Ilustrasi: Kue kering untuk Lebaran (Getty Images/Rudi Kurnia Putra)

Sabtu, 22 Maret 2025

Lebaran tinggal menghitung hari. Mereka yang tengah menyongsong datangnya hari nan fitri ini sedang sibuk mempersiapkan penganan untuk menambah semarak acara. Sepulang dari pasar, wanita berdomisili di Bukit Kecil, Palembang, Nur Heni Lestari, membawa banyak belanjaan di tangan. Salah satunya daging ikan tenggiri giling sebanyak 3 kg yang sudah ia pesan jauh-jauh hari dari los ikan langganannya.

“Kalau mau dapat yang fresh dan kualitasnya bagus saya biasanya pesan dulu di pasar,” kata wanita yang akrab disapa Heni ini. Satu kilo ikan tenggiri giling Heni beli dengan harga Rp 100 ribu.

Selain sajian wajib lebaran seperti ketupat dan opor ayam, masyarakat Palembang tidak akan melewatkan Idul Fitri tanpa pempek. Makanan hasil perpaduan budaya Tionghoa dan Melayu ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi kuliner warga Provinsi Sumatera Selatan. Perpaduan unik antara daging ikan tenggiri yang lembut dan kenyalnya tepung sagu, lalu disiram kuah cuko yang asam, pedas, membuat pempek bikinan Heni sangat dicintai keluarganya.

Ilustrasi pempek
Foto: Getty Images/iStockphoto/AmalliaEka 

“Paling favorit di keluarga saya pastinya pempek kapal selam, kedua pempek adaan yang bulat itu. Saya bikin buat hidangan tamu sama dibagi ke tetangga juga,” ungkapnya. Ibu rumah tangga berusia 42 tahun ini mesti mengeluarkan budget lebih besar dari pada bulan-bulan sebelumnya demi membuat pempek. “Walaupun harga bahan-bahan di pasar lagi naik, buat urusan pempek kalau saya nggak boleh ada yang dikurang-kurangin. Perbandingan sagu sama ikannya harus pas biar pempeknya nggak keras.”

Berkat huru hara yang terjadi belakangan di sosial media, tahun ini kue lapis legit dan kue bika ambon masuk dalam jajaran makanan yang wajib disajikan saat Idul Fitri. Biasanya Dian Pratiwi hanya menyediakan kue kering khas lebaran seperti nastar, kue kering keju coklat dan lidah kucing saja. Tambahan dua ‘personil’ ini tentu saja membuat anggaran keuangan Dian meningkat dari tahun sebelumnya.

“Terutama kue lapis ya kalau mau yang premium itu mahal banget ternyata. Satu Loyang ukuran 20x20 yang pakai full wisman mau Rp 700 ribu ke atas,” katanya. Supaya tidak FOMO alias Fear of Missing Out tanpa harus merogoh kocek secara jor-joran, Dian memesan kue lapis menggunakan mentega biasa. Meski tidak seharum kue lapis dengan mentega wisman, rasanya tetap enak. “Yang biasa ukuran 20x20 saya beli nggak sampai Rp 400 ribu. Lumayan menghemat budget tapi tetap bisa nyobain makan kue lapis.”

Kue lapis legit memiliki harga yang relatif mahal karena disebabkan beberapa faktor. Pertama, kue ini memerlukan bahan-bahan berkualitas tinggi seperti mentega wisman yang harganya cukup mahal, serta penggunaan kuning telur dalam jumlah besar. Kedua, proses pembuatannya cukup rumit dan memakan waktu. Setiap lapisan harus dipanggang satu per satu sehingga menambah biaya produksi. Terakhir, keahlian khusus yang dibutuhkan untuk membuat kue lapis legit yang sempurna serta tenaga kerja yang terlibat juga mempengaruhi harga jualnya.

Ilustrasi kue lapis legit
Foto: iStock 

Saat perayaan Idul Fitri, berbagai makanan ringan, permen dan camilan juga disajikan di ruang tamu milik keluarga Siti Rahma Cempaka, seorang pegawai BUMN yang berdomisili di Jakarta Timur. Selain nastar dan kastengel, Kue Rintak atau yang dikenal juga dengan nama Kue Bangkit menjadi hidangan yang dinantikan keluarganya. Di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, kota asal Siti, kue kering ini digemari banyak orang. Setiap lebaran, orang tuanya selalu menyajikan Kue Rintak. Meski kini kedua orang tuanya telah tiada, Siti dapat bernostalgia akan momen indah lebaran bersama mereka melalui Kue Rintak.

Kue mungil ini memiliki perpaduan rasa manis dari gula merah serta gurih santan, menghadirkan sensasi lembut yang meleleh di lidah. Aroma khas sagu dan wijennya menyeruak, menggoda indra penciuman saat kue ini dilahap oleh mulut. Berbekal resep yang ia temukan di YouTube, Siti sempat mencoba membuat kue. “Ternyata kalau bikin sendiri itu lebih ribet dan lebih mahal jatuhnya. Tahun ini saya beli online, dikirim dari Pangkal Pinang langsung. Satu bungkus 500 gram harganya Rp 40 ribu. Kue kering yang lain juga saya beli aja biar nggak ribet,” tutur ibu satu anak ini.

Siti mengaku mengeluarkan budget kurang lebih Rp 700 ribu hanya untuk membeli sajian ringan. Di meja ruang tamu, kue rintak bersanding dengan nastar, kastengel, kue putri salju, cookies coklat, aneka permen dan kacang. Tak lupa toples plastik ukuran jumbo berisi opak dan rengginang. Meski bentuk mereka mungil, pesonannya teramat kuat sehingga mudah ludes disantap. Apalagi aneka kudapan ringan ini dinikmati bersama sambil menjalin silaturahmi.


Penulis: Melisa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE