Putar Suara
Putar Device Anda untuk gambar yang lebih baik

Wajah Abstrak Pekerja Metropolitan

Fotografer
Andhika Prasetya

Jakarta bagai dua sisi mata uang: baik dan buruk. Saat uang itu kehilangan sisi karena digitalisasi, bentuknya menjadi liar, penuh plot twist , abstrak dan sulit ditebak. Ini penggambarannya.

Kawasan Blok M dijejali pekerja pada sore hingga malam hari. Dari yang sekedar menatap matahari terbenam di Taman Literasi, menyeruput kopi, hingga 'curhat' di bangku-bangku minimarket.

Di tempat lain, tubuh lelah tak kuasa menolak lemas di tengah kemacetan jalan. Berjam-jam setiap hari selama bertahun-tahun, tak sedikit yang sampai pensiun. Belum lagi beban kerja, tagihan ini-itu, cicilan sana-sini, target pekerjaan, omongan keluarga soal pencapaian-pencapaian hingga kisah 'teman makan teman'.

Filsuf Prancis, Albert Camus menggambarkan masa-masa itu sebagai sesuatu yang absurd. Melakukan apapun yang musykil namun tetap dilakoni dan dikerjakan berulang-ulang. Mengejar sesuatu yang tidak pasti. Dunia tanpa pilihan.

Sikap kolosal yang serba absurd tersebut sulit dipahami, semakin abstrak, di awang-awang dan imajinatif. Fotografer Gustavo Minas merekamnya dalam bentuk bayangan, garis, kontras warna hingga pantulan refleksi yang menarik. Juru foto Olga Karlovac menterjemahkan dalam gambar yang blur, tidak fokus, goyang, maupun siluet tak berbentuk.

Jakarta merupakan perpaduan keduanya. Satu sisi sangat menarik, penuh warna dan gairah namun sisi lain monoton, banal dan memuakkan. Tak melulu hitam-putih melainkan banyak drama yang dipadati plot twist di sana-sini. Rumus bagai mata uang dengan dua sisi tak berlaku lagi.

Foto-foto abstrak ini mencoba memahami Jakarta dalam perspektif yang absurd. Menyelami lautan ide yang luas, melampaui hal-hal yang tampak nyata di depan mata, serta menghubungkan titik-titik yang mungkin tak terlihat oleh banyak orang. Terdengar membingungkan tetapi seringkali kita lakukan seperti kala merenung, mengambil jeda, menghela nafas, maupun berfikir sejenak sebelum membuat keputusan. Di pojok taman atau di antara kendaraan di tengah macet Jakarta.

Jakarta kota yang sibuk, di mana semua orang berlomba-lomba mencari uang di sini. Kota terbesar di Indonesia ini tidak lepas dari kehadiran kaum pekerja.

Kota yang (hampir) tidak pernah mati, yang mana di setiap waktunya selalu ada hiruk-pikuk di berbagai sudut.

Jalanan protokol pada pagi dan sore hingga malam, kemacetan dan ramainya pekerja adalah pemandangan yang lazim dilihat.

Fotografer
Andhika Prasetya
Kurator
Ari Saputra
Editor
Dikhy Sasra
Desainer
Dedi Arief Wibisono

detik detik
***Komentar***
SHARE