Menjaga Nusantara Lewat Wastra Sumba
Menjaga Nusantara Lewat Wastra Sumba
Kampung adat Padadita, Sumba Timur, NTT terlihat ramai. Anak-anak bermain, perempuan saling bercerita, sebagian lagi duduk di depan alat tenun. Tangan-tangan cekatan merajut wastra dengan penuh kesabaran yang menyisakan bunyi tak-tuk-tak-tuk menenun.
Satu persatu kain pakan ditarik secara horizontal ke dalam benang lungsi yang ditata vertical. Jumlah bertambah inchi demi inchi hingga menghasilkan kain panjang, sebelum diwarnai, dikeringkan dan siap digunakan. Bisa satu bulan hingga tahunan untuk menghasilkan selembar wastra.
Di Sumba, NTT, tenun sangat dihormati. Seluruh kegiatan adat menggunakan kain tenun sebagai bagian tak terpisahkan dan menjadi simbol status sosial. Upacara kematian tak luput dari tenun untuk prosesi jenazah dalam sistem kepercayaan Marapu, sistem keyakinan leluhur di NTT. Bisa dikata, dari lahir sampai mati, tenun Sumba selalu diingat.
Belakangan penggunaan tenun Sumba lebih luwes dan menjadi bagian dari fashion. Acara pernikahan, seni panggung, merchandise, hingga pemakaian sehari-hari. Tak lagi begitu sakral meski masih digunakan menjadi bagian upacara dan keyakinan adat.
Sebelum ada mata uang, kain tenun sebagai alat penukaran (barter). Dua lembar kain bernilai seekor kuda, sapi atau kerbau. Barter itu harus dua lembar kain karena berpakaian adat Sumba harus dua lembar: satu dipinggang, satu dipikul.
Seiring berjalannya waktu dan kemunculan mata uang, kain tenun tidak digunakan lagi sebagai alat barter namun komoditas perdagangan. Kain tenun Sumba dijual dengan berbagai macam harga dilihat dari motif dan besar kecil kain serta jenis bahan pewarna yang digunakan. Rata-rata untuk ukuran besar kain tenun Sumba dengan pewarna alami dijual mulai Rp 2 juta hingga Rp 15 juta per lembar kain.
Mengingat tradisi panjang wastra Sumba, sejatinya tak bisa dinilai dengan uang an sich. Ada etos kerja, kesabaran, kebanggaan lokal, sejarah budaya, pergulatan sosial, nilai eksotis dan kesinambungan masa depan yang terbaca dalam tiap helai benang yang menyusun tenun Sumba.
Dan melanggengkan wastra Sumba merupakan ikhtiar bersama menjaga Indonesia. Nusantara.



