Ilustrasi: Memeluk pohon (Getty Images/iStockphoto/Rytis Bernotas
Minggu, 13 Oktober 2024Acintya Sakti (33) sudah satu setengah tahun ini punya kebiasaan unik memeluk pohon. Perempuan yang berprofesi sebagai konselor kesehatan mental serta praktisi reiki dan shamballa ini tinggal di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Rumahnya tak jauh dari Bumi Perkemahan Pleseran Tawangmangu. Setiap pukul delapan pagi, sebelum beraktivitas, Acintya menyambangi hutan pinus di kawasan itu untuk ‘menyetel’ inderanya.
Awalnya, Acintya memang suka grounding di pagi hari, yaitu membawa dirinya kembali ke kondisi sadar penuh (mindful) terhadap tubuh dan lingkungan sekitarnya. Suatu hari, ia mencoba mempraktikkan hal tersebut di hutan setelah membaca tentang shinrin-yoku atau forest bathing, sebuah metode terapi dari Jepang dengan cara membenamkan diri di alam. Maksudnya, hadir di alam dan menyerap suasana alam menggunakan semua indera, seperti, berjalan menapak bumi tanpa alas kaki, mendengarkan suara kicau burung dan gemerisik daun yang tertiup angin, menghirup aroma tanah basah dan tumbuh-tumbuhan, serta melihat berkas-berkas cahaya di sela pepohonan.
“Hutan itu tempat sakral di mana kasih sayang alam tercurahkan. Saat saya grounding di sana, saya merasakan pertukaran energi dengan pohon, jadi sekalian saya peluk pohonnya. Ternyata, rasanya damai. Akhirnya saya rutinkan memeluk pohon 10-15 menit. Setelah rutin, saya merasa lebih sehat baik fisik maupun mental, serta mengalami peningkatan spiritual,” tuturnya kepada detikX, Jumat lalu.
Acintya meyakini, perasaan tenang dan bahagianya ketika memeluk pohon selaras dengan fakta bahwa tanaman evergreen seperti pinus dan cemara melepaskan senyawa antimikroba phytoncides. “Aroma yang keluar dari pohon pinus bisa meredakan stres,” ujarnya.
Phytoncides sejatinya melindungi tanaman dari patogen, tetapi jika dihirup manusia, dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Bahkan, dalam sebuah studi, peningkatan imunitas dari melakukan forest bathing selama tiga hari dua malam dapat bertahan hingga 30 hari.

Acintya Sakti memeluk pohon pinus saat melakukan forest bathing
Foto : Dok Acynta Sakti
Sebelum memeluk pohon, Acintya berdoa dan meminta izin terlebih dahulu kepada pohon. Biasanya, saat memeluk pohon, ia juga membisikkan beberapa pesan. “Yang saya sampaikan, misalnya, ‘Pohon, maaf, ya, untuk semua proses yang kamu lewati sampai detik ini. Terima kasih sudah ada di bumi ini. I love you.’ Intinya, saling bertukar energi positif,” katanya.
Pernah suatu ketika ia berinteraksi dengan pohon, lalu keesokan harinya merasakan panggilan kuat untuk kembali ke hutan. “Keinginan itu muncul dari pagi, akhirnya saya turuti sore harinya datang ke hutan tersebut. Ternyata, pohon yang kemarin saya peluk telah ditebang separuh. Jadi, dengan memeluk pohon, selain terhubung dengan diri yang sejati, saya sebagai manusia diingatkan bahwa hutan tak suka dieksploitasi,” ungkap Acintya.
Banyak penyakit sembuh karena mereka pergi ke hutan, memperbaiki relasi manusia dengan alam. Kami mengadopsi konsep serupa."
Ia berharap lebih banyak orang yang proaktif menghubungkan dirinya dengan alam. Persatuan Bangsa-Bangsa memproyeksikan 66 persen populasi dunia tinggal di kota pada 2050. Mereka yang tinggal di perkotaan otomatis kurang terhubung dengan alam. Banyak penduduk kota yang tinggal di hunian sempit dengan sirkulasi udara buruk, atau kamar kos tak berjendela dan kurang cahaya. Sementara, hari ini, orang-orang lebih banyak melakukan aktivitas dalam ruangan. Keterputusan dengan elemen-elemen alam ini mengakibatkan ketidakseimbangan dan timbulnya masalah kesehatan seperti depresi dan obesitas.
“Tidak harus pergi ke hutan. Kalau memang jauh dari hutan, bisa ke taman atau memeluk pohon apapun yang terdekat. Pastikan dulu pohonnya tidak ada semut atau ulat. Tidak pula harus memeluk atau mencium, bisa juga dengan menempelkan kedua telapak tangan atau duduk bersandar di pohon,” pungkasnya.
Wisata Forest Bathing
Di Malang, Jawa Timur, seorang petani yang pernah mengikuti program magang di Jepang, Purna Irawan, terinspirasi menerapkan shinrin-yoku dalam wellness ecotourism yang ia kelola di Desa Wisata Poncokusumo. Awalnya, tahun 2009, Purna merintis bercocok tanam Ashitaba dari Jepang dan mengolahnya jadi teh herbal yang berkhasiat mendetoksifikasi racun dalam tubuh. Dari bisnis teh itu, Purna mengembangkannya jadi wisata bertajuk Pondok Ashitameru, di mana kegiatannya mulai dari upacara minum teh, forest bathing, hingga camping.

Kegiatan forest bathing dengan sesi memeluk pohon yang dilakukan oleh Pondok Ashitameru
Foto: Dokumentasi Pondok Ashitameru
“Untuk paket wisata forest bathing baru mulai pada April tahun ini. Sampai sekarang, total peserta sekitar 200 orang. Jadi, forest bathing adalah trekking dengan treatment khusus. Peserta tidak diperkenankan membawa ponsel selama trekking, diminta mendengarkan dan merasakan alam dengan seksama, dan dipandu meditasi di beberapa titik selama menjelajah kawasan hutan dan sungai. Ada sesi peluk pohon juga,” jelas Purna kepada detikX pada Rabu, 9 Oktober 2024.
“Jepang dan Korea Selatan mengembangkan healing forests. Jadi produk utama hutan-hutan itu bukan lagi kayu, melainkan manfaat hutan untuk kesehatan, spiritualitas, dan kreativitas manusia. Banyak penyakit sembuh karena mereka pergi ke hutan, memperbaiki relasi manusia dengan alam. Kami mengadopsi konsep serupa,” imbuhnya.
Pada sesi peluk pohon, kata Purna, peserta diajak untuk mensyukuri diri dan alam semesta. Peserta juga bisa ‘curhat’ kepada pohon, melepaskan stres dan mengekspresikan emosi apapun yang dirasakan. “Ada yang bilang rasanya seperti memeluk kakak besar. Ada juga yang menangis setelah memeluk pohon. Dampak pohon yang dirasakan berbeda-beda bagi setiap orang, tetapi pada beberapa orang dampaknya bisa sebesar itu,” ujar Purna.
Manusia Butuh Kembali ke Alam
Beberapa negara telah serius menyerukan ajakan ‘kembali ke alam’ untuk mengatasi iritasi dari kehidupan urban, seperti stres bekerja, kecanduan digital, dan tekanan akademis. Finlandia, misalnya, mempromosikan terapi hutan. Negara yang menghadapi tingkat depresi, alkoholisme, dan bunuh diri tinggi itu menyediakan kegiatan bagi pengunjung hutan yang fokus pada pemulihan pikiran dan tubuh. Institut Sumber Daya Alam Irlandia bahkan merekomendasikan dosis pergi ke alam minimal lima jam per bulan untuk menghalau depresi dan menajamkan performa otak.

Trekking yang menjadi salah satu kegiatan wisata kembali ke alam
Foto: Dokumentasi Pondok Ashitameru
Korea Selatan pada 2009 membuka ‘hutan terapi’ pertamanya, Saneum National Recreational Forest. Per 2020, Korea Selatan sudah punya 32 hutan terapi. Sementara itu, Jepang mencetuskan shinrin-yoku pada 1982 sebagai obat penawar jenuh teknologi sekaligus ajakan melindungi hutan. Jika menonton film 'Perfect Days' (2023) besutan Wim Wenders, protagonisnya, Hirayama si petugas kebersihan toilet di Tokyo, digambarkan sangat menyukai pohon. Ia selalu rehat makan siang di hutan kota, makan sando di bawah pohon, menikmati komorebi (sinar matahari yang menembus pepohonan), dan menyapa pohon sambil senyum-senyum sendiri sebelum mengambil gambar mereka.
Dari penelitian yang dilakukan psikolog kognitif Universitas Utah di Amerika Serikat, David Strayer, terbukti berada di ruang terbuka hijau mampu mengistirahatkan sejenak atau membuat kalem prefrontal cortex alias pusat komando otak. Riset Yoshifumi Miyazaki dari Universitas Chiba di Jepang juga mengungkapkan, 15 menit berjalan kaki di hutan menurunkan kadar kortisol (hormon stres) sebesar 16 persen, juga penurunan tekanan darah dan denyut jantung.
Studi Neale et al. (2022) menyatakan berjalan di hutan jauh lebih ampuh efeknya pada kesehatan jantung ketimbang berjalan di taman kota. Namun, berjalan di taman kota pun sudah bisa memperbaiki mood dan memori. Peneliti Stanford, Greg Bratman, memindai otak sukarelawan yang berjalan di alam dan di jalanan sibuk Palo Alto. Hasilnya, aktivitas di subgenual prefrontal cortex (berkaitan dengan perenungan depresif) menurun pada mereka yang berjalan di alam, sehingga mereka lebih lembut pada diri sendiri. Kata Bratman, alam bikin manusia tak fokus pada emosi negatif.
Penulis: Alya Nurbaiti
Editor: Irwan Nugroho