INTERMESO

Kini Eranya Kencan Buta

Dating apps sudah mulai ketinggalan zaman. Para anak muda jomblo mulai memilih kencan buta untuk menemukan hubungan emosional yang lebih bermakna.

Foto: Layanan blind date yang digelar di sebuah kafe di bilangan Senopati, Jakarta Selatan, pada 2 Oktober 2024 (Pradita Pratama/detikcom

Sabtu, 12 Oktober 2024

Di malam panjang yang seolah tidak berujung, Dea Kamila sibuk menggeser telunjuk ke kiri dan kanan. Perempuan berusia 25 tahun ini sedang sibuk menyeleksi laki-laki di sebuah aplikasi kencan. Dari sekian banyak profil yang sudah match dengannya, Dea belum menemukan sosok yang ia impikan.

Berpetualang di aplikasi kencan online, tidak banyak obrolan yang bisa bertahan lama. Percakapan garing itu-itu lagi seputar hobi dan pekerjaan, Dea merasa seperti sedang di-interview kerja. Beberapa match pun terpaksa Dea ghosting karena mereka mengajak bertemu dengan embel-embel one night stand atau friends with benefit.

“Setiap aku ngobrol sama cowok di Dating Apps, feel-nya nggak ada, aku nggak dapet chemistry-nya,” kata Dea setelah menekan tombol ‘uninstall’ pada aplikasi berwarna kuning. Ini adalah aplikasi kencan online ketiganya.

Lee Jing Lin, seorang perempuan asal Singapura juga memiliki keresahan yang sama. Ia sempat mengira layanan kencan online akan menjadi solusi untuk menemukan cinta sejati di era digital. Setelah menggunakan beberapa aplikasi yang tersedia di pasaran, ia menyadari layanan kencan semacam itu bukan cara terbaik untuknya.

Alasan ini mendorongnya untuk membuat layanan kencan buta bernama Kopi Date di Singapura pada 2018 silam sebagai alternatif online dating konvensional. Melalui layanan kencan ini, Jing Lin mengatur agenda kencan buta yang dipersonalisasi dan terkurasi untuk pemuda pemudi yang sebelumnya tidak saling kenal. Lokasi kencan buta diadakan di beberapa spot kedai kopi unik di Singapura.

"Bagaimana jika Anda seorang pengirim pesan yang buruk, tapi orang yang luar biasa dalam kehidupan nyata? Saya percaya orang-orang perlu terikat tatap muka melalui koneksi asli dan memastikan mereka punya motivasi yang sama," ucap Jing Lin. Untuk mendirikan layanan kencan buta ini, Jing Lin juga bekerja sama dengan Zhiqun. Mereka berdua adalah sepasang kekasih.

Peserta acara blind date "Kafe Date" sedang berbincang untuk mengenal dan menggali kecocokan masing-masing.
Foto: Pradita Pratama/detikcom

Dengan konsep serupa, Jing Lin membawa Kopi Date ke Indonesia. detikX berkesempatan mengikuti agenda kencan buta yang diselenggarakan Kopi Date dengan tema ‘A Night of Slow Dating. Acara yang diadakan pada Rabu, 2 Oktober 2024, bertempat di KINA, sebuah kafe gaul 'anak Jaksel' di Senopati, Jakarta Selatan. Sekitar pukul 18.30 WIB, area belakang kafe sudah dipadati muda-mudi berpenampilan rapi.

Salah satu peserta, Roberto Frinsen, tiba saat acara mau dimulai. Sebelumnya, laki-laki berusia 24 tahun itu baru saja menyetir selama 1,5 jam dari rumahnya di Kawasan PIK 2. Oleh panitia acara, Roberto diminta melakukan registrasi. Ia lalu dipersilahkan duduk berdua dengan teman kencan yang baru saja ia temui malam itu.

Pencahayaan kafe yang remang-remang, ditambah lilin di meja, Roberto dibuat serasa sedang makan malam romantis bersama kekasih. Meski di awal Roberto sempat merasa canggung, selebihnya percakapan mereka berjalan lancar. Untungnya panitia acara menyediakan sejumlah topik dan pertanyaan yang bisa dipakai peserta untuk memecah kebuntuan.

Kita harus menjadi the best version of ourselves untuk bisa me-nurture that relationship."

“Ternyata aku diketemuin sama orang yang banyak kemiripan, kayak misalnya jurusan kuliahnya sama, terus kita sama-sama suka, hobinya sama, sama-sama kerjannya mirip. Aku ngerasa kayaknya itu bukan kebetulan, ya. Kayaknya dicocokin gitu sama penyelenggaranya. Nah, jadinya lebih ke filter, sih. Kalau dating online tuh benar-benar kayak buang waktu,” ucap Roberto kepada detikX. Untuk mengikuti event kencan buta ini, ia mengeluarkan Rp 200 ribu untuk membayar makan dan minum.

Karrisa, Marketing Executive Kopi Date Singapura, bercerita mengenai kesuksesan Kopi Date di Negeri Singa. Melalui platform ini mereka sudah mempertemukan banyak anak muda berstatus jomblo. Dari banyaknya kencan buta, ada kisah sukses pasangan kencan buta yang berujung ke pelaminan. Sedangkan di Jakarta, kali ini merupakan agenda pertama mereka untuk mengadakan kencan buta, sekaligus memperkenalkan Kopi Date.

“Jadi sebenarnya Kopi Date itu bukan cuma satu kali doang tetapi kita opperate on a subscription basis. Setiap bulan orang itu bisa ketemu orang baru gitu dan setting-nya di dalam kafe," tutur perempuan berusia 23 tahun ini.

Layanan kencan buta muncul karena aplikasi kencan online dianggap tidak lagi menyediakan solusi untuk menemukan pasangan hidup.  4

Foto: Pradita Utama/detikcom

Layanan kencan buta muncul karena aplikasi kencan online dianggap tidak lagi menyediakan solusi untuk menemukan pasangan hidup.

Foto: Pradita Utama/detikcom

Untuk ikut serta dalam kencan buta, peserta wajib melakukan pendaftaran dengan mengisi sejumlah informasi dasar seperti pekerjaan, pendidikan, latar belakang etnis dan sebagainya. Setelah itu pendaftar bisa mengunduh aplikasi Kopi Date yang dikhususkan untuk para member yang telah diterima. Di dalam sistem berbasis subskripsi itu, member dapat melengkapi profil dan mengikuti beragam sesi personal growth yang disediakan Kopi Date. Sesi itu juga bertujuan supaya tim bisa lebih memahami kebutuhan member dan dapat memberikan pengalaman yang lebih terpersonalisasi bagi mereka.

“Konsep kita itu lebih dari cuma ketemuin orang doang. Kita mendalami dating dan juga relationship. Di dalam relationship itu nanti ada tantangannya sendiri. Gimana cara nge-handle konflik, kita juga harus mengenal diri kita sendiri, style komunikasi kita kayak gimana. Kita harus menjadi the best version of ourselves untuk bisa me-nurture that relationship,” imbuh Karissa. “Kita mau make sure orang-orang di Kopi Date bisa building healty relationship.”

Berbeda dengan aplikasi kencan online di mana kita menentukan lawan jenis yang kita suka. Di Kopi Date, tim mereka yang akan menentukan lawan mainnya berdasarkan kesamaan dan serangkaian filter. Saat kencan buta pertama dijadwalkan, peserta hanya diberikan informasi inisial pertama nama pasangan kencannya. Tim Kopi Date sengaja merahasiakan identitas peserta kencan buta untuk memastikan mereka tidak memiliki prasangka apapun terhadap orang yang akan ditemui. Selanjutnya, para peserta kencan buta tinggal datang ke lokasi dan jam yang sudah disepakati.

“Kalau kita ngelihat situasi modern dating orang itu cuma kayak swipe-swipe aja. Mereka itu nggak mikirin dating secara mindful. Kita lebih jadi judgmental ke orang. Are you shopping or are you actually finding someone untuk jadi life partner with?,” tutur Karrisa. Setelah sesi kencan buta selesai, tim Kopi Date juga akan memberikan evaluasi atau post date reflection.

Jing Lin dan Zhiqun, pasangan kekasih yang menggagas blind date "Kopi Date" di Jakarta dan juga Singapura  
Foto:  Pradita Utama/detikcom

Sesi kencan buta Roberto berakhir setelah mengobrol intens selama 75 menit. Meski ia belum yakin akan ada cerita romansa yang akan berlanjut setelah sesi ini, Roberto menyambut baik acara kencan yang diadakan Kopi Date. Apalagi selama ini, Roberto merasa sulit menemukan kenalan baru secara organik dari lingkungan sekitarnya.

“Aku kerjanya nggak di kantor, jadi untuk nyari teman, tuh, susah. Ketemu orang barunya, tuh, sedikit,” kata laki-laki yang bekerja sebagai forex trader ini. Roberto juga sudah pernah mencoba berbagai aplikasi online dating, namun nampaknya ia belum beruntung. “Kalau online itu aku ngerasanya terlalu gampang. Maksudnya terlalu banyak pilihan. Dalam 10 menit aja bisa match sama 10 orang. Karena kebanyakan pilihan sedangkan yang berkualitas, tuh, nggak banyak menurutku.”

Dalam beberapa tahun terakhir, aplikasi kencan online nampak ditinggalkan. Hasil survei Lunch Actually di 2024 melihat hanya 12 persen jomblo yang rutin memakai aplikasi kencan setiap hari, sementara 42 persen tidak menggunakan aplikasi tersebut.Temuan tersebut juga mencatat 48 persen jomblo tidak bertemu dengan pasangan yang diinginkan di 2023, meskipun 72 persen pengguna secara aktif mencoba berkencan atau mencoba bertemu orang baru sepanjang tahun.

Laporan itu sekaligus menyebutkan para jomblo di Indonesia (72 persen) mulai memprioritaskan komunikasi dan hubungan emosional sebagai aspek yang sangat penting. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, ketertarikan yang mendasar terjadi pada pria adalah bentuk fisik wanita, sementara wanita mencari tahu jumlah pendapatan pria.


Reporter: Natasya Oktavia
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE