INTERMESO

Banjir Live Streamer di BKT

Dari pengamen jalanan sampai single parent, mereka mengambil peruntungan sebagai live streamer Tiktok. Meraup cuan sambil jalan-jalan keliling Indonesia.

Foto: Para TikToker ramai-ramai menggelar live streaming di BKT, Jakarta Timur (Andika Prasetia/detikcom).

Sabtu, 05 Oktober 2024

Rindangnya pepohonan yang berjejer di sepanjang Taman Banjir Kanal Timur (BKT), Duren Sawit, Jakarta Timur, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat di sekitar sana. Selain untuk berolahraga, belakangan orang-orang datang untuk mencari peluang usaha.

Ketika matahari mulai beranjak naik, mereka datang sambil menenteng sebuah tas jinjing besar berwarna hitam. Di dalamnya terdapat berbagai peralatan lengkap untuk bernyanyi. Biasanya mereka berdiri di spot-nya masing-masing yang tersebar di sepanjang trotoar Taman BKT. Setelah melakukan check sound, alunan nyanyian lagu mulai terdengar.

Mereka ini merupakan para live streamer. Alih-alih bernyanyi dan menunjukkan bakat di pinggir jalan dengan cara tradisional, mereka memanfaatkan platform TikTok untuk melakukan live, menggaet sebanyak-banyaknya penonton dan meraup keuntungan.

Tepat pukul 10.00 WIB, detikX bertemu dengan Dea Yuliani, salah satu live streamer yang kerap ‘mangkal’ di Taman BKT. Ketimbang rekan-rekan sejawatnya, perempuan berhijab ini datang paling belakangan. “Biasanya kalau yang laki-laki itu mereka dari pagi, sekitar pukul 07.00 atau 08.00 sudah di sini. Aku biasanya pukul 10.00 sudah paling telat banget,” ujar Dea kepada detikX sambil bersiap-siap sebelum melakukan live.

Perempuan berusia 31 tahun tadi tidak bisa datang lebih cepat seperti teman-temannya. Sebelum live, Dea harus mengantar dua orang anaknya yang masih kecil ke sekolah. “Karena aku single parent, ya. Anak aku yang pertama kelas 5 SD, yang kedua kelas 2 SD. Pagi aku anterin dulu karena memang mereka masuknya pukul 10.00 WIB. Jadi sekalian, aku nganterin mereka, habis itu langsung ke sini,” tutur Dea.

Seusai menyetel soundcar, mic, tripod dan handphone-nya, Dea mulai beraksi. Tak lama setelah menghidupkan siaran langsung, room live akun TikTok @baby_dy26 miliknya mulai diramaikan dengan beragam interaksi penonton. Setelah menyapa mereka, Dea meminta penontonnya untuk melakukan tap-tap pada tombol hati atau tombol suka di layar. Jika jumlah hati sudah mencapai 10 ribu, mereka boleh meminta Dea untuk menyanyikan lagu pilihan mereka. “Aku minta 10 ribu dulu baru aku opening dua lagu. Biar mereka ada tantangannya, jangan langsung request,” begitu strategi Dea.

Meski memiliki suara merdu, Dea belum pernah punya pengalaman menyanyi di hadapan banyak orang. Paling-paling perempuan yang tinggal di Kawasan Bintara, Bekasi, ini nyanyi di panggung hajatan RT. Saat pertama kali bernyanyi di platform TikTok, Dea hanya berani melakukan live dari dalam kamar rumahnya. Pada saat itu yang menonton masih bisa dihitung jari.

Dea Yuliani saat bernyanyi di depan handphone (Foto Natasya Oktavia/detikcom).

Dea memanfaatkan TikTok sebagai live streamer (Natasya Oktavia/detikcom).

Suatu ketika Dea mengiyakan ajakan temannya, Moskov untuk live dari Taman BKT. Berbekal peralatan pinjaman, Dea pertama kali live streaming sambil bernyanyi di sana. “Kalau di outdoor mentalnya harus kuat karena kita dilihatin banyak orang. Pertama kali banget aku di sana kaki gemeteran banget, lho,” kata Dea. Para live streamer memang kerap jadi tontonan bagi warga yang hendak mencari hiburan. Saking banyaknya live streamer yang berkumpul di sana, Taman BKT dijuluki Kampung Live Streaming.

Perasaa gugup yang melanda seakan sirna ketika Dea melihat jumlah penonton di room live miliknya. “Dulu aku views paling mentok cuma 40 kalau di rumah. Kalau di sini aku bisa sampai 1 ribu. Drastis banget kenaikannya, akupun sampai kaget, kok bisa, ya?” katanya. Live streaming di ruang terbuka nampaknya lebih disukai penonton Dea.

Dea pernah ikut-ikutan temannya untuk mengganti suasana dengan berpindah tempat live streaming. Dengan harapan agar jumlah penontonnya semakin banyak, Dea pernah pindah spot ke sebuah kawasan di Bogor. Bukannya bertambah, penonton live streaming Dea justru menurun karena ia mengalami gangguan sinyal. Latar belakang yang ditampilkan saat live juga tidak sejernih di Taman BKT.

Nasib Dea sama seperti orang yang nekat pindah tempat usaha, padahal dagangan sedang ramai-ramainya. Jika Dea percaya dengan Feng Shui, mungkin elemen-elemen pohon dan tanaman di Taman BKT yang ikut membawa hoki bagi para live streamer di sana, termasuk Dea. “Ya, udahlah aku di BKT aja nggak mau kemana-mana lagi. Lagian di sini enak, walaupun live sampai jam 12, ketutupan sama pohon jadi adem. Lokasinya juga nggak jauh dari rumah,” tutur Dea yang sudah 1 bulan live dari Taman BKT.

Ketimbang diguyur hujan atau ditegur Satpol PP, Dea lebih kesal saat ada penonton yang berkomentar miring di akun miliknya. Penonton iseng di live streaming kerap mengatai mereka ‘pengemis’ atau ‘pengangguran’. “Banyak banget haters nyuruh aku kerja. Katanya ‘Mending cari kerja saja nggak, sih, mba? Emang cari kerjaan susah banget, ya’,” ucap Dea menirukan para haters-nya.

Padahal selepas melakukan live berdurasi dua jam, Dea masih memiliki sejumlah kegiatan yang mesti ia lakoni. Setelah menjemput anak-anaknya, Dea bekerja sebagai admin ekspedisi hingga malam hari. Dari hasil live streaming, Dea mendapatkan cuan dari gift yang diberikan penontonnya. Dalam sebulan ia bisa menghasilkan Rp 2 juta.

Live streamer Yamo Arota Zega (Foto: TikTok) 

“Kalau room aku belum terlalu ramai yang nonton. Beda sama room-nya Bang Yamo, dia memang udah ada spender yang gede-gede banget. Makanya dia kalau sekali live aja bisa dapat Rp 1 juta, Rp 2 juta,” ungkap Dea.

Di bidang live streaming, laki-laki yang mengaku bernama Yamo Arota Zega termasuk yang pertama mempopulerkan tren live di Taman BKT. Setelah 2 tahun berkarir di bidang ini, Yamo pun sudah memiliki basis penonton setia. detikX menghubungi Yamo secara terpisah karena saat ini ia dan rombongannya sedang tidak bernyanyi di Taman BKT. Yamo sedang melakukan rangkaian live sambil berpindah-pindah kota. Yamo ibarat penyanyi yang sedang menggelar konser dan sudah memiliki jadwal manggung di berbagai kota di Indonesia.

“Kita pengin sesuatu yang beda. Setiap tempat kita harus jelajahi. Misalkan di Palembang nih, kan, terkenal dengan Jembatan Ampera, ya. Nah, kita pengin live di situ supaya orang-orang bisa tahu Jembatan Ampera, tuh, kayak gimana,” ungkap Yamo yang habis melakukan perjalanan ke Lampung sebelum tiba di Palembang.

Pernah ngeband dan jadi pengamen jalanan, siapa sangka laki-laki berusia 28 tahun ini bisa menunaikan hobi jalan-jalan melalui jalur live streaming di TikTok. Setelah Lampung dan Palembang, pemilik akun @yamozegaa2 ini masih ingin melakukan live di Bengkulu, Cirebon, dan Yogyakarta.

Durasi live bisa berlangsung hingga 5 jam non stop. Selama live, ada-ada saja kejadian yang dialami Yamo. Salah satunya ketika ia sedang bernyanyi tengah malam di Bundaran HI, Jakarta Pusat. “Di gangguin preman dulu di Bundaran HI malam-malam. Paling gangguinnya minta rokok aja, sih,” cerita Yamo. Kini profesi sebagai seorang live streamer sudah menjadi pekerjaan tetapnya. Yamo mengaku dalam sehari ia bisa mendapatkan penghasilan rata-rata sebesar Rp 500 ribu.


Reporter: Natasya Oktavia
Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE