Ilustrasi: Getty Images/schlosann
Minggu, 29 September 2024Saat Hasyim Muhammad mengabarkan rencana vasektominya di media sosial X, banyak orang penasaran dan mengutarakan minat yang sama. Meski belum populer, metode kontrasepsi ini mulai dilirik laki-laki yang ingin entaskan ketimpangan beban gender dalam kesehatan reproduksi.
Seorang pengusaha percetakan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Hasyim Muhammad (45) melakukan operasi vasektomi pada 4 Mei lalu. Vasektomi adalah operasi kecil pemutusan saluran sperma (vas deferens) yang aman, efektif, dan nyaris tanpa komplikasi. Prosedur ini sering disalahpahami dan disangka sama dengan kebiri padahal berbeda. Setelah vasektomi, laki-laki masih bisa orgasme dan ejakulasi, di mana cairan yang dikeluarkan hanya semen, tidak ada sperma.
Menurut Hasyim, sebelum memutuskan dioperasi tahun ini, ia dan istrinya, Febrianti Setyastuti (44), sudah lama membahas opsi vasektomi. Keduanya sudah 23 tahun menikah dan selama ini akseptor keluarga berencana (KB) adalah Febrianti, yaitu dengan metode tanam intrauterine device (IUD) dan sempat minum pil KB saat menyusui. Kini, setelah mencukupkan memiliki dua anak, Hasyim menawarkan diri vasektomi agar beban kontrasepsi terbagi, tak lagi di istri.
“Begitu memutuskan tidak nambah anak, saya ingin cara (mencegah kehamilan) yang tidak mengganggu istri. Perempuan kan sudah hamil, melahirkan, menyusui, masa masih harus merasakan tidak nyaman dari kontrasepsi? Pil, suntik, dan IUD rata-rata berefek kurang nyaman bagi perempuan dan menimbulkan masalah hormon. Bahkan istri saya sudah pakai IUD yang bagus, tetap harus diganti setiap 8 atau 10 tahun, sedangkan vasektomi tidak perlu perawatan khusus,” jelas Hasyim kepada detikX.
Di tengah rendahnya partisipasi laki-laki dalam kontrasepsi, yaitu 4,4 persen, jauh di bawah perempuan 61,9 persen menurut riset Sutinah (2017), inisiatif Hasyim tentu membuat Febrianti senang. “Saya pakai IUD Mirena. Keluhannya masih wajar, sih, seperti, saat haid darahnya lebih banyak. Namun, Pak Hasyim melihatnya jadi kasihan dan merasa seharusnya KB bukan hanya urusan perempuan,” ucap Febrianti.
Kata Febrianti, selama ini ia dan Hasyim tak pernah menerima sosialisasi soal vasektomi baik dari bidan, dokter kandungan, maupun tenaga kesehatan lainnya. Oleh karena itu, keduanya kaget ketika sampai di rumah sakit dan siap vasektomi dengan biaya mandiri, ternyata ada program vasektomi gratis dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Hasyim mendatangi RS Sakinah, salah satu rekanan BKKBN Kabupaten Mojokerto untuk pelaksanaan vasektomi dan tubektomi (pemotongan atau penutupan tuba falopi perempuan). Dibandingkan vasektomi, tubektomi lebih berisiko karena melibatkan penyayatan perut, sehingga ada risiko kerusakan usus, kandung kemih, atau pembuluh darah utama, serta risiko terhadap anestesi (bius), dan sakit perut atau panggul yang berlanjut jika penyembuhan lukanya tidak tepat.
Di RS Sakinah, biaya vasektomi mandiri Rp 4,5 juta, tetapi jika ikut program BKKBN, bebas biaya. Hasyim pun dihubungkan dengan petugas BKKBN. Dua hari kemudian, petugas BKKBN datang ke rumahnya untuk melayani konsultasi.

Hasyim Muhammad (tengah) usai melakukan operasi vasektomi.
Foto: Dokumentasi Pribadi
Petugas menyampaikan kepada Hasyim, syarat program itu usia minimal 35 tahun, tidak ingin memiliki anak lagi, telah memiliki sedikitnya dua anak, anak kedua berusia minimal lima tahun (kecuali jumlah anak lebih dari dua), dan mendapat persetujuan istri. Namun, ada pula kasusnya di tempat lain, laki-laki yang memiliki satu anak mengikuti program vasektomi BKKBN, sehingga mengenai persyaratan masih bisa didiskusikan dengan petugas dan dokter.
Pada obrolan tentang vasektomi di X, ada pula yang mengaku melakukannya dengan biaya sendiri walau tak memiliki anak satupun. Persyaratan vasektomi memang dimaksudkan supaya operasi tersebut betul-betul dilakukan tanpa keraguan, dengan kesadaran penuh dan informed consent. Sebabnya, meski penyambungan kembali (vasovasostomi) dapat dilakukan, prosedurnya tidak mudah dan biayanya mahal serta tidak ditanggung BKKBN.
Setelah menandatangani formulir informed consent, Hasyim pun dijadwalkan operasi pada pekan itu juga. “Yang saya tidak sangka, BKKBN Kabupaten Mojokerto selalu ada operasi vasektomi dan tubektomi setiap Sabtu. Saat itu, saya satu-satunya peserta vasektomi, sedangkan ibu-ibu peserta tubektomi ada 21 orang,” Hasyim mengisahkan.
Saya mengenal seorang dokter, dia mempercayai bahwa vasektomi mengurangi gairah seksual. Itu mitos dan tidak benar."
Operasinya berlangsung sekitar 40 menit, dipimpin oleh dokter urologi menggunakan bius lokal. Hasyim berbaring, persis seperti dalam proses khitan. Katanya sakitnya saat disuntik bius saja. Setelah bius bekerja, tentu ia tidak merasakan ketika dokter membuat dua lubang kecil di sisi kanan dan kiri skrotum, masing-masing 0,5 sentimeter.
“Selepas operasi dan efek bius habis, ada lah nyeri di skrotum yang terasa hingga sekitar dua minggu, tetapi bukan luka berdarah, kok. Aktivitas ngantor, menyetir mobil, dan mengendarai motor tidak terganggu. Namun, selama dua minggu, tidak boleh olah raga dan aktivitas berat. Setelah tiga minggu, saya bisa berhubungan seksual dengan istri,” ujar Hasyim.
“Bahkan sekarang sudah lima bulan berlalu, saya dapat katakan vasektomi tidak berpengaruh sama sekali terhadap hormon dan gairah seksual saya,” imbuhnya.
Masih Perlu Digencarkan
Cerita Hasyim yang jadi pasien vasektomi satu-satunya di tengah para perempuan yang melakukan tubektomi, menjadi bukti sosialisasi program ini masih sangat kurang. “Padahal programnya bagus,” kata Hasyim. “Ada insentifnya pula. Jadi tidak hanya gratis, pasien vasektomi BKKBN malah dapat uang pengganti tidak bekerja sebanyak Rp 150.000 dikalikan tiga hari. Saat pulang saya diberi obat dan nasi kotak, juga tiga boks kondom berisi 12 kondom per boks.”
Peserta vasektomi diberi kondom karena dikhawatirkan masih ada sel sperma yang tersisa di saluran sperma. Mereka sebaiknya menggunakan kondom saat berhubungan seksual setidaknya sebulan pasca operasi.
Hasyim menyayangkan bagaimana tenaga kesehatan masih kurang mempromosikan metode kontrasepsi laki-laki ini, padahal menurutnya, KB dengan cara ini paling bagus, solutif, dan minim risiko dan efek samping.

Hasyim Muhammad dan Febrianti Setyastuti.
Foto: Dokumentasi pribadi
“Bahkan di kalangan dokter, rasanya kok, mereka tidak terdorong untuk menganjurkan itu. Saya mengenal seorang dokter, dia mempercayai bahwa vasektomi mengurangi gairah seksual. Itu mitos dan tidak benar,” ungkapnya.
Ia juga melihat, vasektomi terkendala keraguan masyarakat dari sisi agama. Padahal, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa yang menghalalkan vasektomi sejak 2013, menimbang adanya kemajuan di bidang medis untuk memulihkan kembali saluran sperma melalui vasovasostomi, walau realitanya jarang yang melakukan operasi ini.
Selain itu, Hasyim berpendapat, vasektomi justru menjadi jalan ibadah karena diniatkan untuk membahagiakan istri sembari menjalankan fungsi kontrasepsi. “Saya punya pendapat pribadi yang kerap saya sampaikan kepada karyawan saya, yaitu jangan punya anak banyak-banyak. Sebagai umat beragama, kita perlu memikirkan keturunan dari sisi kualitas. Apalagi dengan kondisi biaya hidup, kesehatan, dan pendidikan yang semakin mahal. Jika memiliki anak tanpa perencanaan baik, bisa-bisa kita jadi orang tua zalim dan durhaka,” tutur Hasyim.
“Jadi, ketika sudah sadar pentingnya keluarga berencana, selanjutnya suami perlu sadar untuk tidak membebankan itu semua ke istri. Jika ingin mengikuti program vasektomi BKKBN, bisa langsung menghubungi BKKBN di wilayah masing-masing, biasanya ada di kantor kecamatan. Saya merekomendasikan vasektomi,” tegasnya.
Febrianti tak ada komplain. Sejak suaminya vasektomi, ia lepas dari kekhawatiran harus menggunakan metode KB apa lagi setelah periode KB terakhirnya selesai, pun tidak lagi merasakan efek samping kontrasepsi. “Saya juga merasa lebih dihargai sebagai perempuan. Hubungan kami tetap harmonis. Tidak ada kendala apapun setelah vasektomi,” ujar Febrianti.
Penulis: Alya Nurbaiti
Editor: Irwan Nugroho