INTERMESO

Gandeng Disabilitas, Galakkan Diet Gadget

Anak Bangsa Cerdas (ABC) Woodentoys menjadikan penyandang disabilitas sebagai subjek yang berdaya. Mereka memproduksi permainan edukatif untuk menunjang tumbuh kembang anak.

Jumat, 27 September 2024

Belajar sambil bermain dan gembira akan membuat anak merasakan merdeka belajar. Untuk mencapai itu, perlu media belajar alat permainan edukatif yang berlimpah daya tarik. Salah satu yang mengembangkannya adalah ABC Woodentoys. Mereka memproduksi mainan edukasi anak itu dengan separuh pekerjanya yang disabiltas tuli dan grahita.

“Jadi kami tetap berkomitmen mengajak teman-teman difabel ini bekerja sama atau berkarya dan menghasilkan suatu produk di ABC Woodentoys. Produk dari teman-teman difabel ini sudah SNI,” kata Rita Indriana dengan logat Jawa yang kental kepada detikX.

Memberikan ruang untuk berkembang bagi penyandang disabilitas ini dapat meningkatkan kesadaran kesetaraan dan inklusifitas. Bahkan Rita mendirikan sheltered workshop mandiri disabilitas. Ini menjadi ruang bagi rekan-rekan disabilitas untuk berkarya dengan merasa aman dan nyaman. 

Para pekerja disabilitas berdaya ini diberikan berbagai asuransi BPJS. Mulai dari Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, Jaminan Hari Tua, dan Jaminan Pensiun.

“Biar anaknya nyaman dan keluarganya merasa anaknya bisa mendapatkan hari tua yang mapan dengan berpenghasilan,” kata perempuan berusia 54 tahun ini. 

Geliat para pekerja ABC Woodentoys.
Foto : Dok. ABC Woodentoys

Melalui keterampilan para individu disabilitas ini, media pembelajaran untuk mengoptimalkan perkembangan anak ABC Woodentoys diproduksi. Bahan baku alat permainan edukatif ini dari kayu. Namun Rita tak mau sembarangan memakai kayu yang tak jelas asal-usulnya. Dia menerapkan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu atau SVLK.

Ingin menciptakan lapangan pekerjaan untuk teman-teman difabel yang lulus SLB."

“Jadi kami tahu dan ada buktinya nota dan story kayu yang kami pakai itu berkualitas dan premium itu legal atau resmi. Kalau barang legal, kami menjualnya akan lebih tenang dan berkah untuk pembeli. Legalitas itu penting dan kami perhatikan yang SNI, SVLK, dan TKDN untuk mengetahui komponen dalam negerinya berapa persen,” ujarnya.

Begitu juga aspek keamanan dan keselamatan anak-anak yang bermain dengan alat dari ABC Woodentoys. Rita memastikan cat yang melapisi alat bermain itu tak mengandung racun alias water based yang ramah lingkungan. Ini untuk menunjang penyelenggaraan pembelajaran yang aktif, kreatif, kolaboratif, menyenangkan, dan efektif.

Awalnya, Rita dan suaminya mendirikan ABC Woodentoys pada 14 Mei 2003. Saat itu Rita masih bekerja sebagai guru di PAUD secara sukarela atas panggilan sosial. 

“Ingin menciptakan lapangan pekerjaan untuk teman-teman difabel yang lulus SLB,” kata Rita menjelaskan apa tujuan awal ingin mendirikan ABC Woodentoys.

Namun pada 2006, kebutuhan rumah tangganya jauh lebih tinggi daripada pemasukan. Saat itu bertepatan dengan gempa 5,9 skala richter mengguncang Yogyakarta. Ribuan korban meninggal dunia dan ratusan rumah luluh lantak. 

“Kami mengalami kebingungan karena uang muka sekolah (anak) itu diminta. Tidak ada yang beli mainan karena TK-TK untuk perbaikan sekolah masing-masing. Dari situlah kami bingung. Karyawan maunya masuk, kami libur hanya sempat seminggu,” ujarnya.

Dampaknya, banyak mainan menumpuk digudang. Dia hanya bertahan dari apa yang tersisa. Namun, setelah dua bulan berlalu, mulai muncul permintaan produk ABC Woodentoys dari kalangan lembaga swadaya masyarakat, yayasan, hingga rumah sakit. 

“Jadi untuk trauma healing pasca-gempa di Jogja. Mainan kami dalam waktu beberapa bulan sudah habis. Lalu kami semakin semangat untuk mengembangkan produk ABC Wooden Toys yang lebih banyak lagi,” kenangnya.

Proses produksi alat permainan edukatif.
Foto : Dok. ABC Woodentoys

Kini Setiap dua bulan sekali, ABC Woodentoys membuat produk baru, baik dari masukan konsumen maupun dari tim penelitian dan pengembangan internal. Sejauh ini mereka telah memproduksi sekitar 300 varian APE dan sudah berlabel SNI. Jumlah itu belum termasuk permintaan dari konsumen.

Karena melihat bentuk dan gambarnya yang bisa dipegang dan digerakkan.”

“Yang request custom (konsumen) hanya boleh diproduksi untuk pembeli saja,” ungkapnya.

Misi dari Rita dan suaminya menggapai cita-cita mencerdaskan anak bangsa. Beragam jenis mainan ABC Woodentoys dibuat untuk memicu perkembangan keterampilan motorik halus, berpikir kreatif, mengembangkan imajinasi, hingga memupuk kemampuan berinteraksi dengan orang lain.

“Anak juga terstimulasi mengenal bentuk, warna, jenis binantang, jenis transportasi dengan lebih riil. Karena melihat bentuk dan gambarnya yang bisa dipegang dan digerakkan,” terangnya.

Bahkan para guru juga bisa menggunakan sebagai bahan ajar atau alat peraga untuk memperkuat melatih daya pikir dan daya ingat anak. Dengan begitu komunikasi yang terbentuk akan dua arah, ada interaksi yang kuat antara guru dan murid.

“Jadi bisa bercerita langsung dengan memegang mainan yang ada sesuai temanya. Misalnya, menanyakan gajah itu makanannya apa? Oh rumput! Kalau kambing? Dan sebagainya,” tuturnya.

Melesat Bersama Astra & Menggandeng Sesama

Kini ABC Woodentoys telah memiliki pelanggan yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Jejaring reseller yang dimiliki sudah lebih dari seratus. Sejauh ini sudah mengikuti sekitar 46 pameran dari yang di Yogyakarta, Jakarta, hingga Malaysia. Bahkan sekarang terdapat dua mahasiswa magang dari Universitas Negeri Yogyakarta dan lima mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. 

“Kami berharap mahasiswa nantinya punya bekas untuk menjadi karyawan atau berwirausaha mandiri,” kata Rita.

Pengembangan bisnis ABC Woodentoys ini, ujar Rita, tak lepas dari pembinaan dari Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), Corporate Social Responsibility (CSR) PT Astra International Tbk yang didirikan oleh founder Astra, William Soeryadjaya. Awalnya tergabung menjadi binaan sejak 2019, sebelum pandemi COVID-19.

Kan ada terima dan kasih. Jadi ketika saya menerima ilmu, saya belajar, saya kasihkan ke mahasiswa ke ibu guru, ke siapa saja yang membutuhkan."

“Dampak (menjadi binaan YDBA) sangat banyak sekali ada sosialisasi pajak, pelatihan menajemen dan keuangan, yang paling berkesan itu adalah pendampingan. Ketika kami didampingi dari sisi keuangan. Jadi kami pencatatan keuangannya terpisah antara usaha dan keluarga. Pencatatannya juga lebih rapi,” ujarnya.

Sedangkan terkait pemasaran, YDBA memberikan fasilitas pendampingan website. UMKM dibuatkan website dan didampingi untuk mengelola sampai bisa. Kemudian dilepas untuk mengelolanya secara mandiri.

“Marketing kami didampingi sampai penjualannya (di marketplace), itu waktu pandemi COVID-19 kami sampai bisa star seller. Ada pendampingan pameran juga. Terakhir kami diikutertakan pameran di GIAS di BSD, fasilitas dari Astra,” terangnya.

Belakangan rutinitas perempuan kelahiran Yogyakarta ini dipenuhi dengan undangan untuk berbagi pengetahuan. Beberapa hari yang lalu ia baru pulang dari Kaimana, Papua Barat. Dia diundang sebagai pemateri workshop mainan anak dari bahan bekas dan bahan di sekitar lingkungan. 

“Itu untuk dibuat mainan anak-anak TK dan PAUD se-Kabupaten Kaimana,” tuturnya.

Tamu-tamu yang datang ke ABC Woodentoys bukan hanya pembeli. Ada mahasiswa yang studi banding, kunjungan para dosen, rekan UMKM, hingga kementerian. Bahkan ada pula kunjungan suami Meneteri Keuangan Sri Mulyani, yaitu Tonny Sumartono yang mendedikasikan diri sebagai penasihat Yayasan Dharma Bhakti Astra (YBDA). 

“Tamu-tamu ada dari Kemenparekraf itu kami didampingi untuk desain souvenir. Dari Kemenperin untuk mengecek fasilitas strart up untuk industri. Kemudian tamu-tamu dari YDBA ada Pak Sigit, Pak Toni, suaminya Bu Sri Mulyani untuk berkunjung melihat showroom dan proses produksi kami,” ujarnya.

Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro dan Ketua Pengurus Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Rahmat Samulo saat mendatangi lapak ABC Woodentoys di Pameran GIIAS 2024.
Foto : Dok. ABC Woodentoys

Rita tak segan untuk membagi jaringan maupun ilmu yang ia dapatkan. Bahkan baginya, UMKM yang memiliki produk sejenis ABC Woodentoys pun dia anggap rekan yang harus dirangkul.

“Itu bukan pesaing ya. Karena kami menganggap UKM yang sama pun itu adalah mitra. Ketika kami sharing atau berbagai, itu ibarat air ketika meluap keluar, itu bawahnya akan menjadi bersih. Beda kalau airnya itu didiemin aja, nanti ata uget-uget-nya,” ungkapnya.

Rita merasa senang jika pengetahuan dan pengalamam yang dia analogikan sebagai air itu, terus mengalir dan berlimpah bagi sesama. 

“Kan ada terima dan kasih. Jadi ketika saya menerima ilmu, saya belajar, saya kasihkan ke mahasiswa ke ibu guru, ke siapa saja yang membutuhkan,” tegasnya.

Yang dia anggap musuh atau pesaing justru adalah kebiasaan buruk anak-anak kekinian akibat kecanduan gadget. Sebab harusnya masa kanak-kanak dibabiskan dengan bermain bersama sesama maupun bersosialiasi dengan orang-orang sekitar.

“Karena kita kan mahluk sosial ya, kita optimalkan HP itu secukupnya saja. Setelahnya kita alihkan anak ke mainan edukasi, layang-layang, petak umpet. Kalau bisa diet gadget dan TV. Jadi anak-anak tetap memiliki sopan santun terhadap orang tua dan sesama serta berkomuniasi dengan baik,” ujarnya.


Reporter/Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE