Ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/syahrir maulana
Minggu, 22 September 2024Sudah berjalan 16 bulan Canda (26) menyisihkan 20 persen gajinya untuk tabungan hari tua. Pasalnya, ia berharap tak perlu mencari uang lagi di usia 50, atau selambat-lambatnya, jika meleset dari rencana, 55.
“Dari awal punya gaji, aku sudah menabung, tapi dulu tanpa tujuan. Saat ini aku nggak ingin menikah, punya rumah, atau punya mobil. Aku mikir, nabung buat apa, ya? Kata kakakku buat nyiapin pensiun aja. Oh, benar juga,” ujar perempuan yang bekerja sebagai social media specialist di Jakarta Selatan ini kepada detikX.
Merencanakan pensiun dimulai dengan punya gambaran berapa besaran kebutuhan dan gaya hidup dari pensiun sampai meninggal dunia. Canda yang tak berencana punya anak, menginginkan dirawat di nursing home yang nyaman. Alasan ingin tinggal di panti wredha juga agar tak pusing-pusing memikirkan opsi kegiatan di hari tua, karena sudah ada aktivitas yang ditawarkan.
“Referensiku di Sentul, Bogor. Maka aku menghitung berapa biaya tinggal di sana, dikali jumlah tahun, yaitu 20 karena usia harapan hidup orang Indonesia 70-75, dikali tingkat inflasi. Nah, ketemu tuh berapa total uang yang kubutuhkan, sehingga aku tahu berapa yang harus kukumpulkan tiap bulannya selama 30 tahun ke depan,” jelasnya.
Guna mewujudkan cita-citanya, Canda ‘memotong’ sendiri gajinya sebelum membelanjakannya. Gajinya mendekati Rp 10 juta, sekitar Rp 1,8 juta untuk dana pensiun ia taruh di reksa dana pasar uang, obligasi, dan saham. Investasi alih-alih menabung konvensional dilakukan untuk menjaga uangnya tidak tergerus inflasi, supaya di masa depan daya belinya tetap sama dengan hari ini.
Sebetulnya ada juga yang namanya Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), program pensiun yang dikelola bank atau perusahaan asuransi. Namun, Canda saat ini tidak mengikuti program semacam itu karena punya trust issue setelah melihat kasus-kasus korupsi dan salah kelola dana investasi seperti skandal Jiwasraya dan Asabri.
“Alhasil aku riset dan pilih-pilih sendiri instrumen investasi. Saham, misalnya, pilih yang blue chip dan bukan dari perusahaan ekstraktif. Aku disiplin menyisihkan uang di awal. Begitu uang masuk ke reksa dana atau saham, aku akan mikir seribu kali untuk menariknya karena ada biaya dan nilai pencairan, tidak seperti tabungan,” ucapnya.
Canda terliterasi soal keuangan. Ia rajin mencatat pemasukan dan pengeluaran, atau cash flow (arus kas). Dari catatan arus kas, ia tahu berapa pengeluaran bulanannya, baru kemudian bisa melakukan budgeting atau bikin anggaran kebutuhan. Beruntung, gajinya cukup untuk menabung. Kebanyakan orang tak bisa menabung bukan karena tak ingin atau tak pandai mengatur uang, tapi memang pendapatannya ngepas bahkan minus.
Sebanyak 48,49 juta penduduk Indonesia berusia 17-40 tahun tergolong masyarakat calon kelas menengah, sisa gajinya minus Rp 181.724 per kapita per bulan. Sedangkan kategori kelas menengah ada 21,01 juta orang, rata-rata menyisakan minus Rp 65.529 dari gajinya tiap bulan.

Ilustrasi uang
Foto: Getty Images/iStockphoto/Molas Images
Canda mengakui bisa menyiapkan dana pensiun karena ia berprivilese. Ia mengetahui apa yang dia inginkan dan tidak inginkan dalam hidupnya, serta punya kakak yang suportif dan pernah mengambil kursus perencanaan keuangan, sehingga ia bisa belajar dari kakaknya. Selain itu, ia tak ada cicilan atau utang. Canda juga eks jurnalis ekonomi.
Selain dana pensiun, yang ia siapkan juga dana darurat. Meski sanggup menyiapkan beberapa dana ini, bukan berarti prosesnya mudah bagi Canda. Ada masanya ia berhenti bekerja penuh waktu dan beberapa bulan menjadi pekerja lepas, sehingga gajinya tak tentu dan nominal yang ia simpan berkurang.
“Kalau kaya gitu, semisal bulan itu aku menyisihkan kurang dari target, aku nombok di bulan berikutnya. Diusahakan begitu,” ucap Canda.
Tantangan lainnya, kadang ia ingin membeli sesuatu tapi terpaksa mengurungkan karena harus stick to the budget. Di lain waktu, ia impulsif membeli sesuatu di luar budget, akhirnya untuk mengkompensasinya, Canda mengurangi uang makan. Bentuk berkorban lainnya, ia tidak pernah berlibur yang spontan.
“Kalau mau liburan ya direncanakan. Misal mau bulan Oktober, berarti Agustus dan September aku nabung buat liburan, kadang aku bagi dua sama dana darurat, atau alokasi dana daruratnya lebih kecil. Sejujurnya susah banget berusaha menabung sembari hidup di ibu kota yang banyak hiburannya, banyak keinginan untuk konsumtifnya. Ada bulan-bulan yang terasa sangat berat, tapi gimana lagi, dijalani aja karena pasti berlalu,” katanya.
Mengirit Makin Sulit
Canda, seperti Gen Z lainnya, memang menghadapi tantangan zaman yang berbeda. Perencana keuangan Annisa Steviani menyebut di salah satu konten Instagramnya, zaman dulu tidak ada kebutuhan belanja skincare, orang tidak tahu pentingnya sunscreen. Delivery tidak semudah sekarang, tidak ada marketplace atau online shop yang bikin belanja bisa dilakukan dari rumah. Tidak ada GrabFood atau GoFood, kalau jajan harus jalan.
Dulu, media sosial juga belum masif, sehingga orang tidak saling terpapar gaya hidup orang lain dengan begitu terangnya. Jika dulu orang tidak konsumtif, bisa jadi bukan karena tidak mau, tapi karena tidak terpapar pembanding. Annisa menceritakan dahulu ia indekos di kos ala kadarnya yang tak berpendingin udara, menurutnya ia sanggup menjalani itu karena tidak ngeh keberadaan kos mewah.
“Kalau sekarang, pasti ada irinya sih jika tinggal di kos nggak nyaman lalu lihat kos orang lain nyaman. Jadi nggak fair kalau kita judge younger Milenial dan Gen Z boros. Tantangan hari ini bikin mengatur uang lebih susah, apalagi harga-harga memang semakin mahal dan kenaikan harga tidak diiringi kenaikan gaji yang sebanding. Tingkat inflasi harga pangan melampaui kenaikan UMR,” katanya.
Jika ditarik ke semua generasi, perencana keuangan independen dan pendiri Oneshildt Mohamad Andoko mengatakan banyak orang Indonesia berakhir terjebak pinjol atau investasi bodong karena akses terhadap produk keuangan semakin mudah, tapi tak dibarengi peningkatan pengetahuan. Meski literasi keuangan terus meningkat, survei OJK pada 2022 menyebut indeks literasi keuangan masyarakat 49,68 persen, sementara indeks inklusi keuangan lebih tinggi di 85,10 persen.
Khusus dana pensiun sebetulnya terbalik. Pada survei yang sama, literasi dana pensiun meningkat jadi 30,46 persen dari 14,13 persen di 2021, sedangkan ketersediaan akses dan kepemilikan dana pensiun berkurang dari 6,18 menjadi 5 persen. Namun, Andoko menilai kepemilikan dana pensiun menurun tetap berarti edukasi belum maksimal.

Ilustrasi penyiapan dana pensiun
Foto: Shutterstock
Andoko kerap mengisi program MPP atau masa persiapan pensiun, yang oleh para peserta diplesetkan menjadi ‘mati pelan-pelan’ lantaran diberikan satu atau dua tahun menjelang pensiun sehingga dirasa kurang efektif. Berinvestasi sangat tergantung pada jangka waktu yang dimiliki. Semakin dekat jarak antara persiapan pensiun dengan masa pensiunnya, opsi investasinya menyempit jadi investasi jangka pendek (kurang dari 1 tahun) seperti deposito, rekening tabungan berjangka, dan reksa dana pasar uang, yang aman dan mudah dicairkan tetapi potensi hasilnya lebih rendah.
Apabila menyiapkan pensiun dari jauh hari, seseorang bisa melakukan investasi jangka menengah (1-5 tahun) berupa obligasi (surat utang), reksa dana pendapatan tetap, dan reksa dana campuran, yang potensi hasilnya lebih tinggi dan masih relatif aman. Atau investasi jangka panjang (lebih dari 5 tahun) yang risikonya lebih tinggi, tetapi potensi keuntungannya juga lebih besar seiring waktu, seperti saham, reksa dana saham, dan investasi properti.
“Memang lebih baik terlambat menyiapkan daripada tidak sama sekali. Pun tidak semua perusahaan punya program MPP, biasanya yang melakukan itu BUMN dan perusahaan pertambangan. Itu saja, materi kewirausahaan mendominasi (60-70 persen), kemudian materi kesehatan dan spiritual, sedangkan materi keuangan sangat kurang, hanya dua sampai tiga jam. Perencanaan keuangan juga baru masuk kurikulum 15 tahun terakhir kalau menurut pengalaman saya,” ujar Andoko.
Andoko menyesalkan bagaimana di tengah masih kurangnya edukasi tentang dana pensiun, pemerintah justru tidak membenahi pekerjaan rumah itu dan lagi-lagi fokus menyerap kontribusi pekerja. Misalnya, pemerintah bulan ini melontarkan rencana mewajibkan iuran pensiun tambahan untuk karyawan swasta.
“Kontribusi kelas menengah ke negara itu banyak kan, melalui pajak kendaraan bermotor, pajak properti, iuran BPJS Kesehatan, dan BPJS Ketenagakerjaan. Kalau ditambah beban kontribusi yang lain, dengan kondisi ekonomi sedang buruk begini, pasti memberatkan masyarakat,” katanya.
Persiapan pensiun, kata Andoko, juga melampaui finansial. Masalah yang kerap ditemui pensiunan adalah masih harus membiayai anak-anaknya yang belum mandiri, misalnya masih sekolah, kuliah, atau hendak menikah. Namun, selain itu, banyak juga kasus di mana anak-anaknya yang dewasa, bahkan sudah berkeluarga, masih bergantung pada orang tua.
“Jadi ada masalah parenting juga, penting bagi orang tua untuk sedari awal mendidik dan menyiapkan anaknya agar mandiri, sebagai bagian dari persiapan pensiun si orang tua,” ujarnya.
Penulis: Alya Nurbaiti
Editor: Irwan Nugroho