Ilustrasi: Tupperware (Foto: Tupperware.com)
Sabtu, 21 September 2024Jantung Devina Putri seakan berhenti berdetak saat melihat isi tas sekolahnya. Wadah makan Tupperware yang biasa dibawakan ibunya menghilang tanpa jejak. Padahal, sebelum pulang sekolah, Devina yakin sekali sudah memasukkan kotak bekal berwarna oranye itu ke dalam tas..
Saat sang ibu mengetahui kabar tidak menyenangkan itu, tentu saja ia langsung naik pitam. Devina diperintahkan untuk kembali ke sekolah yang jaraknya cuma sepuluh menit berjalan kaki dari rumah. “Pokoknya Mama nggak mau tahu. Kamu cari Tupperware-nya sampai ketemu!” ucap Devina menirukan kata-kata berikut suara lengkingan ibunya.
Devina yang masih anak sekolahan sebetulnya tidak begitu paham kenapa ibunya sampai marah besar hanya karena kehilangan satu kotak bekal Tupperware. Sementara di rumah, Ibu Devina sudah mengkoleksi begitu banyak wadah serupa dengan warna berbeda.
Devina tidak tahu saja kalau, pada masanya, Tupperware merupakan lini peralatan rumah tangga yang sangat digemari ibu-ibu. Bukan hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Tupperware bukan hanya sekedar kotak makan atau botol minum biasa. Saking digemarinya, Tupperware seakan menjadi penentu status sosial seorang ibu. Harganya terbilang mahal dan mendapatkanya pun tidak mudah. Tupperware tidak dapat ditemukan di toko-toko karena dijual dengan sistem MLM alias Multi Level Marketing. Ibu Devina perlu menjadi member jika ingin membeli produk Tupperware keluaran terbaru. Kalau sudah jadi member, itupun belum tentu bisa langsung mendapatkan produk Tupperware incaran.
“Pas udah gede aku baru tahu, oh pantesan dulu mama galak banget kalau aku sampai hilangin Tupperware-nya. Makin nyesek lagi pas tahu kalau Tupperware yang aku hilangin itu dibeli sama Mama pakai sistem utang,” tutur Devina yang saat ini berusia 25 tahun. Setiap membawa wadah makan atau botol minum Tupperware, Devina selalu diwanti-wanti untuk tidak lupa membawanya pulang.
Kembali ke cerita tadi, Devina yang pada saat itu masih duduk di bangku SMP hanya bisa pasrah. Ia terpaksa menyusuri lorong sekolah yang sudah gelap dan sepi. “Pas itu aku balik lagi ke sekolah, posisinya udah pukul 18.00, lampunya udah dimatiin semua. Sebenarnya takut banget, ya, apalagi sekolah aku terkenal sama cerita-cerita horror. Tapi waktu itu kayaknya aku lebih takut diomelin mama dari pada ketemu setan,” canda Devina.

Earl Tupper, pendiri Tupperware
Foto: Tupperware.com
Seluruh laci di kelasnya sudah ia cari namun usahanya tidak membuahkan hasil. Sambil berurai air mata Devina kembali menghadap ibunya yang tengah mencuci piring di dapur. Melihat anak bungsunya pulang dengan mata sembab, ia jadi tidak tega. Ibu Devina masih lebih menyayangi anaknya ketimbang satu koleksi Tupperware yang hilang. Beruntung, tidak ada kisah seorang ibu menelantarkan anak cuma karena koleksi Tupperware-nya raib.
“Tapi itu bukan yang terakhir. Total aku udah ngilangin sekitar 5 koleksi Tupperware-nya, ha-ha-ha-ha,” tawa Devina. Beruntung, tidak ada kisah seorang ibu menelantarkan anak cuma karena koleksi Tupperware hilang. Tentu saja selanjutnya, rengekan Devina sudah tidak lagi mempan. “Aku dihukum, setiap hilangin satu Tupperware, selama dua minggu nggak dikasih uang jajan.”
Merk Tupperware memang memiliki tempat tersendiri di hati para ibu rumah tangga. Dilansir BBC, kisah Tupperware berawal dari seorang pria bernama Earl Tupper yang mendirikan perusahaan ini. Namun, duta mereknya adalah seorang perempuan bernama Brownie Wise.Produk buatan Tupper menjadi inovasi baru, yakni menggunakan plastik untuk membuat makanan tetap tahan lama. Apalagi pada zaman itu, kulkas masih terlalu mahal untuk kebanyakan orang.
Produk Tupperware mulai dikenal justru saat dipasarkan oleh Wise. Ia mengadakan Tupperware Home Party sebagai media promosinya. Wise mengorganisir acara-acara untuk menjual wadah-wadah plastik itu dengan bertemu langsung dengan para ibu-ibu rumah tangga yang menjadi sasaran penjualan. Semenjak saat itu penjualan Tupperware melejit. "Diperkirakan hampir setiap 1,3 detik diselenggarakan Tupperware Party di salah satu sudut dunia," klaim Tupperware di situs resmi mereka.
Penjualan wadah plastik ini bahkan turut menjadi sumber pendapatan bagi perempuan-perempuan di seluruh dunia. “Pesta Tupperware mengagungkan pekerjaan rumah tangga yang membosankan, dan Anda hanya bisa membeli (Tupperware) jika Anda mengenal seseorang yang menjualnya, jadi itu bersifat eksklusif, sosial, dan tentang relasi dengan perempuan lain,” kata Allison Clarke, seorang profesor sejarah dan teori desain di University of Applied Arts, Vienna, dan penulis buku bertajuk 'Tupperware: The Promise of Plastic in 1950s America', dikutip dari BBC.
"Saya awalnya berpikir itu adalah konspirasi kapitalis yang eksploitatif terhadap perempuan, kemudian saya bertemu dengan semua perempuan yang memiliki kehidupan fantastis karenanya dan melihat bagaimana hal itu memberdayakan mereka."
Di Indonesia, Tupperware mulai dipasarkan oleh salah satu distributor Jakarta pada tahun 1991. Dulu Yuliana juga pernah menjadi seorang seller Tupperware. Yuliana pada saat itu baru memiliki anak berusia dua tahun. Sebagai ibu rumah tangga yang juga mengasuh anak, ia ingin mencari penghasilan tambahan. Yuliana, kini 45 tahun, sempat berjualan Tupperware selama 5 tahun.
“Dulu di bisnis Tupperware ada jenjang karir dan ada targetnya sekian puluh juta misalkan. Semakin tinggi jabatannya, semakin tinggi juga targetnya. Kalau tercapai suka dikasih bonus, misalkan jalan-jalan ke luar kota. Saya pernah dapat jalan-jalan gratis ke Bali,” kata Yuliana mengenang masa jayanya ketika berjualan Tupperware.
Selama berjualan Tupperware, Yuliana kerap menjumpai pelanggan Tupperware yang begitu fanatik. Selain karena barangnya yang memang betulan awet, bentuknya yang unik dan warna yang beragam membuat Tupperware semakin ingin dikoleksi. Garansi seumur hidup jika Tupperware rusak akibat pemakaian normal membuat produk ini semakin digilai ibu-ibu.

Salah satu meme Tupperware yang sempat viral
Foto: 1cak.com
“Tupperware ini bisa bikin kecanduan. Kalau sudah beli satu rasanya kepengin beli lagi,” imbuh ibu rumah tangga yang berdomisili di Semarang, Jawa Tengah ini. Dulu, Yuliana sendiri ikut mengoleksi setiap varian baru yang diluncurkan Tupperware. Mulai dari botol minum, kotak makan, tempat biskuit dan kerupuk berbagai ukuran. Produk yang rutin digunakan paling hanya satu dua barang saja, sisanya ia pajang di lemari penyimpanan khusus.
Yuliana turut menyaksikan sendiri bagaimana Tupperware dapat membuat hubungan rumah tangga tegang. Apalagi kalau bukan karena para suami yang ceroboh dan menghilangkan koleksi Tupperware milik istrinya. Tak jarang Yuliana mendengar kisah suami yang trauma setelah diomeli habis-habisan oleh istrinya setelah menghilangkan Tupperware. “Ya, jelas aja marah. Wong harganya mahal. Dapetinnya susah. Suami saya juga pernah, kok, saya omelin. Sejak itu dia udah nggak berani bawa Tupperware,” tutur Yuliana.
Meski dulu Tupperware sempat menjadi kebanggaan para ibu-ibu, kondisinya tidak sama dengan sekarang. Perusahaan berbasis Amerika Serikat yang sudah berusia 77 tahun baru-baru ini telah mengajukan kebangkrutan pada Pengadilan Kepailitan AS untuk Distrik Delaware. Perusahaan itu mengatakan akan meminta persetujuan pengadilan untuk memulai proses penjualan bisnisnya dan untuk bisa tetap beroperasi selama proses hukum berlangsung.
Utang yang kian menumpuk serta penjualannya yang merosot membuat manufaktur wadah kedap udara itu terancam bangkrut jika tidak ada investor yang mendanai.
Meski perusahaan itu sudah berupaya untuk memasarkan produknya dengan gaya baru kepada generasi-generasi muda, penjualannya tetap tidak bisa didongkrak. Biaya bahan baku yang meningkat, ditambah upah karyawan dan biaya pengiriman yang lebih tinggi, menggerogoti margin keuntungan perusahaan. Dikutip dari Edition CNN, tahun ini Tupperware telah menutup satu-satunya pabriknya di AS, di South Carolina, yang mengakibatkan 148 korban PHK. Hal ini menurut pengajuan Undang-Undang Pemberitahuan Penyesuaian dan Pelatihan Ulang Pekerja.
“Selama beberapa tahun terakhir, posisi keuangan perusahaan sangat terdampak oleh lingkungan ekonomi makro yang menantang," kata CEO Tupperware, Laurie Ann Goldman.
Tupperware dinilai gagal beradaptasi dengan perubahan zaman dari segi produk maupun distribusinya. Selain itu, ada perubahan perilaku konsumen yang membuat wadah plastik tidak populer lagi. “Konsumen mulai mengurangi ketergantungan pada plastik dan mencari cara yang lebih ramah lingkungan untuk menyimpan makanan,” ujar Susannah Streeter, analis dari perusahaan jasa keuangan Hargreaves Lansdown.
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho