detikX

Yang beku, yang setia, dan siap sedia. Namun dibayang-bayangi pihak ketiga: mitos dan informasi palsu.

Makanan beku bagaikan sahabat setia yang selalu siap sedia. Di antara himpitan kepadatan waktu dan hiruk-pikuk kerja masyarakat urban, di balik kemasan dingin dan praktis itu tersembunyi sebuah solusi: kenyamanan dan kemudahan. Bahkan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menyebutkan pembekuan adalah metode pengawetan makanan tertua dan paling banyak digunakan.

Namun, metode produk beku dan olahan pangan hewani yang menjaga rasa, tekstur, dan nilai gizi itu dikaitkan dengan banyak hoaks. Di antaranya seperti:

Produk Beku Selalu Tidak Sehat

Mengandung Pengawet Berbahaya

Tidak Menyejahterakan Hewan

Mengandung Lemak Jenuh Tinggi

Penurunan Kualitas dan Gizi

Protein Hewani Vs Nabati

Mengandung rekayasa genetika yang beracun

Memahami kebenaran di balik informasi akan memandu kita memilih dengan lebih bijak produk beku dan olahan pangan berbasis protein hewani. Mari kita selami kebenaran di balik beberapa mitos umum tentang makanan ini. Temukan fakta yang tersembunyi di balik lapisan kesalahpahaman yang sering kali membingungkan.

Pembekuan adalah salah satu proses pengawetan makanan yang paling umum digunakan untuk penyimpanan makanan. Produk beku bisa menjadi pilihan yang sehat.

Proses pembekuan sering kali mempertahankan nilai gizi dan kesegaran makanan karena menghambat pertumbuhan bakteri dan menjaga nutrisi. Misalnya, sayuran dan buah-buahan yang dibekukan pada puncak kematangannya sering kali mengandung lebih banyak vitamin dan mineral daripada produk segar yang telah lama disimpan. Namun metode pembekuan dan penyimpanan menjadi hal utama yang harus diperhatikan.

Berdasarkan riset bertajuk "Selected nutrient analyses of fresh, fresh-stored, and frozen fruits and vegetables" di Journal of Food Composition and Analysis pada Juni 2017, anggapan konsumen bahwa produk segar memiliki nilai gizi lebih banyak daripada produk beku adalah tidak benar. Dalam beberapa situasi, produk pertanian beku lebih bergizi daripada produk pertanian segar yang disimpan selama lima hari.

Selain itu, tidak semua produk olahan berbasis protein hewani mengandung bahan pengawet atau aditif berbahaya. Banyak produsen yang fokus pada pembuatan produk dengan bahan-bahan alami dan tanpa aditif yang merugikan. Penting untuk membaca label produk untuk mengetahui bahan-bahan yang digunakan dan memilih produk yang mengutamakan kualitas.

Prinsip-prinsip kesejahteraan hewan seharusnya diterapkan produsen makanan beku dan olahan hewani. Kesejahteraan hewan harus menjadi salah satu pilar utama dalam operasional peternakan. Salah satu contohnya seperti yang dilakukan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. Mereka rutin audit internal terkait dengan kesejahteraan hewan antara lain meliputi pakan, tempat tinggal, kesehatan, dan perlakuan terhadap hewan.

Sedangkan terkait kandungan lemak dalam produk olahan berbasis protein hewani itu bervariasi. Ada produk yang memang tinggi lemak jenuh, tetapi ada juga produk yang menggunakan daging tanpa lemak atau diproses dengan cara yang mengurangi kandungan lemak. Pilih produk dengan label yang jelas mengenai kandungan lemak dan pilihlah opsi yang lebih rendah lemak jika itu merupakan perhatian utama.

Kualitas produk beku bisa bervariasi tergantung pengolahan dan penyimpanannya. Produk beku yang dikelola dengan baik, seperti menggunakan teknik pembekuan cepat dan disimpan dalam kondisi yang tepat, dapat menjaga kualitas dan nilai gizinya. Sebaliknya, produk beku yang telah mengalami pembekuan ulang atau disimpan dalam kondisi yang buruk mungkin mengalami penurunan kualitas.

Protein hewani dan nabati memiliki kelebihan masing-masing. Protein hewani umumnya mengandung semua asam amino esensial yang diperlukan tubuh, tetapi protein nabati juga bisa memenuhi kebutuhan protein jika dikonsumsi dalam kombinasi yang tepat, seperti menggabungkan kacang-kacangan dengan biji-bijian. Makanan yang beragam adalah kunci untuk mendapatkan semua nutrisi yang diperlukan.

Di sisi lain menyoal produk hewani rekayasa genetika itu beracun adalah tidak benar. Berdasarkan penelusuran Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, informasi produk pangan mengandung rekayasa genetika yang beracun adalah disinformasi alias hoaks. Sebelum dilepaskan ke pasar, produk rekayasa genetik harus melalui serangkaian pengujian. Mulai dari tes struktur, toksisitas, uji kepada hewan, dilepaskan ke kelompok terbatas, baru kemudian dipasarkan.

Konsumen yang Berkembang Menuju Kesejahteraan Bersama

Pembekuan dianggap sebagai metode pengawetan yang terjamin keamanannya, sebab ia tidak melibatkan penggunaan bahan pengawet tambahan. Perlunya memperluas informasi untuk meningkatkan pemahaman tentang manfaat produk beku ini. Tujuannya, menyingkap bagaimana pembekuan dapat mempertahankan nutrisi dan kualitas makanan.

Selain itu penting juga memberikan pelatihan kepada pengecer dan pengusaha mengenai cara menyimpan dan menyajikan produk beku dengan penuh kehati-hatian. Mari kita dorong produsen untuk menuliskan informasi gizi dengan jelas di label, sehingga setiap keputusan yang diambil oleh konsumen bisa lebih tepat dan bijak, seperti menavigasi jalan yang penuh pilihan dengan panduan yang jelas.

Badan Pengawas Obat dan Makanan bertanggung jawab agar produk olahan pangan yang beredar aman. Mereka memastikan standar keamanan pangan yang ketat. Mereka juga mengimplementasikan regulasi yang ketat terkait label makanan, penggunaan bahan aditif, dan metode produksi.

Bahkan saat menerbitkan Pedoman Cara Pengolahan dan Penanganan Pangan Olahan Beku yang Baik pada 2021, Penny Kusumastuti Lukito yang saat itu menjabat Kepala BPOM menyebut makanan beku adalah bagian dari perkembangan zaman. Namun, perlu penuntun agar pangan olahan beku terjamin keamanan dan mutunya.

Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi di bidang pangan, berbagai jenis produk pangan berkembang sangat cepat, tak terkecuali pangan olahan beku. Gaya hidup yang menuntut semuanya berjalan cepat juga turut mendorong berkembangnya produk tersebut
Penny Lukito
Kepala BPOM RI

Satu hal lain, saran BPOM, yang bisa dilakukan oleh konsumen dan penjual adalah menjaga kebersihan freezer . Pembersihan secara teratur akan membantu menjaga mutu produk beku dan olahan hewani.

Selain itu, kandungan gizi dalam makanan yang dibekukan tidak akan berkurang. Hal tersebut diungkapkan Ahli gizi klinis, Juwalita Surapsari seperti dikutip dari CNN Indonesia. Menurutnya, makanan segar seperti buah dan sayur justru akan lebih baik jika disimpan dengan cara dibekukan. Buah dan sayur mengandung vitamin dan mineral yang akan lebih bertahan jika dibekukan, dibandingkan saat disimpan di suhu ruang. Sebab pada suhu ruang, buah dan sayur akan mengalami oksidasi atau bereaksi dengan oksigen dan udara bebas sehingga merusak kandungan vitamin dan mineral yang ada di dalamnya.

Nilai gizi akan menurun ketika disimpan dalam suhu ruang,


Juwalita
Dokter RSPI
Penulis
Dieqy Hasbi Widhana
Frontend Developer
Dedi Arief Wibisono
Desain Grafis
Mindra Purnomo
***Komentar***
SHARE