INTERMESO

Tiga Hari untuk Umat Katolik Selamanya

Kunjungan Paus Fransiskus ke Jakarta pada 3-5 September 2024 jadi tiga hari yang penuh haru dan suka cita, khususnya bagi umat Katolik di Indonesia. Pemimpin Gereja Katolik sedunia itu menyerukan pesan perdamaian, kesederhanaan, cinta lingkungan, dan keadilan sosial.

Foto: Paus Fransiskus menaiki kendaraan Maung saat menyapa jemaat Misa Akbar di GBK, 5 September 2024 (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)

Minggu, 08 September 2024

Tak terbayang di benak Juan Kolemar Cahya (29) bahwa Paus Fransiskus, Pemimpin Tertinggi Takhta Suci Vatikan, melintas di depan sekolah tempatnya mengajar. SD Santa Ursula terletak di Jalan Pos, Pasar Baru, alias jaraknya cuma satu belokan dari Gereja Katedral Jakarta dan Masjid Istiqlal, di mana sejumlah kegiatan Paus digelar. Otomatis, mobil rombongan Paus melewatinya pulang pergi dari Nunsiatur Apostolik (Kedubes Vatikan).

“Bisa jadi ada yang melihat Paus sampai lima kali, misalnya guru yang ikut mendampingi 60 siswa kami di Istana Merdeka dan 24 siswa di Katedral. Saya sendiri melihat Paus tiga kali, satu di antaranya saat ia lewat di depan sekolah. Saya sangat gembira,” ujar Juan kepada detikX.

Juan bercerita, anak-anak ekstrakurikuler gambang kromong sudah berlatih satu bulan lamanya untuk menyambut Paus di Katedral. Selain main angklung, mereka juga menyanyikan lagu berbahasa Italia dan Indonesia. Dua minggu sebelum kunjungan Paus, ada latihan bersama di Santa Ursula dengan penampil dari sekolah Katolik lainnya.

“Yang membimbing guru musik, saya hanya sekali menemani latihan. Semuanya bersemangat. Bahkan pada hari-H, saya lihat tidak ada anak yang mengantuk,” jelas guru bahasa Inggris yang cinta bermusik ini.

Euforia menjalari hati Juan menjelang misa kudus di Gelora Bung Karno (GBK) pada Kamis, 5 September. Orang tuanya di Nabire, Papua Tengah, berpesan agar Juan membeli benda suci untuk dibawa ke misa. Hal ini supaya, ketika Paus memberi berkat (benediksi) saat penutupan ibadah (pengutusan), ada berkat yang bisa dimiliki dalam bentuk fisik.

“Akhirnya, kami sekeluarga beli salib di Toko Rohani Obor di Jalan Gunung Sahari. Saya beli tiga buah, satu untuk diri saya, satu untuk Holly (kakak Juan) di Tangerang, dan satu lagi buat Bapak dan Mama untuk dipasang di rumah, untuk mengingat Paus pada 2024 pernah datang ke Indonesia memberkati kita,” ucapnya.

Cerita keikutsertaannya di misa akbar yang menerima 87.000 umat itu cukup dramatis. Awalnya, sekolahnya mengundi tiket untuk dua guru SD saja. Juan sengaja tak ikut undian karena ia pernah bertemu Paus Fransiskus saat misa di Thailand pada 2019. Namun, tiba-tiba ada penambahan kuota siswa SMP dan SMA yang dapat hadir di Stadion Madya, sehingga bertambah pula jumlah guru untuk menemani siswa-siswi ini dalam perjalanan bus. Juan akhirnya berangkat, ikut misa di Stadion Utama.

Juan Kolemar Cahya (berdiri di belakang mengenakan luaran kemeja kotak-kotak) dengan koleganya, guru-guru Santa Ursula.
Foto: Dokumentasi Pribadi Juan Kolemar Cahya

“Waktu pertama melihat Paus di Thailand merinding pol, tapi ternyata kemarin rasanya masih sama. Apalagi di GBK berkumpul dengan saudara seiman, banyak orang Indonesia, saya dengan rekan-rekan guru, lalu menyanyikan lagu yang sama. Paus mengitari lapangan dengan popemobile, suasananya meriah,” tutur Juan.

“Paus, kan, didoakan oleh seluruh dunia tiap misa. Orang yang kami anggap suci ini tiba-tiba begitu dekat, ditambah usianya sudah 87 tahun masih mau ke Indonesia, itu membuat hati bergetar. Saat misa itu orang-orang di sekeliling saya menangis, saya juga,” imbuhnya.

Sebenarnya, yang lebih berkesan bagi Juan adalah semangat umat Katolik tiga hari itu. Sebelum misa dengan Paus dimulai, seorang Uskup dari Merauke menyeru, “Hentikan kekerasan di Papua,” di hadapan seluruh peserta misa. Selain itu, banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia yang tidak kebagian kursi di GBK, tetap datang ke Jakarta untuk sekadar melambaikan tangan kepada Paus di jalan.

“Paus datang itu satu hal, tapi masyarakat luar biasa. Orang rela menunggu dua setengah jam, di tengah panas dan polusi Jakarta yang gila-gilaan, demi bertemu Bapa Paus. Saat ikut menyambut Paus di Katedral, di depan saya ada ibu mengenakan baju Keuskupan Timika. Saya tanya berapa orang dalam kelompoknya, katanya ada 135 dan semuanya pakai biaya pribadi,” kata Juan mengisahkan.

Berkat menimba ilmu di Kolese Le Cocq D'armandville di Nabire dan Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta, dua sekolah milik pastor Jesuit, Juan cukup aware dan tertarik dengan kiprah Sri Paus yang berasal dari ordo Jesuit itu, termasuk bagaimana ia terikat dengan kaul kemelaratan. Maka dari itu, Juan tersentuh menyaksikan Paus berkeliling cukup dengan mobil Innova, duduk di kursi depan sambil membuka jendela dan melambaikan tangan.

Tidak hanya itu, Paus juga menginap di Kedutaan Vatikan alih-alih hotel, mengenakan jam tangan Casio seharga $8 atau Rp 124.000, dan memakai sepatu hitam biasa bukannya sepatu merah menyala yang digunakan paus-paus sebelumnya.

“Dia walk the talk¸ nilai-nilai yang disampaikan menubuh pada dirinya. Lihat bagaimana dia tetap melayani dalam kesederhanaan. Sebagai anak Papua yang sekarang mengajar di Jakarta, saya melihat yang lacking di daerah itu bukan hanya fasilitas tapi juga spirit pelayanan. Jadi, semoga yang Paus contohkan bisa menginspirasi kita,” pungkasnya.

***

Misa kudus di GBK berlangsung khidmat dari pukul 16.30 hingga 18.00 WIB. Selama misa, relawan bertopi Laudato Si (Laudato Si adalah ensiklik Paus Fransiskus yang menyerukan tobat ekologis) berkeliling mengumpulkan sampah. Setelah misa selesai, jemaat dari berbagai penjuru Nusantara itu meninggalkan stadion bak bubaran konser nan tertib, bergantian per keuskupan.

Walma Jelena (tengah) mengenakan kerudung renda tradisional 'mantilla', berfoto dengan Putra dan Putri Altar atau Misdinar.
Foto: Dokumentasi Pribadi Walma Jelena

Bisa dibilang, acaranya sukses dan umat berbahagia. Kebahagiaan mereka bahkan tercermin dari hal-hal kecil, seperti, serempak meneriakkan ‘Amin!’ saat sedang berjalan keluar dan pengeras suara GBK memutar rekaman yang diakhiri pesan ‘Hati-hati di jalan, Tuhan Yesus memberkati.’

Walma Jelena lega ia mempersiapkan hari itu dengan maksimal, termasuk berolahraga, tidur cukup, dan menjaga pola makan. “Dulu aku suka nonton konser, belakangan sudah jarang, makanya mempersiapkan fisik. Eh, benar saja, ternyata lumayan jalan kakinya masuk dan keluar GBK,” ujar kreator konten TikTok dan Instagram ini.

Meski berangkat dengan umat gerejanya, rombongan Paroki Jalan Malang (Gereja Santo Ignatius Loyola), Walma sebetulnya tamu undangan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Berkat kontennya yang mengenalkan tradisi Katolik kepada 196,8K pengikutnya di TikTok, Walma mengamankan tiket menyaksikan langsung Paus Fransiskus untuk pertama kali dalam hidupnya.

Dari sejak mengetahui kabar datangnya Paus saja, Walma rajin berdoa Novena Tiga Salam Maria agar Tuhan menghendakinya bertemu Paus. “Begitu Paus sampai bandara dan aku menonton videonya keluar dari pesawat, aku pengin nangis. Rasanya dekat, seolah bertemu lagi dengan sosok bapak yang sudah lama nggak ketemu. Nggak nyangka aku dan beliau menghirup udara yang sama. Bisa hadir di GBK adalah doa yang terkabul,” ungkap Walma kepada detikX.

Walma juga terharu bahwa umat Katolik Indonesia, yang adalah minoritas dan di beberapa tempat masih sulit beribadah, hari itu dapat merayakan imannya dengan lantang di venue sebesar GBK. “Selama ini kan masih ada persoalan seperti penolakan pembangunan rumah ibadah. Untuk berdoa di rumah saja, ada yang takut digeruduk, sekalipun tidak menggunakan pengeras suara,” terangnya.

Bagaimanapun, momen kunjungan Paus Fransiskus juga membuat Walma optimis dengan situasi toleransi beragama. Sebabnya, banyak dari pengikutnya di media sosial yang beragama selain Katolik menyampaikan perasaan suka cita.

“Followers-ku majemuk dan lintas iman, banyak juga yang berjilbab, my Muslim bestie, mereka mengucapkan ‘Selamat beribadah, Kak!’ Aku merasa didukung. Terima kasih untuk semua pihak dan masyarakat yang memungkinkan tiga hari ini berjalan lancar,” kata perempuan yang gemar mengenakan mantilla dan dapat julukan mantilla lady ini.

Paus Fransiskus berada di tengah-tengah lautan jemaat Misa Akbar di GBK
Foto: REUTERS/Guglielmo Mangiapane 

Tak lupa, Walma berterima kasih kepada Paus Fransiskus yang tidak sekadar memuji konstitusi, pluralisme, dan kerukunan Indonesia, tidak pula sekadar berpesan melawan intoleransi dan ekstremisme, tetapi juga dalam beberapa pidatonya, menyentil situasi kenegaraan yang krisis moral di kalangan elite pembuat kebijakan.

Dalam pidatonya di Istana Negara dan audiensi dengan rohaniwan, misalnya, Paus Fransiskus menyebut konflik kekerasan muncul akibat penguasa memaksakan visi dan kepentingannya sendiri. Kemudian, kurangnya komitmen untuk menerapkan prinsip-prinsip keadilan sosial membuat warga terpinggirkan, tanpa sarana untuk menjalani hidup yang bermartabat dan tanpa perlindungan dari ketimpangan sosial.

Walma mengaku senang mendengar pidato semacam itu. “Kami merasa dibela. Indonesia sedang tidak baik-baik saja, Bapa Paus datang di saat yang tepat. Moga-moga teduhnya dapat dirasakan oleh semua warga Indonesia, tidak hanya umat Katolik,” ucap Walma.

Satu lagi peristiwa historis yang dihadiri Paus Fransiskus selama di Indonesia adalah pertemuannya dengan perwakilan KWI, Muhammadiyah, dan NU untuk menandatangani Deklarasi Istiqlal, yang menekankan peran agama dalam melawan krisis iklim dan dehumanisasi yang memperalat agama untuk melanggengkan konflik berdarah.

Salah satu tokoh lintas agama, Romo Aloysius Budi, berharap kunjungan Paus Fransiskus mendorong dilakukannya pertobatan ekologis di tingkat pemerintahan. “Dalam deklarasi sangat jelas diserukan, dehumanisasi dan kerusakan lingkungan di depan mata. Semua agama diundang untuk bergerak merawat bumi rumah bersama. Pemerintah juga harus ambil bagian, jangan mengeksploitasi sumber daya alam. Tidak perlu konsesi tambang dibuka seluas-luasnya, itu bertentangan dengan ayat-ayat suci yang meminta kita menjaga lingkungan,” serunya.


Penulis: Alya Nurbaiti
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE