INTERMESO

Tak Bisa Hidup Tanpa Earphone

“Penggunaan headset maupun earphone dengan volume keras dan durasi panjang dapat beresiko menyebabkan gangguan atau bahkan kehilangan pendengaran.”

Ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Songsak Paname

Minggu, 25 Agustus 2024

Jika disuruh memilih satu barang terpenting yang wajib dibawa Cecilia Maria Tjandra ke mana pun ia pergi, perempuan ini pasti bakal memilih sebuah kotak mungil berwarna ungu berisi satu pasang TWS alias True Wireless Stereo. Sejak memutuskan beralih dari earphone berkabel menjadi TWS yang menggunakan jaringan nirkabel dan bluetooth tiga tahun lalu, perempuan berusia 22 tahun ini seolah tidak bisa lepas dari TWS miliknya.

“Aku suka banget pakai TWS. Bukan cuma buat dengar music saja, main game, scroll TikTok, nonton Netflix, dengerin podcast, semua sambil pakai TWS supaya suaranya nggak kedengeran sama orang rumah,” ucap perempuan yang akrab disapa Maria ini.

Penggemar IVE, girl band asal Korea Selatan ini merasa musik terasa lebih nikmat jika didengarkan melalui earphone atau TWS. Apalagi jika distel dengan volume kencang. Desain TWS yang minimalis dan stylish membuat Earphone TWS dipilih Maria untuk menemaninya menjalankan aktivitas di luar rumah seperti ketika ia sedang berolahraga.

“Kalau bisa suaranya dinaikin hampir maksimal sampai nggak kedengeran suara surrounding,” tutur perempuan yang sedang menempuh kuliah semester akhir di sebuah kampus swasta di Jakarta Barat. Lantunan lagu dari TWS maria kerap kali menjadi pengantar tidur. ”Sebenarnya aku nggak niat dengerin musik sambil tidur, seringnya aku jadi kebablasan karena ketiduran.”

Earphone bluetooth
Foto: iStock

Sampai akhirnya akhir tahun lalu, Maria tiba-tiba merasakan sakit di kedua telinganya. Selain itu Maria mendengar suara dengingan yang cukup menggangu kegiatan sehari-hari. Sebetulnya ini bukanlah kejadian pertama, namun mengingat rasa sakit yang sudah tidak tertahan lagi, Maria langsung menemui dokter spesialis THT untuk berobat.

Maria kaget saat dokter memberi tahu hasil pemeriksaannya. Gendang telinga Maria robek akibat kebiasaannya memakai earphone terlalu lama. Maria diresepi berbagai macam obat, termasuk obat tetes untuk telinga. Harapannya luka robekan dapat menutup dengan sendirinya.

“Untungnya setelah satu bulan telinga aku udah mulai bisa mendengar lagi, rasanya senang banget,” ujar Maria. Kejadian itu membuat Maria jera. “Sekarang aku menghindari pakai TWS untung yang penting-penting aja kayak rapat online. Kalau dengar musik aku batasin 1 jam dan itu suaranya nggak kencang.”

Pengalaman serupa ternyata juga dialami banyak anak muda yang menggandrungi earphone dan sejenisnya. Mereka sempat menumpahkan keresahan di lini masa Twitter. “Tahun 2020 gua kena sudden deafness di telinga sebelah kiri. Waktu itu kantor lagi hectic banget. WFH bikin jam kerja jadi sangat panjang. Pakai headset 12 jam/day dan berlangsung berbulan-bulan. Tiba-tiba suatu pagi kupingg kiri gua terasa seperti ketutupan sesuatu,” cuit @fariskodel melalui akunnya.

Laman resmi Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 5 persen dari populasi dunia atau kisaran 466 juta orang yang mengalami gangguan pendengaran. Jumlah tersebut mencakup 432 usia dewasa dan 34 juta lainnya yang masih anak-anak. Bahkan terdapat perkiraan bahwa jumlah tersebut bisa mengalami peningkatan di masa depan. Di tahun 2050, WHO memprediksi akan terdapat 900 juta orang yang beresiko mengalami gangguan pendengaran. Itu artinya 1 dari 10 orang berpotensi mengalami masalah pada pendengarannya. Salah satu penyebabnya berasal dari paparan kebisingan yang berasal dari earphone.

Ilustrasi memakai earphone
Foto: iStock

WHO menganjurkan waktu yang dibolehkan seseorang untuk mendengarkan earphone adalah satu jam setiap harinya dengan besaran volume 60 persen. Senada dengan WHO, dalam pedoman Kemenkes RI, untuk mencegah gangguan pendengaran akibat keseringan menggunakan earphone, maka disarankan hentikan penggunaan earphone setelah satu jam dan beristirahatlah selama satu jam. Volume maksimal sebesar 60 persen dari total volume perangkat. Jika terdapat keluhan seperti kesulitan mendengar pembicaraan orang lain, kesulitan mendengarkan saat menggunakan HP, Kemenkes menyarankan untuk segera mengunjungi fasilitas kesehatan.

Dalam sebuah video yang diunggah Business Insider, pakar audiologi dari Amerika Serikat, William Shapiro mengungkapkan bagaimana kebisingan yang diakibatkan earphone dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Menurut staf pengajar di New York University Langone tersebut, di dalam masing-masing telinga terdapat sebuah struktur yang disebut koklea, fungsinya menerima suara dalam bentuk vibrasi atau getaran. Koklea ini sendiri terdiri atas 15.000 sel rambut yang berperan penting dalam mendeteksi getaran suara. Namun sel-sel ini sangatlah halus dan rapuh.

"Makin dekat earphone ini dengan gendang telinga, makin tinggi tekanan suaranya. Inilah yang kemudian membuat sel-sel rambut pada koklea tadi 'stres' dan lama-lama bisa memicu kerusakan pada sel-sel itu," terangnya. Persoalannya, sel-sel rambut ini tidak beregenerasi, sehingga bila terjadi kerusakan maka ini sifatnya permanen.

"Padahal kebanyakan polusi suara itu berasal dari earphone.” Ia menyarankan bagi yang sering terpapar suara keras atau rutin memakai earphone agar memeriksakan kondisi telinganya sebelum kerusakan berat terjadi. Semakin cepat seseorang menerima diagnosis setelah mengalami tanda-tanda awal gangguan pendengaran, semakin cepat dokter bisa mengurangi dampaknya terhadap kualitas hidup pasien.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE