Foto: Ilustrasi kucing (iStock)
Minggu, 11 Agustus 2024Setiap sore, sepulang kerja, Willy (28) disambut oleh kucing sekaligus roommate-nya, Lulu. Kadang Willy mengajak Lulu bermain, kadang Lulu menghampiri sebentar dan berlalu.
“Pulang kerja aku peluk-peluk dia, angkat-angkat dia, ajak ngobrol. Kayak manusia, terkadang dia sibuk sendiri: tidur, menatap ke luar jendela, dan sebagainya,” ucapnya.
Willy dan kucing kembang telonnya tinggal di sebuah kamar kos di Jakarta Selatan. Menurut Willy, sangat sulit menemukan kamar sewa yang pet-friendly atau cat-friendly. “Tapi aku ngerti, sih, mungkin kebanyakan pemilik kos tidak percaya pet-owner bisa menjaga kebersihan, takut propertinya kotor atau rusak dengan adanya hewan peliharaan,” ujarnya.
Di kos sebelumnya di daerah Jakarta Pusat, Willy mengetahui penjaga kosnya dan beberapa anak kos berencana membuang Lulu dan temannya, Logan, yang saat itu adalah kucing liar yang kerap main ke area kos. Sebabnya, si kucing kadang buang air sembarangan dan menggaruk ban motor.
“Aku ketemu Lulu di situ. Awalnya aku sering kasih makan mereka, tapi sebatas feeding aja. Mbak (penjaga) kos menyindir, katanya, gara-gara aku, kucing-kucing jadi ke situ. Ibu kos juga menegur, sebaiknya street feeding di lokasi yang jauh dari kos. Suatu hari jadi malam terakhir aku lihat Logan, besoknya dia nggak pernah muncul lagi meski selama ini dia nggak pernah ke mana-mana,” kisahnya.
Sedih kehilangan Logan dan tak nyaman disindir, ia terpikir pindah dan membawa serta Lulu. Sudah berupaya mencari kos secara langsung maupun online, Willy justru menemukan kosnya sekarang berkat konten TikTok. Saat itu, setelah beberapa jam scrolling, ia melihat video seseorang yang baru saja menata kamar kosnya. Dalam video itu, tampak seekor kucing hitam.
“Wah, ini, batinku. Aku cek komentar, ketemu alamatnya, langsung kudatangi. Makasih, lho, orang-orang yang bikin user generated content, aku justru terbantu dari konten kos-kosan. Iklan kos online nggak terlalu membantu sih, kebanyakan overpromised, pas disurvei realitanya nggak sesuai,” ungkapnya.
Menurutnya, tuan rumah mestinya melihat kos ramah kucing sebagai peluang bisnis karena permintaannya banyak tetapi penawarannya sedikit. “Lihat kebutuhan market. Kita tahu kos pet-friendly nggak banyak, sementara banyak orang punya peliharaan. Ramah hewan bisa jadi unique selling point, pasti laku. Saat aku cari kos, yang pet-friendly seringkali penuh,” usul lelaki yang merupakan pegawai pemasaran di sebuah startup ini.

Lulu dalam bentuk gantungan kunci
Foto: Dok Pribadi Willy
Pertimbangan Willy dalam mencari kos tidak sekadar baik untuk kucingnya, tapi pertama-tama nyaman untuk manusianya. “Itu yang susah, harus mengakomodasi kebutuhanku dan teman yang kubawa. Idealnya, ada jendela yang menghadap outdoor. Lalu ruangannya luas biar kucing indoor bisa main-main, nggak sempit ruang geraknya. Dengan aku meng-indoor-kan Lulu, itu usahaku mencegah konflik dengan lingkungan sekitar. Masih banyak orang yang nggak suka kucing, kan,” katanya.
Bahkan, meski saat ini tinggal di kos yang pemiliknya menerima kucing, penjaganya tak suka kucing dan pernah menyindir Willy. “Makanya sekarang pun sedang cari-cari lagi. Memang sulit hidup di dunia yang antroposentris (pandangan bahwa manusia pusat alam semesta) ini, kebanyakan orang nggak memikirkan untuk hidup berdampingan dengan hewan dan tumbuhan,” pungkasnya.
***
Kesulitan mencari kos cat-friendly juga dialami Aprillia Dwi Harjanti, bankir berusia 28 tahun. Sebelumnya, ia sudah menemukan kos idaman untuknya dan kucingnya, Marie Curie, di bilangan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Sayang, pemilik tiba-tiba menjual kos itu sehingga ia harus pindah.
“Owner-nya suka kucing, anak-anak kosnya terbiasa sama kucing. Lingkungannya perumahan, jadi aku nggak khawatir kalau Marie wara-wiri. Dia kucing aktif, suka lari-larian dan selonjoran di taman. Depan dan belakang kos ada taman rindang, Marie bisa menikmati angin sepoi-sepoi di sana. Beneran kos pet friendly yang sesungguhnya. Aku nggak akan mau pindah kalau aja kosnya nggak terjual,” kata perempuan yang disapa April ini.
“Waktu pagi hari bapak kosku mengabari bangunan kosnya terjual, siangnya aku langsung nyari kosan baru di OLX dan Mamikos. Kos dengan flag ‘pet allowed’, tuh, di Mamikos banyak yang penuh. Makanya di samping itu, aku memastikan sendiri ke owner kamar-kamar yang masih available, boleh tidak bawa kucing? Beberapa yang bilang boleh langsung aku bikin janji untuk kunjungan,” jelasnya.
Namun, saat April mendatangi beberapa lokasi, tempatnya tidak ramah hewan: kamar sempit, tak ada jendela, sirkulasi udara dan cahaya kurang, dan lingkungan tak mendukung.
“Aku pernah nemu kos yang boleh bawa kucing dan anjing, tapi pas visit lokasinya depressing banget, kotor dan berdebu, sebelahnya tempat pemotongan ayam, dan anjing-anjing dibiarkan di koridor, bikin tempat yang remang-remang dan sempit itu jadi berisik dan nggak kondusif,” tuturnya.

Aprillia Dwi Harjanti bersama kucingnya, Marie Curie
Foto: Dok Pribadi Aprillia Dwi Harjanti
Filter “boleh membawa hewan” di aplikasi pencarian indekos seperti Mamikos rupanya tidak banyak membantu. Boleh membawa hewan tidak otomatis berarti ramah hewan. Memelihara kucing memang butuh komitmen besar, termasuk memastikan kesehatan, kenyamanan, dan kesejahteraannya. “Bagi aku, kos yang punya halaman buat kucingku bermain itu aspek penting karena kucingku semi-indoor,” ucap April.
Marie dan April bertemu di kos April yang pertama di Salemba, Jakarta Pusat. Saat itu, ia kucing kecil yang tampaknya dibuang di jalan gang. Beberapa hari April melihat Marie mencoba mengikuti setiap orang yang lewat karena menyangka akan diberi makan. Lama-lama kondisinya memburuk, mata dan hidungnya berlendir, badannya kutuan, kemungkinan cacingan, dan Marie masih sering membuntuti orang sambil terseok-seok karena penglihatannya terhalang lendir. April memutuskan merawatnya meski kamarnya tak cocok dan ibu kos tak suka kucing.
“Kebetulan jendela kamarku waktu itu menghadap gang. Selama aku kerja, dia bisa keluar-masuk kamar buat main di luar, sehingga naturally dia tumbuh sebagai kucing semi-indoor. Dia bisa bete dan stres kalau lama-lama ada di ruangan tertutup karena terbiasa punya playtime sendiri di luar. Apalagi dia ekspresif dan vokal, kalau ada sesuatu yang dia nggak suka, dia bakal protes keras,” ujar April.
Itulah sebabnya ia pindah ke kos di Mampang, demi Marie. Sekarang pun, di kos barunya di Tebet, April sempat stres karena Marie stres pada dua minggu pertama, tak berhenti mengeong lantaran tidak bisa keluar ruangan. Pemilik kos menyilakan April membawa kucing, tetapi kucing tidak bebas mengeksplorasi area kos.
“Saat nyari, aku udah menaikkan range harga sewa jadi lebih mahal supaya ketemu yang cocok, tapi tetap sulit. Pernah nemu yang cocok dan relatif lebih murah di Jagakarsa tapi jauh banget dari kantor dan kurang terjangkau transportasi umum,” akunya.
Akhirnya yang dilakukan April adalah kompromi. Ia menghibur Marie dengan membelikan beragam treats, mainan, dan cat tree. Sebelum ngantor, ia membuka tirai supaya Marie bisa tiduran di cat tree-nya sambil melihat ke luar jendela. Pun air purifier dinyalakan supaya hawanya sejuk. Setelah beberapa lama, April meminta pada ibu kos agar Marie dibolehkan main di teras kamarnya.
“Untungnya dibolehin. Sekarang tiap pagi habis subuh sampai jam aku ke kantor, dan setelah aku pulang kerja, si Marie bisa nongkrong di teras, lumayan walaupun space-nya gitu-gitu aja,” katanya.

Ilustrasi kucing
Foto : Ari Saputra/detikcom
Menurutnya, ia cukup beruntung karena meski mencari kos pet-friendly sulit, ia tidak pernah mengalami penolakan yang keras. Namun, ia punya teman yang curhat diancam dikeluarkan dari kosnya karena urusan kucing.
“Padahal, di kos itu memang ada beberapa yang bawa kucing. Temanku juga nggak pernah diwanti soal larangan bawa kucing. Eh, suatu hari, penjaga kosnya nge-chat dia marah-marah, katanya yang ketahuan membuang kotoran kucing di tempat sampah akan dikeluarkan. Padahal, kotorannya ditaruh dalam plastik tebal dan diikat kencang. Selain itu, dia juga pernah menemukan kucingnya dikunci di gudang, nggak tahu siapa pelakunya,” April menuturkan.
April pun menyarankan, sembari mencari kos baru, temannya bisa menggunakan soya clump atau tofu cat litter. Pasir kucing ini berbahan serat kedelai, sehingga mudah larut. Pasir dan kotoran kucing bisa di-flush di toilet tanpa khawatir menyumbat saluran air. Harganya memang lebih mahal dibandingkan opsi yang lebih umum seperti pasir gumpal bentonite, tetapi ini menjadi siasat demi menghindari konflik dengan penjaga atau penghuni kos.
“Sebagai anak kos yang punya kucing, aku harus sadar diri. Aku secara aktif berusaha biar keberadaan Marie nggak mengganggu orang. Jangan sampai ada jejak kaki kotor, bulu rontok, muntahan, atau bau-bau Marie yang bikin orang kesal. Untungnya sekarang baik-baik saja, kadang kalau penghuni kos ketemu Marie Curie yang lagi nongkrong di teras, Marie diajak ngobrol sama mereka,” ujarnya.
Penulis: Alya Nurbaiti
Editor: Irwan Nugroho