Foto: Kereta Cepat Whoosh (Foto: Shafira Cendra Arini)
Sabtu, 10 Agustus 2024Sebagai pejuang PJKA alias Pulang Jumat Kembali Ahad, Dwi Bagus Setiawan sangat mengandalkan Kereta Cepat Jakarta Bandung alias Whoosh untuk menjalankan rutinitas sepekan sekali. Bisa dibilang semenjak Whoosh diluncurkan pada November 2023 lalu, pria berusia 39 tahun ini telah menjadi pelanggan setia.
Setelah melakoni pekerjaan sebagai karyawan swasta di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, dari hari Senin hingga Jumat, sore harinya, Dwi bergegas pulang ke rumahnya untuk menjumpai istri dan anaknya di Bandung. Kegiatan ini sudah Dwi lakukan selama 2,5 tahun ini.
Sebelum menumpangi kereta cepat pertama di Asia Tenggara, Dwi menempuh jarak sejauh 150 Km Jakarta-Bandung menggunakan mobil. Namun, pada hari Jumat, orang-orang beramai-ramai pulang ke Bandung. Belum lagi rombongan wisatawan asal Jakarta yang hendak menghabiskan waktu akhir pekan di sana. Akhirnya waktu tempuh 2 jam 20 menit ke Kota Bandung bisa molor bahkan hingga 3 jam 30 menit. Sementara tiket kereta api Argo Parahyangan di akhir pekan selalu banyak peminatnya sehingga tidak mudah untuk didapatkan.
“Potensi macetnya itu yang bikin perjalanan saya jadi melelahkan sekali. Apalagi kalau masuk kantor di hari Seninnya harus pukul 09.00, sementara saya harus nyetir,” ucap pria yang bekerja sebagai Business Development Manager ini.

Ilustrasi keramaian penumpang Whoosh
Foto: Dok KCIC
Dengan adanya kereta cepat, Dwi mendapatkan pilihan alternatif selain kendaraan pribadi, kereta api, maupun bus travel. Kebetulan, selama di Jakarta, Dwi menyewa apartemen di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Awalnya ia tertarik menggunakan kereta cepat yang didirikan oleh perusahaan patungan bernama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) karena lokasi Stasiun Halim hanya memakan waktu sekitar 15-20 menit menggunakan ojek online dari apartemennya.
Kalau buat sesekali coba naik Whoosh, sih, okey, ya."
Halim-Padalarang ditempuh menggunakan Whoosh selama 30 menit. Ditambah kereta pengumpan menuju Stasiun Bandung selama 20 menit. Tapi, begitu sampai di Padalarang, Dwi harus pindah peron dari stasiun kereta cepat menuju Stasiun Padalarang untuk menaiki kereta feeder. Jalan kaki menuju kereta feeder setidaknya memakan waktu 10 menit. Sehingga waktu tempuh sampai di Kota Bandung sekitar 1 jam 15 menit. Perjalanan ke rumahnya di daerah Batununggal Permai ditempuh selama 20 menit menggunakan taksi online.
Dari segi ongkos, menyetir mobil sendiri dan menaiki Whoosh pulang pergi, menurut Dwi, tidak jauh berbeda. Namun, ia merasakan keuntungan lain saat menaiki kereta cepat. “Kalau dari pengalaman saya PP Jakarta-Bandung naik mobil biaya untuk bensin dan tol hampir Rp 600 ribu, naik Whoosh ditambah ongkos menuju stasiunnya juga hampir sama,” kata Dwi. Harga tiket termurah Whoosh untuk golongan ekonomi premium saat ini mencapai Rp 250 ribu. “Kalau naik Whoosh yang sudah jelas itu lebih cepat dan nggak usah capek-capek nyetir.”
Kereta cepat akan terasa efektif dan lebih efisien untuk penumpang yang berada tak jauh dari area Halim, Padalarang, maupun Tegalluar. Namun, bagi Melianda Joanne yang tinggal di Jakarta Barat, perjalanan dari rumah menuju Halim saja sudah membutuhkan waktu 2 jam menggunakan transportasi umum seperti KRL dan busway. Itu pun dengan catatan kondisi lancar, ditambah ia perlu transit beberapa kali sebelum ke Stasiun Halim.
Sebagai warga Jakarta yang tinggalnya jauh dari stasiun Whoosh, keberadaan kereta cepat itu terasa kurang praktis. Bagi Melinda, lebih mudah menaiki alternatif lain atau membawa mobil pribadi, Whoosh pun menjadi pilihan kesekian.
“Kalau buat sesekali coba naik Whoosh, sih, okey, ya. Buat aku naik mobil sendiri atau travel malah lebih enak soalnya pasti pergi dan pulang bisa pilih turun dekat tujuan,” ucap perempuan berusia 27 tahun ini. Apalagi jika Melianda membawa rombongan keluarga ke Bandung, perjalanan menggunakan Whoosh dari segi biaya tentu jauh lebih mahal. “Kalau empat orang aja PP sudah Rp 2 jutaan. Buat kaum mendang-mending kayak kita yang sesekali suka liburan di Bandung mendingan naik mobil saja, deh.”
Ketika menjajal Whoosh akhir tahun lalu, Melianda jadi teringat dengan Shinkansen, kereta cepat di Jepang yang ia tumpangi ketika sedang berlibur tahun 2022 silam. Saat itu ia melihat Stasiun Shinkansen berada di tengah kota dan terkoneksi dengan jenis transportasi lokal lainnya dengan baik. Sementara ketika tiba di Stasiun Padalarang untuk transit ke kereta feeder, Melianda merasa heran dengan pemilihan lokasi stasiun yang berada di sekitar area persawahan yang jauh dari keramaian. Konektivitas stasiun kereta cepat dengan transportasi penyambung pun sangat jauh jika dibandingkan dengan Shinkansen.

Stasiun Kereta Cepat Padalarang
Foto: Whisnu Pradana/detikJabar
“Mungkin karena masih tergolong baru jadi nggak bisa di-compare apple to apple juga. Semoga ke depannya bisa berkembang jadi lebih baik lagi biar semakin banyak yang naik Whoosh, jangan sampai cuma sekali coba terus kapok,” imbuh Melianda.
Sejauh ini jumlah penumpang Whoosh masih sangat fluktuatif. Peningkatan jumlah pengguna kerap terjadi saat tanggal merah dan libur panjang. Meski sempat diterpa isu sepi penumpang, Whoosh pernah mencatat jumlah penumpang harian tertinggi sejak dioperasikan secara komersial. Tercatat sebanyak 22.249 penumpang yang menggunakan Whoosh Pada Kamis 27 Juni lalu. Penambahan volume penumpang dipengaruhi momen libur sekolah.
:KCIC berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang sudah menggunakan Whoosh. Sejak dioperasikan secara komersial pada 17 Oktober 2023, Whoosh telah melayani sebanyak 4 juta penumpang. Angka ini menunjukan kepercayaan masyarakat yang baik menjadikan Whoosh sebagai moda pilihan. Hal tersebut akan terus kami jaga untuk meningkatkan pelayanan Whoosh baik di Stasiun dan perjalanan,” ujar General Manager Corporate Secretary PT KCIC, Eva Chairunisa dalam siaran pers di laman kcic.co.id
Namun, kereta Whoosh dilaporkan belum bisa mencapai target 29.000 penumpang per hari. Beragam strategi diterapkan untuk terus mendongkrak jumlah penumpang kereta cepat. Selain promosi harga tiket, Whoosh melakukan penerapan skema Dynamic Pricing mulai Februari 2024. Lalu pada awal Juni 2024, Whoosh juga meluncurkan layanan baru bagi penumpang bernama Frequent Whoosher Card. Frequent Whoosher Card ini dapat dimanfaatkan oleh penumpang yang ingin menggunakan kereta cepat secara rutin dan lebih hemat.
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban