Ilustrasi: iStock/Dmitry Belyaev
Fetsy Milachon (33) baru saja menyelesaikan maraton pertamanya Juli lalu pada ajang Pocari Sweat Run 2024. Para pelari biasa menyebutnya virgin FM, atau virgin full marathon. Jarak 42 kilometer berhasil ia taklukkan dalam 4 jam 38 menit. Ini bukan prestasi yang ujug-ujug, sebab ia sudah mengikuti belasan race sebelumnya, mulai dari 10K hingga 21K atau half marathon.
“Saya ‘atlet bahagia’. Pelari rekreasional,” demikian Fetsy memperkenalkan dirinya kepada detikX, Kamis, 1 Agustus 2024.
Pelari bukanlah profesi Fetsy. Ia anggota Korps Wanita Angkatan Darat. Dulu, dia tidak begitu menyukai lari, hanya terbiasa saja melakukannya sebagai bagian dari latihan fisik untuk tentara. Namun, sejak 2021, ia pelan-pelan menemukan kesenangan dan ketenangan dari berlari.
Pada waktu itu, ia mulai rutin lari untuk menurunkan berat badan pasca melahirkan anak keduanya. “Awalnya jalan cepat saja, lalu bertahap lari 2K, 3K, 5K, eh, lama-lama, kok, seru. Habis itu mulai ikut event lari, lalu mem-follow akun-akun seperti @runners.case dan @ceritapelari yang memberi informasi tentang lari termasuk ‘menu’ latihan,” tuturnya.
Fetsy mengaku merasakan banyak manfaat berlari. Saat lari, ia bisa fokus pada form-nya, gerakannya, dan napasnya. Efeknya meditatif. “Kalau ada beban pikiran dibawa lari. Soalnya jadi nggak kepikiran apapun selain fokus lari. Setelah lari pun rasanya enak di badan. Apalagi setelah melakukannya rutin, pola hidupku jadi lebih teratur, makan ikut teratur, tidur lebih mudah; paru-paru, jantung, dan otot di tubuhku lebih kuat,” ujar Fetsy.
Lantaran rajin mengikuti lomba lari (long run), Fetsy jadi punya target-target yang selalu ia perbarui. Untuk membantunya mencapai tujuan itu, ia pun menggunakan jasa pelatih lari pada 2023. Tujuan paling awal adalah lari dengan baik dan benar.
“Aku ingin memahami lari, tuh, kaya gimana, sih, serta menemukan feeling-ku di lari, menyelaraskan pikiran dan gerakan. Benar saja, setahun berlatih dengan coach, akhirnya aku menemukan jati diriku dalam berlari. Bisa merasakan, ‘Oh, aku segini mainnya. Kalau stabil begini, kalau performaku meningkat begini’. Aku makin mengenal diriku,” kisahnya.
Berlatih dengan coach juga memberinya banyak wawasan. Misalnya, ternyata lari bukan melulu soal kecepatan. Jika daya tahan atau endurance seseorang baik, kecepatan akan mengikuti atau meningkat dengan sendirinya. Sebaliknya, bila asal cepat tanpa memperhatikan aspek keamanan ataupun tidak memenuhi kebutuhan istirahat, akan mempengaruhi endurance dan bisa cedera.

Fetsy Milachon
Foto : Dokumentasi Pribadi
“Sebelum pakai jasa pelatih aku kerap nyeri. Dulu aku mulai lari pace-ku 9 (9 menit/km), lama-lama makin cepat. Pas udah pace 5, karena belum ada coach, aku nggak ngerti, tuh, mikirnya kalau udah pace 5 paling keren, lah. Posting pace 5 rasanya bangga betul. Rupanya, tanpa strategi itu bisa merugikan. Ternyata ada banyak variasi latihan lari, nggak cuma melatih speed aja,” jelas Fetsy.
Selain itu, berkat coaching yang membuatnya mengenali diri, ia jadi tidak FOMO (fear of missing out). “Dulu kan dikit-dikit FOMO. Masih ikut-ikutan. ‘Wah ada sepatu baru, nih, coba, ah.’ Dulu, beli sepatu bukan berdasarkan fungsinya tapi mengikuti tren. Sekarang sudah mengerti, jadi, ya, beli sesuai kebutuhan saja. Saat ini ada empat sepatu yang kupakai: satu untuk latihan tempo, satu untuk latihan interval, dan dua untuk easy run. Nah, sebelum jebol nggak akan kuganti, tuh,” ucapnya.
***
Jika Fetsy memilih pelatih, Dicky Aulia Fatonah Sidiq (28) menjadi pelatih. Ia juga pelari rekreasional yang mulai menggeluti olahraga ini sejak 2018. Tahun lalu ia mengambil sertifikasi World Athletics dan kini melatih secara private 15 pelari, di samping pekerjaan utamanya sebagai aparatur sipil negara.
“Aku ASN yang hobi lari. Puji syukur bisa berprestasi di kompetisi lari antar ASN se-Indonesia. Eh, ternyata dapat apresiasi juga dari pimpinan, senang rasanya. Dari situ mulai sharing tentang lari dan cara berlatih ke teman kantor. Karena aku aktif di Instagram, banyak juga yang mengirim DM bertanya seputar latihan. Akhirnya kuputuskan untuk menjadikan coaching sebagai side job,” katanya.
Selain jadi pelatih, Dicky aktif di komunitas CEO Runners yang berbasis di Kota Bekasi. Komunitas lari jadi wadah berbagi dan mencapai tujuan bersama. Seringkali dalam race, anggota komunitas yang sedang tidak ikut race akan menjadi ‘cheerleaders’ untuk menyemangati rekannya yang sedang berkompetisi. CEO Runners sendiri menarik perhatian Dicky di suatu race berkat cheering zone-nya.
“Waktu itu aku lihat sekelompok orang membentuk cheering zone, mereka pakai kaos CEO Runners. Mereka terlihat kompak, seru, ceria, pokoknya positive vibes. Dua minggu setelah event itu, aku cari tahu tentang komunitas ini dan akhirnya bergabung,” ujar Dicky.
Di komunitas itu pula ia pertama kali belajar bahwa lari juga membutuhkan latihan strength atau latihan beban untuk menguatkan otot dan mengurangi risiko cedera. “Itulah pentingnya komunitas. Sebelum aku belajar sport science secara resmi, aku lebih dulu mendapatkan pengetahuan itu dari komunitas. Jadi kalau seorang pelari tidak menggunakan pelatih, paling tidak dengan gabung ke komunitas, dia akan dapat arahan dari pelari yang lebih berpengalaman,” ujarnya kepada detikX Sabtu lalu.
***
Data dari aplikasi Garmin Connect menggambarkan tren lari meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pada Mei 2024, ada 80 ribu orang Indonesia pengguna Garmin yang aktif berlari, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan Mei 2023, yaitu 35 ribu pelari.
Salah satu founder komunitas Skolari, Riski Sinar Respati, mengatakan salah satu penyebabnya adalah jumlah race yang semakin banyak dengan berbagai skala. Maraknya race ini menarik minat pelari pemula untuk berlari lebih serius dan berlatih lebih intens.
Namun, di balik antusiasme ini, tingkat kecelakaan atau cedera dalam kompetisi tinggi. Berangkat dari kesadaran akan hal ini, pada 2019, Riski bersama Rinaldi Usman, Novi Eastiyanto, dan Andy Nurman mendirikan Skolari, komunitas yang berkomitmen mengedukasi masyarakat tentang teknik berlari.
“Latihan itu untuk semua orang. Atlet saja harus disiplin latihan, apalagi kita 'pelari hore',” ujar Riski kepada detikX.

Komunitas Skolari
Foto : Dok Komunitas Skolari
“Kami ingin membuat wadah untuk para pelari berlatih, tapi harus accessible. Makanya kelas kami gratis untuk umum, supaya menyebarkan virus berlari sebagai olahraga yang mudah dilakukan. Untuk mulai berlari, cukup memiliki sepatu dan niat yang kuat saja sudah awalan yang bagus. Berikutnya belajar teknik yang benar dan aman untuk menghindari cedera,” jelasnya kepada detikX.
Program utama Skolari adalah Thursday Training, kelas gratis setiap Kamis malam di Plaza Barat Gelora Bung Karno, dan Skolari on Sunday, lari bareng 10-12 km setiap Minggu pagi. Meski gratis, pelatihannya berkualitas dan melibatkan tujuh pelatih bersertifikasi. Beberapa latihan dasar yang dilatihkan yaitu strength training (melatih otot lengan, perut, dan kaki), running drills (meningkatkan kelincahan, kecepatan berlari, dan membentuk running form ideal), easy run, long run, fartlek, dan latihan interval.
“Thursday Training awalnya dihadiri 10-20 orang, sekarang pesertanya 100-150 orang. Sedangkan untuk Training Program, pelatihan berbayar yang memfasilitasi anggota yang ingin mencapai tujuan tertentu dalam berlari, pesertanya mencapai 100 orang,” ungkap Riski.
Skolari sendiri memiliki 800 skolarist (sebutan untuk anggota aktif Skolari) dan 16.800 followers di @skolari.id. Akun Instagram tersebut menjadi kanal informasi, khususnya mengumumkan detail waktu dan tempat berlatih.
Terkait peralatan lari, kata Riski, semakin tinggi tujuan berlari, semakin bagus jika didukung perlengkapan yang tepat dan memiliki teknologi yang dapat menunjang performa. Misalnya, smart watch untuk memantau heart rate dan menghindari kejadian fatal, sepatu yang disesuaikan tujuan berlari, atau kaos dan celana lari yang nyaman.
“Sepatu juga banyak variasinya, baik lokal maupun impor. Namun, harus disesuaikan dengan kantong masing-masing, ya, jangan memaksakan karena tren semata,” Riski berpesan.
Fetsy Milachon setuju dengan hal ini, tapi pun bila merogoh kocek lebih, menurutnya hal tersebut worth it. “Itu reward buat diri kita sendiri, kok. Kita udah pakai badan kita, masa enggak ngucapin terima kasih ke badan sendiri? Minimal kan kita memperhatikan badan kita dari segi nutrisi yang masuk, belajar form lari, termasuk juga membeli peralatan yang membantu badan kita berlari,” pungkas Fetsy.
Penulis: Alya Nurbaiti
Editor: Irwan Nugroho