INTERMESO

Kisah Kesetaraan di Bangku Gereja

Pulang kepada diri sendiri. Setelah lebih dari 45 tahun merasa asing dengan tubuh sendiri, seorang transpuan tak hanya menerima dirinya seutuhnya, tetapi juga memeluk keimanannya yang paling khidmat.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Jumat, 26 Juli 2024

Ramin, 47 tahun, tampak berseri hari itu. Rautnya begitu cerah seperti jepit bunga matahari yang ia kenakan. Jepit itu serasi dengan gaun kuning bercorak bunga warna merah muda. Pagi itu ia menebar senyum dan menyapa jemaat, mulai remaja, anak, hingga orang paruh baya, yang datang ke sebuah gereja di Jakarta Selatan pada Minggu, 7 Juli 2024. Semuanya pun menyambutnya dengan senyuman.

“Sebenarnya sejak kemarin aku lagi sedih, tapi ya ini caraku (ke gereja) biar aku nggak sedih lagi,” celetuknya dengan senyuman yang sedikit getir. Beberapa detik, kemudian raut itu kembali ceria ketika ia bertemu dengan pendeta dan memeluknya dengan hangat.

Entah sudah berapa ratus kali Ramin mengunjungi gereja setiap minggunya, tapi baru beberapa tahun inilah dia bisa tampil seperti yang ia kehendaki untuk pergi ke gereja, menunjukkan femininitas.

Gereja yang Ramin kunjungi memang menjadi salah satu yang menerima jemaat ragam gender di Jakarta. Ini terlihat, di ibadah Minggu hari itu, terdapat transpuan lainnya yang turut beribadah. Tak hanya itu, mereka tampak akrab dengan jemaat lainnya, juga pendeta.

Sepanjang doa dan pujian, Ramin lebih banyak memejamkan mata, sesekali air matanya berlinang. Namun, begitu ibadah Minggu itu selesai, Ramin tampak lebih tenang. Ia mengaku perasaannya lebih damai.

Pada 2022, Ramin mengubah penampilannya secara sosial dan melakukan terapi hormon dipandu oleh psikiater serta dokter. Pada tahun itulah banyak perubahan dalam hidup Ramin. Ia harus berpisah dengan istrinya, semakin jauh dengan keluarganya. Namun, pada masa-masa penuh pergulatan itu, justru Ramin merasa semakin dekat dengan Tuhan. Hal yang di sepanjang hidupnya sebelumnya belum benar-benar ia rasakan meski ia selalu berusaha taat beribadah.

Masih lekat di ingatannya ketika ia masih kanak-kanak, Ramin kecil pergi masuk kamarnya dan menguncinya. Ia mencoba pakaian ibunya. Yang ia ingat saat itu, ia begitu menginginkan pakaian itu dan mengikuti nalurinya.

Kejadian itu tepergok oleh asisten rumah tangganya melalui jendela kamar yang terbuka. Tak lama kabar itu sampai ke ibunya. Ibu Ramin tak menunjukkan rasa marah atau kesal, tapi dengan pelan ia memberi tahu anaknya, “Ingat, kamu itu cowok.”

“Dan aku ini penurut, jadi diam saja. Kata-kata itulah yang aku pegang terus jadinya, yang memenjarakan aku seumur hidup. Aku memaksakan diri jadi cowok. Setiap kali sisi feminimnya keluar, kata-kata itu keluar,” kenang Ramin.

Dalam hidupnya, Ramin bergulat dengan orang-orang yang ia sayangi, juga dengan agama yang ia percayai. Yang ia tahu dengan pasti, sangat sulit untuk tidak mencoba pakaian perempuan selama ia tumbuh, bahkan setelah menikah.

Ada masanya ketika Ramin beranjak remaja, kebetulan rumahnya disewa untuk lokasi syuting sinetron. Terdapat ruangan khusus untuk wardrobe. Diam-diam, setiap malam Ramin menyelinap masuk, menjajal banyak pakaian yang ia inginkan. Hatinya berbunga-bunga. Namun tak lama kemudian, perasaan itu padam dan berubah menjadi rasa jijik pada dirinya sendiri.

“Lama-lama, setiap kali aku melakukan atau masuk ke sisi feminimku, terus aku jadi malu, jadi jijik. Aku jadi benci sama diri sendiri. Apaan sih ini, mengganggu sekali. Karena aku terus berusaha jadi cowok, kan,” kata Ramin kepada detikX ketika ditemui di kafe di bilangan Jakarta Selatan.

Ramin sedang menunggu seorang teman di kafe bilangan Jakarta.
Foto : Dok. Pribadi

Hidup dengan tidak menjadi diri sendiri seutuhnya ternyata bukan satu-satunya kepahitan yang Ramin alami. Didiagnosis bipolar menambah cobaan tersendiri dalam liku hidupnya.

Suatu waktu, ketika Ramin menempuh sekolah di luar negeri, ia pernah beberapa kali mencoba mengakhiri hidup. Begitu kuat keyakinannya ia harus menjadi ‘laki-laki’ meski hal itu harus menyakiti dirinya sendiri saat itu. Bahkan, ketika Ramin memiliki kebebasan penuh di luar negeri untuk menampilkan dirinya sesukanya, niat itu urung dia lakukan. Dalam hatinya, ia terus mengingat kata-kata ibunya, juga bagaimana agama mengajarkannya.

Hingga hari ini, keluarga Ramin belum bisa menerima diri Ramin seutuhnya. Apabila Ramin ingin bertemu dengan mereka, Ramin mesti mengenakan pakaian laki-laki agar mereka mau menemuinya. Begitu pula dengan istrinya. Setelah berpisah, Ramin tinggal sendiri di salah satu apartemen di Jakarta.

Perasaan kesepian tak terhindarkan menyelimuti kesehariannya. Hampir setiap hari Ramin menangis menghadapi perasaan-perasaan itu. Ia selalu teringat pada keluarga dan mantan istrinya, yang kini semakin jauh darinya.

Ramin pun mesti siap menghadapi segalanya sendiri. Dulu, ketika sakit sebelum menikah, ada sosok ibu yang membantu merawatnya, begitu pula ketika menikah. Kini ia berusaha menjaga kesehatannya karena ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri jika tiba-tiba sakit.

Namun Ramin merasa selalu ada orang-orang baik di sekelilingnya. Beberapa teman ragam gender mendukungnya penuh dan bahkan selalu mendengarkan keluh kesah Ramin ketika ia merasa sendirian.

“Ada satu orang yang most important person in my life now. Dia satu-satunya yang menerimaku secara seratus persen dan encourage aku untuk selalu menjadi diriku sendiri. Aku merasa paling aman, damai, dan bahagia sama dia. I can be myself with him,” ungkap Ramin.

Tak hanya teman komunitas, beberapa sahabat lama sekolah Ramin, meski beberapa tinggal di tempat yang jauh, selalu memberikan dukungan psikologis kepada Ramin.

Beberapa orang terdekat lainnya juga mendukung Ramin secara mental dan kesehatan, bahkan menjalin hubungan yang sangat berarti bagi Ramin. Di antaranya berprofesi sebagai psikolog, psikiater, dokter, serta akademisi, yang membantunya melalui proses transisi.

Bagi Ramin, dukungan mereka semua berhasil menguatkannya untuk terus hidup, mengenal Tuhan, dan memahami diri sendiri.

Menemui Diri dalam Kasih Tuhan
Ramin tumbuh di keluarga yang taat dan rajin melakukan ritual agama, seperti beribadah setiap hari Minggu. Ia tak mempertanyakan segala larangan dan perintah yang ia peroleh sebelum akhirnya muncul keinginan kuat untuk mengakhiri hidupnya.

“Makanya seumur hidup aku selalu mikirnya bahwa sisi feminin ini selalu dosa dan penyakit. Karena tidak pernah ada orang yang mengajarkan bukan dosa, bukan penyakit. Bahkan ada beberapa orang yang menerima, ujung-ujungnya bilang ini harus disembuhkan,” ucap Ramin.








Namun nyala api itu tak bisa dipadamkan begitu saja. Ramin yakin apa yang ia rasakan tidak salah. Ia mulai mempertanyakan kenapa Tuhan membuatnya merasakan ini. Ia marah pada Tuhan, tapi itu tak lama. Ramin merasa ada panggilan untuk terus mendekat kepada Tuhan, melakukan trauma healing, mengobati luka batin di bawah naungan yayasan keagamaan Katolik.

Trauma healing yang dimaksud Ramin melibatkan psikolog, juga tokoh agama. Tak ada penghakiman, hanya penerimaan diri dan pendekatan iman kepada Tuhan. Metodenya dimulai dengan berdoa, doa pelepasan, atau pengampunan luka batin.

“Aku mulai mempertanyakan hidup. Aku ini siapa? Fungsi aku ini apa? Kenapa aku hidup di dunia ini? Purpose-nya apa? Aku analisis terus dari aku kecil. Aku mempertanyakan terus. (Akhirnya) mendekat sama Tuhan, aku langsung ke Tuhan. Tuhan langsung ngomong sendiri sama aku. Banyak sekali mukjizat yang terjadi,” jelas Ramin.

Karena proses trauma healing inilah Ramin mantap memutuskan pindah agama dari Kristen Protestan menjadi Katolik. Namun, menurutnya, kasih Tuhan itu sama di berbagai agama. Ramin tetap pergi beribadah ke gereja Protestan sekaligus ke gereja Katolik saat ini. Setiap Sabtu dan Minggu ia khususkan selalu untuk mengunjungi tiga gereja sekaligus.

Ada sebuah ayat yang terus menyentuh relung hatinya yang terdalam, yaitu Roma 8:28 TB, ‘Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah,’ begitu bunyinya.

Apa yang Ramin rasakan adalah panggilan Tuhan. Belakangan, Ramin menyadari saat-saat ia pernah begitu marah pada Tuhan sesungguhnya itu merupakan proyeksi trauma yang ia rasakan. Setelah benar-benar menerima dirinya, ia merasakan bimbingan dan panduan Roh Kudus.

Meski demikian, Ramin tidak menampik tak semua gereja bisa sembarangan ia kunjungi. Tak semua pendeta memahami apa yang ia alami. Sampai saat ini Ramin telah berusaha membuka ruang diskusi dengan para pendeta yang inklusif sekaligus gereja yang menerima dirinya dengan ramah. Meski masih terhitung jari, Ramin merasa cukup untuk bisa diterima beribadah dengan aman dan nyaman.

Salah seorang pendeta di Jakarta Utara yang menjadi teman karib Ramin berdiskusi ditemui detikX untuk mendengar perspektifnya terkait dengan gender dan agama. Sebut saja Pendeta Rehan—bukan nama sebenarnya.

Menurut pendeta Rehan, suatu perbuatan selama tidak melukai diri sendiri, tidak melukai orang lain, dan tidak melanggar perintah Tuhan, itu bukan dosa. Sebaliknya, jika memaksa menjadi orang lain atau gender yang tidak sesuai dirinya, sama saja menyakiti diri, artinya berdosa pada diri sendiri.

Pendeta Rehan juga berpandangan gender dan seksualitas seseorang itu bagian dari rencana Tuhan. Ketika seseorang menemukan dirinya, sama saja mencari Tuhan dalam dirinya.

“Kita harus konsisten, kalau kita percaya bahwa setiap orang ditenun oleh Tuhan dalam kandungan ibunya, ini juga mestinya berlaku buat teman-teman LGBTQI+. Mereka tidak pernah memilih gender atau orientasi seksualnya. Kalau bisa memilih, ya pilih jadi yang banyak, hetero di Indonesia, lebih tenang, dan lebih aman,” kata Rehan.

Rehan menambahkan, kasih Tuhan adalah bukti yang paling nyata bahwa Dia akan selalu membawa manusia pada kebaikan.








“Roma 8:28. Itu salah satu ayat yang bilang, apa pun yang terjadi, kalau kita percaya dan mengasihi Tuhan, Tuhan akan membawa kita pada kebaikan. Jadi nggak perlu takut kita menyimpang, sebab tangan Tuhan yang kuat itu pasti bisa jagain kita. Jangan sampai kita terlalu khawatir atau lupa bahwa dengan Tuhan, everything is under control,” ujarnya.

Rehan menempuh proses panjang sebagai pendeta untuk memahami banyak hal mengenai inklusivitas beragama. Perjumpaannya dengan Ramin menjadi bagian dari proses pemahaman keragaman gender dan spiritualitas beragama.

“Satu hal yang saya yakini, semakin kita beragama, semakin kita memanusiakan orang. Saya rasa kemanusiaan ini harus di atas tradisi ataupun doktrin yang kita pegang. Karena tradisi dan doktrin itu bisa dibentuk dan berubah sepanjang zaman, tapi kemanusiaan lebih fundamental dari itu,” ungkapnya.

Namun, menurut pengamatannya, tempat ibadah yang benar-benar ramah gender di Jakarta masih tergolong sangat sedikit. Begitu pula dengan tokoh agamanya. Membuka diskusi secara terang terkait hal ini pun sulit dilakukan.

Adapun Pendeta Rick—bukan nama sebenarnya—adalah rohaniwan yang menemani perjalanan Ramin kembali mengenal Tuhan selama masa transisinya. Pendeta Rick memandang sangat mungkin sebenarnya ada lebih banyak pendeta progresif di Jakarta. Namun, di bawah sistem yang masih heteronormatif, sulit bagi mereka untuk benar-benar bertindak sesuai apa yang mereka yakini.

Ia mengingat ketika sekitar 2016-2017 terdapat surat pastoral yang dikeluarkan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bahwa gereja Protestan merangkul ragam gender. Namun hal tersebut mendapatkan reaksi besar dan penolakan terjadi bahkan di gereja yang anggota PGI.

“Saya sebagai individu pendeta di bawah institusi yang lebih besar dari saya. Jadi reaksi-reaksi institusional yang kami baca setelah surat pastoral itu, kami tahu reaksinya memang besar. Tapi kemudian kami melihat bahwa ada-lah ya satu-dua orang mungkin pendeta yang progresif dan berusaha inklusif. Tapi memang dia tidak bisa mengungkapkan itu (karena) dia di bawah kuasa itu. Ya, seperti itu pasti ada,” terang Rick.

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Pendeta Gomar Gultom turut menanggapi gereja-gereja yang inklusif di Indonesia. Menurutnya, gereja pada dasarnya merupakan tempat yang terbuka untuk semua umat, ramah terhadap ragam gender.

“Hakikat gereja memang inklusif, terbuka kepada semua umat manusia dengan ragam pilihan dan orientasinya. Di gereja, tidak ada aturan soal pakaian. Umat bebas mengekspresikan diri lewat pakaiannya,” kata Gomar melalui pesan teks kepada detikX.

detikX juga mengonfirmasi terkait dengan pengalaman-pengalaman beberapa queer menyoal penolakan yang mereka terima ketika beribadah di sembarang gereja. Terutama jika mereka berpenampilan yang tidak sesuai dengan norma heteronormatif.

“Saya kira tidak akan ada-lah (gereja yang menolak),” jawab Gomar lugas.

detikX juga berusaha menghubungi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) terkait inklusivitas gereja ramah gender. Namun narasumber menjawab tidak bisa berkomentar maupun memberi pandangan terkait masalah ini.

Liputan dan produksi ini menjadi bagian dari liputan kolaborasi #AgamaUntukSemua bersama Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) yang terlaksana atas dukungan Koalisi #RawatHakDasarKita.


Reporter: Ani Mardatila, Alya Nurbaiti, Fajar Yusuf Rasdianto, Ahmad Thovan Sugandi
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE