INTERMESO

Lahir Kembali Sebagai Ibu

Setelah jadi ibu, perempuan kehilangan dirinya atau sebagian dirinya. Namun, ibu rumah tangga ataupun ibu bekerja, selama punya support system yang memadai, bisa berkenalan ulang dengan dirinya dan menemukan bahagia.

Ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/rudi_suardi

Minggu, 14 Juli 2024

Vita Nura Fitriana (28) dan Kafka bagaikan partner in crime. Kafka, bocah laki-laki tiga tahun itu, akan duduk manis di jok belakang sepeda motor, kadang juga di bagian depan, ikut Vita berbelanja bahan makanan atau mengantar pesanan kue ke pelanggan. Dagangan Vita macam-macam, ada daifuku (kuih mochi isi krim dan stroberi), mille crepes, egg tart, ada juga kudapan gurih seperti risoles dan sosis solo.

Dari dulu Vita hobi memasak. Masakannya kerap menuai pujian. Memasak pula yang mengembalikan kepercayaan dirinya setelah dihantam rutinitas sebagai ibu baru penuh waktu. Apalagi, ia sempat mengalami baby blues dua bulan setelah melahirkan. Memasak adalah ‘me time’ bagi Vita, waktu yang didedikasikan untuk dirinya. Tujuannya ketenangan dan kepuasan batin.

“Walau capek, ini kemauanku sendiri dan aku puas ketika hasilnya sesuai. Selain itu, dengan menjual masakanku, aku berinteraksi dengan pembeli. Ketemu banyak orang bikin aku recharged karena aku ekstrovert. Plus dapat uang,” tuturnya kepada detikX, Jumat, 12 Juli 2024.

Menurutnya, hal ini dapat terwujud berkat dukungan suami dan lingkungan. Vita ingat saat tinggal di lingkungan yang kurang mendukung tumbuh kembang anak, pikirannya jadi seratus persen mengkhawatirkan Kafka. Tak ada ruang untuk memikirkan dirinya sendiri.

“Syukurlah sekarang lingkunganku baik, ditambah pekerjaan rumah dikerjakan sama-sama dengan suami. Kalau aku ada pesanan, ya Pak Fredy (suami Vita) yang nyapu, ngepel, nyuci, dan jemur. Biasanya subuh aku baru menyelesaikan pesanan, lalu salat, tidur, bangun-bangun udah selesai semua, dikerjakan suamiku sebelum dia berangkat kerja,” jelas perempuan yang tinggal di Ciledug, Kota Tangerang, ini.

Ia menambahkan, suaminya juga membantu pengerjaan pesanan kuenya. Saat membikin daifuku, misalnya, Fredy Anditya (29) menguleni adonan tepung beras untuk kulit mochi.

Aneka macam kue yang dibuat oleh Vita Nura Fitriana
Foto: Dok Pribadi Vita Nura Fitriana

Urusan pengasuhan Kafka, porsinya lebih banyak di Vita untuk weekday, sebab Fredy bekerja sebagai aparatur sipil negara. “Kalau weekend barulah lebih banyak Pak Freddy (yang menemani Kafka). Aku cari kesibukan sendiri, seperti (olahraga) pound fit,” ungkapnya.

“Kadang aku kangen dengan diriku yang dulu. Kegiatan sesimpel belanja itu beda saat dilakukan sendiri dan bawa anak. Bahkan meskipun Kafka anaknya anteng, nurut, rasanya tetap nggak sesantai pergi sendiri. Tapi, walaupun jadi ibu berat, aku nggak merasa berat sendirian,” pungkas Vita.

***

Naomi Resti Anditya (28) punya pengalaman menavigasikan me time yang berbeda. Perempuan yang tinggal di Kota Bekasi ini sudah lima tahun bekerja sebelum Amrita, bayi perempuannya, lahir pada tahun lalu. Tiga bulan setelah melahirkan, Naomi kembali melakoni perannya sebagai analis tata kelola perusahaan. Suaminya, Agung Wibowo (29), adalah seorang karyawan swasta di daerah Karawang. Sebab keduanya pulang-pergi bekerja, waktu untuk si kecil Amrita dioptimalkan di akhir pekan.

“Waktu kami di weekday terbatas, pulang kerja aku dan Agung sama-sama menyingkirkan ponsel dan main sama Amrita. Itu dua jam maksimal, terus sudah, nggak ketemu Amrita lagi. Makanya janji kami, apapun yang kami lakukan di weekend, sebisa mungkin melibatkan Amrita,” ujar Naomi kepada detikX, Kamis, 11 Juli 2024.

Oleh karena situasi tersebut, Naomi mengaku curi-curi waktu untuk me time demi kewarasan dirinya. “Dulu aku punya morning routine, nge-teh atau ngopi lalu olahraga simpel ngikutin YouTube. Sekarang nggak bisa karena pukul 05.00 harus memompa ASI sambil masak. Sekarang me time bukan lagi sesuatu yang dilakukan pada waktu khusus, tapi in between everything, walaupun sambil jalan, grusa-grusu, itu juga me time,” katanya sambil tertawa.

Aktivitas yang ia maksud yaitu membaca buku atau menulis jurnal selama perjalanan menuju dan pulang kantor dengan kereta LRT (light rapid transit). “Dulu sebelum punya anak, pulang kerja bisa unwind dengan ngeblog, baca buku. Sekarang, mana bisa? Udah ngantuk dan butuh tidur,” akunya.

Naomi sempat punya ide untuk ‘retret’ ke hotel barang dua-tiga hari. Just me and myself, katanya. Namun, belum sempat ide itu terwujud, ia lebih dulu menemukan menit-menit pendek yang bisa ia nikmati sehari-hari.

“Suatu hari aku iseng pulang naik Transjakarta, pasang headset, dengerin musik, menikmati kanan-kiri. Oh, ternyata aku suka, sepertinya ini cukup. Bahkan aku menyadari juga, kerja itu me time juga lho buatku, di situ aku berkarya, teman-teman kantor pun menyenangkan. Kantorku juga suportif, ada kelonggaran untuk ibu menyusui, disediakan ruang laktasi, imunisasi anak ditanggung,” kata Naomi.

Naomi Resti Anditya dan putrinya, Amrita
Foto: Dok Pribadi Naomi Resti Anditya

Namun, sikap santai Naomi, menurutnya juga berkat dukungan mental dan emosional Agung serta pembagian tugas rumah tangga yang tidak timpang. “Pada prinsipnya, kalau yang satu pegang Amrita, yang lainnya mengerjakan house chores. Kami dibantu juga oleh ART,” ujarnya.

“Yang aku syukuri juga, Agung dari dulu pede bawa bayi ke manapun. Jadi kami bisa gantian kalau salah satu di antara kami butuh me time. Mereka sering ngedate berdua, misalnya si Cimut (Amrita) nemenin papanya badminton. Mamanya bisa belanja, masak, beberes, atau main piano di rumah dengan lebih zen (tenang),” terang Naomi.

Meski mengakui ada beberapa hal yang direnggut darinya setelah jadi ibu, Naomi mulai menyukai motherhood. Di era keibuannya, ia belajar lebih sadar terhadap apa yang ia konsumsi, baik makanan yang masuk ke tubuh maupun produk yang berpotensi menjadi sampah rumah tangga.

“Sumber bahagiaku sekarang berputar di rumah, kantor, gereja, dan pasar. Udah nggak lagi update event, bazaar, konser, cafe, atau resto. Sekarang makanan kami homemade. Aku bahkan bisa bikin selai kacang sendiri dan enak!”

“Soal limbah rumah tangga, aku lebih mindful setelah punya Amrita, dua minggu sekali setor sampah anorganik dan minyak jelantah ke fasilitas daur ulang. Ada Amrita, kami juga jadi lebih mencari tahu lagi tentang iman kami, karena kami harus menceritakan ke dia kenapa kami memilih iman ini. Intinya, Amrita membuat aku menelisik ke dalam diriku dan berteman dengan diriku yang baru,” yakin Naomi.

‘Me time’ Belum Jadi Norma

Vita dan Naomi adalah ibu yang beruntung dan terinformasi. Jumlah mereka segelintir di Indonesia. Menurut psikolog anak dan keluarga Saskhya Aulia Prima, kesadaran akan pentingnya me time baru meningkat di kelompok ekonomi menengah ke atas dan berpendidikan tinggi. Hal ini lantaran masih belum meratanya akses informasi tentang kesehatan mental ibu serta pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan.

Ilustrasi ibu dan anak
Foto: Getty Images/PrathanChorruangsak 

Tekanan terhadap orang tua berat sebelah. Dalam banyak masyarakat Indonesia, perempuan dituntut mengurus anak dan harus becus, laki-laki tidak. Hasilnya, angka postpartum depression ibu sebesar 53 persen pada 2023.

“Biasanya, kalau berita tentang PPD naik ke publik, responsnya hujatan ke ibu penderita PPD (dihakimi sebagai ibu yang gagal), alih-alih melihat ini sebagai kondisi mengkhawatirkan,” ujar Saskhya yang juga co-founder pusat informasi psikologi Tiga Generasi itu.

Padahal, lanjut Saskhya, kehadiran ayah tidak hanya berdampak positif kepada ibu dan anak, tetapi juga ayah. “Ayah hadir itu nggak sekadar berada di situ, tetapi mengasuh, mulai dari memandikan bayi, menidurkan bayi, ketika anaknya semakin besar, ayah bisa jadi emotional support kalau anak butuh apa-apa. Ini menciptakan pengalaman menyenangkan untuk ayah juga. Selain itu, manfaatnya, ibu lebih punya me time, kualitas pernikahan terjaga, pengasuhan lebih optimal, anak tumbuh cerdas,” jelasnya.

Menurut Saskhya, diperlukan pendidikan atau penyuluhan di level puskesmas dan posyandu mengenai pentingnya mendahulukan kesejahteraan ibu. “Informasi mengenai me time itu apa. Kemudian, bentuk me time akan berbeda tergantung konteks lingkungannya. Bisa jadi ibu-ibu ini nggak tahu opsi yang mereka punya, atau belum menemukan kegiatan yang cocok untuk mereka,” katanya.

“Belum lagi stigma kalau me time itu sesuatu yang egois, sehingga bikin si ibu merasa bersalah melakukan itu. Kemudian, untuk ibu bisa mengambil waktu sendiri, juga diperlukan penggantinya untuk mengasuh anak,” imbuh Saskhya. Intinya, agar ibu bisa mengenali dirinya lagi, bahagia, dan sejahtera, butuh dukungan banyak pihak.


Penulis: Alya Nurbaiti
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE