Ilustrasi Foto: Mary Marllon (Today History)
Minggu, 23 Juni 2024Ribuan nisan berjejer rapi di pemakaman Old Saint Raymond, yang terletak di Jalan 1201 Balcom Ave, Bronx, New York City, Amerika Serikat. Pemakaman yang dibangun pada 1842 itu dikhususkan bagi umat katolik di New York City. Sejumlah pendeta, pastur, dan para suster dimakamkan di sana, termasuk beberapa tokoh militer.
Pemakaman seluas 180 hektar, yang tak jauh dari sungai Westhester Creek, itu, disebut pemakaman suci dan paling banyak dikunjungi warga. Dari ribuan kuburan, terdapat kuburan perempuan bernama Mary Mallon di plot 55, barisan 19, blok 15. Di batu nisannya yang terbuat dari granit, selain nama, juga tertulis waktu meninggal dunia Mary, yaitu 11 November 1938, dan kata ‘Jesus Mercy’.
Mary merupakan imigran kelas pekerja, tapi sempat menggegerkan dunia kedokteran dengan julukan sebagai ‘Typhoid Mary’ atau 'Mary Tifus'. Dia orang pertama di AS yang diidentifikasi sebagai pembawa bakteri salmonella typhi tanpa gejala atau healthy carrier. Di dalam tubuhnya membawa bakteri sejak lahir, tapi dia tidak menderita sakit tifoid, atau kebanyakan awam menyamakan dengan tifus.
Mary diyakini telah menginfeksi sekitar 50 hingga 200-an orang, tiga orang di antaranya meninggal dunia. Pada 1906, dilaporkan sebanyak 3.467 orang terjangkit demam tifus di Kota New York, 639 orang dinyatakan meninggal dunia.
Dilansir dari laman National Library of Medicine atau National Center for Biotechnology Information (NIH), Mary Mallon lahir pada 23 September 1869 di Cookstown, Irlandia. Dia anak dari pasangan John dan Catherine Igo Mallon. Di usia 15 tahun, Mary hijrah ke New York pada 1884. Dia tinggal bersama paman dan bibinya.
Seperti imigran lainnya asal Irlandia, Mary bekerja sebagai pembantu. Mulanya dia bekerja di kawasan Mamaroneck, New York, pada 1900. Ketika baru bekerja dua pekan, dua penghuni di rumah majikannya mengalami gejala demam tifus. Setelah itu Mary pindah bekerja di salah satu keluarga di Manhattan.
Tujuh dari delapan anggota keluarga di Manhattan mengalami gejala sakit serupa. Mary sempat merawat mereka yang sakit. Tiga tahun berikutnya, Mary pindah bekerja sebagai koki atau juru masak di rumah pengacara kaya, Henry Gisley, sejak Juni 1904. Di tempat itu, empat dari tujuh pelayan keluarga Gisley terinfeksi bakteri tifus dan demam.
Di dalam buku ‘The Corious Careed of Typhoid Mary’ karya George Albert Soper, seorang ahli sanitasi AS dan diterbitkan dalam Bulletin of the New York Academy of Medicie pada 1939, setelah pekerja di keluarga Gisley terserang wabah tifus, Mary pindah bekerja di Tuxedo Park pada keluarga kaya George Kessler pada September 1904.

Mary Marllon (tengah)
Foto: Britannica
Lagi-lagi ketika dirinya baru bekerja dua pekan, salah seorang pelayan bagian laundry terinfeksi bakteri tifus. Pelayan itu langsung dibawa ke Rumah Sakit Saint Joseph di Peterson, New Jersey. Dia divonis sebagai orang pertama yang menularkan bakteri. Kasus ini ditangani Dr. R.L. Wilson, pengawas penyakit menular dari Departemen Kesehatan Kota New York.
Wilson meyakini pelayan binatu tersebut sebagai carrier (pembawa) bakteri salmonella typhi. Tapi keyakinannya itu gagal dibuktikan karena sang pelayan meninggal dunia. Dua tahun kemudian, Mary mendapatkan tawaran kerja sebagai koki di keluarga bankir kaya, William Henry Warren, di Osyter Bay, Long Island pada Agustus 1906.
Mary ikut bersama keluarga Warren ketika meraka menyewa sebuah rumah milik George Thompson selama musim panas pada 27 Agustus hingga 3 September. Tak tak lama salah satu putri Warren mengalami demam. Disusul istri dan anak Warren lainnya, dua pembantu dan tukang kebun terjangkiti penyakit tifus.
Total ada enam dari 11 orang yang ada di rumah Warren mengalami demam. Penyebaran tifus cepat karena umumnya melalui sumber air dan makanan. Hal itu membuat Thompson, pemilk rumah khawatir tak bisa menyewakan properti tanpa terlebih dahulu mengetahui sumber wabah.
Thompson pertama kali menyewa penyelidik untuk menemukan penyebabnya. Mereka mengambil sampel air dari saluran pipa, keran, toilet hingga septik tank. Hasilnya negatif dari bakteri tifus. Kurang puas, Thompson meminta George Albert Soper, seorang insinyur sipil sanitasi untuk melakukan penyelidikan.
Soper melakukan penyelidikan kepada beberapa keluarga. Dia menyimpulkan bahwa penyakit tifus biasa muncul di lingkungan yang kotor, tidak sehat, dan miskin. Berbeda dengan lingkungan Thompson atau Warren di Oyster Bay yang bersih dan makmur.
Soper percaya bahwa juru masak yang baru direkrut, Mary Mallon sebagai penyebabnya. Tapi Mary pergi meninggalkan rumah Warren sekitar tiga minggu setelah wabah menyebar. Soper mulai meneliti riwayat pekerjaan perempuan yang saat itu sudah berumur 37 tahun untuk mendapatkan lebih banyak petunjuk.
Soper menemukan bahwa wabah tifus telah mengikuti Mary dari satu pekerjaan di suatu keluarga ke keluarga lainnya. Dari 1900 hingga 1906, Mary bekerja pada tujuh keluarga di mana terdapat 22 orang jatuh sakit, termasuk seorang gadis meninggal dunia karena demam tifus. Soper membutuhkan sampel darah dan tinja dari Mary untuk diteliti.
Baru pada Maret 1907, Soper menemukan Mary sedang bekerja di rumah keluarga Walter Bowen di Avenue Park. Soper mendekati Mary di dapur. “Saya se-diplomatis mungkin, saya mengatakan bahwa saya curiga dia membuat semua orang sakit dan saya butuh sampel urin, feses, dan darahnya,” ungkap Soper dalam bukunya.
Mendengar permintaan Soper, wajah Mary memerah. Dia langsung mengambil garpu ukir dan maju menghampiri Soper. Mary yang marah mengejar Soper hingga sampai trotoar jalanan untuk menyelamatkan diri dari amukan Mary.

Pulau North Brother, New York, karantina penderita demam Tifus
Foto: To Day History
Soper tetap melanjutkan pelacakan Mary sampai ke rumahnya. Kali ini dia membawa asistennya sendiri, yaitu Dr. Bert Raymond Hoobler. Sekali lagi Mary marah dan menolak kedatangan keduanya. Dia melontarkan kata-kata umpatan agar Soper dan Hoobler hengkang dari rumahnya.
Akhirnya Soper menyerahkan penelitian dan hipotesanya kepada Hermann Biggs di Departemen Kesehatan Kota New York. Lalu dikirimlah Dr. Sara Josephine Baker untuk mendekati dan berbicara dengan Mary. Baker tetap mengalami penolakan dari Mary yang mengancamnya dengan memegang garpu dapur panjang atau rapier.
Baker lalu mengajak polisi untuk menggeledah rumah dan mencari Mary yang menghilang. Setelah 5 jam, mereka menemukan Mary yang bersembunyi di dalam lemari di kamarnya. Dia keluar sambil mengumpat dan bergumul dengan polisi.
“Saya melakukan upaya lain untuk berbicara dengan secara bijaksana dan memintanya lagi untuk mengizinkan saya mendapatkan spesimennya,” ujar Baker.
Mary tetap bersikukuh bahwa hukum telah menzoliminya. Dia mengaku tidak bersalah. Mary juga mengaku tidak pernah menderita demam tifus. Akhirnya Baker dan polisi tetap mengangkut Mary ke dalam ambulans. Mary dibawa ke Rumah Sakit Willard Parker di New York.
Setelah sampel diambil dan diperiksa, basil tifus ditemukan dalam fasesnya. Mary terpaksa di karantina di pondok terpencil milik Rumah Sakit Riverside di pulau North Brother di East River dekat Bronx pada 19 Maret 1907. Mary marah dan terpuruk di pulau itu sendirian.
“Saya tidak pernah menderita tifus seumur hidup saya dan selalu sehat. Mengapa saya harus dibuang seperti penderita kusta dan dipaksa hidup di sel isolasi dengan hanya seekor anjing sebagai pendampingnya,” tulis Mary dalam sebuah suratnya.
Selama isolasi di pulau tersebut, pihak kesehatan mengambil sampel Mary setiap dua pekan sekali. Hasilnya kadang negative, tapi lebih banyak positif mengandung bakteri tifoid. Setelah dua tahun diisolasi di pulau tersebut, Mary menggugat pihak Departemen Kesehatan.
Selama hampir setahun sebelum persidangan, Mary mengirimkan sampel tinjanya ke laboratorium swasta di mana semua sampelnya dinyatakan negatif tifus. Merasa sehat dan dengan hasil labnya sendiri, Mary yakin telah diperlakukan tidak adil.
Baru pada 19 Februari 2010, Dewan Kesehatan Kota New York memutuskan Mary bebas dari isolasi di pulau North Brother. Mary setuju keputusan dewan agar dirinya tak bekerja lagi sebagai koki atau juru masak, serta tetap menjaga kebersihan. Hanya beberapa tahun dia mematuhi keputusan tersebut.

Kuburan Mary Mallon di Old Saint Raymond, Bronx, New York, AS.
Foto: findagrave.com
Mary masih meyakini dirinya bukan pembawa bakteri tifus, kembali bekerja sebagai juru masak alias koki.
Pada Januari 1915, Rumah Sakit Bersalin Sloane di Manhattan menerima 25 orang pasien dengan gejala demam tifus. Setelah diselidiki, wabah itu bermula dari keluarga Brown, yang ternyata mempekerjakan Mary sebagai juru masaknya. Saat itu Mary menggunakan nama samaran. Tapi kali ini Mary tidak marah, rela dan sadar menjadi penyebab sakit tifus dan kematian pada korbannya.
Mary kembali dikirim ke pulau North Brother. Dia tinggal di pondok terpencil yang sama dahulu dihuninya. Hampir selama 23 tahun, Mary tinggal di pondokan kecil itu dan tak pernah keluar dari pulau. Di sana dia sempat menjadi perawat pada 1922 dan bekerja di laboratorium yang ada di pulau itu pada 1925.
10 tahun kemudian, Mary mengalami serangan stroke yang parah pada Desember 1932. Karena mengalami kelumpuhan, Mary dipindahkan dari pondokannya ke tempat tidur di bangsal anak-anak rumah sakit di pulau tersebut. Enam tahun kemudian, Mary meninggal dunia pada 11 November 1938.
Penulis: M Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho