Palang Merah menjadi saksi dalam setiap perang bersenjata, bencana, konflik, dan situasi darurat lainnya. Mereka ada bersama para korban.
Gerakan Palang Merah lahir di antara watak bengis manusia untuk angkat senjata dan berperang. Pada akhirnya menjadi jaringan kemanusiaan yang menjalar sedunia. Kini mereka ada di keadaan darurat, bencana, konflik, dan situasi kritis lainnya untuk memberikan bantuan.
Sebagai penghormatan, setiap 8 Mei, diperingati sebagai hari Palang Merah Sedunia atau yang kini bernama Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (World Red Cross and Red Crescent Day). Tanggal tersebut diambil dari hari lahirnya Henry Dunant, seorang humanitarian asal Jenewa, Swiss.
Berjalan beriringan dengan waktu, Palang Merah mengalami berbagai modifikasi logo. Berbagai emblem ini diakui dan idenya muncul tanpa ada sedikit pun menyinggung kelompok atau golongan keagamaan tertentu. Palang Merah tetap netral dan merangkul semua orang. Tujuan utamanya logo ini untuk mengidentifikasi dan melindungi layanan medis dalam konflik bersenjata.
Diadopsi berdasarkan Konvensi Jenewa 1864. Desain diadopsi dari bendera Swiss yang dibalik. Pada saat itu logo ini dipakai sebagai tanda netral dan khas yang digunakan dan diakui oleh semua orang di medan perang untuk melindungi pekerja dan fasilitas medis.
Dibuat pada akhir 1800-an untuk menghindari konotasi atau persepsi keagamaan di lambang Palang Merah negara-negara tertentu. Logo ini diakui dalam Konvensi Jenewa 1929 yang diperbarui.
Dicetuskan pada 2005 untuk meningkatkan perlindungan dalam situasi di mana lambang yang sudah ada selama ini, mungkin tidak dianggap netral.
Sumber
- The International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies
- nobelprize.org
- International Committee of the Red Cross
- A Memory of Solferino, Henry Dunant, American Version ICRC
- Hand Book of the International Red Cross and Red Crescent Movement



