Palang Merah menjadi saksi dalam setiap perang bersenjata, bencana, konflik, dan situasi darurat lainnya. Mereka ada bersama para korban.




Gerakan Palang Merah lahir di antara watak bengis manusia untuk angkat senjata dan berperang. Pada akhirnya menjadi jaringan kemanusiaan yang menjalar sedunia. Kini mereka ada di keadaan darurat, bencana, konflik, dan situasi kritis lainnya untuk memberikan bantuan.

Sebagai penghormatan, setiap 8 Mei, diperingati sebagai hari Palang Merah Sedunia atau yang kini bernama Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (World Red Cross and Red Crescent Day). Tanggal tersebut diambil dari hari lahirnya Henry Dunant, seorang humanitarian asal Jenewa, Swiss.

1859
1863
1864
1907
1917
1945

Pada tahun 1859, Dunant menyaksikan penderitaan tentara yang terluka di medan perang dalam Pertempuran Solferino di Italia (perang kemerdekaan Italia ke-2). Pengalaman ini mendorongnya untuk menulis buku "A Memory of Solferino" yang menyerukan: pembentukan grup sukarelawan untuk membantu mereka yang terluka selama masa perang.

[Henry Dunant dalam A Memory of Solferino]

Kesaksian tragis dan ide-ide Henry Dunant menginisiasi berdirinya Komite Internasional untuk Pertolongan Orang (Comité international de la Croix Rouge) pada 1863. Mereka menjadi pihak yang netral serta independen dalam perang. Misinya membantu orang-orang yang terdampak konflik dan kekerasan bersenjata. Basis gerakan lembaga bantuan sukarela ini perlahan tumbuh di semua negara.

Gerakan itu mendorong perjanjian multilateral pertama berkaitan Palang Merah. Dalam konferensi diplomatik pada 22 Agustus 1864 tercetus konvensi Jenewa dengan prinsip utama:

  • Memberikan bantuan kepada yang terluka tanpa membedakan kewarganegaraan.
  • Netralitas (tidak dapat diganggu gugat) personel medis dan lembaga serta unit medis.
  • Tanda khas palang merah dengan latar belakang putih melindungi semua layanan medis.

Konvensi ini direvisi dan diadopsi konvensi baru untuk melindungi korban perang di laut (1907), tawanan perang (1929), dan warga sipil pada saat perang (1949).


Selama Perang Dunia II, sukarelawan Palang Merah bertugas dari berbagai negara. Mereka memproduksi pasokan darurat pada masa perang, mengumpulkan darah dan plasma untuk pasukan, hingga melayani tentara di rumah sakit dan kapal serta kereta api. Mereka juga menjalankan program khusus mengunjungi tawanan perang di seluruh dunia dan menangani permintaan pertukaran pesan tentang orang-orang tercinta yang hilang.

Palang Merah memainkan peran integral dalam memberikan bantuan dan harapan di mana pun mereka berada. Atas jasanya, mereka dibanjiri beberapa anugerah Nobel Perdamaian.

Nobel Perdamaian 1917

Atas upayanya merawat tentara yang terluka dan tawanan perang serta keluarganya.

Nobel Perdamaian 1944

Atas kerja keras yang telah dilakukan selama perang atas nama kemanusiaan.

Nobel Perdamaian 1963

Untuk mempromosikan prinsip-prinsip Konvensi Jenewa dan kerjasama dengan PBB.

Sejak 1945 Palang Merah mencegah penderitaan dengan mempromosikan dan memperkuat hukum humaniter dan prinsip-prinsip kemanusiaan universal. Mereka getol mendesak pemerintah berbagai negara untuk memperkuat hukum humaniter internasional dan mematuhinya.

Palang Merah juga berupaya mengatasi dampak kemanusiaan dari konflik yang terjadi pada paruh kedua abad ke-20—dimulai dari bantuan saat terjadi aneksasi Israel atas Tanah Air Palestina pada 1948.

Berjalan beriringan dengan waktu, Palang Merah mengalami berbagai modifikasi logo. Berbagai emblem ini diakui dan idenya muncul tanpa ada sedikit pun menyinggung kelompok atau golongan keagamaan tertentu. Palang Merah tetap netral dan merangkul semua orang. Tujuan utamanya logo ini untuk mengidentifikasi dan melindungi layanan medis dalam konflik bersenjata.

Palang Merah

Diadopsi berdasarkan Konvensi Jenewa 1864. Desain diadopsi dari bendera Swiss yang dibalik. Pada saat itu logo ini dipakai sebagai tanda netral dan khas yang digunakan dan diakui oleh semua orang di medan perang untuk melindungi pekerja dan fasilitas medis.

Bulan Sabit Merah

Dibuat pada akhir 1800-an untuk menghindari konotasi atau persepsi keagamaan di lambang Palang Merah negara-negara tertentu. Logo ini diakui dalam Konvensi Jenewa 1929 yang diperbarui.

Kristal Merah

Dicetuskan pada 2005 untuk meningkatkan perlindungan dalam situasi di mana lambang yang sudah ada selama ini, mungkin tidak dianggap netral.

Sumber

  • The International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies
  • nobelprize.org
  • International Committee of the Red Cross
  • A Memory of Solferino, Henry Dunant, American Version ICRC
  • Hand Book of the International Red Cross and Red Crescent Movement
Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
HTML5: Dedi Arief Wibisono
Ilustrator: Edi Wahyono
***Komentar***
SHARE