INTERMESO

Siapa Pun Bisa Jadi Vegan

“Jaman dulu stigma orang vegan dan vegetarian itu hanya untuk grup atau etnis dan ajaran agama tertentu. Sekarang nggak begitu.”

Ilustrasi: Menu makanan untuk kalangan vegan (AFP/iStock) 

Senin, 29 April 2024

Di antara kawan-kawannya, Fidelia Hartato dikenal sebagai seorang vegetarian yang sama sekali tidak mengonsumsi daging hewan. Makanya teman-teman Fidelia heran ketika suatu hari dirinya kedapatan membawa seporsi daging rendang. Dari segi tampilan, rendang yang dibawa Fidelia tidak ada bedanya dengan yang disajikan di rumah makan Padang. Namun, tentu saja, dagingnya tidak dibuat dari daging sapi, melainkan tepung gandum yang diuleni dengan air hingga terbentuk gluten. Daging vegan ini kerap disebut daging palsu atau daging imitasi.

Ketika diminta untuk mencicipi, mereka sontak terkejut. Tekstur yang dimiliki daging imitasi sangat mirip dengan daging asli. Teman-teman Fidelia kesulitan membedakan daging palsu ini dengan daging sesungguhnya. “Pas nyobain mereka sampai bingung karena nggak bisa nemu perbedaannya. ‘Lo bukannya vegetarian? Selama ini lo bohongin kita, ya? Kok, mirip daging banget sampai bisa berserat gitu’,” ucap Fidelia menirukan komentar temannya.

Bukan cuma sekali Fidelia mengecoh mereka. Saat itu Fidelia baru saja makan di sebuah restoran vegetarian yang menyajikan menu daging babi samcan. Daging yang diambil dari bagian perut babi terdiri dari lapisan daging dan lemak. Restoran vegetarian itu berhasil membuat daging samcan tiruan yang begitu serupa. “Pas aku post di Instagram mereka komentar ‘Wah nggak benar lo, Del. Katanya lo vegetarian, kok, makan babi?’,” ucap mereka kepada Fidelia

Delapan tahun silam, saat Fidelia masih duduk di bangku SMA, ia memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian. Bukan hanya alasan kesehatan, rasa welas asih kepada hewan turut memantik kesadaran Fidelia untuk mengubah gaya hidupnya. Sejak menjadi vegetarian, Sarjana Manajemen Bisnis, Universitas Tarumanagara yang hobi kulineran ini mendokumentasikan setiap kafe, warung, dan restoran yang menyajikan makanan nonhewani. Dokumentasi dalam bentuk foto dan video itu ia unggah di akun Instagram @foodiesveg yang kini telah diikuti 9,5 ribu orang. Fidelia mendedikasikan akunnya itu untuk berbagi informasi seputar kuliner vegetarian.

“Banyak banget kuliner Vegan yang aku temuin. Kayak misalnya ikan lele yang dibuat dari kulit tahu, rumput laut sama tahu. Dendeng daging terbuat dari soy. Aku juga pernah cobain cuanki Bandung Vegan. Bahkan sashimi saja bisa dibikin jadi Vegan. Kalau mau diomongin satu-satu nggak akan ada habisnya,” tutur perempuan yang kini berusia 25 tahun. Melalui platform yang dimilikinya, Fidelia turut ingin mempromosikan makanan berbasis nabati. “Makanan Vegan bukan cuma makan sayur doang tapi juga bisa diolah jadi makanan enak.”

Fidelia Hartato
Foto: Dok Pribadi

Di Indonesia, penganut veganisme yang tidak mengonsumsi protein hewani juga semakin bertambah jumlahnya. Komunitas vegan Indonesia yang bergabung dalam Vegan Society of Indonesia (VSI) mencatat, penganut veganisme di tanah air mendekati 10% dari total penduduk atau sekitar 27 juta orang pada 2021. Meningkatnya minat masyarakat terhadap gaya hidup vegetarian juga dirasakan oleh Komunitas Jakarta Vegetarian Community. Setiap tahun, komunitas ini rutin menggelar acara bertajuk Jakarta Vegetarian Week. Acara yang digelar dengan tujuan untuk memperkenalkan gaya hidup vegan dan vegetarian ini menghadirkan berbagai macam kuliner nabati dari seluruh penjuru negara.

“Tahun lalu perkiraan dari traffic mall selama lima hari digelar, total pengunjungnya itu sekitar 400 ribu orang. Tahun ini kita mau menggelar kembali acara serupa dan mall berbondong-bondong nge-reach out kita. Total ada 10 venue di Jakarta yang propose ke kita,” kata Vyvy Kecesy, Co Founder Jakarta Vegetarian Community kepada detikX. Tahun ini, Jakarta Vegetarian Week akan kembali digelar pada tanggal 22-26 May di Emporium Pluit Mall, Jakarta Utara. Acara ini juga dilengkapi dengan beragam kegiatan seperti kompetisi masak dan konsultasi dengan tenaga Kesehatan.

Jakarta Vegetarian Community sendiri merupakan komunitas vegetarian non profit berbasis sosial media yang sudah berdiri sejak tahun 2016. Sebelum menjadi komunitas, laman Instagram @jakartavegetariancommunity digunakan Vyvy dan saudaranya untuk berbagi informasi seputar kuliner vegetarian di Jakarta. Saat itu restoran maupun UMKM vegan di Jakarta masih belum banyak

“Seiring berjalannya waktu, peminatnya pesat banget dan bertambah berkali-kali lipat. Pengikutnya bertambah banyak, kuliner vegan juga semakin banyak. Dulu di Jakarta jumlahnya bisa dihitung, paling cuma 10. Sekarang di satu Jakarta bisa ada 100 sampai 200 restoran vegetarian,” katanya. Komunitas Jakarta Vegetarian Community kerap mengadakan berbagai kegiatan online dan offline.

Anggota Komunitas Jakarta Vegetarian Community saat ini didominasi anak-anak muda di usia produktif, berkisar di angka 20 hingga 30 tahunan. Berbagai alasan melatarbelakangi mereka bergabung ke dalam komunitas ini. Ada yang ingin memperbaiki gaya hidup, demi merawat bumi tercinta, peduli akan kesejahteraan hewan hingga mereka yang masih penasaran dengan gaya hidup ini.

Salah satu acara gathering Jakarta Vegetarian Community
Foto : Dok Jakarta Vegetarian Community

“Jaman dulu stigma orang vegan dan vegetarian itu hanya untuk grup atau etnis dan ajaran agama tertentu. Sekarang nggak begitu. Mau suku dan agama apapun ada di komunitas kami. Yang muslim ada, Nasrani, Buddhist, Hindu, Konghucu. Sukunya juga beragam, ada yang bule, Tionghoa, semua bergabung menjadi satu. Vegan bukan untuk golongan dan agama tertentu tapi siapa saja,” kata Vyvy yang sudah menjalankan gaya hidup vegan sejak masih SD.

Transisi menuju hidup bebas daging hewani ini tentu tidak mudah. Maka dari itu Vyvy menyarankan mereka yang ingin beralih menjadi vegan atau vegetarian untuk melakukan perubahan pola makannya secara bertahap. Ada sedikit perbedaan antara vegan dan vegetarian. Meski keduanya sama-sama tidak mengonsumsi bahan makanan hewani, Vegetarian masih mengonsumsi turunan dari hewan seperti telur dan susu. Sementara Vegan sama sekali tidak mengonsumsi segala bentuk produk hewani.

“Jangan berpikir rumit dan terlalu muluk. Transisinya jangan langsung 100% berubah. Misalkan ada menu mushroom sama daging, kita jangan makan dagingnya. Makan tempe dan tahu, pelan-pelan baru bersih nggak konsumi daging sama sekali. Mulai aja dulu 1 minggu sekali, nanti ditambah jadi 1 minggu dua kali, begitu seterusnya,” katanya. Sebagai seorang Vegan di Indonesia, Vyvy sendiri merasa sangat diuntungkan. Ia dapat mengolah berbagai bahan nabati dengan akses yang mudah dan harga terjangkau.

“Orang Indonesia sangat cocok menerapkan pola hidup ini. Kita datang ke warteg, pesan nasi pakai terong, kentang balado, tahu, tempe sama daun singkong, itu saja udah jadi makanan vegan. Pola hidup vegan mudah diterpakan dan sangat baik manfaatnya untuk Kesehatan kita,” tutur Vyvy.

Pola hidup ini sudah dikenal memiliki segudang manfaat untuk kesehatan. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of American Heart Association menemukan bahwa makan pola makan nabati dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular hingga 16 persen dan kematian akibat kondisi kesehatan ini sekitar 31 persen. Sementara itu, dilansir dari peta.org.uk, studi menunjukkan bahwa makan vegan dapat membantu mengurangi risiko penyakit. Sebuah penelitian selama 11 tahun di Jerman, yang melibatkan lebih dari 800 pria vegetarian, juga menemukan bahwa tingkat kanker mereka kurang dari separuh masyarakat umum.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE