Foto Ilustrasi: iStock
Minggu, 27 April 2024Katia Shiffana tak menyangka, hidupnya berubah drastis setelah menonton sebuah film dokumenter berdurasi sekitar 97 menit. Film berjudul What the Health itu merupakan karya Kip Andersen yang juga menyutradarai film Cowspiracy: The Sustainability Secret (2014). Film ini berawal dari kegelisahan Kip sendiri yang memiliki sejarah diabetes dalam keluarganya. Ia khawatir penyakit itu akan turut merenggut nyawanya. Kip lantas bertemu dengan berbagai industri makanan, pertenakan, ahli Kesehatan, ilmuwan dan aktivis.
Dalam perjalanannya, Kip mengungkapkan fakta mencengangkan seputar konsumsi daging dan produk hewani serta dampaknya terhadap penyakit kronis seperti diabetes dan kanker. Meskipun film kontroversial ini menuai banyak pro dan kontra, Katia merasa informasi yang disampaikan di dalam film itu cukup mengerikan dan membuatnya memutuskan untuk menjadi seorang vegan.
Transisi gaya hidup yang Katia jalankan tentu tidak semudah membalikan telapak tangan. Enam tahun silam, saat tengah kuliah di Ritsumeikan University, Jepang, kondisi Katia Shiffana benar-benar kacau. Perempuan yang senang masak dan hobi makan ini tidak bisa lepas dari makanan junk food. Ditambah hobi begadang dan makan mie instan, bobot Katia naik 15 kg dalam sekejap. Bukan cuma berat badan yang terdampak, kulit wajah Katia pun menjadi jerawatan dan kusam.
“Aku, tuh, tukang diet dari SMP. Mulai dari keto diet, military diet, macam-macam udah aku coba. Pas kuliah berat badan naik, aku jadi insecure, aku pengin mulai diet lagi. Malah nggak sengaja nemu film itu,” ucap Katia kepada detikX.

Katia Shiffana
Foto: Dok Pribadi
Berbeda dengan gaya hidup Vegetarian yang masih mengonsumsi produk turunan hewan seperti telur dan susu, sebagai penganut Vegan, ia tidak lagi makan segala bentuk produk hewani. Beruntung lingkungan tempat tinggalnya di Jepang begitu mendukung perubahan gaya hidupnya. Meski lebih mahal, sayur mayur dan buah-buahan di Jepang terkenal dengan kualitasnya yang baik dan rasanya yang lebih enak. Makanan Vegan dan Vegetarian pun tak melulu sayur dan buah.
“Waktu itu di Jepang udah ada daging-daging palsu. Aneka beans juga lengkap. Justru di Indonesia lebih enak lagi, semuanya lengkap. Sayur-sayuran ada all season. Ada tahu dan tempe. Sayur dan buahnya juga lebih murah. Malah menurutku sebagai seorang Vegan di Indonesia lebih dimudahkan,” ungkapnya.
Semenjak menerapkan pola hidup ini, Katia mulai merasakan dampak positifnya. Berat badan berangsur menurun, kondisi wajahnya ikut membaik. Lidah Katia mulai terbiasa makan tanpa daging. Hati Katia menjadi jauh lebih tenang karena ia tak perlu lagi berkontribusi dalam pembunuhan hewan demi konsumsi daging.
Awalnya Papa aku nggak setuju. Kata Papa aku ‘Gila udah sekolah jauh-jauh, pulang malah mau jadi tukang nasi uduk."
“Aku nggak benci rasa daging. Aku suka daging. Tapi aku memilih nggak makan karena mau less animal suffering. Dan kalau misalkan udah ngerasain manfaatnya, nggak pengin balik makan daging lagi, sih. Lama-lama badan kita akan adaptasi untuk menolak makanan yang nggak sehat,” ungkapnya.
Hobi masak membuat Katia melakukan eksplorasi resep-resep berbahan dasar plant based. Resep-resepnya ia unggah ke dalam sebuah blog Bernama Vegan Baby. Saat mengikuti sebuah kegiatan volunteer di Bali, Katia sengaja menemui pemilik usaha berbasis vegan untuk bertukar pikiran. Katia memiliki cita-cita untuk membuka usaha kuliner vegan berkonsep warung makan.
“Aku jadi passionate banget sama heathy food. Aku pengin orang Indonesia lebih aware sama kesehatannya. Karena kasus diabetes dan kolestrol di Indonesia termasuk tinggi. Aku happy banget kalau I can be one of the reason orang berubah,” tutur perempuan yang kini berusia 26 tahun.
Demi menuntaskan mimpi itu, Katia rela menolak mentah-mentah tiga tawaran kerja yang cukup bergengsi di Jepang. Tahun 2020, Katia kembali ke Indonesia dan memilih membuka bisnis kuliner rumahan berbasis vegan. Menu pertama yang ia jual saat itu adalah nasi uduk. Seiring berjalannya waktu, menu yang disajikan Katia bertambah. Belakangan anak pertama dari dua bersaudara ini pun menerima layanan vegan catering. Penjualan makanan Vegan ini meningkat tajam saat Covid-19 tengah melanda.

Mie Instan Vegan Baby
Foto: Dok Pribadi
“Awalnya Papa aku nggak setuju. Kata Papa aku ‘Gila udah sekolah jauh-jauh, pulang malah mau jadi tukang nasi uduk’,” cerita Katia.
Katia berhasil membuktikan dirinya bisa sukses melalui makanan vegan ini. Salah satu menu Vegan Baby, Mushroom Cheesteak bahkan sempat mendapat pengakuan bergengsi dari organisasi hak asasi binatang, People for the Ethical Treatment of Animals (PETA). Pada Februari 2021, menu Vegan Mushroom Cheesteak dinobatkan sebagai 2021 Best Veggie Burgers. Menu ini terinspirasi dari salah satu sandwich kesukaan Katia yaitu Philly Cheesteak.
Sejak tahun 2021, Katia fokus mengembangkan inovasi bisnis mie instan vegan yang lebih aman dikonsumsi. Ia menciptakan mie instan yang lebih rendah kalori, rendah sodium, tinggi serat tapi tetap aman dikonsumsi. Selama dua tahun, Katia berhasil menjual 300 ribu paket mie instan yang juga ia beri nama Vegan Baby. Penjualan ini bukan Cuma di Indonesia, melainkan juga ke Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Australia, Amerika Serikat, Inggris hingga Timur Tengah.
“Melihat progress Vegan Baby sekarang senang banget dong. Soalnya dulu dibilang ngapain bisnis mie mahal sehat, nggak bakal laku di sini. Mendingan bisnis boba atau basreng. Ternyata orang-orang pada excited. Produk kita sampai sold out berkali-kali,” tutur perempuan yang pernah mengambil pendidikan plant based nutrition di Cornell University pada Februari 2021.
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho