Intermeso

Sedihnya Lebaran Tanpa Orang Tua

“Tapi life must go on, aku juga nggak mau sedih berlarut-larut, apalagi di momen lebaran ini”

Ilustrasi : Istock

Minggu, 14 April 2024

Di hari Idul Fitri, Zafira Ramadani hanya bisa menatap laman media sosial miliknya dengan wajah lesu. Terutama saat melihat foto-foto momen kebersamaan keluarga yang dibagikan kerabat dan temannya. Di hari raya, mereka kompak memamerkan foto keluarga besar, mulai dari buyut, kakek, nenek, om, tante hingga anak-anak tersenyum lebar ke arah kamera.

Kehangatan Idul Fitri seolah baru dapat dirasakan jika dirayakan bersama keluarga besar. Sayangnya, Zafira tidak lagi bisa merayakan Lebaran dengan normal seperti orang pada umumnya. Perempuan berusia 25 tahun ini mendapatkan pukulan besar saat kedua orang tuanya meninggal akibat wabah COVID-19 di tahun 2020 silam. Tanpa kehadiran mereka, Zafira tidak lagi dapat merasakan esensi lebaran yang identik dengan makna kekeluargaan dan silaturahmi. Lebaran justru membuat Zafira merasa terasingkan.

“Pastinya sedih, sih, ya. Kadang malah jadinya baper sendiri. Ketika teman-teman saya Lebaran bisa kumpul sama keluarganya yang masih utuh, melihat mereka ketawa-ketawa happy, kok, saya nggak?” ucap anak kedua dari dua bersaudara ini kepada detikX beberapa waktu lalu.

Di hari Lebaran, kerinduan Zafira pada sosok Ayah dan Ibunya begitu mendera. Gema takbiran di malam hari membawa Zafira menjumpai memori Lebaran ketika orang tuanya masih hidup. Perempuan yang bekerja sebagai account executive di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang fesyen ini biasanya mudik lebaran ke kampung halaman ibunya di Makassar, Sulawesi Selatan. Tahun berikutnya bergantian mudik ke daerah asal ayahnya di Surabaya, Jawa Timur.

“Karena kota kelahiran bapak sama ibu lokasinya jauh-jauh, jadi biasanya kita mudik itu selang-seling. Kalau tahun ini ke tempat ibu, tahun depannya ke tempat ayah, gitu,” kata Zafira yang kini tinggal di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Keluarga merayakan jarak jauh dengan sepupu melihat kamera video call online makan malam pada hari raya lebaran bersama di rumah.
Foto : Istock

Di bulan Ramadan, ibu Zafira yang biasanya paling semangat dalam hal persiapan jelang Lebaran. Biasanya, ia mengajak Zafira dan kakaknya berburu bahan makanan di pasar. Ibu Zafira memastikan keluarganya memakai baju seragam. Saat itu, Zafira paling malas jika diminta menemani ibunya membeli kebutuhan Lebaran. Sepulang berbelanja, kedua kaki Zafira pasti langsung pegal-pegal.

Ibu kalau udah mau dekat Lebaran sibuk banget. Pokoknya nyari gamis sama mukena kita bertiga harus kembaran. Kalau bisa baju ayah juga seragam, paling nggak warnanya sama.”

“Ibu kalau udah mau dekat Lebaran sibuk banget. Pokoknya nyari gamis sama mukena kita bertiga harus kembaran. Kalau bisa baju ayah juga seragam, paling nggak warnanya sama,” cerita Zafira.

Malam sebelum Lebaran, Zafira biasa melihat ayah dan ibunya sedang menyiapkan amplop untuk dibagi-bagikan kepada sanak saudara. Ibadah salat Ied dan sungkeman yang mengharukan turut serta menjadi momen yang ditunggu-tunggu Zafira.

Sepeninggalan kedua orang tuanya, situasi berubah 180 derajat. Ini merupakan tahun keempat Zafira berlebaran tanpa mereka. Sejak wabah COVID-19 mereda, Zafira dan kakaknya yang terpaut tiga tahun belum pulang ke kampung halaman ayah dan ibunya. Biaya akomodasi yang meroket jelang Lebaran membuat mereka harus pikir panjang. Sementara, silaturahmi dengan keluarga ayah dan ibunya digantikan dengan sambungan telepon serta video call.

Lebaran Zafira sekarang tak pernah lagi semeriah dulu. Ia masih menyambut Idul Fitri, namun dengan lebih sederhana. Salat Ied bersama kakaknya dan menjalankan tradisi bersalam-salaman ke rumah tetangga. Tak lupa ia berziarah ke makam ayah dan ibunya sembari melepas rindu dan memanjatkan doa. “Sampai hari ini, aku masih merasa kehilangan. Tapi life must go on, aku juga nggak mau sedih berlarut-larut, apalagi di momen Lebaran ini,” pungkas Zafira. “Untuk kalian yang masih punya orang tua, nikmatin waktu kalian karena itu sangat berharga.”

***

Setelah satu bulan penuh berpuasa, hari pertama Lebaran merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu Ghani Rahmatulloh. Ia akhirnya dapat mencicipi lontong Lebaran buatan ibunya yang sangat spesial, karena hanya dibuat satu tahun sekali saat Idul Fitri. Sekilas, ketupat lebaran racikan ibunya terlihat sama dengan hidangan ketupat pada umumnya. Ketupat disajikan bersama opor ayam, rendang sambal goreng ati. Ibunya Ghani secara khusus membuat lauk tambahan berupa sayur krecek tahu karena ia tahu Ghani sangat menggemari makanan itu.

“Kalau buat aku yang mesti ada itu krecek buatan ibu pakai tahu, petai sama telur puyuh. Kata ibu dulu kalau beliau lagi masak, aku bukannya bantuin malah ikut gerecokin,” kenang anak tunggal ini.

Keluarga berkumpul dan makan bersama di hari raya raya lebaran.
Foto : Istock

Ghani dan ibunya memang kerap melucu dan bercanda. Hubungan keduanya begitu dekat bak sahabat. Ghani tidak begitu mengenal sosok ayahnya karena ia sudah meninggal saat Ghani masih berusia 5 tahun. Tahun 2019 menjadi tahun terberat bagi Ghani. Ibunya turut menyusul sang ayah akibat kecelakaan motor yang dialaminya saat tengah pergi bekerja.

Setelahnya, hari-hari yang dilewati perempuan berusia 31 tahun itu terasa amat menyesakkan. Apalagi berhari raya tanpa sosok ibunya. Tidak ada lagi ketupat lebaran spesial yang dibuat khusus hanya untuk dirinya. Lebaran terasa makin sepi karena kini perempuan asal Purwokerto, Jawa Tengah, ini merantau ke Jakarta.

“Sejak ibu udah nggak ada, aku sengaja nyari kesibukan biar nggak kepikiran terus. Aku pindah ke Jakarta udah empat tahun lalu, kebetulan dapat kerja di sini,” ucap manajer personalia di sebuah perusahaan swasta yang kini menyewa sebuah kamar kos di Jakarta Selatan.

Tahun ini, Ghani memutuskan untuk tidak pulang ke Purwokerto. Sebagai gantinya, ia berkumpul bersama teman kos yang tidak mudik. Di hari raya itu, para anggota kos berjibaku memasak makanan lebaran di dapur bersama. Ghani mencoba menduplikasi resep krecek sayur buatan ibunya, meski rasanya tidak lagi sama.

“Nggak bakal ada yang bisa gantiin krecek sayur bikinan ibu. Tapi paling nggak ini bisa ngobatin rasa kangen aku,” pungkas Ghani.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE