INTERMESO
"Ketika aku pertama kali merayakan Ramadhan di sini itu banyak orang yang tiba-tiba ngajak ngobrol. Mungkin karena aku berhijab, jadi kayak unik buat mereka."
Foto Ilustrasi: Colosseum di Roma, Italia (AP/Riccardo De Luca)
Sabtu, 13 April 2024Sudah hampir dua tahun Rezky Kiki Fatima, 25, tidak dapat mendengar merdunya suara adzan di bulan Ramadhan dan gema takbir. Pasalnya Kiki, begitulah ia biasa disapa, kini tengah sibuk menyelesaikan gelar master-nya di Roma, Italia. Menjadi penganut Islam di tengah-tengah masyarakat nonmuslim membuat Kiki harus belajar menerima perbedaan. Salah satunya ialah tak adanya hingar bingar perayaan Idul Fitri di Kota yang mendapat julukan The Eternal City alias Kota Abadi tersebut.
"Pastinya beda banget, ya, Lebaran di Italia dan Indonesia. Karena aku, kan, tinggal di Roma, dan Vatikan itu salah satu pusat gereja terbesar di dunia. Maksudnya pusatnya umat Katolik. Jadi, ya, mayoritas orang-orang di sini juga Katolik. Wajar jika mereka nggak tahu apa itu Ramadhan dan Lebaran,” ujar Kiki kepada detikX beberapa waktu lalu. Giliran Kiki yang menjelaskan kepada mereka seperti apa bulan Ramadhan di Indonesia. “Untungnya, mereka sangat respect banget, sih. Kangen juga suara adzan. Di sini aku lebih sering dengarnya suara lonceng gereja.”
Kiki saat ini tengah menempuh studi di Sapienza University of Rome, mengambil jurusan Master of Economics and Communication for Management and Innovation. Pada Lebaran tahun ini, ia kembali tak bisa pulang ke Tanah Air. Keadaan mengharuskan Kiki kembali ‘berpuasa’ dari hangatnya dekapan keluarga di Kota Malang, Jawa Timur.
"Di bulan April saat Lebaran, aku masih dalam masa kuliah. Masih ada kelas juga di kampus. Aku juga nggak bisa serta merta tiba-tiba pulang. Terlebih nggak ada libur Lebaran, ya. Kan, aku tinggal di negara yang bukan mayoritas muslim. Jadi intinya masih ada beban kuliah di sini," lanjut Kiki.
Selain itu, mahalnya tiket pesawat Italia-Indonesia juga menjadi alasan lain mengapa dirinya lebih memilih untuk tetap berlebaran di Roma. Setidaknya, Kiki harus merogoh kocek sekitar Rp 14 juta untuk mendapatkan tiket pulang pergi Italia-Indonesia, dengan catatan ia harus membelinya sejak jauh-jauh hari dari hari keberangkatan.
Meskipun begitu, masyarakat Roma, diakui Kiki, sangat hangat kepada orang asing. Hijab yang dipakai Kiki menurutnya menjadi salah satu daya tarik bagi banyak masyarakat di sana. Tak jarang ia sering diajak berbincang oleh orang-orang di sana ketika sedang berada di tempat umum. Bagi Kiki, orang-orang di sana terbilang sangat menghormati perbedaan kepercayaan.
"Ketika aku pertama kali merayakan Ramadhan di sini itu banyak orang yang tiba-tiba ngajak ngobrol. Mungkin karena aku berhijab, jadi kayak unik buat mereka. Banyak juga setelah ngobrol-ngobrol terus kayak ngucapin happy Ramadhan gitu, kan jadi tambah bikin semangat, ya," tambahnya.

Rezky Kiki Fatima
Foto : Dok Pribadi
Tak bisa kembali ke Tanah Air saat lebaran membuat Kiki merindukan banyak hal di kampung halaman. Salah satunya rindu kepada masakan-masakan khas Indonesia, yang mana sangat sulit bahkan cenderung mustahil untuk ia temukan di Roma. Tumbuh besar di Kota Malang yang terkenal dengan hawa dinginnya, Kiki terbiasa untuk menyantap hidangan berkuah dan pedas. Sayangnya, di Roma sendiri sangat sulit untuk menemukan makanan yang memenuhi dua unsur tersebut.
Dari pada ke Indonesia yang tiketnya mahal, ke Amsterdam kemarin aku dapet tiket sekitar 80-an euro PP (Pulang-pergi). Di sana lengkap (makanannya), bahkan kayak nasi Padang. Cuma karena kota besar, jadi makanannya rada mahal dikit."
"Di Malang aku suka banget makan mie setan (mie pedas), aku kayak nggak bisa banget, nih, berbulan-bulan nggak makan mie setan. Apalagi kalau pas musim dingin, di sini bisa sampai 5-10 derajat celcius, jadi pengin makan makanan berkuah kayak ceker setan. Kayaknya orang sini juga nggak mungkin jualan ceker ayam, ya. Terus, mereka juga nggak doyan pedas. Pedasnya mereka, tuh, cuma black pepper gitu. Jadi aku juga harus puasa pedas selama di sini," kata Kiki.
Kalau sedang ngidam makanan Indonesia, Kiki mengakalinya dengan datang ke restoran-restoran Asia di Roma. Beruntung, masih banyak restoran chinese food yang bisa ia jumpai di Roma. Dari tempat tinggalnya, ia cukup berjalan sekitar 800 meter untuk bisa menemukan restoran tersebut. Dengan merogoh kocek 10-15 euro, Kiki bisa mendapatkan satu porsi besar nasi goreng. Rasanya tentu tidak semedok nasi goreng khas abang-abang gerobak di Indonesia. Kerupuk dan acar sebagai pelengkap hidangan juga tidak ada. Tapi setidaknya seporsi nasi goreng itu bisa sedikit mengobati kerinduan Kiki akan negeri asalnya.
Selain itu, ada restoran Melayu khas Malaysia yang menyediakan menu makanan seperti sate, ayam, dan rendang. Empat tusuk sate dijual dengan kisaran harga 12-17 euro. Sedangkan seporsi rendang bisa dibeli dengan 17-20 euro. Meskipun katanya dimasak dengan resep otentik, harum bumbu khas Indonesia masih belum bisa ia temukan pada hidangan itu.
Jika Kiki tak kuat menahan rindu, ia memilih 'pulang kampung' ke Belanda. Anak-anak rantau seperti Kiki menyebut Negeri Kincir Angin sebagai 'Indonesia kedua', karena banyak sekali Warga Negara Indonesia (WNI) yang kuliah dan menetap di sana. Menurutnya, lebih mudah menemukan restoran yang menjual makanan Indonesia di Amsterdam dari pada di kota-kota lain di Italia.
"Dari pada ke Indonesia yang tiketnya mahal, ke Amsterdam kemarin aku dapet tiket sekitar 80-an euro PP (Pulang-pergi). Di sana lengkap, sih (makanannya). Bahkan kayak nasi Padang, ya, udah kayak bener-bener nasi padang. Cuma karena kota besar, jadi makanannya rada mahal dikit. Paling beda 5-10 euro dengan Roma," tambahnya.
Tak jauh berbeda dengan apa yang dialami Kiki di Roma, di belahan bumi yang lain, Ashabul Kahffi (27) yang saat ini tengah melanjutkan studinya di Gujarat Technological University, India, juga tak bisa pulang ke Indonesia karena beberapa alasan. Selain tiket pesawat yang bisa menyentuh angka Rp 8 juta untuk pulang-pergi, studinya juga akan selesai di bulan Juli tahun ini. Sehingga, Kahffi merasa rugi jika harus pulang ke Indonesia pada Lebaran kali ini.
Lelaki asal Wotu, Sulawesi Selatan, ini mengaku sudah sangat rindu sekali dengan kampung halaman di momen Lebaran. Selain kehangatan bersama keluarga, lidah Khaffi juga sudah mulai merindukan makanan yang biasa disantap saat di kampung halaman.
"Sebenarnya sudah satu tahun lebih di India, sudah kangen sekali sama masakan orang tua, sama masakan-masakan khas Indonesia. Apalagi nasi Padang, nih, astaga. Gimana, ya, baunya dan rasanya udah kangen banget. Lalu sama makanan berbahan ikan, di India, kan, lumayan sulit juga, ya, kita dapat makanan yang nonvegetarian gitu," ujar Kahffi saat dihubungi detikX.

Ashabul Kahffi
Foto: Dok Pribadi
Sebagai anak rantau di Kota Surat, Kahffi tentu ingin sekali memanjakan lidahnya dengan makanan-makanan yang sebelumnya menjadi favoritnya sebelum bertolak ke India. India sendiri memiliki butter chicken, yang mana santapan ini dikatakan Kahffi cukup mirip dengan kari ayam khas Indonesia. Harganya pun terjangkau. Rata-rata harga butter chicken di Surat dibandrol 350 rupee atau sekitar Rp 66 ribu.
Sama seperti anak-anak rantau yang lain, Kahffi melakukan kegiatan masak bersama dengan para teman-teman WNI yang juga studi di sana. Ia bahkan rela menempuh jarak ratusan kilometer untuk sekadar bisa berkumpul bersama dan memasak masakan Indonesia.
"Biasanya bisa masak-masak sama teman-teman yang ada di Ahmedabad. Di Ahmedabad juga lumayan banyak teman-teman Indonesia. Jadi kalau misalnya kami kumpul, kami masak makanan Indonesia kayak rendang. Terakhir kita masak bakso waktu itu, sekitar 10 hari yang lalu," tambahnya.
Sayangnya, Kahffi mengakui jika acara masak-masak bersama kawan-kawan WNI lain bisa dikatakan jarang terjadi. Selain susahnya menyesuaikan waktu, beberapa bumbu-bumbu atau remah-rempah asli Indonesia hanya bisa didapatkan dengan menitip kepada mereka yang pulang ke Indonesia.
Pemerintah, dalam hal ini KBRI dan KJRI di India tentu tak tinggal diam untuk tetap membuat para WNI yang sedang berada di sana selalu merasa nyaman dan seperti tetap di Tanah Air. Kahffi menjelaskan jika KBRI dan KJRI sering mengadakan acara kumpul-kumpul para WNI, lengkap dengan game dan tentu ramah tamahnya.
"Banyak sekali event-event yang diadakan KBRI dan KJRI. Di Ramadhan ini ada yang namanya Festival Ramadhan di Mumbai. Dulu waktu acara Idul Adha juga kami sempat dapat undangan dari KJRI dan acaranya hampir sama dengan acara Indonesia,” katanya.
Acara diisi dengan salat Idul Adha, disusul halal bihalal, lalu berkumpul sembari bertukar cerita dan menyantap makanan khas Indonesia. “Basically (rasanya) sama aja, sih, dan uniknya lebih ke ini, ya, ada beberapa lomba, lombanya pun basic-basic aja kayak karambol, lomba-lomba untuk menyatukan keluarga.”
Penulis: Devandra Abi Prasetyo
Redaktur: Melia Mailoa
Desainer: Luthfy Syahban